Diskusi Sastra Internasional

Oleh Yuli Duryat

Jangan membayangkan acara ini dihelat di gedung besar ber-AC seperti layaknya pegawai negara mengadakan rapat. Kami melakukannya di tengah hingar bingar teman-teman buruh migran Hongkong yang berlibur di hari Minggu. Saking bisingnya oleh tabuhan hadroh, juga musik tarian tradisional kuda lumping yang dibunyikan oleh teman-teman organisasi, kami terpaksa menyingkir agar nyaman untuk berdiskusi. Tepat di tepi jalan pinggir taman Victoria, meskipun agak terganggu oleh lalu lalang dan pandangan orang, tetapi setidaknya lebih sepi dari tempat pilihan semula yang letaknya di tengah-tengah taman.

Beralaskan baner bekas yang organisasi Forum Lingkar Pena Hongkong kumpulkan setiap selesai event. Juga pengeras suara butut hampir mati yang pada hari itu entah kenapa lancar dan keras suara yang dihasilkan.

Walau dengan tempat dan peralatan alakadarnya, diskusi berjalan menyenangkan. Dihadiri Chan Lai Kuen, Jus Pusa, Louise Law, sastrawan sastrawati lokal Hongkong. Makoto Itoh dari Jepang yang juga pernah tinggal dan mengajar di salah satu Universitas di Indonesia. Serta puluhan pecinta dunia tulis menulis dari kalangan Buruh Migran Indonesia, yang kebanyakan sekaligus berprofesi sebagai kontributor media cetak berbahasa Insonesia di Hongkong, Taiwan, juga Indonesia.

Menurut Bapak Makoto Itoh budaya menulis di kalangan perantau Hongkong sangat bagus. Beliau memberikan jempol dan kata luar biasa untuk ini. Dari buruh migran yang mayoritas TKW, telah menghasilkan kurang lebih 50 buku. Sementara buruh migran di negara seperti Singapura, Malaysia, Korea, Taiwan, terbilang jauh tertinggal. Ketika membaca karya teman-teman yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, beliau menyarankan untuk hati-hati memilih penerjemah.

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Louise Law editor dari majalah Mingpao dan Chan Lai Kuen penulis yang karyanya tersebar di media Hongkong. Tidak mudah untuk mencari penerjemah yang baik. Selain menerjemahkan dengan baik katanya, tentunya penulis ingin penerjemah yang bisa diandalkan kualitas sastra dan tata bahasa yang bagus untuk memikat pembaca. Sementara di Hongkong sendiri, hanya sedikit saja orang yang mampu melakukan itu.

Saya sungguh terkejut sekaligus bangga, ternyata peminat dalam bidang tulis-menulis di Hongkong tidak sebagus di Indonesia. Sebaliknya, mereka terpana oleh semangat teman-teman perantau dalam menulis meskipun bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Bahkan mereka memberikan nilai plus kepada teman-teman buruh migran akan hal ini. Karena penulis lain belum tentu mempunyai kesempatan sebaik para buruh migran, bisa tinggal serumah dengan orang yang memiliki perbedaan kultur dan budaya.

Ketika ditanya tentang pasar Hongkong kalau buruh migran ingin karya mereka dibaca oleh warga lokal, mereka menyarankan untuk membuat buku dengan tema kehidupan di Indonesia maupun di Hongkong. Mereka, terutama Miss Louise Law berusaha untuk membantu para buruh migran dengan memberikan link di sebuah website berbahasa Inggris. Agar tulisan para perantau lebih dikenal oleh warga lokal.

Berbeda dengan Indonesia, di Hongkong tidak ada kolom cerpen untuk penulis. Miss Louise Law perempuan supel yang beberapa waktu lalu menulis profil dan kegiatan BMI di majalah Mingpao ini menjelaskan, bahwa hanya ada kolom puisi di beberapa media cetak Hongkong, itupun sedikit. Warga Hongkong tidak begitu suka membaca cerpen. Kebanyakan media cetak lebih menyuguhkan tulisan tentang marketing dan berita aktual yang sedang terjadi.

Terkait puisi, Miss Chan Lai Kuen membacakan koleksinya yang sangat bagus. Puisi berjudul Ode For The Dead Cat ini menggambarkan dirinya yang mejalani rutinitas di kantor tempanya bekerja. Menurutnya apa yang ia jalani itu sama, seperti para pekerja migran, mengerjakan apapun sesuai perintah. Dengan rutinitas monoton setiap harinya kadang membuat dirinya merasa seperti kucing mati dalam botol.

Khusus untuk cerpen, menurut Bapak Makoto Itoh sangat bagus mengunakan sudut pandang orang lain dalam menulis, tetapi sebaiknya yang masuk akal secara logika. Sebagai contoh, cerpen bertajuk Kiminji, karya Indira Margareta seorang BMI yang menjadi kontributor majalah Intai Taiwan, berkisah tentang gadis Korea yang bertemu dan berkenalan hanya beberapa hari dengan orang Indonesia beragama Islam, kemudian tiba-tiba saja masuk Islam. Alur cerita yang terlalu cepat bisa membuat pembaca tidak nyaman dengan cerita yang ia baca.

Miss Chan Lai Kuen wanita berponi ini berpendapat, karya BMI sangat unik. Dari sudut pandang seorang pekerja rumahan ternyata mampu muncul karya yang lucu, variatif dan memukau. Seperti cerpen hasil karya Susie Utomo, kontributor tabloid Apakabar Hongkong, berkisah tentang nenek Cina berpenyakit darah tinggi yang begitu benci rutinitas minum obat dan larangan makan makanan berlemak.

Bapak Makoto Itoh yang sekarang sedang mengadakan penelitian tentang orang Indonesia khususnya para pekerja migran, juga berbagi sedikit tentang sastra klasik terkenal di Jepang yaitu Kisah Genji yang ditulis Murasaki Shikibu di pertengahan zaman Heian. Hikayat ini disebut-sebut sebagai buku sejarah terbitan tahun 1001. Genji Monogatari merupakan karya sastra terkenal berbentuk novel yang sangat tebal. Sastra jepang lebih dominan mengangkat tema kesedihan. Menurut beliau, yang menguras air mata itu lebih mengena di hati para pecinta sastra.

Sementara itu Jus Pusa yang juga seorang seniman memberikan perhatian khusus pada BMI yang gemar membaca. Beliau menyampaikan betapa mahalnya buku-buku berbahasa Indonesia yang teman perantau beli. Enam puluh dolar untuk satu buah novel sangatlah mahal menurutnya. Sementara buku yang kualitasnya sama hanya 22 dolar dibeli buruh migran Filipina dan hanya 3 dolar uang sewa apabila ada yang ingin meminjamnya.

Sangat jauh bedanya. Dari sini terlihat jelas betapa besarnya pengorbanan para pencinta buku khsusnya buruh migran di Hongkong demi memuskan kehausannya akan bahan bacaan. Saya berharap, ada orang Indonesia yang mempunyai uang lebih untuk mengadakan sebuah tempat dalam gedung yang luas untuk BMI khususnya para pecinta buku. Tentu saja dengan harga yang relative lebih murah.

Tadinya saya mengira penduduk Hongkong mayoritas suka membaca. Menilik betapa banyaknya perpustakaan di setiap kota dengan fasilitas lengkap. Namun setelah mendengar penuturan Chan Lai Kuen, wanita cantik lulusan Chinese University of Hong Kong ini ternyata pendapat tersebut salah. Hanya sebagian kecil saja masyarakat yang cinta membaca. Selebihnya tergila-gila pada barang elektronik semacam I Phone ataupun I Pad. Mereka juga lebih suka berlama-lama bercengkrama dengan komputer ketimbang membaca buku. Apalagi buku sastra khususnya Inggris, sangat sedikit penikmatnya.

Sayang sekali, kalau saja saya bisa baca huruf pagar dan lancar akan bahasa Inggris, pasti sangatlah bagus untuk memakan buku-buku sastra lezat karya orang-orang besar. Agar tahu lebih dalam tentang sastra di negeri berlambang bunga Bahunia ini.