Angpao Merah

Oleh Yuli Duryat

Telah dimuat Radar Bromo 24 February 2013.

Fanling 7:53 PM March 18, 2013

Fanling 7:53 PM March 18, 2013

Bukit yang terlihat melengkung seperti pinggang wanita dari apartemen lantai 18 tempat Lasih tinggal begitu hijau. Di kaki kehijauan itu, kelenteng bercat kekuningan megah dipandang, ramai orang terlihat berduyun di sepanjang jalan datang untuk sembayang. Ia duduk di balik jendela bertralis besi, memisah amplop merah yang akan diisi dengan uang sesuai jenisnya. Hatinya tak secerah mentari pagi ini, saat Eva Wong menyuruhnya untuk menghitung uang yang baru saja dia ambil dari bank. Sangat banyak dalam kertas karton berwarna cokelat, wangi uang kertas baru menguar ketika Lasih membukanya.

 “Tolong masukkan ke dalam ini ya, aku mau keluar belanja bunga. Oh ya, setelah selesai jangan lupa bikin lin ko, madai ko dan lopak ko, seperti yang aku ajarkan kemarin,” ucap Eva sangat cepat dan berjalan keluar apartemen. Lin ko biasa di Indonesia disebut kue keranjang, sementara madai ko adalah kue yang dibuat dari water chestnut atau kastanye air. Sedang lopak ko sama saja kue lobak. Tiga kue yang begitu ramai dijual ketika tahun baru Cina di negara Hongkong ini.

 Lasih menelan ludah, bukan karena mambayangkan betapa nikmat dan legitnya tiga kue khas Imlek yang akan ia buat, tapi lembaran uang yang sekarang berada di tangannya. Ia menghitung dan memilih untuk dimasukan sesuai jenis dan nilai persis seperti kata Eva, majikan perempuannya yang sangat baik.

 Angin berhembus dari jendela, semilir menggoyang tangkai bunga mei hua yang mulai bermekaran. Wangi bunga soi sin yang tergeletak di atas meja hias dekat pintu apartemen menguar. Sekilas, rasa indah dan tentram mengalir dalam hati Lasih, menyingkirkan sedikit penat karena letih bekerja.

 Pukul dua belas siang tugas hung leisi sudah selesai, berarti mengisi angpao merah dengan uang untuk dibagikan kepada kerabat Eva Wong. Dua minggu belakangan pekerjaannya bertumpuk-tumpuk, dari membersihkan sudut rumah tersembunyi sampai sudut terlihat, mengganti gorden dan seperei dengan yang baru. Eva percaya, kegiatan menghilangkan debu dan kotor ini wajib dilakukan agar rumahnya bersih dari kesialan yang telah lalu untuk menampung kebaikan yang akan datang di tahun baru nanti.

 Selain harum bunga-bunga itu, wangi daun jeruk yang Lasih gunakan untuk membersihkan rumah pun masih tersisa. Bahkan kemarin Eva menyiapkan dan menyuruhnya untuk mandi dengan daun jeruk yang ia beli di pasar, untuk membuang kesilan yang menempel di tubuh agar lebih segar dan bersih menyambut keberuntungan. Tahun Ular Air menggantikan Tahun Naga Air, sangat bagus dan merupakan tahun keberuntungan bagi warga kerbau, kata Eva yakin kepada Lasih. Lasih menurut saja dengan semua ritual kepercayaan yang dilakukan Eva, ia sudah terbiasa melebur dengan kebiasaan orang Hongkong layaknya.

 Kembali Lasih teringat beban yang menghimpit setelah telpon semalam dari keluarga di Indonesia. Suaminya, kena usus buntu yang sudah parah dan harus segera dioperasi. Bahkan titik asin di muka masih menempel jelas, sebab ia enggan untuk menghapusnya. Tak seperti biasanya, wanita yang senang berdandan ini tidak cuci muka maupun mandi di pagi hari. Meski selama ini suaminya tidak bertanggung jawab dan gemar bermain perempuan, Lasih tidak mau meninggalkan begitu saja orang yang sedang kesusahan.

Suami yang dicintainya sedang kesakitan di rumah sakit, dia hanya diberikan waktu beberapa jam untuk mengambil keputusan, suaminya harus segera dioperasi, kalau tidak akan berakibat buruk pada kesehatannya. Malangnya, dia tidak memegang uang sepeser pun, sebab uang gaji bulan ini sudah ia kirim kepada suaminya yang habis entah untuk apa.

 Lasih menghapus sebesit satu pikiran kotor di benaknya sebelum menyeret langkah menuju dapur. Walau bagaimanapun, laki-laki yang telah memberinya seorang putri adalah orang yang sangat ia cintai. Ia percaya, Tuhan akan memberikannya jalan keluar.

 Sampai di dapur, ia mengeluarkan bahan dari kulkas kemudian bersiap untuk membuat kue yang Eva pesan. Meski letih, satu persatu ia kerjakan. Dari memarut lobak, water cestnut, merendam dan mencincang ebi, mencincang sosis babi kering, menakar tepung beras, menakar gula dan seterusnya. Peluhnya berleleran di tengah-tengah aktifitas mengaduk adonan untuk dimasak dan kemudian ia masukkan ke dalam loyang persegi empat.

 Pekerjaan itu harus segera ia bereskan sebelum majikannya pulang membawa seikat besar bunga lili dan pot besar bunga anggrek berwarna unggu. Ya, hampir empat tahun bekerja di flat berukuran 1000 meter, Lasih sudah mulai hapal kesukaan perempuan yang dia layani itu.

 Tak ada jalan lain selain meminta bantuan pada majikannya. Lasih akan melakukannya, ya, ia akan mencoba. Lasih yakin Eva akan memberinya, sebab ia tahu Eva perempuan yang begitu perhatian. Ketika pulang cuti, Eva bahkan memberinya satu komputer mahal untuk Meilani anaknya yang kini duduk di bangku SMA, satu pasang anting emas murni di tahun baru Imlek yang lalu, dan uang beberapa ribu dolar di hari Natal. Ya, nanti kalau beliau pulang, aku akan bicara, bisik Lasih dalam hati.

 Eva mempunyai seorang anak bujang, kini sedang kuliah di Australia yang biasanya pulang setahun sekali di hari libur Natal. Lasih tahu, alih-alih malas membantu, wanita cantik yang biasa memotong pendek rambutnya, tak segan-segan mengulurkan tangan untuk sesamanya.

 Wanita bertubuh kecil yang sukses berbisnis desain interior apartemen ini termasuk senang meringankan beban orang. Setahun lalu, dia bahkan membantu pacar anaknya yang berada di tingkat ekonomi kelas bawah saat anaknya masih duduk di bangku tai hok sekelas sekolah menengah atas. Mendesain dan merenofasi rumah orangtuanya dan membantu membayar uang sekolah.

 Sungguh aneh pikir Lasih, padahal mereka baru pacaran, bagaimana kalau mereka putus. Saat Lasih mengatakan unek-uneknya itu secara jujur, dengan enteng Eva menjawab; “Kalau mereka tidak jadi menikah, toh aku sudah memberikan apa yang bisa aku bantu, perkara itu tidak masalah bagiku.”

 Lasih tidak menyadari kalau Eva memperhatikan dia yang banyak melamun tak secerah biasanya. Saat Eva pulang dengan membawa bunga yang sudah Lasih perkirakan sebelumnya, Lasih kaget saat majikannya itu bertanya sebelum ia mengajukan permintaan yang dengan ragu ingin ia sampaikan.

 “Kenapa kau banyak melamun dan terlihat sedih?” tanyanya.

 Dengan gemetar karena takut, Lasih pun akhirnya memutuskan untuk bicara, “Mom, saya tahu Mom sudah membayar gaji saya, bolehkah saya minta uang gaji bulan depan milik saya?”

Eva mengerutkan kening, terlihat kaget kemudian mimik mukanya berubah membara, marah. Lasih sama kagetnya ketika Eva tiba-tiba masuk kamar dan membanting pintu kemudian keluar lagi, bicara dengan nada yang keras, “Dengar, saya tidak suka kamu meminjam uang dariku atau dari siapa pun. Apalagi ini menjelang tahun baru, di saat orang seharusnya menutup semua hutang.” Eva masuk ke dalam kamar kembali dan membanting pintu tak kalah keras.

 Berkelindan dalam kepala Lasih berbagai pertanyaan, kenapa kemarahan perempuan baik hati itu tersulut ketika ia ingin mengambil uang gajinya terlebih dulu, toh hanya sebulan. Itu pun pertama kali ia lakukan sebab ia kepepet. Lasih menyesal tidak menyisihkan sedikit uang gaji untuk menabung dan terlalu memanjakan Meilani yang ia kabulkan setiap meminta sesuatu. Akibatnya, saat mendadak butuh uang, ia pun kebingungan.

 Lasih tak berani menangis, meskipun kesedihannya menumpuk di kepala. Dia dengan sekuat tenaga mencegah air matanya turun. Lasih takut ketahuan Eva kalau ia menangis, perempuan itu percaya hal tersebut bisa mendatangkan nasib buruk ke dalam rumahnya.

Lasih pandangi wadah bibi-bijian, manisan buah, dan permen di atas meja. Perut dan mulutnya seolah mengunci, ia tak hirau kata Eva bahwa memakan manisan dan gula-gula itu bisa memaniskan nasibnya sepanjang tahun. Atau memperbanyak keturunan dengan memakan bibi-bijian, toh sekarang jaman modern, jarang ada orang yang ingin punya banyak keturunan termasuk Lasih.

~*~

Oleh Mbak Yeti.

Oleh Mbak Yeti.

 Hari Imlek pertama pun datang, saat dewa-dewi dipercaya turun menyambangi, majikannya menghindari makan daging karena Eva percaya bisa cepat tua. Dia pergi ke rumah orang tuanya dan meninggalkan Lasih sendirian di rumah. Eva sudah tampak tersenyum dan tidak marah lagi pada Lasih, meski rasa kecewa masih menyelubungi diri Lasih. Entah keberlanjutan apa yang menimpa kesehatan suaminya, Lasih tak berani memikirkan hal buruk karena takut.

 Pukul dua belas malam Eva pulang dan menghampiri Lasih. Dia memberikan angpao merah seperti tahun-tahun sebelumnya. Wajahnya cerah dan tersenyum ramah pada Lasih ketika ia menyerahkan amplop yang terlihat tebal itu, “baik-baik kerja di sini. Aku tahu kamu pekerja keras dan ulet, tapi aku tidak mau mendengar kau berhutang pada siapa pun.”

 Pada saat bersamaan telpon genggamnya berderik. Ia melihat SMS masuk ketika Eva keluar kamarnya setelah Lasih mengucapkan terima kasih. Rupanya dari Meilani.

 “Bu, jngn Ibu kirim uang lg pada bapak, bpk bilng pd Mei kalau bapak mau nikah lagi dengan tetangga sebelah rumah kita. Bu, cepat pulng, Meilan sedih dan benci hdup sm bpk yng suka berjudi dan main perempuan.

 Lasih terduduk lesu. Hatinya tercabik, kesedihan memburat keluar, dengan tangan gemetar ia membuka angpao merah pemberian Eva, bertumpuk dolar sebanyak uang gaji satu bulan terselip di sana.

~*~

11.06 AM Monday, February 11, 2013

Room 12/18 Fanling NT

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s