Selendang Merah Muda

64f4b9a7-06ac-4254-a604-bb3c81d4746b

Image by google

Tatapan mata-mata sipit di kereta yang kau tumpangi menggerayangimu. Kau tersenyum bangga memakai pakaian adat di hari bahagia ini. Hari di mana kau diundang untuk menari meski tanpa bayaran. Betapapun tidak adilnya kau diperlakukan, rasa cinta terhadap negara dan tarian adat daerah tempatmu tinggal tak akan pernah luntur sedikit pun. Sesulit apa pun keadaan, kau merasa akan rugi kalau melewatkan kesempatan untuk tampil.

Kalau saja ibumu masih hidup, beliau pasti bangga melihat anak gadisnya. Darah seni yang ibumu alirkan mengelegak. Senyum mengembang setiap kali mata bulatmu tertumbuk dengan penumpang lain. Kau boleh percaya, bahwa mereka kagum pada penampilanmu. Jarik batik, kebaya transparan dengan bunga-bunga, kemben dan sanggul yang cantik. Kulit yang kebetulan putih menjadi semakin bercahaya dengan kemben berwarna merah. Kau harus bangun pagi-pagi dan bertengkar dengan majikan demi hari bahagia ini.

Dua tahun lebih menjadi penari tanpa bayaran, tak membuatmu patah semangat, selama orang yang melihat penampilanmu menjadi terhibur, kau sudah merasa berguna bagi orang lain. Sungguh, kau adalah cermin cinta tanah air dan jiwa nasionalisme yang sangat tinggi. Keindahan terpancar dari eksistensimu. Di tengah ketidakberdayaan dan kelemahan menjadi kaum minoritas yang kerap ditindas, kau ada untuk memberitahu dunia, bahwa kekayaan budaya Indonesia tidak boleh punah dari peradaban, apalagi hilang dicuri orang.

“Sudah aku bilang hari ini kamu tidak boleh libur, kenapa masih saja ngotot,” majikanmu yang sering merampas hak libur melarang libur pagi tadi. Tapi kau tak peduli.

Kau diam saja, itulah kebiasaanmu. Tidak ada gunanya berdebat dengan orang yang selalu ingin menang sendiri dan merasa benar, meskipun nyata-nyata ia salah. Hampir empat tahun kau bekerja di flat kecil berukuran 700 meter. Bukannya tinggal diam, karena pada kenyataannya kau tak tahan untuk terus mengalah dengan ketidakadilan. Satu setengah tahun lebih yang lalu saat kau finis kontrak, kau sudah menyampaikan semua hak yang seharusnya kau dapat tetapi tetap saja, agen dan majikan adalah sahabat yang saling menguntungkan satu sama lain.

Bekerja di Hongkong sebagai domestic helper, seharusnya menerima gaji 3920 HKD setiap bulannya, tapi kau hanya mendapat 2500 HKD. Seharusnya libur setiap hari Minggu dan libur umum lain, tapi kau seringkali dipotong gaji kalau libur. Seharusnya mendapatkan uang makan 875 HKD karena kau tidak diberi makan yang layak, tapi majikanmu tak memberimu sepeser pun. Terlebih lagi tidur kepanasan di musim panas, kedinginan di musim dingin. Dua tahun kau sangat tersiksa dengan keadaan, ketika agen dan majikan dengan tenang menyuruhmu tanda tangan kontrak baru, sesuai peraturan, namun keadaan yang kau terima bertolak belakang.

“Kamu sudah gila ya, nggak mau mendengar apa kataku. Dan apa ini, kamu berdandan seperti orang yang mau melacur,” meskipun dadamu panas oleh apa yang terdengar, kau tetap diam. Pergi meninggalkan perempuan cantik berambut lurus itu dengan kemarahan yang membakar wajahnya hingga berubah merah menyala. Kau membayangkan, betapa cantiknya wanita itu kalau saja ia bicara secara lembut dan mau tersenyum.

“Lihat saja akibatnya nanti, kalau kamu tetap membantah apa yang aku katakan,” perempuan itu mengejar dan hampir menjambak rambutmu kalau saja kau tidak menelengkan kepala.

Kau membantah untuk pertama kalinya, “saya sudah siap apabila Mom mau mengembalikan saya ke agen.”

“Kau!” hampir saja tangan mungil perempuan itu mencium pipimu secara kasar, kalau saja kau tidak lekas lari keluar apartemen. Kau mendesah, memejamkan mata membayangkan apa yang akan terjadi saat pulang libur nanti.

Kereta terus melaju cepat, secepat orang yang naik turun berdesak-desakan setiap harinya. Padat sekali, meskipun kereta melaju silih berganti setiap lima menit sekali di jalur yang sama, tetap saja, rapat penumpang di setiap kereta. Saking padatnya penduduk negara kecil berlambang bunga bauhinia ini.

Meski tinggal di negara orang, kau tak pernah lupa tarian yang diciptakan pertama kali oleh Gugum Gumira sekitar tahun 1960 yang sudah mengalir dalam darahmu semenjak kecil. Kemana pun ibumu manggung di kampung dulu, kau tak pernah ketinggalan untuk ikut. Di waktu-waktu luang, ibumu mengajari beberapa gerakan menari. Kau suka, lalu meminjam selendang nenek setiap kali ingin mempraktekkan apa yang ibumu ajarkan. Kau gadis yang bandel tak pernah peduli saat nenekmu marah-marah selendangnya kotor kau gunakan. Semakin beranjak besar, kau mulai merasa bangga, dengan belajar menari berarti kau melestarikan tarian daerah yang tak lagi menjadi pusat perhatian masyarakat.

Ibumu dengan kecantikan dan kehidupan sederhana yang anggun menjadi primadona di kampungmu dulu. Kesetiaannya kepada seorang laki-laki bernama Kendangsuka–ayahmu yang mengidap penyakit asma selama bertahun-tahun semakin menambah pesona dan keharuman nama ibumu. Entah dengan alasan apa nenek dan kakekmu memberikan nama yang begitu selaras dengan kegiatan yang ibumu tekuni, Sukaseni. Hingga ayahmu meninggal, rasa cinta Sukaseni terhadap Kendangsuka tak pernah luntur. Ibumu memutuskan untuk menjanda sampai Yang Maha Kuasa memisahkannya dari kehidupanmu.

Kau menggenggamnya erat-erat, sebuah barang berharga peninggalan Sukaseni. Dulu, kau ingat ibumu tampak begitu anggun memakai selendang itu. Ibumu, wanita yang menurutmu paling cantik sekampungmu, meliuk indah bersamanya. Kau percaya sepenuhnya, bahwa ibumu adalah perempuan desa yang di tanggannya erat tergenggam adat dan budaya.

“Sudah merah, cantik. Kamu mau menambahkannya lagi, sini aku bantu, biar rata.” Laras sahabat baikmu menawarkan diri membubuhkan lipstik di bibirmu.

“Aku deg-degan nih,” ucapmu jujur.

“Nyantai aja lagi seperti biasanya, kamu kan selalu berhasil membuat penonton terpukau kayak waktu perayaan Hari Kemerdekaan, Hari Buruh, dan hari lain di lapangan sampai-sampai orang Hongkong yang ikut nonton saja berdecak kagum. Juga waktu mengisi acara yang diadakan organisasi di dalam gedung sekolahan, kurang apa lagi? Ya ampun, oh maaf,” kereta tiba-tiba berhenti, tanpa disadari Laras yang berkonsentrasi membantumu, tanganya melenceng, lipstik merah yang ia pegang mengotori mukamu.

“Nggak papa …. Hati-hati,” kau refleks meraih tangan Laras dan mengeratkan pegangan pada besi pegangan kereta agar tidak jatuh.

Kau melempar pandang ke luar kereta, seraya menaruh kembali selendang merah mudamu ke dalam tas. Hujan turun sangat deras. Meskipun musim panas bulan Juli, udara AC dalam kereta sangat dingin, tapi karena semangat, kau tak merasakannya.

Empat puluh menit berlalu. Kau dan sahabatmu Laras berjalan keluar kereta, melewati jalan menuju pasar dan terus menyebrang jalan raya yang begitu ramai menuju gedung Elishabeth, tempatmu akan menari menghibur penonton. Sampai ke dalam gedung, kau disambut oleh panitia, dia seorang wanita Cina yang bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. Mempersilahkan masuk dan memperkenalkanmu dengan teman-teman dari organisasi lain yang ikut meramaikan acara pemilihan Miss Operator ini, juga artis yang sengaja didatangkan dari Indonesia yang sudah siap dan menunggu di belakang panggung. Sementara Laras yang bekerja sampingan sebagai kontributor majalah dan koran berbahasa Indonesia di Hongkong ini, pamit keluar untuk memotret.

Kamu berdebar ketika bersalaman dengan artis ibu kota yang sedang naik daun itu. Seseorang yang pintar bicara memuji penampilanmu. Ya, memang kebanyakan orang-orang yang berada di tempat itu melihatmu dengan kagum.

“Mau nari apa, nanti?” Tanya seorang artis laki-laki yang mengenakan jas hitam rapi mendekat ke arahmu.

Kau tersipu malu, ragu-ragu untuk menjawab. Setelah diam beberapa detik akhirnya kau bersuara, “jaipong.”

“Oh. Saya sudah lama tidak melihat tarian tradisional, pasti menarik,” ucapnya menyodorkan kursi untukmu duduk, dan menyeret kursinya sendiri mendekat ke arahmu. Meski malu dan ragu, kau menerima kursi dan duduk di atasnya.

“Sejak kapan kau menari?” lanjutnya.

“Sejak saya kecil sudah suka menari. Ibu saya yang mengajarkan itu kepada saya,” kau malu-malu menjawab.

“Kenapa memilih jaipong?” ia kembali bertanya.

“Karena saya suka. Selain meneruskan apa yang ibu saya lakukan sekaligus melestarikan budaya dari tempat kelahiran saya. Saya ingin berusaha meski hanya kecil saja.”

Artis laki-laki itu mengacungkan jempol dan kemudian pamit meninggalkanmu, seseorang memanggilnya. Baru kali ini kau akan tampil di depan ribuan penonton, debaran di dadamu semakin kencang. Sejenak, ulah majikanmu terlupakan. Kecintaanmu menari memang selama ini menjadi obat bagimu di hari libur. Untuk melepaskan penat enam hari bekerja penuh kekangan.

Giliranmu telah tiba, MC memanggilmu untuk naik panggung. Meski gemetar, kau berusaha untuk tersenyum. Kau tahu rasa gugupmu akan hilang ketika anggota tubuhmu mulai melenggokan gerakan. Saat kau mulai melebur bersama tepukan penonton, seperti biasanya di detik kau melakukannya, pada saat itulah jiwamu yang sesungguhnya muncul.

Seiring liukan tangan dan bokongmu yang mengundang tepukan, kegembiraan meletup di hatimu yang terdalam. Tak ada lagi rasa tersiksa, seperti terpenjara oleh hak yang terabaikan, merasa tidak dihargai, semua itu hilang bersamaan dengan peluhmu yang mengalir. Bersama tari, kau mendapatkan apa yang kau inginkan.

Setengah jam yang terlalu cepat, meski keringat membanjiri tubuhmu, kau tak sedikit pun merasa lelah. Tepukan tangan penonton gagap gempita setelah gerakanmu yang terakhir. Kau puas dan tersenyum senang. Di samping panggung, artis yang tadi berbincang denganmu paling keras tepuk tangannya, kemudian mengacungkan jempolnya padamu. Sedangkan Laras sibuk memotret gerakmu.

Hari ini adalah hari bersejarah untukmu, karena telah berhasil membuat ribuan penonton terpukau. Laras menghampirimu, mengulurkan handuk kecil dan air minum. Benar-benar libur yang sangat menyenangkan, kau semakin yakin dengan pilihanmu.

~*~

Jam sembilan malam kau sampai di apartemen majikan, mendapati dua buah koper yang terguling di belakang pintu. Mula-mula kau mengira mungkin majikanmu hendak loi hang atau berlibur ke luar negeri seperti biasanya. Namun, perkiraanmu salah besar, sebab koper itu berisi barang-barangmu. Wanita cantik berambut lurus itu mengulurkan sebuah tiket pesawat.

“Kamu aku pecat. Ini tiket untukmu pulang ke Indonesia,” ucapnya seraya menarik tanganmu dengan kasar dan meletakkan tiket itu di atas telapaknya. Kau tertegun dan berdiri lama di sisi pintu yang masih terbuka lebar, tak tahu apa yang harus kau lakukan.

Hal selanjutnya yang bisa kau lakukan adalah menggenggam erat selendang merah muda pemberian ibumu, sambil berjalan meninggalkan apartemen yang kau tempati selama hampir empat tahun, menuju bandara.

~*~

Fanling room 12/18, Tuesday, January 22, 2013

Telah dimuat di Radar Seni; Saturday, January 26, 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s