Jemari Kaki Malaikat

dari google

dari google

Oleh Yuli Duryat

 

Seandainya kau bisa melihatku hari ini semenjak bangkit dari ranjang, kau akan langsung mengerti sejak tubuhmu terjulur keluar dari selimut. Ya, kegemaranmu memuji dan tanpa henti memandang jemari kakiku saat kita bersama memang sangat aneh. Hari ini kakiku terbungkus, dulu kau selalu paham apa artinya, namun sekarang keadaannya berbeda. Bukan, lebih tepatnya seluruh tubuhku terbungkus. Ah, bagaimana aku menceritakan ini padamu. Sejatinya aku sangat ingin kau mendengar kabarku dari mulut ini langsung. Aku tak rela kalau kau mengetahuinya dari orang lain, apalagi kotak bergambar gerak itu. Atau para pembuat warta yang sering tergesa menayangkan berita tanpa menelusuri kejelasannya terlebih dulu. Ah, sungguh aku takut kau akan salah paham.

Kau menghirup teh melati sambil memandang cahaya matahari yang memantul ke tembok, ketika aku mengintipmu dari luar jendela. Musim gugur segera menjelang. Angin sejuk menerpa wajahmu ketika kau membuka jendela apartemen, aku menyembunyikan diriku dari pandanganmu. Ini merupakan hari libur yang cerah. Kau menghela nafas memandang ke pegunungan yang menghijau di kejauhan, kosong. Pudel bernama Pepe berjalan ke arahmu, segera naik ke pangkuan. Ciuman dan dekapan deras menghujani hewan kesayanganmu itu. Kau terdiam beberapa saat, suara titik air dari keran di kamar mandi mengganggu acaramu menghemat suara. “Keran sialan, kau tidak sepantasnya rusak lagi!” keluhmu. Kau mengabaikan suara itu dan kembali tenggelam dalam lamun. Biasanya, akulah yang membetulkan keranmu ketika rusak.

Kesendirian itu tidak menyenangkan, kau sepenuhnya tahu itu. Tapi tidak mudah untuk menghapus parasku dengan paras lain. Bahkan semalam bayangku kembali menyelusup ke rimbun mimpi, meniup-niup hatimu yang terluka. Meskipun cubitan itu mengeluarkan hanya sedikit darah, kau tahu wajah dan senyumku menorehkan kesakitan yang tak sedikit. Karena alasan inilah kau jarang tidur, sama sekali bukan insomnia yang memang tidak kau derita. Aku tahu itu dari gumaman-gumamanmu. Pada saat itu rasanya aku ingin menyudahi acaraku mengintip dan berlari mendekap tubuhmu, menelusuri baunya yang telah lama tak aku cium. Kau beranjak meraih tas dan kunci apartemen lalu keluar menggendong Pepe.

Terkadang kau memang membutuhkan waktu untuk sendiri, untuk menikmati sekitarmu, seperti hari ini. Keluar apartemen dan melewati jembatan yang berdiri di belakangnya, menyusuri rumah-rumah penduduk bertingkat tiga, sambil menyapa mayoritas lansia yang duduk-duduk di depan rumah mereka masing-masing. Menikmati indahnya bunga anggrek, bunga mawar di taman-taman, lubang di batang pohon, daun-daun tertiup angin, atap seng penduduk yang menghitam, tembok-tembok yang berlumut, jemuran baju, lap pel, para penjual koran, tukang sampah. Menghirup udara yang panas, pengap, bau kotoran anjing, kotoran manusia, comberan, roti busuk, dan segala bentuk tanda kehidupan lain. Seminggu yang lalu aku masih menemanimu melakukan semua aktifitas itu, tanpa bicara, dan hari ini aku hanya mampu menguntitmu dari belakang.

Setelah puas dengan kegiatanmu, kau berjalan menuju tempat mobilmu terparkir, yang letaknya tak begitu jauh dari apartemenmu. Aku tahu rumah ibumu di Sha Tinlah tujuan mobilmu. Di saat-saat seperti itu, dulu kau suka tidur di rumah ibumu dan menyerahkan Pepe untuk ibumu jaga. Kau tidak mau Pepe merengek saat kau tidak bergairah bermain dengannya. Otakmu blank, aku tahu kau sedang marah dan ingin mengumpat siapa pun atas namaku. Tapi kau memang lebih suka memilih diam ketimbang mengeluarkan amarah di saat otakmu tak bisa berfikir secara sehat.

Aku ingin mengatakan kesalahpahaman tentang hilangnya aku di hari perayaan Dragon Bout Festival beberapa bulan lalu. Aku tidak bisa menerima kenyataan pahit yang harus aku tanggung dalam hidupku. Sangat tidak mudah untuk menjelaskan segalanya tanpa salah paham kepadamu. Aku tahu kalau aku harusnya mencoba, namun aku takut gagal kali ini. Aku sudah sering melihatmu kalah di pertarungan-pertarungan balap perahu, dan kali ini aku tidak mau melihamu kecewa lagi, aku mencintaimu hingga ke tulang sum-sumku. Aku menyelinap masuk mobil, bersembunyi di balik kursi belakang, dengan selimut sebagai penutup. Biasanya, kau menggunakan selimut itu untuk menyelimutiku yang sering tertidur di mobilmu saat kita pergi bersama ke suatu tempat.

Ternyata perkiraanku salah. Mobilmu meluncur ke Tai Wai, menyelusuri Hin Tai Street dan berhenti di salah sau tempat parkir. Kau menempelkan kartu parkir ke mesin yang berdiri dua meter dari mobilmu, bunyi tut membelah kesunyian tempat ini. Bukankah ini bawah apartemen Lion, ada apa kau datang ke sini? Sepuluh menit berlalu, kau menjatuhkan tubuhmu di atas sebuah sofa berwarna biru tua. Begitu turun dari gendonganmu, Pebe segera berlari ke arah Lion yang sedang menuang kopi di atas sebuah cangkir bergambar anjing. Aku mengendap-endap masuk mengikuti kalian.

“Seharusnya aku bisa merayakan kemenanganku dengan Tessa hari ini. Semalam aku bermimpi bertemu Tessa di pantai Stanley. Aku melihatnya berenang dan kehabisan nafas, dia tenggelam. Mimpi yang sama selama tiga hari ini.”

“Kau terlalu banyak berfikir buruk, Sam. Tessa mungkin sedang berlibur ke Jepang, bukankah dia sudah lama ingin berlibur ke Jepang?”

“Seharusnya dia bilang padaku kan?”

“Yah, mungkin dia tergesa pergi.”

“Aku sudah menghubungi semua teman kuliah, teman kerja, teman nongkrong bahkan keluarganya, semua tidak tahu. Apa menurutmu ini tidak aneh?”

“Seperti baru beberapa hari kenal Tessa aja, dia kan sering menghilang dan datang seperti hantu. Semua tahu dan hapal kelakuannya satu itu.”

“Kau ingat Ricardo, teman Bos di kantormu, ketua penyelenggara pertandingan itu? Ketika kita datang di awal pertandingan dan bertemu dengannya. Aku tidak suka caranya memandang Tessa.”

“Kau cemburu pada orang yang salah, Ricardo sudah punya istri dan anak.”

“Aku melihatnya berbicara dengan Tessa.”

“Apa yang mereka bicarakan?”

“Aku tidak tahu.”

“Mungkin dia mengagumi pacarnya yang menggebu ingin memenangi pertandingan.”

“Aku hanya tak suka disebut penjahat.”

Aku mendengarkan percakapan kalian, air mataku mulai menitik. Aku ingin semua ini tetap menjadi seperti ini. Aku lebih memilih semua tetap gelap dan kau tetap dalam kubang kesalahpahaman itu, setidaknya di situ kau tidak akan terlalu merasakan kesakitan. Biarkan aku saja yang merasakannya. Biarkan semua orang tahu aku menghilang karena kemauanku sendiri dan tidak kembali. Tapi aku merindukan kalian.

Ketika aku ingin menyentuh pipimu yang tergolek di sofa, sebuah angin kencang menerpa wajahku. Aku tidak kuat menahannya hingga aku diterbangkan angin. Aku terkejut ketika tiba-tiba aku sudah berada di pantai Stanley. Banyak sekali orang berkumpul dari berbagai negara di tepi pantai itu. Suara pembawa acara keras menggema. Aku berjalan menyusur kerumunan orang. Kakiku menjejak pasir yang kasar. Matahari tertutup mendung yang bergelayut. Di pinggiran yang terdapat emperan tinggi, banyak laki-laki dan perempuan memegang kamera bermoncong panjang. Mungkin mereka wartawan yang akan meliput jalannya pertandingan.

Naluri menarik langkahku menuju sebuah kapal cantik bercat putih. Seorang laki-laki yang hanya mengenakan celana renang berdiri di buritan. Aku tidak tahu dengan siapa ia bicara, tapi samar-samar aku mengenal suara itu. Dari tempatku berdiri, aku hanya bisa melihat jemari kaki seorang perempuan, perempuan itu sedang berbaring di atas kursi panjang. Jemari kaki yang cantik dan terawat. Sepertinya aku sangat mengenal kaki itu, tapi di mana?

“Kenapa kau belum memutus Sam, kau sudah berjanji padaku bukan?” Kata laki-laki tersebut yang kemungkinan ditujukan kepada perempuan berkaki cantik itu.

“Apa kau tak bisa berhenti bertanya? Aku mencintaimu, apa itu tidak cukup untuk kita hingga kau menginginkan lebih.”

“Wajar bukan, seorang kekasih menginginkan pasangannya secara utuh?”

“Kau utuh mendapatkan apa yang kau inginkan.”

“Aku hanya mendapat separo hatimu.”

“Hati tidak penting, Ricardo. Kita mendapatkan kebahagiaan saat kita bersama, itu yang lebih penting.”

Aku ingat, seharusnya aku tidak berada di tempat itu dan berbicara pada Ricardo. Aku ingin mensuportmu yang sedang bertanding. Meminta Ricardo untuk memenangkanmu adalah hal yang mustahil, sebab pertandingan perahu hanya bisa ditentukan dengan kecepatan mereka mendayung sampai ke titik finish. Bukankah aku telah melakukan kesia-siaan yang mencoreng nama baikmu karena memohon kepadanya untuk kelolosanmu? Pembawa acara di microfon begitu semangat menyiarkan pertandingan. Suasana di luar semakin riuh oleh tepukan dan sorakan penonton.

Laki-laki itu masuk ke dapur kapal, menyalakan kompor dan menaruh teflon segi empat bergaris di atasnya. Kapal tampak lengang di tengah keramaian yang sedang berlangsung tak jauh dari tempat tersebut. Dia mengambil botol wine dan menuangnya ke dalam gelas, lalu memasukan sebuah pil ke dalam wine tersebut. Dia beranjak dari dapur kapal kecil itu menemui pemilik jemari kaki yang masih berbaring di buritan kapal. Tak lama kemudian, laki-laki itu sudah kembali dengan selembar daging yang kemudian ia goreng di atas teflon yang terpanggang api. Kesunyian melanda setelahnya, beberapa menit berlangsung. Keramaian di dekat tempat itu seolah lenyap beberapa saat.

Aku terkejut, ketika sebuah cahaya mengkilat mengantarku melangkah ke tempat yang membuatku kesakitan. Di dekat sebuah karang, aku melihat jemari kaki bersinar dan menyembul seperti jemari kaki malaikat dari sebuah tas ransel besar, berkilauan, sebelum menampakkan warna aslinya yang membuatku terangkat ke langit, pucat. Aku memandang ke bawah, dan melihat bahwa jemari itu mirip sekali dengan jemari kakiku.

 

1:26 PM 11/20/2014

Thursday, Fanling NT


Telah dimuat di Koran BI Minggu 7 Desember 2014

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s