Artikel Nomor 17

 

Cerpen Yuli Duryat

‘Terkadang orang butuh tutup mulut untuk merenung sebelum mengeluarkan unek-unek di kala hati berselimut kemarahan, sampai reda dan kembali bisa berfikir dengan akal sehat.’ Inilah status yang aku buat beberapa hari lalu di facebook, dan hari ini aku melakukan perbuatan yang tidak bisa dinalar dengan akal sehat. Aku tidak mengerti, mengapa beberapa kali sesuatu yang ingin sekali aku hindari justru kulakukan dengan tiba-tiba tanpa dipikir terelebih dulu.

Aku lihat si Mbah berlumur darah, matanya lemah memandangku dan akhirnya memejam untuk selamanya. Pampers basah berlumur kotoran yang keluar dari dubur tergeletak begitu saja di samping tubuhnya. Sirene polisi dari kejauhan semakin mendekat. Aku berdiri mematung. Seorang wanita berrambut ikal menjerit. Gagang telpon jatuh dari genggaman tangannya. Suara tut tut dari seberang terdengar, dia belum sempat menekan tombol untuk mematikan telpon, atau barangkali tak ingin.

~*~

Aku mengusap lingkar mata yang aku yakin menghitam sebab kurang tidur. Semalaman si Mbah mengigau sambil berteriak-teriak. Anak perempuannya bukannya membantu mengurus malah tambah berteriak dan memarahiku. Aku kesal, tapi tidak bisa berbuat apa selain mengalah. Aku harus menjalani rutinitas membersihkan rumah, memasak, berbelanja, dan menjaga si Mbah yang sudah lumpuh setiap hari. Aku tak pernah bisa istirahat dengan tenang.

Pukul enam pagi, di musim dingin begini suasana masih remang. Aku menyusuri jalan yang masih lengang menuju restoran siap saji yang buka 24 jam nonstop. Entah kerasukan apa, anak si Mbah yang biasanya menghindari makanan siap saji, pagi-pagi sekali menyuruh saya pergi ke Mc Donald untuk membeli setangkup burger ikan dan segelas teh panas. Aku bisa saja membuatkan dengan mudah di rumah, seperti yang dia ajarkan, tapi hari ini dia menyuruhku beli di luar. Aku melewati toko-toko yang masih tutup, suasana sungguh dingin dan sepi mencekam. Sepanjang perjalanan, aku menguap berkali-kali, rasanya badan ini begitu pegal dan remuk redam.

Aku mengancingkan jaket tebal dan mengikat selendang wol di leher. Memasukkan tangan ke dalam saku jaket untuk menghangatkannya. Aku benci musim dingin tapi tidak bisa menghindar. Sesuatu yang sangat tidak aku suka, benci tapi tak bisa menghindar. Meski begitu, karena aku sering sekali menghadapi situasi seperti ini sehingga menjadi terbiasa.

Duapuluh menit aku sudah kembali ke dalam apartemen lantai duabelas. Apartemen yang terletak di daerah Fanling New Territories, dengan dua kamar, satu dapur, toilet, dan ruang tamu yang diduafungsikan sebagai ruang makan. Sangat kecil untuk menyembunyikan sesuatu hingga tak ketahuan, ditambah kamera yang ada di setiap penjuru. Terkadang aku merasa diuntungkan oleh kamera tersebut, dan terkadang justru sebaliknya.

Majikan perempuanku adalah seorang single anak si Mbah, umurnya sudah menginjak kepala lima. Aku heran mengapa dia enggan menikah. Dia menerima pesanannya dengan wajah cemberut, lalu menyeretku masuk ke dalam kamar si Mbah, terlihat muntahan membanjiri kamar tersebut. Hampir mukaku mencium muntahan tersebut saat majikan menyorongkan tubuhku dengan keras. Aku memejamkan mata menahan amarah yang kian meletup di kepala. Rasa lelah dan kepasrahan hanya mampu tertuang dari bening kristal dari mataku. Aku menggigit bibir, kelu.

“Bodoh sekali kau, mengapa kau tidak nge-break saja. Jaman sekarang sangat mudah kita memecat majikan, kau bisa pilih majikan lain di agen.” Ratih temanku menasehati ketika kami berdua duduk-duduk di Kampung Jawa Victoria. Banyak buruh migrant lain yang juga duduk-duduk beralaskan plastik berwarna putih di lapangan rumput yang luas tersebut.

“Aku pikir dengan bersabar menghadapi mereka, mereka akan berubah, menjadi lebih baik,” tuturku kecut.

“Sebelum kau berubah jadi hantu!! Kurus kering dengan mata cekung! Sekalipun kau tutup dengan riasan kau kira aku bisa kau bohongi?!” Ratih sahabatku yang datang di tahun dan kampung yang sama denganku memandang prihatin.

“Aku tunggu satu bulan lagi, siapa tahu mereka berubah. Aku tidak mau penantianku selama satu tahun lebih akan sia-sia.”

“Terserah, kalau kau kuat. Aku tegaskan, aku tak setuju. Lebih baik putus kontrak saja!” Ratih keras menentang. Aku mengangkat bahu, membuang pandang ke arah teman-teman buruh migrant yang asik berbincang mengenai keluarga mereka masing-masing di sebelah kami. Keluarga, ah, aku juga merindukan ibu dan ayah. Aku anak semata wayang mereka, mereka pasti merindukanku untuk segera pulang. Seminggu yang lalu, ibu menelpon dan menyuruhku pulang, namun aku berkeras untuk tinggal. Dengan alasan uang untuk bekal pulang dan meneruskan sekolah belum mencukupi.

“Aku punya usul, ayo ikut aku.” Aku menurut saja kata-kata Ratih ketika dia mengajakku mengemasi tas dan sisa makanan untuk beranjak dari tempat itu. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun, apalagi Ratih. Terkadang Ratih sering mempunyai ide cemerlang untuk menghiburku di hari libur kami.

Aku menggeleng tegas ketika Ratih menunjukan sebuah majalah bersampul hitam. Aku tidak menyangka kalau Ratih mempercayai ide gila seperti itu. Dan mempercayai majalah yang menampakkan iklan-iklan aneh tambah membuatku putus asa untuk memahami jalan pikirnya kali ini. “Kau gila, sampai mati pun aku tidak akan pernah menghubungi orang aneh dan tak aku kenal, apalagi dari iklan klenik macam begitu, yang benar saja. Kau buang-buang uang saja beli majalah begituan.”

“Satu bulan, dari pada kau tidak melakukan apa pun dalam jangka satu bulan ini. Manusia wajib berusaha, dan hasilnya kita serahkan kepada-Nya.”

“Kau ini sebenarnya percaya pada Tuhan apa tidak, kalau iya kenapa kau suruh aku mengambil jalan aneh?” Aku melangkah cepat untuk meninggalkannya dari sebuah toko yang juga menjual makanan yang disukai para buruh migrant itu. Dia menyejajarkan langkah, secara memaksa dia menyelipkan majalah itu ke dalam tasku. Aku berusaha keras untuk mengambil dan membuangnya namun dia memaksa dengan mata yang ia lototkan lebar.

Kami pergi ke Kowloon Park hari itu, yang hanya berjarak tiga stasiun kalau ditempuh dengan kereta bawah tanah. Kami duduk malas di sebuah bundaran dengan air mancur di tengahnya, tidak antusias sama sekali memandang para buruh migrant yang bersenang-senang dengan menggoyangkan badan. Sekali dua aku menghalau para pekerja laki-laki dari negeri jauh yang hendak duduk di sebelah kami. Saya tak peduli ketika mereka mengumpat pada kami yang telah menganggap tempat duduk umum itu milik sendiri. Ratih senang dengan sikap tegasku, dia asik menghabiskan sisa makanan yang kami bawa dari lapangan Victoria. Aku sedikit melupakan majalah yang masih terselip dalam tas.

Aku tahu apa yang akan terjadi saat aku pulang terlambat. Hari ini aku sengaja pulang lima jam lebih malam dari biasanya. Aku hanya ingin tahu seberapa besar kadar marah majikan yang akan bertambah saat aku menambah jam lambat pulang, sebab tidak terlambat pun kena marah. Dapur apartemen begitu berantakan ketika aku masuk, begitu juga dengan meja makan. Wanita berambut ikal itu sudah memampangkan beliak mata merahnya yang menghujam ke wajahku. Aku berusaha bersikap tenang dalam menghadapinya.

Jam dua pagi, aku telah selesai mengerjakan semuanya, membersihkan seluruh sudut apartemen plus kamar mandi yang bau busuk kotoran si Mbah karena pempersnya tidak dilipat dengan baik dan dibuang di tempat sampah di pojok toilet itu, diakhiri menyetrika baju. Si Mbah yang sudah renta, lumpuh dan sering mengigau di malam hari itu, kembali muntah-muntah. Entah apa yang diberikan anak perempuannya itu, sebab setiap aku tinggal libur pada malam harinya selalu muntah-muntah. Majikan perempuan kembali mengomel, aku membersihkan muntahan diiringi omelannya. Aku menahan pening dan rasa sesak di dada, hingga aku selesaikan pekerjaan.

Jam tiga pagi, sebelum merebahkan diri di atas kasur, aku membereskan tas yang aku pakai untuk libur. Tanganku bertemu dengan majalah yang Ratih sorokkan ke dalam tas berwarna hitam tersebut. Entah oleh dorongan apa, aku membuka halaman per halaman dan terpergok mata ini dengan artikel ke 17 di halaman 27. Gila, mana ada kelakuan semacam itu bisa membuat majikan bertekuk lutut dan menurut dengan pembantu. Yang lebih aneh lagi mengapa majalah yang aku pegang itu artikelnya diberi nomor. Ada-ada saja. Namun kalimat-kalimat keberhasilan yang dikatakan oleh seorang nara sumber membuat rasa inginku menyeruak. Hanya hitungan tujuh hari, majikan menjadi sayang pada pembantu dengan cara aneh yang dipaparkan.

Aku tidak bisa tidur memikirkan artikel yang aku baca. Satu bulan, aku bisa mencobanya, siapa tahu hal itu bisa berhasil, isi kepalaku penuh dengan rasa ingin mencoba. Pagi hari saya mulai melakukan ritual yang disarankan, hingga tujuh hari berlalu, ternyata majikanku tidak juga berubah baik, aku mulai putus asa dan membuang majalah ke dalam tempat sampah.

Di hari ke delapan, aku kembali dimaki-maki oleh majikan perempuan, bahkan dia sudah berani menjambak rambutku. Bagian yang biasanya tidak pernah dia sentuh adalah kepalaku saat aku kena marah dan kena pukul. Hari itu dia berani melakukannya. Hingga kesabaranku mulai menipis, aku mendorongnya keluar kamar mandi. Pada saat itu, aku memang sedang membantu si Mbah mandi, aku tidak tahu kalau si Mbah buang air besar sehingga aku tidak mengganti pempersnya lebih dulu, majikan perempuan melihatku mengganti pempers si Mbah di kamar mandi dan itu membuatnya murka. Aku mendorongnya kembali ketika dia mau masuk ke dalam kamar mandi, sebab dia menghalangi aktifitasku karena kamar mandi di apartemen sangat sempit.

Sebuah botol shampo kaca milik si Mbah terjatuh dan pecah, majikan saya meloncat dari luar ke dalam kamar mandi kemudian menjambakku, aku melawan. Aku melepaskan tanganku yang melingkar di pinggang si Mbah. Pada saat itu, posisi tangan saya sedang memegang pingganya untuk mengganti pampers penuh kotoran. Si Mbah terjatuh, bokongnya mengabruk, pempersnya terlepas. Bokong si Mbah yang tak lagi tertutup pempers dan penuh kotoran berciuman dengan pecahan botol.

~*~

Enam orang polisi berseragam biru berhamburan masuk ke dalam apartemen, mereka memasangkan borgol di pergelangan tanganku. Aku tetap diam mematung, majikanku menangis meraung-raung. Aku tahu majikanku sedih oleh sebab kematian ibunya. Namun aku yakin lukanya tak sebesar luka ayah ibuku di kampung ketika mereka melihat aku mendadak tenar masuk televise nanti. Ketika sisi jahatku lebih mendominasi hati, aku mungkin tidak sadar bahwa apa pun yang aku lakukan akan melukai orang lain. Aku tidak tahu apa yang terpikir dalam benakku saat ini, sesal ataukah rasa syukur sebab telah menorehkan luka menganga pada orang yang telah melukaiku.

Satu hal yang benderang dalam pikiranku hanyalah, artikel nomer tujuh belas yang mengajarkan ritual mencampur ludah ke dalam minuman majikan tidak bisa membantu menjinakan mereka dan menyelamatkanku dari bencana.

22:19, November 7, 2014

Fanling NT

Pernah dibaca di RRI Bilik Sastra