Pemilik Punggung Lebar Berwajah Kucing Mandung

 

Telah dimuat di Berita Indonesia Nomor 149 Tahun XIV, Januari 2014

 

 

“Tidak-tidak! Aku harus mencegah hasrat untuk meraba wajah itu,” kataku gemetar. Rajangan daging babi beterbangan ketika pisau besar aku ketukkan, sebagian mencelat di getar wajah, bertengger di ceruk bekas jerawat. Ceruk-ceruk itu mempunyai tali-tali menjulur ke hati, mengikat wanita-wanita simpanan yang dengan tetes-tetes keringatku kau membeli. Tali yang membuat hatiku mengkerut, kisut. Kamu, suamiku tercinta yang sejak orok dalam perutku belum bertulang, sudah memberi ancang-ancang padaku untuk menafkahimu. Kau melempar beban membesarkan anak kita pada orang tuamu yang telah keriput, enggan menggunakan tubuh mudamu untuk berusaha lebih keras. Sepuluh tahun lamanya, aku bergumul dengan dingin. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya, sebab kau dilahirkan bukan untuk menjadi penunggu sepertiku. Jangankan merdu suara angin, teriakan kerasku pun tak terdengar olehmu.

Tidak biasanya saya begini, mengerjakan pekerjaan rumah dengan perasaan yang berkacau. Saya menyobek plastik saus bolognese dengan gigi, sebagian tumpah ke spageti yang sudah saya taruh di wajan, sebagian meleler ke muka. Saya kecilkan api kompor. Berlari ke kamar kecil dan bercermin, saus itu menutup daging babi cincang di atas ceruk bekas jerawat, saya mengelapnya dengan punggung tangan, menyisakan bekas saus seperti garis memanjang ke samping. Badut yang tak pandai berias, itulah penampakan di atas cermin. Spageti sedikit gosong, sausnya habis terserap api. Saya samarkan bau sangitnya dengan keju bertabur.

Sesungguhnya, saya tidak pernah merencanakan pertemuan ini, hanya jam makan anak asuh saya menuntut saya keluar di jam 11.30 setiap hari Senin hingga Jumat. Kejenuhan harus saya telan mentah-mentah demi segepok uang gaji, mengalir di penanggalan awal dari majikan. Perjalanan saya diwarnai dengan pertemuan saya dengan kucing. Di antaranya kucing gemuk berwarna kuning, kucing hitam yang entah karena mengejar cicak bertengger di batang pohon dengan ketinggian sepuluh meter dari permukaan tanah, banyak pengguna jalan menertawakan kucing hitam tersebut dan ada juga yang iba melihatnya, kucing mungil bertubuh langsing dengan mata yang tajam dan indah, kucing loreng yang lari saat ada orang hendak menangkapnya untuk dipelihara; entah kenapa dia lari, mungkin dia lebih suka melenggok di alam bebas.

Saya menyadari kehadiran kucing-kucing tersebut saat saya tanpa sengaja memandang ke arah selatan agak lama. Setahun lebih semenjak anak asuh saya masuk di LauTingPongScondarySchool, saya baru menyadari, dekat di sepanjang perjalanan, banyak kucing-kucing yang memperhatikan saya dari kejauhan. Ketika suatu hari, saya berjalan dengan hati-hati agar mereka tak menyadari kedatangan saya, kenyataan baru muncul, bahwa kucing-kucing yang memperhatikan saya selama perjalanan itu semua berkelamin betina.

Biasanya, saya selalu menyumpal telinga dengan musik kesukaan saya dari headphones yang tersambung ke telepon genggam, untuk memisahkan diri dari keramaian kota saat keluar apartemen, dan membukanya ketika akan sampai tujuan saya keluar. Sekolahan memang terletak di tempat yang agak sepi, karena itulah saya memberanikan diri menanggalkan headphones dari telinga lebih cepat dari biasanya. Pada saat itulah, saya mendengar meongan seekor kucing. Saya mencari-cari, saking fokusnya mencari asal suara, saya tidak mendengar telepon genggam saya berbunyi. Ya, memang dering hape saya beberapa tahun belakangan mirip meongan kucing. Saya tidak pernah mengganti dering itu dari lagu kesukaan saya, tapi jelas terdengar di telinga saya setiap hape itu berdering, suaranya mirip meongan kucing kelaparan.

Perut kucing hitam itu kembang-kempis, saya rasa dia kelaparan. Saya menemukannya mondar-mandir di bawah pohon, seorang warga lokal memberikan sekerat roti untuk kucing tersebut, tapi saya lihat dia tidak tertarik. Pada saat yang sama, hape saya terus berdering, saya mengabaikan telepon dan kucing tersebut. Saya takut terlambat mengantar nasi, sekolah tinggal beberapa jengkal lagi. Dan kalau saya terlambat, itu artinya saya tidak bisa berpapasan dengan wajah itu, dan saling menyapa dengan pandang mata, meski kami tak pernah saling bertegur dan berbicara satu sama lain. Status saya mengikat dengan ketakutan akan dosa untuk mencobanya. Tetapi angan saya liar menggigit, seperti apakah gerangan rasa menyentuh pipi yang seolah selalu merona itu?

Wajah jenuh yang selalu tersenyum setiap kali menyapa saya sedang tertunduk, tekun mengamati layar kecil, mungkin dia sedang menonton film dari I Pade. Pos jaga yang terkesan membosankan, bisik saya. Sebelum berlalu meninggalkan pos tersebut, penjaga berwajah jenuh itu memanggil dan menyerahkan amplop biru. Saya sangat penasaran ketika perempuan itu memperingatkan untuk membukanya setelah saya sampai di apartemen majikan saya di daerah Fanling. Tai Po tidak seberapa jauh dari apartemen, namun rasa penasaran memanjangkan jarak tunggu yang tak sabar.

Sepanjang perjalanan pulang, saya mengibas-ngibas amplop, sesekali menimangnya. Semakin tangan saya bergerak, meraba permukaannya, semakin penasaran rasa hati saya. Saya mengabaikan kucing-kucing dalam perjalanan, lebih tertarik dengan pertanyaan apa sebenarnya isi amplop tersebut, atau jangan-jangan kosong. Ada maksud apa gerangan perempuan berwajah jenuh memberi saya amplop yang katanya dari orang lain. Sementara saya sendiri tak mengenal lebih jauh wanita itu selain penjaga pintu masuk sekolah.

Selama perjalanan menuju stasiun kereta untuk pulang, saya gelisah. Suara hape yang mengeong saya abaikan, saya memang sengaja melirihkannya, agar tidak mengganggu orang lain kalau saya dalam kereta dan sedang malas mengangkat telepon. Ketika saya menengok hape kemudian ke amplop, dan melanjutkan tengokan ke sekeliling saat berada di depan kereta, saya melihat mbak-mbak dari Indonesia menggendong kucing, dari mulut kucing tersebut menjulurkan headphones menyumpal telinga mbak-mbak tersebut. Saya terkejut, keasikan saya melihat mesin pemberitahu yang menampakan berapa menit lagi kereta berangkat sedikit terusik. Biasanya saya memilih kereta yang datang lebih cepat dari kereta lainnya. Keseringan naik kereta cepat memberikan refleks pada tubuh saya untuk berdiri dari kursi penunggu ketika melihat waktu tunggu berjumlah lebih kurang dari waktu tunggu sebelumnya, dan tetap duduk bila sebaliknya.

Cepat saya memilih tempat duduk untuk satu penumpang, dari situ, saya bisa melihat gerbong-gerbong berderik-derik perlahan. Saya sangat menikmati naik kereta jam siang, tidak banyak penumpang. Di dalam kereta, saya melihat mbak-mbak tadi wajahnya murung, dia duduk tepat di kursi berhadapan dengan saya, tangannya takzim menggendong kucing dan mempermainkannya. Bulu-bulunya indah dan terlihat masih muda, saya dengar kucing itu mengeong-ngeong, mungkin lapar. Saya menegur mbak tersebut.

“Kucing Mbak lapar?” dia mengangguk.

Manuk gagak berkoak ketika saya membuka amplop biru di depan jendela apartemen. Burung hitam itu terbang ke selatan, pertanda yang kurang baik menurut kepercayaan di kampong saya nun jauh di seberang, tetapi tak ada artinya untuk para penghuni apartemen, terlebih burung itu hampir setiap hari berkoak di sini. Tak terduga isi amplop dan siapa pengirimnya, dia laki-laki yang membuat saya tetap bertahan tidak terlambat atau terlalu awal semenit pun dari jadwal mengirim nasi. Dia ingin bertemu dengan saya, laki-laki yang tidak saya kenal namun saya rindukan. Tidak hanya bertemu, tapi ingin bicara. Saya semakin penasaran, apa gerangan yang ingin dia bicarakan dengan saya. Kalau bertemu nanti, apa kata yang tepat untuk saya ucapkan pertama kali kepadanya?

Laki-laki itu yang biasa bertemu dengan saya di depan pos jaga sekolahan. Dia keluar dari arah dalam, berlawanan dengan saya yang masuk dari arah luar, kemudian mata kami saling bicara beberapa detaik. Dia meneruskan perjalanan keluar, lalu saya yang tergesa menaruh boks makan siang, langsung membuntutinya dari belakang. Saya akan terus membuntutinya karena kebetulan arah kami sama, sampai dia berbelok ke seberang menuju restoran. Banyak tanda tanya yang saya tulis di punggungnya. Banyak pula kata-kata yang saya ukir di kelebarannya, juga cerita-cerita tentang kamu dan wanita-wanitamu, juga kucing-kucing yang mengawasi saya, tak kalah heboh kucing-kucing pemalas yang hanya menginginkan hidup enak tanpa usaha, terakhir tentang kucing mbak-mbak yang saya temui dalam kereta. Dan, kucing oh, hape saya mengeong lagi.

Kali ini aku mengangkatnya, sebagai bentuk rasa bersalah, sebab aku telah memikirkan orang lain yang bukan kamu sebagai kehalalan untuk aku pikirkan. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu kali ini, sebab ini tanggal 15, gajiku sudah habis aku kirim, ke siapa lagi kalau bukan ke kamu. Laki-laki yang pandai membohongiku dengan berbagai cara, untuk memberi makan kucing-kucing kamu, ah sejak kapan kau beternak kucing? Aku kira kau tak cocok beternak atau segala jenis kerja keras lain. Kau tak percaya saat aku bicara, suaramu berubah meongan seekor kucing. Ah kau, kau adalah laki-laki yang seharusnya aku hormati, tapi demi Tuhan, telingaku mendengar kau mengeong, dan tiba-tiba aku melihat perubahan pada apa yang aku pegang, kucing besar melingkar di pergelangan tanganku, dari mulutnya menjulurkan headphones yang menyumpal kuping, persis seperti pemandangan yang aku lihat di kereta, mbak-mbak buruh migran sepertiku yang menggendong kucing. Aku melempar kucing itu dan berlari masuk kamar. Majikanku yang kebetulan sedang cuti tahunan mengetuk pintu kamar dan menyerahkan hape yang hancur berantakan. “Mengapa kau membanting hape-mu, sayang kan jadi hancur begini?” Itu bukan hape, itu kucing, jawab saya berteriak. “Jisin a lei?” Aku menutup telingga tak mau mendengar majikan yang menganggapku sinting.

Langkah gemetar, dada berdebar tak sabar untuk sampai di depan pos jaga sekolahan. Ini hari yang dia janjikan untuk bertemu dengan saya. Dia pemilik punggung lebar yang saya lukis dengan berbagai cerita setiap harinya. Apa gerangan yang ingin dia katakan. Saya sendiri sibuk merangkai kata yang akan saya ucapkan untuk pertama kalinya. Saya mengabaikan pandangan kucing-kucing yang menatap curiga. Ah, apa peduli, mereka hanya kucing yang bisanya hanya mengeong.

Petugas pos jaga tersenyum ramah pada saya, perempuan itu memberi isyarat kepada saya untuk berjalan ke arah selatan. Tepat di bawah pohon bambu, tak begitu jauh dari tempat saya sekarang, saya melihat punggung lebarnya, oh, dia menunggu saya di sana, tempat yang cocok, lumayan sepi. Saya setengah berlari ke arahnya. Tak sabar untuk segera mempraktekan kata pertama yang sudah saya hapalkan semalaman. Tinggal beberapa jarak kami, saya berhenti dan tersengal. Mengatur nafas sambil menekan dada saya yang turun naik.

Setelah saya merasa tenang, saya menyapanya dengan suara lembut yang terdengar dibuat-buat. Dia menjawab sapaan saya sebelum akhirnya berbalik, dan!! Astaga!! Kucing!! Laki-laki pemilik punggung lebar yang sebelumnya saya lihat berwajah selalu merona itu kini berkumis panjang kiri kanan satu-satu, persis seperti kucing mandung atau kucing jantan. Kucing jantan yang menggendong kucing betina melingkar di lengannya, dari mulut kucing betina tersebut menjulur headphones menyumpal telinga.

Tuesday, 10 December 2013

Fanling NT Hong Kong

Advertisements

2 thoughts on “Pemilik Punggung Lebar Berwajah Kucing Mandung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s