Namaku Larasati

Cerpen Yuli Duryat

Image

Image by Google

Bertahun-tahun lamanya, aku melakukan kegiatan berdiri di pinggir jalan ini. Bukan jadi pengemis, tetapi serupa pengemis. Bukan meminta-minta, namun kadang mereka memberi tanpa aku minta. Ya, mereka para pengguna jalan itu memang memperlakukanku serupa pengemis. Karena rupaku, kadang aku juga jadi bahan godaan orang yang lalu-lalang. Namun, karena tempatku berdiri terbilang ramai, maka aku selalu aman dari incaran jahat tangan jahil laki-laki jalang.

Ah, siapalah mereka, mereka tidak tahu menahu tentangku. Mereka yang begitu mudah menduga-duga dengan pandang pertama. Mereka tidak akan tahu yang aku lakukan lebih penting dari sekedar sebutan pengemis.

Untuk apa buang-buang waktu menjelaskan sesuatu yang tidak akan sampai pada titik paham, dilihat dari kening kerut orang-orang itu. Tak usah risau, toh sepenuh hati aku tahu apa yang aku lakukan. Hingga suatu sore, tatapan seseorang membuatku risi melakukan kebiasaanku. Betapa bodohnya aku oleh rasa malu. Karena sejak sore itu, pria yang sama selalu muncul sore berikutnya, tepat jam lima, keluar dari sebuah kantor yang terletak menyamping dari tempatku berdiri.

Tubuh terbalut gaun putih milikku selalu dihadiahi pandang tak jemu oleh laki-laki itu. Apa salahku, toh aku berdiri di perempatan jalan setiap hari tak mengganggu aktifitasnya. Tapi mengapa setiap jam lima sore sosok tubuh keluar dari gedung dengan tatapan yang sama setiap harinya. Iba, prihatin, kasihan. Ah, aku tidak memerlukan semua itu. Aku rasa laki-laki itu salah menafsirkan apa yang aku lakukan.

~*~

Sejak kapan aku jadi terusik oleh kegiatan orang lain? Apalagi hanya oleh pengemis jalanan. Arrggh … ini benar-benar aneh. Lebih parah lagi, mataku seolah mencari sosok itu, setiap aku keluar dari kantor.

Sekarang aku sangat menyesal minta dipindahan dari kantorku yang dulu, untuk pindah di kantor dekat perempatan tepat di jantung kota karena aku bosan dengan suasana sepi. Kantorku yang lama terletak jauh di pinggiran kota.

Gadis itu, oh, dia bukan gadis. Wanita itu, ah rasanya tidak pantas. Pengemis itu, bagaimana mungkin dan tidak tega aku menyebutnya demikian. Sedang menunggu kehadiran seseorang di perempatan, yang ini lebih mengherankan, karena wanita itu berdiri di sana setiap hari. Bahkan pada hari Minggu kemarin, untuk sekedar mengobati rasa penasaran aku rela duduk di warung kopi pinggir jalan seharian, hanya untuk melihat dia. Dan gilanya, ternyata wanita itu berdiri di sana sejak jam tujuh pagi.

Aku urung menanyakan perihal gadis cantik yang selalu tersenyum itu pada penjaga warung kopi tempatku mengintip, ketika obyek yang aku perhatikan tiba-tiba berlari menolong seorang bocah yang hampir tertabrak kendaraan ketika menyebrang. Dasar gadis aneh, umpatku kesal dengan tindakanku sendiri.

~*~

Untuk apa memperhatikannya, bukankah pesan dan wasiat mendiang ibu justru lebih aku utamakan selama ini. Untuk apa pula harus menanggung rasa malu kepada orang yang tidak aku kenal. Apa pula urusannya denganku. Bukankah selama ini aku baik-baik saja, meskipun banyak orang yang mengira pengemis. Dan mengapa baru sekarang aku merasa malu, apalagi dengan seorang pria yang entah siapa dan dari mana asalnya pun aku tidak tahu.

 Aku berjalan mondar-mandir dalam kamarku, ragu untuk keluar rumah hari ini. Sementara jam sudah menunjuk pukul 6.55 menit, aku harus cepat-cepat pergi ke jalan. Seperti kata ibu, aku tak boleh terlambat. Aku menyisir rambutku sekenanya. Kemudian bergegas mengganti pakaian, lalu berlari kencang menuju jalan.

 Pada saat lari pesan ibu terngiang di telingaku, bahwa aku boleh berhenti setelah ada seseorang yang mampu membuatku malu untuk melakukan wasiat itu. Karena dialah yang nantinya akan membantu ibu untuk menjagaku. Ibu telah memilihkan seseorang yang entah dari mana dia tahu kalau orang itu akan datang. Ibuku yang pendiam dan aneh memang memiliki pemikiran dan penglihatan yang melampaui batas logika.

Di atas bebukitan, matahari malu-malu untuk muncul di ufuk timur. Mendung menggelayut langit. Mungkin tak lama lagi akan turun hujan. Aku sudah terbiasa berhujan-hujanan, ibu tak meperbolehkannku untuk istirahat meskipun hujan deras turun.

 “Kau tidak akan merasakan dingin atau tersambar petir. Kau tahu, seorang ibu ndak akan mungkin tega menjerumuskan anaknya. Itulah cobaan yang harus kau tanggung sepeninggalku. Tapi percayalah, kau akan meraih kebahagiaan.” Ucap ibu di hari terakhirnya.

 Benar saja, belum juga sampai ke tempat biasa aku berdiri dan menebarkan senyum pada siapa saja, titik-rintik hujan telah mencumbui kulitku. Semakin lama semakin deras. Entah mengapa, tidak seperti saat hujan di hari-hari yang lalu, hari ini aku begitu kedinginan. Alih-alih seperti kata ibu tidak akan terjadi apa-apa denganku, wajahku pucat pasi.

Siang perlahan merambat berganti sore, hujan belum juga reda. Entah kenapa kakiku hari ini benar-benar keju dan sakit. Aku juga tidak bisa tersenyum karena tidak tahan untuk menyembunyikan sakitku. Kepalaku terasa sangat berat, teramat berat.

Ketika tiba-tiba sebuah payung mencegah hujan jatuh lagi di pipiku, entah siapa, pada saat yang sama menangkap tubuhku yang hampir tersungkur karena tak tahan merasakan kesakitan yang luar biasa. Aku melihatnya, laki-laki itu dengan sigap menangkapku. Kemudian dunia begitu gelap bagiku. Dan aku tidak merasakan apa-apa lagi.

~*~

Belum sempat aku menghilangkan bayangan perempuan itu. Meskipun semalaman aku berusaha untuk memejamkan mata dengan menelan pil-pil penidur. Tetap saja bayangan itu terus berkelebat dalam benakku. Juga seorang wanita dalam mimpi yang tak terduga datang menitipkan perempuan sinting yang selalu tersenyum di pinggir jalan itu. Ini benar-benar gila. Aku tak bisa tidur, tetapi saat aku memejamkan mata walau hanya sekejap aku bermimpi aneh pula.

Mendung, aku sebenarnya enggan untuk pergi ke kantor. Lagi pula aku sudah ijin untuk tidak masuk hari ini. Aku ingin berusaha untuk menghilangkan bayangan perempuan itu dari benakku. Namun semakin aku ingin menghilangkannya, justru semakin berkelebat-kelebat wajah wanita itu muncul dalam setiap detiknya.

Ketika aku tiba di jalan itu, aku melongokkan kepala melalui jendela mobilku. Dan aneh, aku tidak mendapati tubuh wanita itu berdiri di sana. “Sial!” Aku mengibaskan air hujan yang jatuh di kepalaku. “Kemana perempuan itu?”

Ah, benar-benar kurang ajar betul. Siapa sih sebenarnya dia itu, kenapa begitu menguras tenagaku untuk memikirkannya. Perempuan tidak waras yang menularkan penyakitnya padaku. Ditambah lagi dengan mimpi aneh semalam. Aku benar-benar sudah gila. Seharian di kantor, kepalaku dipenuhi pertanyaan yang semakin membuatnya terasa berat.

“Bukannya kau bilang ambil cuti hari ini, Hen?” Tanya Anto salah seorang teman kantor yang tidak aku jawab. Aku sibuk memijat-mijat kening.

“Sudah jam lima, pulang saja sana, kalau sakit mbok yo ke dokter terus istirahat, ngapain juga ngantor kalau kepalamu masih pening.”

Malas mendengar ocehan Anto, aku berjalan keluar menuju parkiran hendak pulang. Betapa terkejutnya aku ketika aku lihat perempuan itu berdiri terguyur hujan di perempatan jalan yang sama. Benar-benar gila. Namun ada yang lain kali ini. Perempuan itu tidak tersenyum, aku rasa bukan hanya itu.

Aku memarkir mobilku entah karena penasaran atau kasihan. Membawa payung dan berjalan ke arahnya. Ya Tuhan dia pucat seperti mayat. Kelihatannya ia kesakitan. Aku tak tahan lagi untuk tidak mendekat, memayunginya. Pada saat kepalanya sempurna terhindar dari hujan berkat payungku, tubuh perempuan itu oleng, ia pingsan. Aku kaget dan menangkap tubuhnya yang lemas lunglai.

Dalam keadaan panik, aku terpaksa menggendongnya masuk mobil. Dan menyelimutkan selimut yang memang selalu tersedia dalam mobilku. Entah mengapa dadaku berdebar ketika aku melihat perempuan yang tergolek di jok belakang mobilku itu. Aku membawanya ke rumah sakit terdekat.

Aku menyetir mobilku begitu cepat, hampir menabrak ketika di kelokan jalan depan rumah sakit. Dengan tergesa, kemudian menggendong perempuan itu keluar mobil masuk ke dalam rumah sakit. Keras aku berteriak memanggil petugas yang sedang berjaga. Salah satu dari mereka menyuruhku berjalan mengikutinya masuk ke dalam rauangan.

“Dia hanya kecapean, dan kelihatannya ia belum makan sejak pagi,” seorang dokter yang memeriksa menjelaskan keadaan wanita itu.

Tak berapa lama kemudian, perempuan bergaun putih kusam itu mulai memerah pipinya, wajahnya tak lagi sepucat ketika ia berada di jalan kehujanan. Ia mengerjapkan mata dan mulai membukanya perlahan. Jantungku semakin berdebar ketika ia memandangku. Tajam.

~*~

Aku tak tahu apa yang terjadi, ketika aku membuka mataku dan pertama kali yang aku lihat adalah pria itu. Yang jelas aku tahu, dadaku berdebar-debar. Dan matanya itu seolah menenggelamkanku ke dalam kebeningan serupa danau.

Aku semakin berdebar ketika ia mendekat. Oh, sekarang ia semakin dekat, di sampingku dan memegang tanganku. Pria berpakaian putih yang berdiri di sisinya tersenyum senang melihatku siuman. Sepertinya dia dokter yang menanganiku.

“Kau tidak apa-apa, siapa namamu?” Suara yang keluar dari mulut laki-laki itu terdengar ragu dan gemetar.

“Namaku, Larasati.”

“Mengapa kau berdiri di sana hingga badanmu lemah begini?”

“Tidak. Tidak. Aku mohon jangan kau tanyakan hal itu padaku, aku tak bisa menjelaskannya. Dan kau … dan kau … satu-satunya orang yang mengacaukan konsentrasiku. Aku tak percaya itu kau. Aku tak percaya ibu mengirimmu untuk menjemputku.”

“Jadi perempuan dalam mimpiku itu ibumu?”

~*~

Fanling Saturday 1:16 PM, December 10, 2011

Dimuat majalah Peduli Edisi Mei 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s