I Shall Not Hate

abuelaish-cover

Dalam kehidupan sehari-hari, hanya karena tergores sedikit perkataan, saya suka marah dan melampiaskannya ke siapa pun yang sedang berada dekat dengan saya. Dengan membaca kisah nyata yang ditulis oleh Doker Gaza yang mempunyai pola pikir luar biasa indah ini, bayak sekali hal-hal yang membuat saya malu menjadi manusia. Mengapa saya harus begitu cepat marah, sementara di luar sana, banyak orang yang mengalami nasib lebih tragis dari saya masih bisa lapang dada dan tetap berfikir positif.

Perjuangan seorang anak-laki-laki Gaza yang begitu percaya bahwa dia akan bisa menjadi sukses oleh kerja kerasnya. Pantang menyerah dan terus maju meskipun begitu banyak aral melindang di sepanjang jalannya menuju kesuksesan. Bahkan ketika nyawa yang harus dijadikan taruhan di zona perang yang ganas dan tak pandang bulu untuk menjentikan peluru. Rasanya kata-kata saja tidak cukup untuk mengambarkan apa yang saya rasakan ketika membaca kisah Izzeldin Abuelaish ini.

Betapa dia mampu menunjukan bahwa dia adalah orang yang tegar dan tidak mau memiliki dendam walaupun dia menyaksikan sendiri putrinya terkapar bersimbah darah dengan kepala terputus dari badan. Sebagai seorang ayah, dia begitu marah dengan apa yang terjadi pada keluarganya, namun dia mampu tetap berjalan dengan kepala tegak untuk menebarkan kebajikan dan perdamaian kepada sesamanya, bahkan pada bangsa yang merupakan musuhnya.

Kekuatan cinta dan apa yang dia ajarkan kepada anak-anaknya sungguh mempesona. Bahkan tiga putrid dan satu kemenakannya yang telah meninggal oleh serangan Israel tidak membuatnya menyerah untuk tetap menebarkan kebajikan.

Ah, saya tidak mampu mengetik lagi selain kata haru dan ingin menangis, betapa ada orang yang mempunyai hati mulia di tengah kejamnya dunia yang membesarkannya. Buku yang menginspirasi dan sangat saya rekomendasikan kepada semua orang yang cinta perdamaian. I Shall Not Hate by Izzeldin Abuelaish.

 

 

YuliDuryat

Lapang Asrm-Bantarsari

 

 

Advertisements

Pollyanna Grows Up

Oleh Yuli Duryat

from google image

Aku tertarik dengan buku satu ini oleh sampul belakangnya, entah mengapa, mungkin karena belakangan ini aku sangat gemar menonton film bersetting sama dengan novel karya Eleanor H. Porter, 1915 ini. Sementara buku pertamanya Pollyanna sendiri terbit pada tahun 1913, best seller dan sekarang disebut sebagai sastra klasik anak-anak, dengan karakter judul Pollyanna menjadi istilah populer bagi seseorang berpandangan optimis.

Novel ini memaparkan kelanjutan kisah gadis bernama Pollyanna Whittier, seorang yatim piatu yang tinggal di Beldingsville, Vermont, dengan bibinya yang kaya tetapi tegas, Bibi Polly. Pollyana yang beranjak dewasa, dan ia masih berusaha mempraktikan permainan sukacita yang telah ia mainkan sejak kecil. Ia menghadirkan keceriaan di rumah sahabat barunya Mrs. Ruth Carew yang dirundung duka akibat kehilangan keponakannya membuatku jatuh cinta.

Novel kedua seri Pollyanna ini begitu memesona, meskipun pada awal aku membacanya merasakan kejenuhan yang sangat. Permainan sukacita ala Pollyanna begitu memukau, tentang betapa pentingnya rasa syukur di setiap detik proses kehidupan untuk menumbuhkan kebahagiaan.

Ketika sang gadis dirundung duka akibat Dr. Chilton pamannya meninggal dunia dan perekonomian keluarga merosot sejak saat itu. Sementara sang istri Bibi Polly yang begitu menyayangi Pollyana menjadi pemuram dan tenggelam dalam kesedihan, Pollyana tetep tegar dan terus mempraktekan permainnannya meskipun ditantang keras oleh bibinya. Bibi Polly mengatai Pollyanna sebagai gadis aneh yang tidak menyadari bahwa keluaraga mereka sedang berada dalam titik yang menyedihkan, sebab terus bersuka ria dan bersyukur dengan keadaan yang menimpa.

Saat atap rumahnya bocor, Pollyanna senang mempunyai atap sehingga bocor dan membuatnya sibuk mengganti ember penampung air saat turun hujan. Dan dia selalu bahagia, sehingga keluarga, teman dekat dan semua orang yang berada di sisinya termasuk Bibi Polly pun tertular kebahagiaan, dan menyadari betapa pentingnya bersyukur.

Begitu juga ketika gadis itu menangis karena bahagia telah dikaruniai mata sehingga bisa melihat, aku begitu tersentuh. Oleh novel ini, aku banyak diajak untuk merenungi akan apa yang telah Tuhan karuniakan. Novel yang edisi Indonesianya terbit pada September 2010 diterjemah oleh Rini Nurul Badariah ini sangat layak sebagai bacaan keluarga dan sangat pantas berjajar dalam rak buku koleksi favorit.

Sunday, 23 December 2:48 PM