Aroma Melati

Dari Google

Dari Google

Cerpen oleh Yuli Duryat

Perempuan itu bernama Mbok Nah, dia sudah bekerja di rumah kami selama tujuh tahun lebih. Setelah mengadakan selamatan kepulangannya dari Makkah tahun lalu, dia balik ke rumah kami di Jalan Belimbing, Rawamangun. Selama satu bulan ia cuti untuk berangkat haji. Dia sebatang kara setelah terjadi tsunami di Jogjakarta pada Mei tahun 2006. Anak dan suaminya meninggal tertimbun rumah, pada waktu kejadian Mbok Nah sedang berada di sawah untuk menanam padi.

Kami sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Dia adalah perempuan desa yang anggun dalam berkata dan enak dilihat meski wajahnya tidak begitu cantik. Tidak berlebihan, kami membelikan tiket pesawat untuknya setiap kali Mbok Nah pulang kampung atau keluar kota. Sebab kami tidak mau ditinggal lama olehnya hanya karena perjalanan kereta atau bis yang memakan waktu. Rasanya, ada saja yang kurang di rumah kami apabila Mbok Nah tidak ada.

Sepulang haji, wajah Mbok Nah tampak lebih cerah, dia juga semakin sering tersenyum. Dia bekerja lebih ulet dari biasanya. Masakan Mbok Nah juga tambah enak, sebab ia rutin mencoba menu baru, sehingga kami tidak jenuh. Kami semakin sayang pada perempuan bertubuh sedang itu.

Kami mendukung sikap baik Mbok Nah. Dua anak kami yang sekarang sudah duduk di bangku SMA banyak meniru sifat Mbok Nah yang ringan tangan, pandai mencontohkan kebaikan-kebaikan. Makanya aku–ibunya anak-anak yang tidak punya banyak waktu untuk mereka, sebab hari-hariku selalu berada di kantor pulang malam pergi pagi, sangat bersyukur ketika rumah kami kedatangan perempuan luar biasa ini. Suamiku sendiri juga mempunyai kesibukan lebih padat dariku, bahkan dia sering pergi ke luar kota atau luar negeri untuk menjalankan bisnis keluarga.

Rumah kami bertingkat dua, lumayan besar dan rapi. Aku hanya bisa membantu Mbok Nah di hari Sabtu dan Minggu, sehingga sekarang urusan rumah tangga sepenuhnya dipegang olehnya. Mbok Nah sudah menjelma ibu dalam keluarga kami, menyiapkan makan berikut kandungan gizi, selalu cemas apabila ada anggota keluarga pulang larut. Meskipun lahir dan dibesarkan di kampung, namun semangat belajar Mbok Nah begitu tinggi, dia banyak membaca buku untuk mengetahui kebutuhan gizi dan segala tetek-bengek kebutuhan keluarga lainnya.

Di rumah kami terdapat tiga taman kecil, yaitu di halaman depan, juga di bagian tengah rumah kami, terbatas dinding kaca dari ruang makan dan dapur. Satu lagi di lantai atas, bersebelahan dengan kamar lumayan besar yang dijadikan tempat anak sulungku melukis, di situ juga terdapat banyak hasil lukisannya. Ya, anak sulung laki-lakiku memang mencintai dunia yang satu ini. Sedangkan anak perempuanku sangat mencintai piano. Piano itu sendiri kami tempatkan di dekat ruang makan, kalau mood-nya lagi baik, dia suka memainkannya pada saat kami makan malam bersama. Kami merasa seperti keluarga besar setiap kami makan malam bersama, terutama pada saat suamiku tidak sedang bertugas ke luar kota.

“Karena Dik Laras menyerahkan tugas rumah tangga sepenuhnya pada saya, maka saya berusaha semampu saya.” Katanya suatu hari.

Namun ada satu perubahan baru sejak Mbok Nah balik dari Makkah. Dia jadi cenderung dengan bunga melati. Dia mulai menanam bunga melati di halaman depan rumah kami, tak sampai sebulan bunga melati itu bermekaran. Dia menatanya rapi di dalam pot-pot. Mengguntingnya apabila sudah panjang batangnya. Meskipun kami juga punya juru kebun, namun Mbok Nah tidak mau dibantu untuk urusan bunga melati ini.

Puas menanam di halaman depan, Mbok Nah melebarkan kecintaannya di taman tengah rumah kami. Sama, tak usah menunggu lama, melati itu pun mulai menyembulkan bunga. Putih merekah, Mbok Nah juga suka memetik bunganya dan menyelipkan ke dalam sanggul, sebelum menutup rambutnya dengan kerudung terusan.

“Saya suka keindahan dan sesuatu yang bersih serta wangi, karena itulah saya menanam melati dalam rumah ini.” Begitu katanya ketika aku menanyakan kegiatan Mbok Nah, sambil iseng memetik dan mencium bunga yang memang wangi segar.

Setelah melatinya tumbuh cantik di taman tengah rumah, Mbok Nah kembali meluaskannya di taman atas rumah kami. Sama seperti melati di halaman depan dan tengah, tumbuhan itu begitu penuh kasih dirawat oleh Mbok Nah sehingga menjadi lebat dan cantik. Anak sulungku pernah iseng melukis Mbok Nah yang sedang sibuk dengan bunga melatinya, sangat cantik. Ia juga melukis bunga melati yang bermekaran, indah. Kami sama sekali tidak merasa terganggu dengan kegiatan baru Mbok Nah, apalagi rumah menjadi semerbak wangi khususnya saat bunga-bunga putih itu bermekaran. Hanya anak perempuanku saja yang merasa risih.

“Serasa ada yang mati mencium aroma bunga ini,” katanya suatu hari. “Mbok kan bisa menanam bunga lain yang lebih bagus dan indah selain melati, Mbok,” protesnya.

Mbok Nah hanya tersenyum dan mengangguk, membeli bunga lain di keesokan harinya. Menempatkannya di pojok halaman tengah, kamboja, indah memang, namun Mbok Nah tidak merawatnya seperti ia merawat melati miliknya. Anak perempuanku hanya geleng-geleng dan protes padaku. Aku menasehatinya, “tidak apa-apa, toh hanya bunga,” kataku padanya.

Ternyata tidak hanya sampai di situ, Mbok Nah kemudian menaruh satu pot kecil melati di setiap kamar rumah kami. Anak perempuanku tidak protes lagi, lama-kelamaan dia terbiasa dengan melati. Dan sekarang, rumah kami benar-benar semerbak aroma melati. Karena selain menanam begitu banyaknya bunga melati, Mbok Nah juga membeli dan menggunakan pembersih lantai aroma melati, pewangi baju aroma melati, sabun cuci, sabun mandi, shampo. Yang terakhir sabun cuci piring aroma melati.

Malam ini, kami yang sudah terbiasa dengan aroma melati dan membiarkan Mbok Nah yang tergila-gila pada melati sedang makan malam. Dia menyajikan menu makan malam, lumayan enak. Suamiku juga sedang berada di rumah waktu itu, itulah alasannya mengapa Mbok Nah masak masakan spesial, itu memang sudah biasa ia lakukan. Anak perempuanku mulai memainkan musiknya ketika si sulung turun dari lantai atas dan bergabung dengan kami.

Musik berhenti, anak perempuanku duduk di kursi, menyendok nasi serta lauk pauknya ke atas piring. Dia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya dan tiba-tiba ia mengerutkan kening, kemudian berlari menuju kamar mandi. Dia memuntahkan nasi yang baru ia kunyah sedikit. Aku panik dan gelagapan, berlari mengejarnya ke kamar mandi, begitu juga dengan Mbok Nah, mengira mungkin anakku masuk angin atau terjadi hal buruk lain.

“Kamu kenapa, ayo kita ke dokter sekarang juga,” ucapku tergesa.

“Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya, Ma, hueek…” anakku kembali muntah untuk yang kedua kalinya.

Aku segera berlari meraih telpon dan mengontak adikku yang seorang dokter untuk datang memeriksa keadaan anakku, tapi nasib tidak berpihak padaku sebab dia sedang berada di luar kota. Takut terjadi sesuatu padanya, akhirnya aku membawa anakku ke dokter di rumah sakit terdekat. Ternyata setelah salah satu dokter dalam rumah sakit tersebut memeriksanya, tidak terjadi apa-apa pada anakku, alias dia sehat wal’afiat, lalu mengapa dia muntah-muntah? Tanyaku dalam hati.

Mbok Nah menarik nafas lega mendengar penjelasan dokter. Dia memang ikut bersama kami mengantarkan anak bungsuku ke rumah sakit. Anak perempuanku menunduk dan meminta ijin kepadaku untuk bicara saat kami berada di dalam mobil berlima, bersama kakaknya dan suamiku.

“Sudah Mia bilang, Mia tidak apa-apa, Ma. Tidak perlu ke dokter segala. Mama sih nggak sabaran. Nggak mau mendengar penjelasan Mia,” protesnya.

“Anak jaman sekarang, pergaulannya bebas, mama takut kamu ada apa-apa,” jawabku.

“Mana mungkin, Ma. Mia hanya…” dia menggantung kata-katanya dan melirik ke arah Mbok Nah serta kami semua, sepertinya dia ragu ingin mengatakan sesuatu.

“Mia hanya tidak mau makan kekenyangan, Ma,” lanjutnya.

“Apa maksudmu, to the point saja, kamu kebanyakan baca novel, berbelit-belit. Kamu bahkan baru makan satu suap tadi,” protsku.

“Mia tidak bisa mencium aroma melati dari piring dan sendok yang Mia gunakan tadi, Ma. Mia ingin muntah, maafkan Mia Mbok Nah. Tapi Mia mohon jangan pakai pencuci piring beraroma melati lagi ya, Mia nggak tahan baunya,” lanjutnya akhirnya mau berterus terang.

Mbok Nah melongo. Untuk pertama kalinya selama tujuh tahun bekerja di rumah kami, aku melihat perubahan di wajahnya. Kaku, serba salah, sedikit bergetar tubuhnya dan yang lebih membuatku khawatir, dia kemudian menunduk dalam. Aku cepat-cepat meraih pundaknya dan tersenyum. Aku takut dia tersinggung.

Selama perjalanan dari rumah sakit yang kami tempuh selama setengah jam, suasana dalam mobil begitu hening, tak ada yang berani mengeluarkan sepatah kata pun. Ekspresi wajah Mia terlihat seperti menyesali kata-katanya. Sedang Mbok Nah terus menunduk, aku jadi tak enak hati melihatnya. Sampai di rumah, Mbok Nah berjalan masuk ke dalam kamarnya setelah mengucapkan selamat malam pada kami dengan wajah sama tertunduk.

~*~

Dua hari berlalu, Mbok Nah masih diam dan menundukan kepalanya. Namun di hari ketiga, wajahnya berubah cerah menyapa kami riang. Pagi hari itu, sederet sarapan pagi ia siapkan di atas meja.

“Saya sudah mengangkat semua pot melati di kamar-kamar,” ucapnya.

Kami hanya diam mendengarkan ucapan Mbok Nah, dan ketika aku ingin angkat bicara, Mbok Nah memotong kata-kataku, “Saya juga sudah memberikan sabun cuci piring aroma melati ke tetangga sebelah dan menggantinya dengan aroma jeruk nipis.”

~*~

Saturday, November 12.06 AM, 2012/11/17

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s