Fuk Jan

Cerpen Yuli Duryat

561500_581491855222461_1566112002_n

by Yuli Duryat

 

JAUH-JAUH aku terbang mendaratkan nasib di negara entah, bukan untuk akrab dengan rumah sakit. Namun, di sinilah aku untuk entah yang keberapa kalinya harus berada di rumah sakit. Hujan begitu lebat di luar, sebuah karpet karet panjang dibentangkan di balik pintu, benda penggantung plastik untuk menaruh payung agar airnya tidak membuat basah dan licin lantai berdiri di sebelahnya. Hospital Authority, terpampang besar di atas gedung. Bau obat menampar-nampar hidungku saat pintu otomatis terbuka memprsilakan aku masuk. Terletak di daerah Tai Po Market.

Aku menggandeng tangan Hin Hin, anak asuhku, untuk antre menyerahkan secarik kertas dan kartu identitas. Dokter, suster, orang dengan berbagai penyakit dan usia berseliweran di gedung ini. Dengan cepat, setelah menerima bukti pembayaran aku melewati korindor rumah sakit. Tepat di depan ruangan tempat Hin Hin mengecek berat dan tinggi badan, sebuah layar besar menayangakan nomor pasien yang antre menunggu obat, berdengung. Kelebat angka-angka semakin lama berlipat jumlahnya saling mendahului.

Ruang tunggu untuk masuk ke ruang periksa begitu luas. Berbagai orang dengan ekspresi muka bermacam-macam duduk di sana, muka pucat dan kaku mendominasi sebagian dari mereka. Kursi berwarna ungu berjajar memanjang. Hin Hin, anak dengan pertumbuhan tubuh yang kurang memegang iPad, duduk di kursi sebelahku bermain game. Sementara menunggu, ingatanku mendarat di beberapa hari yang lalu.

****

Ah! Aku membanting panci besar berisi daun-daun obat. Kepala terasa pening, perut begitu mual, tidak tahan mencium baunya. Beberapa minggu yang lalu, lebih ekstrem menurutku sebab dalam panci khusus untuk merebus obat tersebut, terdapat potongan ular kering dan serangga. Aku berusaha bertahan dengan bau itu sambil membayangkan wajah Hin Hin yang begitu penurut. Seperti ayah ibunya, aku selalu berdoa dan berharap agar anak malang ini diberikan kesembuhan dan kesehatan seperti layaknya anak-anak lain.

Langkah aku seret ke tepi jendela, membiarkan panci tetap tergeletak di lantai. Gedung pencakar langit dan pegunungan di kejauhan yang biasanya terlihat indah tertutup kabut putih. Apartemen terasa lengket, musim lembab, kalau tidak menyalakan mesin pengering, wallpaper bisa menghitam akibat jamur. Tembok biasanya mengembun membuat apartemen berukuran 600 meter ini terasa sangat tidak nyaman. Apalagi di lorong menuju lift, becek seperti habis banjir.

Pulang sekolah, anak asuhku yang berumur sembilan tahun harus mandi dan berendam di dalam bak mandi besar dengan air rebusan obat herbal, begitu penjelasan majikan. Karena itu, aku harus merebus dedaunan obat itu sebelum jam empat saat dia pulang sekolah. Dokter herbal yang biasa kami sebut Fei Isang-lah yang mengajarkan itu, selain merebus obat-obatan yang terdiri dari biji-bijian, akar-akaran, dedaunan yang semua dikeringkan untuk diminumkan pada Hin Hin, agar penyakit kulitnya bisa sembuh. Fei berarti gemuk, sedangkan Isang berarti dokter. Oleh sebab dokter langganan majikan bertubuh gemuk, maka dia kami panggil Fei Isang. Seminggu berlalu, bukannya menjadi sembuh, bintik-bintik merah tumbuh memenuhi seluruh permukaan kulit tubuhnya, sehingga pengobatan pun dihentikan.

Selain merebus obat herbal, setiap hari aku juga harus membantu Hin Hin untuk mengoleskan krim di seluruh tubuhnya sebab kulitnya begitu kering. Menitikan obat tetes dan mengoleskan krim mata, sebab matanya sejak umur delapan bulan juga bermasalah. Rumah harus super bersih sebab kulitnya sangat sensitif.

Setiap tidur di malam hari, dari hidungnya mengeluarkan suara yang sangat keras. Pada awal aku datang, setiap malam aku tidak bisa tidur dan ketakutan. Selain mengeluarkan bunyi, tangannya begitu aktif menggaruk sehingga kulitnya mengeluarkan darah, membuat sarung bantal dan seprei cemong di mana-mana. Di bagian bawah telinganya bahkan mengoreng sebab saking seringnya digaruk. Hin Hin, banyak menghabiskan waktu di sekolah dari jam tujuh pagi hingga jam empat  sore, oleh sebab itulah aku tidak bisa mengawasi dia full time setiap harinya.

“Setiap orangtua tidak mau punya anak tak sehat, tapi Tuhan memberikan Hin Hin pada kami. Tentu kami menerimanya sebagai anugrah,” bijak kata majikan saat menceritakan riwayat kesehatan Hin Hin padaku untuk pertama kalinya, pada saat aku baru bekerja di apartemen penuh kehangatan ini.

Dua file besar berisi jadwal-jadwal check up dari bayi hingga umurnya sekarang dia tunjukan padaku. Ketika Hin Hin habis operasi mata di usia delapan bulan, setiap malam saat Hin Hin tidur, mereka berdua bergantian menjaga dan mengikat tangan Hin Hin dengan kain, agar bayi malang ini tidak menggaruk matanya yang ditutup plaster.

****

Panggilan nama Hin Hin dari interkom membangunkan lamunanku. Seorang suster berpakaian merah muda keluar dari pintu besar, menyambungkan ruang tunggu dengan ruang periksa yang berjejer di depan tempatku duduk. Ia membawa map yang begitu tebal dan memanggil nama anak asuhku. Aku bangkit dan berdiri, Hin Hin masih asik dengan iPad-nya saat aku mengajaknya masuk ke salah satu ruangan yang tidak begitu besar.

Pandanganku berputar mengelilingi langit-langit yang tinggi berbentuk kotak. Aku sudah terbiasa mengantarnya tanpa didampingi majikan. Mereka berdua, ayah ibu Hin Hin sibuk bekerja. Bos laki-laki bekerja sebagai pegawai negeri di Food and Environmental Hygiene Department. Sementara majikan perempuan bekerja di sebuah bank Amerika yang membuka cabang di Hongkong ini. Oleh kesibukan itulah menumbuhkan alasan untuk mengambilku dari agen penyalur tenaga kerja untuk membereskan urusan rumah tangga dan menjaga anaknya.

Dokter berparas cantik menyambut kami, sibuk menatap komputer ketika mulutnya berbasa-basi pada Hin Hin, menanyakan kabar. Aku memandang sekilas mukanya ketika ia dengan cepat melirikku dan mengagguk dengan cara cepat pula. Meskipun suaranya lembut, namun kecepatan intonasi dalam berbicara menanamkan kesan tidak begitu peduli di lubang telingaku. Seperti lazimnya orang Hongkong saat berbicara, cepat dan terkesan kasar.

Aku ingin melihat secara langsung bagaimana dokter memeriksa Hin Hin, namun tidak boleh. Di setiap rumah sakit yang aku kunjungi, selalu begitu prosedurnya, sama. Mereka menutup dengan kain pembatas, kecuali check mata, aku bisa melihat secara langsung bagaimana Hin Hin diperiksa, dan itu membuatku merasa lega.

Suara dokter cantik bernama Eva Wong itu terdengar lembut meskipun aku tidak tahu apa yang sedang ia lakukan pada Hin Hin, ia dibantu seorang suster. Lima menit kemudian, tirai berwarna biru terbuka, Hin Hin turun dari ranjang dibantu suster. Aku cepat menyongsong dan membantunya membenahi pakaian dan mengenakan sepatu kembali yang sebelumnya dilepas saat mau naik ke atas ranjang berseprai abu-abu.

“Perlu bikin surat pengantar untuk sekolah tidak?” tanya dokter cantik itu kepada Hin Hin, saat dia selesai menjalani pemeriksaan.

“Mau, Dok,” jawab Hin Hin yang kembali sibuk dengan game-nya.

“Kami harus mengambil sampel darah dan melakukan rontgen pada Hin Hin hari ini, Cece,” kata dokter itu padaku yang aku jawab dengan muka kaget.

“Mengapa?” tanyaku sesaat setelah bisa menguasai diri dari rasa kaget. Karena ini untuk pertama kalinya setelah berderet-deret fuk jan yang Hin Hin lakukan.

“Tidak apa-apa, agar kami bisa tahu mengapa pertumbuhannya tidak stabil seperti anak-anak lain,” jelas dokter lembut.

Aku sampai hafal muka berkaca mata itu. Meskipun anak asuhku melakukan check up atau fuk jandengan gratis sebab dibiayai pemerintah, raut mukanya tidak pernah berubah. Aku mendapati raut muka yang sama ketika mengantar Hin Hin untuk check up di rumah sakit yang berbeda. Di rumah sakit khusus mata, rumah sakit khusus THT, rumah sakit khusus pelajar, dokter-dokter yang memeriksa Hin Hin hampir mempunyai raut muka sama. Aku menyimpulkan, dokter-dokter tersebut berbicara, memandang, melirik secara cepat namun ketika tangan mereka menyentuh tubuh pasien, begitu lembut. Mungkin disebabkan banyaknya pasien yang antre di rumah sakit sehingga para dokter tersebut bekerja dengan cepat dan tepat tentunya. Bedanya dengan dokter umum yang juga sering aku kunjungi bersama Hin Hin sebab ia kerap batuk dan demam dalam ruang praktek, selain membayar biaya yang tidak sedikit, dalam mengurus pasien, mereka lebih lambat.

Aku keluar dari ruangan itu, menuju ruangan untuk mengambil sampel darah. Hatiku teriris saat melihat bocah itu kesakitan diambil sampel darahnya sebanyak seperempat kali enam botol sebesar ibu jari orang dewasa, sebab darahnya susah keluar. Suster dalam ruangan tersebut memberiku tiga botol untuk dibawa pulang, botol kecil yang harus diisi dengan tiga kali ‘air besar’ Hin Hin. Meskipun dia bukan anak kandungku, namun aku menyayanginya, aku bahkan merasa gelisah dan marah saat Hin Hin menjalani rontgen seorang diri di dalam ruangan sedangkan aku disuruh dokter untuk menunggunya di luar.

Alih-alih keluar dari rumah sakit tasku terasa berat sebab penuh dengan krim pelembab kulit sebanyakenam botol, krim untuk mandi sebanyak empat botol, salep kulit yang harus dioleskan tipis-tipis pada koreng Hin Hin dua kali sehari, juga salep jenis lain yang harus dioleskan tiga kali sehari, hari ini aku tidak membawa pulang satu obat pun. Lemas tubuhku, tanganku malas menggandeng Hin Hin keluar dari rumah sakit, sambil berdoa kepada Tuhan, semoga dia diberikan kesembuhan. Kata-kata dokter tentang penyebab terhambatnya pertumbuhan Hin Hin masih terngiang di kupingku bagai bisikan hantu.

Tiga jam berlalu setelah aku sampai di apartemen yang terletak di Fanling, telpon rumahku berdering. Aku mengangkatnya dan berdebar saat seorang laki-laki menanyakan Hin Hin, lalu menjelaskan bahwa mereka menyuruhnya untuk kembali ke rumah sakit besok pagi jam sembilan untuk fuk jan. Malam harinya saat majikan pulang, aku menyampaikan keadaan di rumah sakit tadi siang. Dengan gemetar dan takut, aku menceritakan Hin Hin kesakitan saat diambil sampel darah. Menjalani rontgeen, mereka tidak memperbolehkan aku masuk.

“Tidak apa-apa, itu memang sudah menjadi prosedurnya di sini,” ucap majikan perempuan lembut.

“Tapi, dia kan masih kecil,” jawabku cemas. Majikan perempuan dan laki-lakiku tersenyum, tidak menjawab.

Meskipun bekerja di rumah majikan yang kerap belanja dokter membuatku sadar, penyembuhan itu baik dilakukan dengan mencari penyebab mengapa penyakit itu ada, bukan hanya mengobatinya saja, namun aku sangat sedih. Semoga Tuhan mendengar doaku agar Hin Hin lekas sembuh. Aku diam dan tidak bertanya lagi, masuk ke dalam kamar untuk istirahat, diikuti Hin Hin.

***

Hin Hin berbaring di sebelahku, memandang lampu bergambar bintang di langit-langit kamar. Kami memang tidur sekamar berdua di atas dua ranjang yang berjejeran. Lalu pelan dia berkata, “Aku sudah besar kok, bisa sendiri. Cece tidak usah khawatir.”

Aku tak tahan untuk tidak menitikan air mata. Meskipun hatiku sedikit lega mendengar dan melihat raut wajah Hin Hin yang tidak merasa terganggu dengan apa yang dia alami.

 

Telah dimuat dan diedit seperti keterangan di link sbb: http://www.radarbanten.com/read/berita/140/9489/Fuk-Jan.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s