Bacang Isi Daging

Oleh Yuli Duryat

 

Telah dimuat di koran Berita Indonesia Nomor 147 Tahun XIII, November 2013

By google

By google

Bus bernomor 273A berhenti di terminal. Lasih menuntun nenek hati-hati. Mereka menyeberangi lampu merah, membeloki setengah lingkar jalan depan The Hong Kong Jockey Club, tempat penduduk membeli Mark Six. Seorang penjaga memakai seragam biru dongker, senada dengan cat gedung itu berdiri kaku. Kemudian melintasi berbagai restoran kecil dan toko-toko berderet.

Baju belakang nenek basah kuyup. Udara begitu panas. Asap rokok bercampur dengan debu-debu jalanan. Di sinilah pemandangan orang-orang yang suka merokok di jalan akrab terlihat. Jam baru menunjuk angka sepuluh, tapi matahari ganas menebarkan sinarnya pada pengguna jalan di terminal bus dekat Stasiun Shueng Shui.

Lasih mengusapkan handuk kecil ke belakang punggung nenek, sambil terus berjalan. Beeer, dingin AC menyapa mereka berdua saat pintu kaca tempat praktik dokter langganan nenek terbuka, menyapu keringat yang mengucur selama kurang lebih lima menit jarak dari teminal bus ke tempat itu.

Bau obat herbal menyeruak hidung. Dua orang laki-laki tua yang biasa bertugas meracik ramuan herbal menyapa, ramah. “Cou san, cou san.” Dua kata yang sangat familier berarti selamat pagi, dan biasa disampaikan ketika penduduk saling berjumpa pertama kali meskipun hari sudah beranjak siang.

Sejak bangun pagi, nenek mengeluh pusing. Akhir-akhir ini, wanita kelahiran Zhenzhen, China yang bermigrasi ke Hongkong sejak umur belasan tahun ini sibuk menelepon anak-anaknya yang bermukim di luar negeri. Menyuruh mereka pulang untuk merayakan festival perahu naga. Tidak seperti perayaan Peh Cun tahun-tahun sebelumnya, nenek kali ini begitu mendesak anak-anaknya untuk pulang, dan sibuk membicarakan persiapan membuat bacang.

Setengah jam berlalu, setelah diberi nomor urut dan naik ke lantai dua, dalam salah satu ruangan yang bersekat-sekat, di atas ranjang berseprei putih, nenek memegang tangan Lasih erat, sambil meringis-ringis. Fei Isang, dokter langganan keluarga nenek menarik ke atas dan ke bawah bambu pembekam di punggungnya. Sambil menahan sakit, nenek terus saja bertutur akan apa yang harus ia beli untuk membuat bacang atau zhongzi dalam bahasa China. Ia menegaskan pada Lasih untuk merekam semua bahan yang ia sebut dalam ingatan.

Lei mo lam kem to ye, hai kai si mai, mai tak la. Co mea kem san fu kei,” kau tak usah berpikir terlalu banyak, beli di pasar kan bisa, mengapa mesti repot-repot, begitu saran Fei Isang yang tak dihiraukan nenek. Fei Isang sebenarnya bernama Wong Ka Luen, tapi karena tubuhnya yang gemuk, keluarga nenek yang sudah sangat akrab dengannya, memanggilnya Fei Isang atau dokter gemuk. Dia membuka praktik di daerah Sheung Shui, New Territories, tidak jauh dari kantor pos Shek Wu Hui.

Bukan nenek yang Lasih jaga selama delapan tahun namanya, kalau mau membeli makanan khas di luar, untuk merayakan hari istimewa. Dia selalu memberikan yang terbaik dengan tangannya, walau terkadang rasanya aneh bukan kepalang. Tapi perempuan asal Jawa Tengah itu tahu, nenek membuat itu sepenuhnya dengan cinta untuk anak-anaknya.

Setelah selesai menarik-narik kulit punggung nenek dengan bambu bekam, Fei Isang menuliskan resep di atas kertas putih dengan kuas hitamnya. Indah sekali caranya menulis huruf-huruf China. Meliuk-liuk lihai, sambil sesekali diam untuk berpikir. Dia menuliskan berapa takar bahan-bahan kering yang harus direbus untuk nenek minum dua kali sehari. Tidak perlu menunggu lama, mereka telah duduk di lantai bawah menunggu racikan obat selesai. Lasih suka memandangi dua kakek yang membaca dan menimbang obat-obatan kering dengan cepatnya.

Obat herbal terbungkus kertas putih bertuliskan huruf China berwarna merah berisik dalam wan po toi atau foldable groceries bag tergantung di lengan. Sebentar lagi, bahan pilihan untuk membuat bacang berpindah pula di dalamnya, saling berdesakan dengan obat herbal. Letak pasar dan toko-toko pilihan langganan nenek belanja tidak begitu jauh dari tempat praktik Fei Isang.

Dengan hati-hati, Lasih membimbing nenek menyeberangi jalan. Dari kejauhan, pemilik toko langganan nenek yang kebetulan melihat nenek menuju ke tokonya melambai dan tersenyum senang. Terlihat tidak begitu banyak pengunjung hari itu. Tanpa disuruh, pemilik toko tersebut sudah memilihkan bahan untuk membuat bacang. Dia sudah hafal apa yang nenek inginkan.

Liti na, ngam-ngam lai a, hou san sin.” Ini baru saja datang, masih fresh, katanya menunjuk daging babi asap dalam kemasan. Lalu dia menepuk pundak Lasih dan tersenyum, sambil mengerlingkan matanya ke arah nenek. Nenek manggut-manggut sibuk memilih bahan-bahan.

~*~

 Sambil sesekali bersenandung riang, nenek menyuruh Lasih mencicipi makanan khas di hari festival perahu naga ini. Makanan yang terbuat dari beras ketan itu sangat nikmat. Ya, nenek selalu membuatkan untuk Lasih, berisi kacang merah kesukaannya. Dia tahu dan sangat menghormati Lasih yang beragama Islam dan tidak makan daging babi.

Nenek berumur 70 tahun. Empat anaknya bermukim di luar negeri dan mereka sudah bilang di telepon akan pulang di hari istimewa ini. Nenek selalu bercerita, betapa dahulu dia dan keluarganya begitu bahagia setiap hari menjelang perayaan perahu naga tiba. Sebab masyarakat China percaya di bulan kelima tanggal lima penanggalan Imlek, banyak wabah dan penyakit. Keluarga nenek dengan gembira membuat makanan yang berlimpah di hari istimewa ini. Selain membersihkan rumah dari kotoran dan debu, dia juga tidak mau anaknya kekurangan makan dan akhirnya terjangkit penyakit, sebab di hari-hari biasa kehidupan mereka dulu sangatlah sederhana.

Menurut cerita nenek, mereka semua dulu tinggal di apartemen yang ia tempati saat ini. Apartemen mungil yang lumayan rapi. Satu keluarga kecil yang bahagia meski hidup dengan sangat sederhana. Nenek dan mendiang kakek yang bekerja sebagai penjual bahan makanan di pasar, selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk belajar bekerja keras, agar mereka bisa mendapat pekerjaan yang lebih baik.

Cita-cita kakek dan nenek berhasil, meskipun harus hidup terpisah dari anak-anaknya karena semua anaknya bekerja di luar negeri. Kakek meninggal satu tahun sebelum anak-anak nenek mengambil Lasih dari agen penyalur tenaga kerja untuk bekerja melayani sekaligus menemani nenek.

Nenek sangat bahagia, sebab sudah empat tahun anak-anaknya tidak bisa pulang di hari perayaan Peh Cun. Anak-anak nenek hanya pulang di hari raya Imlek saja, setahun sekali. Sering kali Lasih nelangsa dan merasa sangat sedih melihat keadaan nenek yang sebatang kara. Nenek memang tidak mau diajak anak-anaknya untuk ikut menetap di luar negeri bersama mereka. Terlalu banyak kenangan yang mengganduli nenek.

~*~

Lasih membantu nenek mengenakan gaun terbaiknya. Malam nanti, seluruh keluarganya berkumpul. Semua berjanji akan hadir dan makan bersama-sama. Lasih sudah menyiapkan segala keperluan makan malam. Menu-menu dari laut, daging, ayam, dan sayur-mayur kesukaan nenek dan anak-anaknya sudah ia masak. Sesuai intruksi yang diberikan nenek. Lasih tersenyum senang melihat binar mata nenek.

Bacang buatan nenek dengan berbagai rasa dan bentuk telah ia panaskan. Sebagai induk semang, nenek adalah perempuan kesepian yang baik hati kepada Lasih. Dia harus menjalani hari tuanya sendirian, hanya ditemani seorang pembantu dari negara lain, dengan kultur yang berbeda pula. Meski Lasih sering kali bisa menghibur hatinya dengan menemani dan mendengar nenek bercerita, keluargalah yang sejatinya ia inginkan. Mereka berdua mempunyai nasib yang sama, kesepian dan jauh dari keluarga.

Dua jam nenek dan Lasih menunggu hingga bell pintu berdering. Ramai empat keluarga menghambur masuk dan memeluk nenek. Tanpa disadari Lasih, butiran kristal menghujan dari matanya. Sebagian keluarga terutama yang berjenis kelamin sama dengan Lasih memeluknya lama, sementara yang laki-laki hanya menepuk pundak dan mengucapkan terima kasih.

Sementara nenek sibuk mendengar cerita anak-anak dan cucu-cucunya ketika mereka telah duduk melingkar menghadap meja makan, Lasih sibuk memasukan koper-koper bawaan mereka. Juga hadiah untuk nenek ke dalam lemari. Sambil bersenandung, ikut bahagia melihat nenek terus tertawa dan tersenyum.

“Ayo, coba bacang isi daging buatan ibu kali ini,” lembut nenek berkata dalam bahasa ibunya. Lasih melongokkan kepala dari dalam kamar. Baru kali ini nenek memakai bahasa itu dengan anak-anaknya. Biasanya nenek lebih memilih memakai bahasa Kanton. Anak-anaknya menanggapi dengan gembira.

Rumah yang biasa dingin berubah begitu hangat. Suasana makan malam berlangsung riuh-ramai oleh pujian anak-anak nenek pada masakan Lasih dan bacang buatan nenek. Selesai makan, nenek digiring anak-anaknya ke kamar untuk membuka oleh-oleh yang mereka bawa dari luar negeri.

~*~

 Pagi hari pukul enam, saat Lasih bangun tidur, ia tersenyum mendapati anak dan cucu-cucu nenek tidur berdesakan seperti ikan pindang dalam dua kamar apartemen itu. Di meja makan, bacang isi daging terkelupas setengah kulitnya, dan sebuah sendok menggeletak di atas lepek kecil bermotif bunga-bunga. Lasih menghampiri nenek yang duduk dengan bibir terkembang senyum. Televisi menyala, tapi mata nenek terpejam. Ketika Lasih hendak membaringkan nenek di sofa panjang yang nenek duduki, tangan Lasih tersengat kulit tubuh nenek yang sudah dingin. Mata Lasih panas dan dadanya terasa sesak.

~*~

Tuesday, June 04, 2013

Fanling NT Hongkong

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s