Yellow Dress

DSCN3324

Like yesterday, annoyed once again
As if thing happened I hide it
Like a wind blow the leaves away
For strange sense inside my heart
To understand the reason, why you?

Ya, kamu. Aku mencorat-coret tulisan di atas buku kecil yang aku pegang dengan kesal. Mengapa kamu membuat konsentrasiku terbelah. Aku sama sekali tidak tertarik dengan komunitasmu itu meskipun aku mengakui perbedaanmu dengan yang lain. Baru beberapa minggu saja aku melihatmu, tapi senyuman Lion yang tertuju padamu membuatku mual dan marah. Mengapa pula kamu harus datang dan menggelar tenda di dekat gawang tempat kakakku biasa berlatih main bola di hari Minggu. Tapat, setiap sore ketika Lion baru memulai latihannya dan itu sangat menggangguku. Karena kamu berbeda.

Aku tidak suka kaummu itu, pendatang dari Indonesia yang bekerja sebagai pembantu di rumah-rumah kami, penduduk Hongkong. Kalian kurang memperhatikan kebersihan, itu dibuktikan oleh kelakuan kalian sendiri yang membuang sampah sembarangan setiap libur. Aku tidak mengada-ngada, sebab aku melihat dengan mata kepala sendiri kalau Causeway Bay menjadi banjir sampah setiap hari Minggu sore. Bahkan taman di bawah jalan layang menjadi rusak sebab kalian jadikan tempat untuk duduk, beralaskan plastik.

Tidak mungkin aku pungkiri, kesenjangan sosial begitu nyata terlihat saat melihat kalian berdampingan dengan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi. Aku juga berterima kasih sebab dengan adanya kalian, perekonomian Hongkong menjadi semakin maju, sebab kaum wanita menjadi lebih leluasa bekerja di luar rumah dan menyerahkan tanggung jawab pekerjaan rumah tangga pada kalian.

Kamu dan komunitasmu sungguh beda dengan yang lain, meskipun aku agak terganggu melihat kalian memakai baju yang begitu rapat. Aku sering bertanya-tanya, apa kamu tidak merasa kepanasan saat musim panas yang begitu menyengat di Hongkong oleh pakaian rapatmu itu. Mungkin kalau musim dingin akan lebih nyaman, sebab aku sendiri suka menutup kepalaku dengan topi wol karena tidak tahan dengan hawa dingin.

Kalian menggelar tenda setiap sore sekitar jam 4 di dekat gawang itu. Kemudian aku lihat kalian mengeluarkan kertas dan pensil. Salah satu dari kalian akan berbicara yang aku tak mengerti apa maksudnya. Ego dan kesombonganku mencegah keinginan untuk mendekat dan bertanya sedang apa sebenarnya kalian ini.

Terkadang kalian tertawa bersama, bergilir berbicara dan kadang juga makan bersama. Aku tahu makanan khas kesukaan kalian, makanan pedas yang sama sekali tidak aku suka. Ya, aku membenci makanan pedas, bahkan seluruh keluargaku tahu itu.

Namun akhir-akhir ini aku begitu terganggu oleh kedatangan kalian. Gara-garanya sangat sepele. Ketika bola yang digunakan Lion dan teman kesebelasannya bermain, terpelanting jatuh tepat di depanmu. Kamu memungutnya, ragu-ragu menyerahkan bola itu pada Lion. Tak ada yang terjadi setelah itu, biasa saja. Kamu meneruskan aktifitasmu begitu juga dengan Lion.

Yang membuatku tidak enak adalah kemudian bola sering jatuh di tempatmu dan mengapa secara kebetulan selalu Lion yang menghampiri kamu dan mengambil bola itu. Satu kali, dua kali, itu membuatku tidak enak. Sebab setelah dua kali Lion mengambil bola itu, dia lebih sering memandang ke arahmu dan tersenyum. Pernah sekali Lion berbicara denganmu, entah apa yang kalian bicarakan, dan itu membuatku kesal.

Tentu saja aku tidak tahu apa yang kalian bicarakan sebab aku duduk agak jauh di tepian lapangan. Meskipun Lion sekali-kali menghampiriku dan minum air, aku tidak enak hati mengganggu permainannya dengan bertanya tentang sesuatu yang menurutku mustahil. Lion menyukai kamu dan kamu pun sebaliknya. Entahlah, mungkin hanya kecemburuan yang berlebih saja, atau karena aku memang dari awal tidak suka komunitas kalian dan percakapan Lion denganmu membuatku semakin tidak suka.

Puncaknya, pada Desember tanggal dua kemarin. Ketika bumi diguyur hujan rintik-rintik dan Lion tetap bermain. Aku sendiri membuka payungku tetap tekun menanti permainan Lion usai. Aku melihat kamu berbincang dengannya agak lama. Lalu beberapa kali menghampirimu, diperparah saat kamu menyerahkan secarik kertas untuk Lion.

Samar di bawah rintik hujan, aku melihat Lion tersenyum setelah melihat beberapa menit kertas itu, mungkin Lion membacanya. Dan kemudian Lion mengantonginya di saku celana pendeknya. Aku kesal, berdiri dan dengan langkah berat menghampiri kalian.

Meskipun jarakku tidak begitu jauh, namun rasanya seperti satu jam perjalanan, aku ingin segera merebut kertas dari Lion dan menyobeknya. Ini sudah keterlaluan dan di luar batas, begitu pikirku, antara marah juga geram.

Lion tersenyum melihatku berjalan mendekat menemui kalian. Dan hal itu membuatku semakin marah padanya. Aku setengah berlari tidak tahan lagi untuk segera merobek kertas itu. Setelah beberapa jengkal jarakku denganmu, aku melotot ke arah Lion yang justru tersenyum lebar ke arahku.

“Namanya, Linda. Ayo aku kenalkan, cantik bukan.” Selangkah dari tempat kalian berdiri, Lion tersenyum dan memperkenalkanku padamu, dan, oh, dia tidak tahu kalau kepalaku sedang panas. Musim dingin dan gerimis tak bisa mendinginkan kepalaku yang membara.

“Sangat cantik, hai nama saya Nurmala, Anda boleh memanggil saya Mala. Saya tahu orang China tidak begitu bisa mengucapkan kata r.

Aku memalingkan muka, tidak mau menerima uluran tanganmu. Aku tidak peduli kalau itu dianggap tidak sopan, lagi pula siapa kamu, inginkan aku bersikap sopan di depanmu. Aku merogoh saku celana Lion dan meraih kertas itu, menyobeknya jadi dua, melemparkannya ke lantai.

“Apa yang kamu lakukan.” Lion terkejut dan memandangku heran dengan apa yang baru saja aku lakukan.

Kamu terbengong, dengan wajah heran memungut lembar kertas yang sudah menjadi dua dan agak basah itu, lalu merapikannya.

“Anda ingin aku membacakannya untuk, Anda?” tanyakmu lembut, aku tak mengerti, kini akulah yang merasa heran.

“Apa, apa yang kamu bicarakan dengan Lion, aku peringatkan jangan dekat-dekat dengannya!?” ucapku keras.

Kamu memandang ke arah Lion, tidak menjawab apa pun.

“Apa maksudmu, kami tidak melakukan apa-apa.” Lion menjawab dengan raut muka yang masih tampak heran, memandangku penuh tanda tanya mengapa aku marah-marah.

Beberapa detik kemudian, kamu membaca apa yang tertulis di atas kertas yang kini ada di tanganmu itu.

In weet Desember

I’d like to watch yellow dress was came

Seating in the ground

Same like me

To be good as supporter

When the foot kick the ball

Aku tercengang, sambil menunjuk ke arahku sendiri, dan dengan kasar merebut kertas tersebut. Lalu menunjuk ke arahmu, “kamu yang bikin? Apa ini? Puisi,” aku menjawab pertanyaanku sendiri, kamu tersenyum ramah dan mengangguk.

“Tadi aku bertanya apa yang mereka lakukan di sini. Apa yang mereka diskusikan, dan mereka bilang kalau mereka menulis. Mala menawarkan untuk membuatkan puisi, aku bingung karena aku tidak tahu puisi, tapi dia menyuruhku memilih kata. Kemudian aku teringat padamu, kamu suka puisi bukan, dan baju kuning yang kamu kenakan hari ini. Lalu aku menyuruhnya membuatkan sebuah puisi dengan kata ‘baju kuning’.” Lion menjelaskan panjang lebar.

“Jadi, kalian?”

“Ya, kami di sini sedang membahas dan belajar bagaimana menulis dengan baik.” Jawabmu dengan senyum yang lebih lebar dari sebelumnya.

“Puisi,” kataku ragu dan tidak tahu serta malu mau berbicara apa.

“Tidak hanya puisi, kami juga membuat artikel, jurnal, cerita pendek, novel  dan tulisan lain.”

“Jadi menulis?” tanyaku masih heran.

“Ya.” Kamu mengganguk mantap.

Aku terbengong sekaligus tidak percaya, ternyata tidak seperti dugaanku, kalau kalian itu tidak bisa melakukan apa pun selain mengerjakan pekerjaan rumah tangga.

~*~

Tuesday, December 04, 2012

Berita Indonesia Edisi 137, Januari 2013

 

Advertisements

2 thoughts on “Yellow Dress

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s