Penjahat Daur Ulang

 

Oleh Yuli Duryat

 

 

Dini hari yang dingin. Angin mengelebatkan keperkasaan berupa topan yang ia hantamkan ke batang-batang pohon besar hingga tumbang. Kebanyakan penduduk memilih lelap dalam tidur ketimbang keluyuran. Tapi, bagi yang rumahnya di pinggir-pinggir sungai mereka siaga, siapa tahu air meluap ke rumah sederhana mereka. Banjir sudah akrab di kota yang terkenal makmur jibar-jibur ini.

Sekumpulan manusia berbaju hitam dan bertopeng hitam menyerbu ke dalam istana bercat putih. Mereka telah merencanakan itu jauh-jauh hari, pada saat semua penghuni istana terlelap tak terkecuali penjaga. Seorang bertubuh besar dan bertato memimpin, di sekelilingnya orang-orang bertubuh mayoritas ceking mengikuti interuksi yang ia berikan. Semuanya bergerak cepat, sesuai denah ruang sebagai target, mereka telah mempelajari situasinya dengan teliti. Yang jelas, besok pagi, saat para pejabat datang untuk menggelar rapat, mereka telah menempati posisi masing-masing.

“Ingat, setelah kita berhasil, siapa pun presiden yang nanti kita pilih, kedudukan serta fungsi tempat ini tidak boleh diubah. Dalam bentuk maupun selera siapa pun, tidak diberlakukan.” Laki-laki bertato itu berbisik.

“Sergap dan ikat para penghuni istana dan tempatkan mereka pada posisi masing-masing sesuai seperti ketika mereka berkumpul untuk mengadakan rapat. Kalian mengerti, lekas laksanakan. Aku sudah memerintahkan kepala dua untuk melakukan hal yang sama di Jalan Veteran.” Lanjut kepala komplotan penjahat tersebut.

Para penjahat itu memang telah merencanakan semuanya. Menyerbu istana tempat pejabat menaikan subsidi setelah pergelaran sidang-sidang. Anak-anak mereka kelaparan, karena itulah mereka hendak merampas istana untuk tempat daur ulang sampah-sampah Jakarta. Rencananya, istana tersebut akan mereka gunakan untuk kantor sampah. Di tempat itu akan diadakan pemilihan sampah yang kemudian dikumpulkan di halaman juga aula.

Masing-masing anggota komplotan penjahat telah memiliki tugas yang telah termanajemen rapi. Dari yang mengurus sampah plastik, koran, botol, kaleng dan sebagainya. Semua sampah dari yang organik maupun anorganik akan didaur ulang sesuai kebutuhan, kemudian digunakan kembali untuk kebutuhan sehari-hari. Kalau nantinya ada yang bagus dan bisa dijual ke luar negeri seperti tas dari bekas bungkus pewangi pakaian dan sebagainya, maka akan dilakukan oleh anggota yang mempunyai kawan yang berkompeten dalam bidang ekspor-impor. Jangan pernah menganggap kecil para pemulung, pengamen, dan orang kecil lainnya. Bukan hanya orang besar yang bisa berfikir secara besar. Dan ingat pula orang besar ada berkat keberadaan orang kecil.

Selama ini, komplotan penjahat ini sungguh risih dengan banjir dan kericuhan yang ada di Jakarta. Juga kemiskinan yang semakin merajalela. Pengemis dan pengamen tidur di emperan, juga di rumah-rumah kardus di bawah jembatan, dekat sungai dan sampah-sampah yang menumpuk. Bau comberan, kotoran manusia, busuk bangkai sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Karena itulah, kepala penjahat tingkat atas yang anggotanya mayoritas terdiri dari pengemis, pencopet, pemulung, pengamen dan segala jenis orang yang sudah terbiasa hidup berlumur bau sampah itu ingin mengubah hidup mereka dengan membentuk kelompok yang bernama Penjahat Daur Ulang.

Mereka berkompromi untuk menggunakan dua istana megah di Jalan Medan Merdeka Utara dan istana di Jalan Veteran. Mereka sangat menginginkan para pejabat yang sudah biasa kerja dengan fasilitas enak itu bergantian tempat dengan mereka. Kalau memintanya dengan suka rela jelas nggak mungkin dikabulkan, karena itulah mereka akan melakukannya secara paksa.

Penjahat Daur Ulang juga ingin menikmati fasilitas yang enak dan layak untuk mereka sebagai sesama manusia. Dan sebaliknya, Penjahat Daur Ulang ingin mereka para pejabat yang biasa hidup enak untuk meneguk juga apa yang setiap hari mereka teguk. Lah wong podo-podo umate Gusti, apa salahnya berbagi. Entah itu berbagi keenakan atau kesusahan.

“Enam koma delapan hektar lebih. Baik, sebelumnya sudah aku bagi-bagi tempat kalian masing-masing. Untuk kantor plastik dan kantor koran serta kantor-kantor lain. Ingat, kalian harus teliti dan adil. Setelah kita sukses mendaur ulang sampah-sampah di Jakarta ini, aku jamin, anggota kita tidak akan lagi miskin. Tujuan kita adalah, Jakarta tanpa macet dan banjir. Setelah air sungai mengalir normal dan udara kita kembali cerah, aku percaya wajah rakyat kita pun akan cerah cerah. Secerah kehidupan mereka, itulah tujuan kita datang ke mari.” Kata ketua berpetuah secara bisik-bisik takut terdengar para penghuni yang sedang tertidur pulas.

“Baik Bos, saya pasti akan selalu ingat moto yang diberikan pak kiai saya dulu, yaitu makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Saya jamin dengan moto itu, meskipun nantinya saya bekerja di sini menjadi kaya dan berlimpah rejeki, saya tidak akan gendut dan perut saya tidak akan menjadi besar.” Jawab salah satu kepala komplotan sama berbisik.

“Bagus kalau begitu. Jangan lupa untuk berbagi dan saling membantu saudara kita. Kalau kita saling menindas maka misi kita tidak akan pernah berhasil. Ibarat kesebelasan bola, kalau kita tidak kompak, maka kita tidak mungkin bisa mencetak gol. Betul ngak kawan.” Yang lain menambahkan dengan semangat sambil mengendap-endap.

“Khusus untuk koran, tidak boleh sembarangan untuk alas duduk atau bungkus kacang rebus barangkali. Aku punya teman penulis yang kerjaannya tidak tidur setiap malam untuk mengetik huruf satu-satu, lalu mengeditnya demi honor yang tak seberapa. Jadi tolong kasihani mereka. Kita berikan pernghormatan dengan merawat koran dengan baik, jangan sampai dibuang begitu saja di tempat sampah setelah tidak dipakai.” Sang ketua melanjutkan ceramah.

Kebijakan para penguasa itu kerap kali memojokan rakyat pada kesusahan. Kemiskinan bukannya jadi tertanggulangi dengan baik, justru sebaliknya. Kota Jakarta yang notabene tempat mereka tinggal dan mengadakan rapat-rapat penting, toh tetap mengalami banjir yang bertahun-tahun bukannya berkurang malah semakin menjadi. Anggota Penjahat Daur Ulang sangsi apakah mereka sebenarnya mengupayakan pemulihan atau tidak. Buktinya, meskipun setiap hari mereka mengais sampah dan menggunakan yang masih bisa digunakan, toh pembuangan bukannya menipis malah semakin membludak. Kalau bukan berkat mereka, bahkan bumi Jakarta akan semakin hancur dengan berbaurnya sampah biodegradable dan sampah non-biodegradable.

Sudahlah, semua itu tak perlu lagi dibahas. Sekarang ini misi Penjahat Daur Ulang sudah jelas. Mereka ingin segera mewujudkan kota Jakarta yang bersih. Pribadi yang bersih tentu didukung pula oleh tempat yang bersih. Bagaimana bisa berfikir bersih kalau tempat mereka berteduh bau busuk. Bukan mereka, tapi bagi para Penjahat Daur Ulang ini perlu diperjuangkan.

Mereka pun ingin seperti tukang sampah di Inggris dan di negera lain yang bekerja mengunakan truk khusus. Bahkan di Hongkong, ada kantor sampah khusus di setiap pelosok kota. Dengan fasilitas dan pakaian seragam khusus saat bekerja. Mereka juga digaji sebanyak $ 37 dolar setiap jamnya. Sungguh enak mereka, tidak seperti tukang sampah di Jakarta ini. Padahal kota dengan perkembangan yang cukup cepat ini memproduksi sampah yang melimpah setiap harinya.

Bagimana bisa orang bekerja dengan baik apabila fasilitasnya tidak memadahi. Apalagi para pemulung yang begitu berjasa bagi masyarakat malah tidak begitu diperhatikan keberadaannya. Apa kata bumi nanti. Akh, sudah pasti bumi tak akan bisa berkata-kata, tapi dia hanya bisa menangis meratapi nasib yang begitu buruk menimpanya. Mengapa, manusia kebanyakan memproduksi barang yang tak berguna selama hidup. Justru menciptakan penyakit bagi bumi. Akh itu tak penting untuk dibicarakan dari mana asal usulnya, yang terpenting sekarang bagaimana caranya agar sampah itu tidak menjadi penyakit bagi bumi.

Penjahat Daur Ulang ingin menggunakan gedung yang mulai dibangun tahun 1796 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus Van Overstraten sebagai tempat mewujudkan obsesinya. Jakarta kota bercahaya, seperti kota kecil Cilacap dekat pulau Nusakambangan sana. Mereka marah karena betapa pejabat mendapatkan fasilitas yang begitu mewah, dan menepis pernyataan orang-orang yang mengatakan bahwa itu lantaran para wakil rakyat kerjanya susah, jadi ya wajar kalau menginginkan pelayanan yang istimewa. Kawasan Harmoni yang berdiri di lokasi paling bergengsi mereka anggap tempat yang paling tepat untuk mewujudkannya.

Penjahat Daur Ulang terkesan akan kesaksian tempat ini ketika sistem tanam paksa atau cultuur stelsel ditetapkan Gubernur Jenderal Johanes Van de Bosch. Juga yang tak kalah bergengsi penandatanganan persetujuan Linggarjati pada 25 Maret 1947. Sutan Syahrir mewakili Indonesia dan pihak Belanda diwakili oleh Van Mook.

Benar-benar gila, mereka melakukannya tanpa peduli akan kecaman masyarakat juga negara. Penjahat Daur Ulang ingin menorehkan sejarah baru yaitu merubah fungsi tempat tersebut dari fungsi sebelumnya. Mereka ingin mengganti tempat yang sudah lazim sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara. Tempat penyelenggaraan acara-acara yang bersifat kenegaraan, antara lain pelantikan pejabat-pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, kongres bersifat nasional juga internasional, serta jamuan kenegaraan ini menjadi kantor daur ulang sampah. Lalu menggantikan kantor untuk kegiatan kenegaraan di tempat lain, yang lebih dekat dengan masyarakat. Mereka mau agar orang-orang besar itu mengerti dan ikut merasakan apa yang rakyat rasakan.

Penjahat Daur Ulang bukan melupakan upacara mengharukan saat bendera Belanda diturunkan dan Dwiwarna Indonesia dinaikkan ke langit biru. Ketika keheningan melanda ratusan ribu orang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga gedung. Bagaimana mungkin mereka memalingkan muka atas kejadian mengharukan ketika masyarakat diam mematung, meneteskan air mata ketika bendera Merah Putih dinaikkan. Para Penjahat Daur Ulang juga tidak mengabaikan saat-saat Sang Merah Putih menjulang ke atas dan berkibar. Saat-saat indah pada waktu meledaknya kegembiraan masyarakat sambil berteriak; Merdeka! Tapi sungguh, kelakuan pejabat jaman sekarang tidak sama dengan para pejuang kemerdekaan.

Komplotan Penjahat Daur Ulang telah merasuk masuk dan dengan lihai mengikat seluruh orang yang berada dalam istana. Boleh dibilang misi mereka berhasil. Bahkan tentara yang bertugaspun dapat mereka ringkus dengan mudah. Tinggal menjalankan misi selanjutnya.

Namun kepala komplotan mendadak duduk terpaku di depan rungan yang sangat penting. Di depan tempat penyimpanan teks proklamasi asli dan bendera pusaka asli hasil jahitan ibu Fatmawati yang saat ini sudah tidak boleh dilipat lagi tapi harus digulung dan disimpan di dalam kotak hampa udara karena usianya yang sudah tua. Dia duduk dan terguguk. Tubuhnya dipenuhi rinding. Bulu kuduknya tersigap berdiri seperti baru saja melihat hantu. Air matanya menitik perlahan. Keharuan menjalar ke seluruh pori-pori tubuhnya. Di depan ruangan yang dulunya adalah kamar tidur Presiden Soekarno dia menangis sesenggukan.

Kepala Panjahat Daur Ulang merasa sangat bersalah dengan negara. Karena selama ini dirinya belum memberikan apapun terhadap bumi tempatnya berteduh. Berkelebat kelakukannya memenuhi otak. Dia yang suka merampok dan menjarah barang milik orang lain. Lalu ia sadar, betapa dirinya adalah mahluk yang tidak berguna. Tangisnya semakin menyayat. Para anggota lain yang sudah selesai meng-handle tugas mereka masing-masing datang menghampiri sang ketua ketika terdengar tangisannya.

“Aku belum melakukan apapun untuk negara, untuk bendera kejayaan kita tercinta, agar diakui dan dilihat oleh bangsa lain. Pekerjaanku merampok, dengan alasan apa pun, merampas barang milik orang lain adalah dosa. Dan aku lebih berdosa lagi memimpin kalian untuk datang ke mari. Pekerjaan kalian mendaur ulang sampah adalah mulia. Jangan kotori dengan perbuatan nista seperti ini. Ayo kita pulang.”

“Tapi bagaimana dengan tawanan kita, Bos?”

“Bebaskan mereka, biarkan mereka istirahat agar bisa menjalankan tugas negara dengan baik.”

“Kita sudah susah-susah menyiapkan strategi berbulan-bulan sia-sia dong, Bos?”

“Sudahlah, kita bangun kantor sampah di tempat lain. Toh masih banyak tempat lapang di negara kita ini.”

“Bos ini begimana sih?”

“Kita merampas tempat ini adalah dosa. Walau bagaimana kelakuan mereka, kita tidak boleh main hakim sendiri, ada hukum. Bukankah kita negara yang menjunjung tinggi nilai-nilai hukum dan moral.”

“Tapi, Bos. Kita sudah susah begini?”

“Ayo kita cari jalan keluar lain, yang jelas jangan yang ini. Kamu lihat di sana, bendera yang dijahit Ibu Fatmawati, malu kita sama beliau. Kau telpon dan kasih tahu kepala dua di Istana Negara, kalau rencana kita gagalkan.”

“Baik, Bos. Kalau memang itu yang terbaik, ayo man-teman kita pulang.” Anggota lain melongo, bingung dengan perintah ketua, namun begitu tetap berjalan menuju pintu keluar istana.

Mentari pagi mulai menampakan kesetiaan berupa cahaya yang menyepuh langit. Tanah basah menguap, sisa hujan dan badai semalam. Seberapa pun bobroknya kelakuan manusia atas penghianatan dan perusakan terhadap alam raya, ia tak pernah jemu membagikan sinarnya kepada mahluk bumi, di atas negara Indonesia tercinta ini.

~*~

BI Edisi 135, tahun XII, November 2012

Advertisements

4 thoughts on “Penjahat Daur Ulang

  1. Penjahatnya insap.
    Sepertinya mbak Yuli ini concern banget dg masalah-masalah lingkungan ya 🙂
    Saya rekomendasikan mbak Yuli baca novel “Indonesia Incorporated”. Semoga menginspirasi.

    • 🙂 Betul sekali, saya sering gemas lihat orang yang suka membuang sampah sembarngan, hal sepele yang sangat membahayakan kalau dibiarkan. Saya juga punya pengalaman mengerikan tentang membuang sampah sembarangan ini, pernah suatu hari ada seseorang membuang putung rokok dari jendela apartemen lewat tangga darurat, masih menyala, kalau saja saya nggak pas di rumah, bisa-bsa kebakaran, sangat membahayakan.

      “Indonesia Incorporated”, asik, membaca reviewnya sepertinya sangat bagus, tak coba cari di toko bukulah nanti, terima kasih banyak atas rekomendasinnya Mas Iwan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s