Grave of the Fireflies

Oleh Yuli Duryat

Ketika dalam obrolan telpon di waktu senggang, seorang teman bilang, bahwa rasa kasihannya telah hilang pada negara Jepang atas dampak tsunami pada 13 Maret 2011 yang dahsyat melanda negara adidaya ini, setelah dia menonton film dokumenter tentang tragedy Nanking. Saya jadi teringat perkataan seorang teman berkebangsaan Filipina, ketika saya berbincang denganya; “As human being, people from the whole country is same, there some one good and some of they bad.” Ya, pendapat saya pun sama.

Mungkin agak jauh lompatannya, sekedar mengingat kembali bagi Anda yang sudah menonton berpuluh tahun yang lalu karena di sini saya ingin mengulas tentang Grave of the Fireflies. Film animasi Jepang ini diproduksi pada tahun 1988. Seperti tertera dalam English Wikipedia dan saya terjemahkan di sini, film tragedi anti-perang ini ditulis dan disutradarai oleh Isao Takahata. Adalah film pertama yang diproduksi oleh Shinchosha, yang memanfaatkan Studio Ghibli sebagai tempat merampungkan produksi film animasi ini. Film ini diadaptasi dari novel semi-otobiografi dengan tajuk yang sama oleh Akiyuki Nosaka. Novel ditulis sebagai permintaan maaf Akiyuki Nosaka kepada adik penulis sendiri yang meninggal akibat kekurangan gizi selama Perang Dunia Kedua. April tanggal 16, yaitu dua puluh tahun lebih dari publikasi novel pada tahun 1967, film luar biasa ini dirilis. Dibintangi Tsutomu Tatsumi, Ayano Shiraishi, Yoshiko Shinohara dan Akemi Yamaguchi.

Film Grave of the Fireflies mendapat review positif dan dianggap klasik oleh banyak kritikus. Kritikus film Roger Ebert menganggapnya sebagai salah satu film perang terbesar dan paling kuat yang pernah dibuat, and in 2000, included it on his “Great Movies” list.

Sementara saya sendiri baru menonton film ini beberapa bulan yang lalu di sebuah perpustakaan besar khusus film online. Saya sangat terkesan dengan ceritanya, bahkan saking cengengnya saya menangis sepanjang menonton film ini. Ternyata benar kata Bapak Makoto Itoh dari Jepang yang juga pernah tinggal dan mengajar di salah satu Universitas di Indonesia pada diskusi sastra 8 April yang lalu, bahwa kebanyakan orang Jepang suka sekali membuat karya tulis maupun film yang menguras air mata.

Film yang kemudian dirilis kembali secara life pada tahun 2005 dan dibintangi oleh Inoue Mao, Matsushima Nanako, Ihara Tsuyoshi, Ishida Hoshi, dan Sasaki Mao, ini ber-setting bulan-bulan terakhir Perang Dunia II di Jepang. Grave of the Fireflies mengisahkan hubungan kakak beradik piatu yaitu; Seita laki-laki berumur 14 tahun dan adik perempuannya yang berumur 4 tahun bernama Setsuko.

Dibuka di Sannomiya Station pada tanggal 21 September 1945, menggambarkan Seita yang berpakaian compang-camping sedang sekarat karena kelaparan. Seorang petugas kebersihan datang mencari harta miliknya dengan menggeledah pakaiannya, dan menemukan kaleng permen yang berisi abu dan tulang. Dia melemparkannya keluar, dan dari situ muncul roh Setsuko dan Seita, berbentuk kunang-kunang yang bergerombol menyerupai awan. Roh Seita kemudian menceritakan kisah mereka, sebuah kilas balik menjelang akhir Perang Dunia II, selama pemboman kota Kobe.

Adegan demi adegan dalam film ini begitu memukau, menarik perhatian saya sehingga enggan untuk beranjak sebelum credit title terpampang di layar monitor.

Kilas balik dimulai dengan armada pembom Amerika B-29 Superfortress terbang di atas kota Kobe. Setsuko dan Seita, dua saudara yang tinggal untuk mengamankan rumah dan barang-barang mereka, sehingga ibu mereka yang menderita lemah jantung bisa pergi lebih dulu ke tempat perlindungan bom. Mereka terkepung oleh ribuan rudal, berjatuhan dan menimbulkan kebakaran besar yang dengan cepat menghancurkan lingkungan mereka dan sebagian besar kota. Meskipun mereka bertahan hidup tanpa cedera, ibu mereka terkena serangan udara dan terbakar secara mengerikan. Dia dibawa ke klinik darurat di sebuah sekolah, namun meninggal tak lama kemudian.

Tidak memiliki tempat lain untuk berteduh, Setsuko dan Seita tinggal dengan bibi jauh mereka. Mereka menerima Setsuko dan Setia tinggal dan menyuruh Seita untuk menjual kimono ibunya untuk membeli beras. Meskipun tinggal dengan kerabat mereka, Seita pergi keluar untuk mengambil sisa persediaan yang ia pendam di tanah sebelum pengeboman. Dia memberikan semua itu kepada bibinya, namun menyembunyikan kaleng permen buah, yang menjadi benang merah sepanjang film. Bibi mereka terus melindungi mereka, tetapi ia mengurangi jatah makanan mereka akibat perang yang tak kunjung usai.

Seita dan Setsuko akhirnya memutuskan untuk pindah ke suatu tempat di pinggir danau kecil untuk berlindung. Mereka menangkap kunang-kunang di tepi danau dan melepasnya di dalam gubug tempat mereka berlindung sebagai cahaya. Keesokan harinya Setsuko menemukan mereka semua mati. Dia menggali kuburan untuk kunang-kunang itu dan menguburnya, menanyakan mengapa mereka harus mati, dan mengapa ibunya harus mati. Kehidupan mereka semakin suram karena mereka kehabisan beras, dan Seita terpaksa mencuri dari petani lokal untuk bertahan hidup. Ketika tertangkap, ia putus asa, ditambah lagi adiknya sakit. Ia membawa Setsuko ke dokter dan dokter memberitahu kepadanya bahwa Setsuko menderita gizi buruk tetapi tidak menawarkan bantuan.

Dalam kepanikan, Seita menarik semua uang yang tersisa di rekening bank ibu mereka. Saat ia meninggalkan bank, dia bingung ketika mendengar kerumunan orang yang membicarakan Jepang telah menyerah tanpa syarat kepada Sekutu dan bahwa ayahnya, seorang kapten di Angkatan Laut Kekaisaran Jepang yang telah berjanji kepadanya bahwa Jepang tidak pernah bisa dikalahkan, mungkin sudah mati. Dia kembali ke tempat penampungan dengan membawa banyak makanan, namun terlambat, Setsuko sedang sekarat menghadapi maut karena kelaparan. Seita bergegas untuk memasak, namun Setsuko tak tertolong lagi. Seita menggunakan pasokan yang disumbangkan oleh petani  sekitar untuk mengkremasi Setsuko, dan menempatkan abunya di kaleng permen. Ia memegang erat kaleng dan selembar foto ayahnya, hingga ia mati kekurangan gizi di Sannomiya Station beberapa minggu kemudian.

Dalam adegan akhir film, roh Seita dan Setsuko terlihat sehat, berpakaian rapi dan bahagia. Mereka duduk bersama, dikelilingi oleh kunang-kunang, melihat kota modern Kobe dari atas awan.

Menyimak film ini, saya tidak membenci Jepang atas kelakuannya dulu, terutama tragedy Nanking yang banyak dibicarakan. Meskipun saya pun tidak setuju dengan kekejaman Jepang. Oleh sebab manusia patilah ada salah dan khilaf, masa lalu biarlah berlalu dan kita sepatutnya untuk menghadapi masa depan kita agar menjadi lebih baik.

Dari film ini, banyak sekali hikmah yang bisa dipetik, diantaranya adalah saya jadi lebih menghargai makanan. Karena di belahan bumi lain, ada banyak orang dan anak-anak yang kekurangan gizi. Maka dari itu, jangan sampai kita membuang-buang makanan ketika kita makan. Ambillah secukupnya saja meskipun kita makan pada saat kita sangat lapar.

Film ini begitu menyayat hati dan sangat berkesan bagi saya.

Sumber from English Wikipedia.

Advertisements

The Flowers of War

Oleh Yuli Duryat

Membaca komentator di sebuah website tentang film The Flowers of War, saya jadi tertarik untuk mengulasnya sedikit. Film ini bercerita tentang tragedy penyerangan Jepang ke Nanking, China. Saya menemukan film ini atas rekomendasi seorang teman setelah kami membaca novel Beside a Burning Sea oleh John Shors yang kami pinjam secara beruntun. Berkisah tentang kapal rumah sakit Perang Dunia II Benevolence yang sedang berlayar melalui Samudra Pasifik. Kapal tersebut terbelah dua oleh sebuah torpedo/bom.

Sekelompok kecil orang yang selamat berenang ke pantai sepi di pulau terdekat, termasuk seorang prajurit Jepang terluka yang menyelamatkan seorang perawat muda dari kematian. Saya sangat menyukai tokoh Akira yang telah menghabiskan lima tahun melihat darah dan ketakutan dalam peperangan. Ia terdampar di pulau kecil dan dikelilingi oleh orang-orang yang seharusnya ia benci karena berasal dari Amerika. Akira menemukan pelipur lara dari keramahan mereka. Rasa bersalah karena tak bisa menolong gadis kecil saat ia berada dalam tragedi Jepang menyerbu Nanking menghantui hari-harinya. Hal itu pulalah yang membuat ia bertahan ketika menyelamatkan wanita Amerika dari kematian. Dalam novel ini, terbaca kelihaian penulisnya dalam memaparkan setiap karakter tokoh berikut apa yang masing-masing tokoh rasakan secara mendetail.

John Shors, penulis yang juga pernah tinggal di Jepang beberapa tahun ini mengenalkan haiku atau puisi khas Jepang dengan sudut pandang Akira di setiap permulaan bab. Ia juga menggunakan haiku untuk mendekatkan tokoh Akira dan wanita Amerika yang ia selamatkan itu, dan dari situlah keakraban dan cinta mereka mulai tumbuh.

Novel ini menjadi menarik dengan ramuan tokon antagonis, seperti musuh dalam selimut yang menunjukan penghianatan dan keserakahan untuk mengancam kelompok kecil berjumlah sembilan orang dengan intrik jahat.

Tokoh Akira inilah yang membawa saya ke film tentang tragedy Nanking. Melihat dan membaca antusias para pencinta film di kolom komen di website di mana biasa saya menonton film, saya semakin semangat untuk menonton. Film dengan hasil gambar yang menawan ini disutradarai oleh Zhang Yimou, yang juga dikenal sebagai sutradara film Red Sorghum sebagai film perdana pertama yang dibintangi artis China terkenal Gong Li ini.

Film ini membuat emosi saya naik. Saya yang tadinya tak tahu seberapa kejamnya serdadu Jepang pada waktu itu, menjadi terbelalak melihat adegan yang dipampangkan. Gambar yang luar biasa bikin kuduk meremang. Betapa darah saya seolah ikut mendidih melihat adegan anak-anak gadis yang diperlakukan secara kejam di sebuah gereja oleh para serdadu Jepang.

Dua belas gadis-gadis yang semula bermusuhan dengan 13 pelacur itu, John Miler dan seorang relawan mencurigai/mencium gelagat tidak beres para tentara Jepang yang menghitung gadis-gadis juga pengawalan ketat di luar gereja. Kerelaan para pelacur untuk menggantikan posisi gadis-gadis untuk menyelamatkan mereka sangat mengharukan.

Oleh film yang dimulai dengan Christian Bale, sebagai pengurus pemakaman saya jadi tertarik untuk mengetahui tragedy Nanking lebih dalam. Meskipun dengan ending menggantung karena penonton dibuat penasaran oleh nasib para pelacur yang bekerja sama dengan John Miller (Bale), untuk menyelamatkan gadis-gadis yang sebelumnya nekat nyaris memilih bunuh diri dari pada harus memenuhi undangan Kolonel Hasegawa (Watabe) untuk menyanyi dalam perayaan kemenangan angkatan darat Jepang atas China.

Menurut saya, film ini layak disimak dan dijadikan tontotan yang bisa diambil pembelajaran di dalamnya.