Genggaman Paragraf

 

Cerpen Yuli Duryat

20939-zakon-sud-paragraf-clanok

dari google

Kamu tersenyum-senyum sendiri. Sejak keluar dari apartemen bosmu. Hatimu berbunga-bunga. Ada yang tumbuh di sana. Kamu masuk ke dalam kereta bawah tanah dengan ceria. Menyapa setiap orang Indonesia yang berkerja sama sepertimu dengan senyum yang begitu menawan.

Turun dari kereta bawah tanah, kamu berjalan menyusuri mall dan menuju taman Viktoria dengan riang gembira. Daun-daun yang melambai-lambai tertiup angin tampak begitu indah oleh pandangan matamu. Kamu memungut satu daun yang jatuh, lalu menciumnya, takjim. Meresapi keharuman baunya yang menjalar masuk dan seolah melewati tenggorokanmu.

Hari ini seperti biasa, kamu ada pertemuan membahas buletin. Membaca karya teman organisasi kemudian menunjukan di mana letak kesalahannya. Tentu saja secara masing-masing anggota yang tak peduli kadang membuat telinga merah para pemilik karya. Marah, meskipun kadang berpura-pura dewasa, berkata menerima kritik dan saran dengan terbuka.

Kamu sudah siap. Baru saja sebelum keluar dari apartemen kamu diberi sedikit ilmu tentang itu, oleh orang yang entah mengapa membuat hatimu selalu berdebar-debar. Kamu merasa lebih dari anggota yang lain karena kehadirannya membantumu di setiap kali kamu mengalami kesulitan terutama dalam hal tulis menulis.

Dia adalah laki-laki yang kamu kenal di fesbuk. Yang membuat hari-harimu menjadi berwarna. Sungguh bodoh orang yang tertipu oleh kehardiran cinta yang mempunyai dua wajah itu. Tentu saja bodoh, karena kamu bukan lagi gadis lajang yang bebas menjalin hubungan dengan lawan jenismu. Kamu seorang istri dan ibu dari anak laki-laki berusia lima tahun. Wajah cinta adalah buruk dan baik, berupa  kesedihan dan kebahagian. Karena itu, kalau ia datang kamu harus siap untuk menerima salah satu wajahnya, baik itu buruk atau pun baik.

Minggu yang cerah. Lumayan banyak anggota yang hadir pagi ini. Di antara mereka kebanyakan adalah teman-teman baikmu. Dia juga hadir. Wanita yang sering kamu dengar dari laki-laki yang menumbuhkan kebahagiaan di hatimu itu. Dari semangatnya bercerita, kamu tahu kalau ia jatuh hati pada wanita berbadan tinggi besar teman seorganisasimu itu.

Dadamu berdebar. Ini tidak mungkin. Kamu mati-matian mengingkari perasaanmu. Benar-benar gila, kamu tak percaya dengan debaran yang nyata membuat kamu sesak. Perasaanmu makin kacau ketika kamu berdekatan dengan wanita cantik itu. Ya, dia laki-laki yang kamu kenal di dunia maya itu memang tergila-gila pada perempuan yang kini berada di depan moncong hidungmu.

Kamu menarik nafas berkali-kali. Wanita cantik berjilbab itu adalah teman baikmu sendiri. Keadaan yang kamu alami saat ini seperti dilema. Dan ini adalah kali pertama kamu mengalaminya setelah menikah. Ini gila, meskipun hanya di dunia maya, sama saja kan namanya, selingkuh. Padahal sebelumnya, selingkuh adalah kata sekaligus perbuatan yang sangat kamu benci.

Kamu yang mencintai musim gugur, di mana begitu banyak daun-daun berjatuhan bila angin bertiup, sekarang jadi membencinya. Dedaunan yang sebagian menimpa jilbab ungumu membuatmu kesal. Kamu melemparkan daun-daun itu sambil mengumpat. Kemudian kalau teman baikmu itu memandang ke arahmu, kamu dengan cepat berusaha menerbitkan senyum di bibirmu. Meskipun terasa sesak, kamu tak mau keadaanmu yang sebenarnya terbaca olehnya.

Saat kamu makan bersamanya, dia begitu dekat denganmu. Kamu salah tingkah, karena entah mengapa debaran di dadamu menjadi tak terkendali. Bener-bener edan. Kamu bahkan tak mengerti dan mengenali kelakuanmu sendiri hari ini. Ketika kamu berpisah dengan perempuan cantik itu, kamu merasa sangat lega. Seperti habis terbebas dari beban berat yang baru saja kamu pikul di pundakmu. Terasa sangat ringan. Kamu tak malu-malu menarik nafas dan mengipas-ngipas mukamu sendiri dengan tanganmu.

“Kamu kenapa, Wi?” Tanya salah seorang teman organisasi yang kebetulan duduk di sampingmu.

“Hah, aku?” Kamu terbengong bingung, tak menyangka Retno memperhatikan mukamu yang memerah.

“Iya, kamu kenapa, sakit. Dari tadi kok kelihatan gelisah gitu?” Lanjutnya polos, sambil mengangkat alisnya yang nanggal sepisan tinggi-tinggi.

Kamu menelan, ludah. Tak langsung menjawab. Mencari kata-kata yang tepat agar Retno diam dan tidak bertanya macam-macam lagi. “Oh, aku lagi ada.” Kilahmu sambil memegang perutmu. Ide yang jitu. Retno mendekat dan mengelus-elus punggungmu. Dia yang paham akan kebiasaanmu kesakitan saat tamu bulanan datang, menjadi prihatin. Meskipun dalam hatimu selalu mengumpat, dipijitin punggungmu tak akan mengurangi rasa sakit yang kamu derita. Sungguh bodoh. Ejekmu pada Retno yang sibuk mengambilkan kamu minum, dan memberikan agar-agar yang teman organisasi bawa dari rumah agar perutmu menjadi lebih adem.

“Lebih baik kamu pulang saja.” Ucapnya dengan mimik kasihan melihat keadaanmu. Kamu malah jadi merasa bersalah karena telah berbohong padanya.

“Aku tidak apa-apa. Lagi pula aku tak mau pulang secepat ini. Hari masih siang, aku bosan bertemu majikanku yang cerewet, kamu tahu kan.”

“Oh, ya. Ya sudah istirahat saja. Duduk di belakang sini. Lagian bahas buletinnya kan sudah kelar.”

“Hm.” Kamu mengangguk.

Memang, setiap sebulan dua kali kamu membahas buletin dengan teman seorganisasi. Termasuk wanita cantik itu. Yang entah mengapa sekarang jadi sainganmu. Sebenarnya, kamu tak pernah mengganggap dia sainganmu. Bahkan laki-laki yang kamu kenal itu sudah ditolak olehnya. Karena dia sudah punya calon lain. Dan setelah itu laki-laki itu mengenalmu. Karena seringnya berbincang tentang banyak hal, timbullah rasa suka itu.

Kamu sendiri merasa tentram bersamanya. Tidak seperti saat kamu bersama suamimu. Kalau kamu telpon suamimu di kampung, hal yang biasa dibicarakan hanyalah uang dan masa depan. Dua hal itu tak pernah berubah walaupun kamu sekarang sudah enam tahun bekerja di Hongkong. Apa boleh buat, meski begitu kamu tak pernah tergoda untuk mendua. Seperti kebanyakan teman-temanmu yang mempunyai banyak atau sering bergonta-ganti kekasih. Baik lewat telpon mau pun yang lebih dominan lewat dunia maya. Kamu tak tertarik. Menurutmu, setia dengan satu orang adalah keindahan. Keindahan pribadi yang selama ini kamu sanjung.

Bukan orang yang mudah berpaling, itulah dirimu. Sebetulnya, kamu adalah tipikal wanita idaman pria. Kamu begitu setia dan sayang kepada anakmu di kampung. Selalu istikomah bekerja mencari uang itulah dirimu. Kalau sedang kangen keluarga, kamu meluapkan apa pun yang ada dalam pikiranmu kepada keyboard-mu yang telah begitu akrab dengan dirimu. Kamu sudah merasa puas dengan apa yang kamu lakukan. Tujuanmu sederhana saja, membuang semua pemikiran yang datang agar tumbuh pemikiran baru yang lebih bersih.

Selama ini, kamu bukan perempuan yang mempan bujuk rayu. Kamu lebih suka tenggelam dalam imajinasimu setiap hari. Bercengkarama dengan daun yang berjatuhan, dengan angin yang berhembus, dengan ombak yang bergemerecik. Kamu merasakan itu semua, meskipun hari-harimu berlalu di kamar sempit berukuran dua setengah kali tiga meter.

Boleh jadi apa yang orang katakan tentangmu itu benar, aneh. Ya, kamu adalah orang yang teramat pendiam dan sangat aneh. Walau pun setiap hari kamu membuka fesbuk atau pun blog, tapi kalau kamu memang sedang enggan berbincang dengan orang, kamu hanya memelototi apa yang terjadi di sana. Oleh sebab itulah, meski temanmu banyak di fesbuk, kamu bukan termasuk orang yang populer. Orang-orang segan padamu.

“Kamu sedang jatuh cinta?” Entah mengapa, Retno begitu pintar melontarkan kata-kata itu padamu.

“Kamu jangan ngaco.”

“Habis, nggak biasanya kamu begini.”

“Jangan sembarangan ngomong. Sebaiknya aku pulang saja sekarang.”

“Lho, katanya kamu tidak mau mendengar ocehan majikanmu.”

“Pulang sekarang atau nanti, sama saja kan. Aku bakal ketemu mereka. Kami hidup serumah, jangan lupakan itu.”

“Yaelah, itu sih aku sudah tahu.”

“Makanya jangan banyak tanya, aku mau pulang.”

“Kita nggak jadi ke pantai?” Giliran Retno yang terbengong melihatmu beranjak membereskan tas hendak pergi.

 “Nggak nafsu.”

Sampai di aparteman, kosong tak ada orang. Bukan pekerjaan atau pun masuk kamar mandi membersihkan diri hal pertama yang kamu lakukan. Kamu langsung membuka komputermu dan menyalakan internet. Masuk ke fesbuk dan membuka percakapan. Jaringan internet di rumahmu memang terbilang sangat cepat dan bagus. Meskipun oleh karena itu jadi sering terkena firus. Itu akibat kamu yang tak mau diam, browsing dan mengunduh berbagai fitur.

Kamu melihatnya online, dan bernafas lega karenanya. Langsung kamu mengetikan kalimat salam dan basa-basi.

“Aku berjumpa denganya.” Katamu tanpa diminta memberi tahu.

“Siapa….”

“Dia….” Kamu berteka-teki.

“Siapa sih?”

“Tahu sendirilah, ndak usah nanya?” Kamu mulai jengkel.

“Oh, apa yang dia katakan tentangku?”

“Tidak ada.” Dadamu terasa panas dan menutup window dengan segera. Kamu beristighfar. Pada saat yang sama hapemu berbungi klik-klik. Ada SMS masuk. Dari suamimu. Kamu menarik nafas dan merasa bersalah dengan apa yang telah kamu lakukan.

Dik, boleh mas telpon, adek pengen ngomong nih? Begitu bunyi SMS suamimu. Sejak kapan sih, mas jadi formal begini? Kamu mengirim balasan cepat. Sejak belajar menulis, kamu memang tak pernah mengirim SMS dengan gayanya. Kamu selalu mengetiknya dengan benar tanpa disingkat apalagi pakai bahasa alay. Selang sedetik, hapemu berdering, kamu segera mengangkatnya. Suara seorang bocah laki-laki di seberang terdengar riang.

“Buk, kapan pulang. Cepetan pulang ya, Buk. Adek pengen bobok sama, Ibuk.”

Seketika, air matamu tanpa dikomando leleh. Perih rasanya hatimu tersayat kata-kata yang baru terlontar dari bocah yang lahir dari rahimmu lima tahun yang lalu. “Apa yang aku lakukan selama ini,” umpatmu dalam hati. Kamu merutuki perbuatanmu, berselingkuh meskipun hanya di dunia maya. Hampir limapuluh menit kamu mendengarkan putramu berceloteh, menyanyi dan sesekali bergantian dengan bapaknya.

Tatapan matamu memandang ke luar jendela. Daun-daun berguguran tertiup angin yang sebagian menyelinap masuk membelai-belai wajahmu, lembut. Air mata di pipimu mengering oleh hembusannya. Pegunungan yang tampak menghitam seiring malam yang menenggelamkan senja seolah menjelma pegunungan di kampungmu. Bau rumput dan batang-batang pohon padi di sawah menyelusup rongga hidungmu. Indahnya.

Kamu menurunkan hape yang berhenti sendiri karena kehabisan pulsa dari telingamu. Sosok ustad yang selalu terpampang di monitor komputer setiap kali kamu menyalakannya menjadi buram. Berganti keceriaan sosok bocah dengan senyum polosnya menunggu kepulanganmu di kampung halaman.

Meskipun tiada hari tanpa berselancar di dunia maya, keteguhan dan keindahan bunga kesetiaan yang sempat layu di kebun hatimu, kini bertumuh dan bermekaran. Menjadi subur. Sejak saat itu, kamu mengganti namamu di fesbuk dengan nama suamimu. Meski statusmu di sana tetap sama. Dan kini, kamu mengabadikan kisahmu dalam genggaman paragraf. Menjadikannya berlembar-lembar dalam dokumen komputer majikanmu.

~*~

8:52 PM Wednesday, 2012/4/11

Juara dua menulis cerpen bersama perpustakaan Bentang Al-Ikhlas pada tahun yang sama cerpen ditulis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s