Lau Xin Yi

Intai Edisi 85 12/2013

Cerpen Yuli Duryat

Laki-laki itu tersenyum, nyengir kuda, dan akhirnya tertawa. Ia tak hirau sapuan angin kencang menjatuhkan daun beringin. Satu dari daun yang berjatuhan itu, terserak di atas kepalanya. Masih tertawa, ketika langkahnya gontai menuju gubuk di samping pematang sawah. Di belakangnya, sang ibu menangis. Hatinya tersobek oleh belati kesedihan.

Dalam benak laki-laki itu, gadis berwajah sayu di bawah payung berwarna unggu. Ia menunggunya datang di bawah pohon bambu. Bersama kehadirannya langit menangis. Isaknya menjatuhkan buliran-buliran. Lelaki itu tersenyum saat ia dan si mata sipit berjalan beriringan. Tak peduli orang sekeliling menatapnya heran.
~*~

“Hai…” seorang wanita menghampiri lelaki yang duduk bermuram durja di sebuah gubuk pinggir desa dekat pematang sawah. Entah dari mana ia datang, sementara di tempat itu hanya ada tetumbuhan bambu berdaun rindang.

“Hai juga.” Laki-laki itu tetap tertunduk, meskipun mulutnya menjawab hai, namun ia tidak tertarik untuk menoleh. Hatinya begitu sedih, ia terlampau enggan untuk sekedar berbicara pada orang lain. Sementara di langit, pelangi melengkung indah. Hujan kethek ngilo di sore hari itu membuat para petani memutuskan untuk pulang ke rumah lebih awal. Mentari memang bersinar terang di ufuk barat, namun mendung hitam bergelayut di langit sebelah timur dan bagian tengah.

“Kau tak sejelek yang mereka bilang,” kata jelek dari suara merdu perempuan yang berdiri di sebelah laki-laki bernama Sukri itu mengundangnya untuk menoleh.

Bumi seakan dilanda gempa, tubuh Sukri tiba-tiba hilang keseimbangan dan oleng. Ia pingsan. Wanita dalam balutan gaun khas Tionghoa itu tersenyum dan meniup wajah Sukri. Kulitnya berkilat-kilat tersinar mentari yang menyelinap dari dahan bambu.

Perlahan, Sukri membuka matanya.

“Kau tidak apa-apa?” perempuan itu berbisik.

“Si…. Si..apa…. Kau?” Sukri tergagap bangun dan menggeser tubuhnya dari jangkauan perempuan itu.

“Lau Xin Yi….”

Sukri garuk-garuk kepala. Ia bingung melihat perempuan di hadapannya itu tersenyum ramah kepadanya.

“Namaku Lau Xin Yi. Panggil saja aku, Xin Yi.” Lagi-lagi perempuan itu tersenyum. Sangat cantik. Matanya hampir terpejam dan hilang dari wajahnya. “Sukri, itu namamu kan?”

“Dari…. Dari mana kau tahu namaku?” Sukri bertambah bingung.

“Itu tidak penting. Yang lebih penting, aku mau berteman denganmu. Kau mau kan berteman denganku?”

“Ber…. Ber… teman denganku?”

Xin Yi mengangguk, sambil menutup payungnya dan duduk di sebelah Sukri.

“Kau sangat tampan dan baik. Tidak seperti yang mereka bilang. Kau mau kan berteman denganku?” Tubuh semampai yang terbalut gaun warna merah marun itu begitu anggun. Gaun itu sangat cocok dengan kulitnya yang putih mulus.

Sukri tertegun dan mengangguk.

“Mulai hari ini, aku akan menemanimu di sini. Kau boleh menceritakan pengalamanmu padaku. Aku akan mendengar apa pun yang ingin kau ucapkan.”

“Betulkah?”

“Ya, kita kan teman.”

Sukri ragu-ragu. Ditatapnya wanita cantik itu berkali-kali. Semakin sering ia menatap wajah perempuan itu, semakin sering pula perempuan itu tersenyum.

Sukri, hidup berdua dengan emaknya. Bapaknya meninggal akibat penyakit diabetes yang tak pernah diobati. Di sebuah rumah berdinding anyaman bambu dan beratap anyaman daon-lah mereka tinggal. Mereka bahagia, meskipun tetangga sering kali menghina ketidaknormalan Sukri. Nyi Rasinem emaknya, adalah seorang buruh tani yang kecepatannya menanam padi perlu diakui. Namun begitu, tetangga sekitar tempatnya hidup, tak memandang keahliannya sebagai kelebihan. Wanita mungil ini sangat mencintai Sukri.

Layaknya manusia normal, Sukri merasa kecewa dan sedih, mendapati diri tak diterima oleh teman sepermainan. Laki-laki berrambut belah pinggir ini sering menyendiri di samping pematang sawah. Dari kejauhan ia memperhatikan sekaligus berdoa agar emaknya yang sedang bekerja di ladang lekas selesai, kemudian pulang bersamanya. Dengan emaknya, Sukri tak pernah merasa kesepian dan tersingkirkan.

Nyi Rasinem yang pintar melantunkan kidung. Yang pandai membuat Sukri tersenyum. Yang lihai memasak makanan kesukaan Sukri. Ia merasa bahagia, kalau melihat emaknya tersenyum. Ia merasa gembira apabila ia mampu membantu emak bekerja, sayangnya sang emak selalu melarangnya melakukan itu.

Hingga senja itu, sesosok perempuan cantik masuk ke dalam kehidupan Sukri, dan menemani hari-harinya ketika Nyi Rasinem pergi bekerja. Sukri begitu bahagia mendapatkan teman baru yang mau mendengar dan menerima Sukri apa adanya. Perempuan yang sama seperti emaknya pintar membuatnya tertawa itulah Lau Xin Yi.

Padanya Sukri bercerita tentang hari-harinya yang selalu tidak menyenangkan. Sukri menceritakan betapa kawan-kawannya selalu menghinanya idiot dan bodoh. Penampilannya yang menurutnya sudah sempurna selalu mereka cela. Bahkan kaos kaki panjang sebetis miliknya menjadi bahan ejekan setiap kali ia keluar rumah. Padahal kaos kaki itu adalah benda kesayangan miliknya. Emaknya yang membelikan untuknya. Dan kata emak, kalau ia memakai kaos kaki itu, maka ia tak akan masuk angin saat bermain di luar rumah. Apalagi musim hujan seperti saat itu, angin di kampungnya sangatlah kencang.

Para tetangganya juga tidak segan-segan menyalahkan Nyi Rasinem yang melahirkan anak buruk rupa macam dia. Kelakuan tetangga menurut Sukri begitu keterlaluan. Bagaimana mungkin mereka mengata-ngatai emaknya seperti itu. Sementara ia paham betul, bahwa emaknya teramat sayang padanya. Bahkan menurut Sukri, di dunia ini hanya emaklah satu-satunya orang yang selalu mengerti dan memahaminya.

Sukri menceritakan kegundahan hati dan kekesalannya pada teman barunya yang sangat baik itu. Dan dia terlihat begitu senang mendapat teman untuk mengadu selain emaknya. Emaknya kadang terlalu lelah bekerja di ladang, ia tak tega kalau harus mengadu setiap hari.

“Oh ya, Xin Yi, kau tahu idiot itu apa sih? Aku tahu kalau itu kata-kata yang jelek, karena teman-temanku mengatakannya seolah-oleh aku ini tidak berguna.”

“Idiot? M…?” Xin Yi mengerutkan kening.

“Ya,” Sukri terlihat serius menunggu sahabatnya menjawab pertanyaannya.

“Benar kau ingin tahu?”

“Hm!” Sukri mengangguk tegas.

“I…, m… berarti indah, d, berarti di atau di dalam. Lalu, i, adalah isi atau hati. Kemudian, o, otak atau apa yang kita pikirkan. Yang terahir t, tindakan, atau apa yang Sukri perbuat. Jadi idiot itu untuk Sukri adalah, indah dalam pemikiran, tindakan dan hati.”

“Betulkah apa yang kau katakan?”

“Tentu saja, betul. Karena Sukri selalu melakukan apa pun dengan kejujuran dan cinta.”

Sukri mengangguk dan tersenyum takjub.

Setiap sore, Sukri datang ke gubug di bawah rimbun pohon bambu itu. Ia tertawa senang, setiap kali sahabat barunya itu memunculkan guyonan. Dan hari demi hari, laki-laki berumur 21 tahun dan senang memakai celana kodok itu mulai bisa berjalan dengan menegakkan pandang dan kepalanya. Tak seperti sebelumnya ia selalu menunduk.

Sukri pun mulai melihat perbedaan teman-temannya yang tak lagi memandang sinis, apalagi teman-temannya seringkali tersenyum dan kadang tertawa padanya. Itu membuat hatinya berbunga karena senang. Sekarang, ia pun bisa punya teman seperti yang lain. Temannya justru lebih cantik dan anggun ketimbang anak-anak desa di kampungnya. Sukri bangga dengan kelebihannya.

Namun entah mengapa, Sukri begitu sedih ketika melihat wajah emaknya yang murung ketika memandangnya. Bukannya emak jadi senang melihat anak kesayangannya berubah, mengapa justru sebaliknya? Akh, Sukri sedih kalau melihat emaknya sedih.
~*~

“Aku akan pergi Sukri, kau jangan bersedih. Emakmu akan baik-baik saja.”

“Kemana, dan mengapa?”

“Pulang ke rumah dan kumpul bersama keluargaku di tempat yang jauh.”

Sukri terdiam dan tak menjawab perempuan itu. Ia tertunduk sedih mendengar apa yang wanita itu bicarakan.

“Hanya kau yang mau berteman denganku selama ini, dan sekarang kau mau pergi, lalu bagaimana dengan aku? Dan emak, dan emak yang selalu murung?”

“Kau dan emakmu akan baik-baik saja, percayalah.”

“Mengapa?” Air mata Sukri berderaian.

“Kau akan baik-baik saja Sukri. Kau akan baik-baik saja. Aku harus pergi sekarang, mereka sudah menjemputku.”

Sukri menelungkupkan kepala, mukanya bertumpu pada dengkulnya. Ia semakin terisak. Laki-laki itu enggan untuk menengok ke arah perempuan berpayung ungu itu. Ia benci karena teman baiknya itu akan pergi meninggalkannya.
~*~

Nyi Rasinem memegang pundak putra semata wayangnya itu. Hatinya begitu perih. Hampir setengah tahun hatinya tersayat mendapati Sukri setiap hari datang ke gubug di bawah pohon bambu dan berbicara sendiri. Sejak pemindahan kuburan orang Tionghoa di bawah pohon bambu dekat pematang sawah itu, anaknya semakin parah. Kadang menjerit-jerit memanggil-manggil nama Xin Yi, secara tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan kadang tersenyum atau tertawa keras.
~*~

Thursday Desember 01, 2011/12/ at 9:12 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s