Pollyanna Grows Up

Oleh Yuli Duryat

from google image

Aku tertarik dengan buku satu ini oleh sampul belakangnya, entah mengapa, mungkin karena belakangan ini aku sangat gemar menonton film bersetting sama dengan novel karya Eleanor H. Porter, 1915 ini. Sementara buku pertamanya Pollyanna sendiri terbit pada tahun 1913, best seller dan sekarang disebut sebagai sastra klasik anak-anak, dengan karakter judul Pollyanna menjadi istilah populer bagi seseorang berpandangan optimis.

Novel ini memaparkan kelanjutan kisah gadis bernama Pollyanna Whittier, seorang yatim piatu yang tinggal di Beldingsville, Vermont, dengan bibinya yang kaya tetapi tegas, Bibi Polly. Pollyana yang beranjak dewasa, dan ia masih berusaha mempraktikan permainan sukacita yang telah ia mainkan sejak kecil. Ia menghadirkan keceriaan di rumah sahabat barunya Mrs. Ruth Carew yang dirundung duka akibat kehilangan keponakannya membuatku jatuh cinta.

Novel kedua seri Pollyanna ini begitu memesona, meskipun pada awal aku membacanya merasakan kejenuhan yang sangat. Permainan sukacita ala Pollyanna begitu memukau, tentang betapa pentingnya rasa syukur di setiap detik proses kehidupan untuk menumbuhkan kebahagiaan.

Ketika sang gadis dirundung duka akibat Dr. Chilton pamannya meninggal dunia dan perekonomian keluarga merosot sejak saat itu. Sementara sang istri Bibi Polly yang begitu menyayangi Pollyana menjadi pemuram dan tenggelam dalam kesedihan, Pollyana tetep tegar dan terus mempraktekan permainnannya meskipun ditantang keras oleh bibinya. Bibi Polly mengatai Pollyanna sebagai gadis aneh yang tidak menyadari bahwa keluaraga mereka sedang berada dalam titik yang menyedihkan, sebab terus bersuka ria dan bersyukur dengan keadaan yang menimpa.

Saat atap rumahnya bocor, Pollyanna senang mempunyai atap sehingga bocor dan membuatnya sibuk mengganti ember penampung air saat turun hujan. Dan dia selalu bahagia, sehingga keluarga, teman dekat dan semua orang yang berada di sisinya termasuk Bibi Polly pun tertular kebahagiaan, dan menyadari betapa pentingnya bersyukur.

Begitu juga ketika gadis itu menangis karena bahagia telah dikaruniai mata sehingga bisa melihat, aku begitu tersentuh. Oleh novel ini, aku banyak diajak untuk merenungi akan apa yang telah Tuhan karuniakan. Novel yang edisi Indonesianya terbit pada September 2010 diterjemah oleh Rini Nurul Badariah ini sangat layak sebagai bacaan keluarga dan sangat pantas berjajar dalam rak buku koleksi favorit.

Sunday, 23 December 2:48 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s