Indahnya Memory Kodok-kodokan

Oleh Yuli Duryat

 

“Ayo, kejar terus. Kejar dia, hahahha…”

“Nggak kena, wloe aku di sini, gak kena….” Seru salah seorang dari mereka yang ikut dalam permainan kodok-kodokan.

***

“Ti, nanti jam tiga ketemuan ya, di pelataran rumahnya Isah,” ajak Partini padaku, ketika kami berangkat sekolah bersama. Seperti biasa kalau aku telah selesai mengerjakan PR, aku akan keluar untuk main bersama teman-temanku. Terkadang, kami juga mengerjakan tugas secara kelompok, namun hari itu kebetulan kami tidak ada tugas dari guru, maka kami sengaja janjian untuk main. Kami dan anak-anak sekampung kami sudah biasa bermain bersama. Suara-suara kami yang nyaring akan kembali terdengar setelah pada pagi harinya lenyap karena harus sekolah. Biasanya kami melakukannya jam tiga sore, setelah capai bermain kami akan pulang dan mandi, kemudian pergi ke mushala untuk mengaji. Itulah rutinitas masa kecilku dulu setiap hariya.

“Oke, enaknya kita main apa yah, Ti?” tanya Partini padaku.

“Kita main kodok-kodokan yuk. Ajak teman-teman lain biar rame,” seruku antusias.

Karena sudah janji, sepulang sekolah aku lekas berganti pakaian, makan dan mengerjakan PR. Dahulu, aku selalu mengerjakan tugasku tanpa disuruh oleh ibuku. Karena orang tuaku sibuk pergi ke ladang. Aku, dengan kaki telanjang pergi ke sekolah tanpa diantar, dan berjalan tiga kilometer melewati tanggul dan menyebrang jembatan bamboo yang licin kalau musim hujan.

Hari itu aku sudah berjanji untuk memanggil temanku yang lain untuk main bersama-sama. Kami akan memanggil nama teman kami keras-keras dari luar rumah mereka. Itu sudah menjadi kebiasaanku dan teman-teman yang lain. Kami selalu melakukan dan mengerjakan sesuatu sama-sama. Entah itu mengaji, belanja di pasar  kala hari minggu, berangkat sekolah, dan main.

***

Permainan anak jaman dulu dengan permainan anak jaman sekarang sangat berbeda. Permainan anak jaman sekarang sudah terimbas oleh tehnologi canggih. Bahkan banyak di antara mereka yang sudah menjadi ketagihan dengan permainan semacam game online, ply station dan sebagainya. Permainan seru dan murah meriah jaman dulu sudah jarang terlihat di jaman sekarang. Permainan anak jaman dulu yang bersifat kolektif, sarat ukuwah dan kebersamaan itu, berbeda jauh dengan permainan anak jaman sekarang yang individualis dan banyak membutuhkan dana yang tak sedikit untuk membelinya. Namun sangat disayangkan, permainan-permainan itu seolah telah lenyap ditelan tehnologi dan jaman yang semakin moderen ini.

Dulu, ketika aku masih kanak-kanak, sepulang sekolah, selesai makan siang dan mengerjakan PR, aku akan keluar rumah dan bermain dengan anak tetanggaku. Tidak hanya satu dua orang, melainkan kadang sampai belasan orang. Riuh, suasana diwarnai gagap gempita tawa kami.

Aku dan teman-temanku sangat suka dengan permainan Kodok-kodokan. Yaitu permainan yang dilakukan oleh banyak orang, namun hanya dengan satu orang saja yang mengejar anak-anak lain. Orang yang mengejar ini di sebut dengan Masang. Siapa yang Masang ini harus mengejar anak lain, kalau kena maka anak yang kena kejar itulah yang jadi pemasang selanjutnya. Kalau si anak yang dikejar sudah capai karena terus dikejar oleh si pemasang, maka dia boleh duduk berjongkok atau berjalan jongkok kayak kodok. Setelah dia duduk jongkok, si pemasang tak boleh lagi mengejarnya. Ada syaratnya, kalau yang duduk jongkok itu ingin lekas berdiri lagi, dia harus memegang kaki si pemasang. Pada saat memegang itu harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari pemasang memegang balik si kodok, karena kalau sampai kena pegang, si kodok itulah pemasang selanjutnya. Kalau si pemasang telah berhasil membuat semua pelari berjalan jongkok kayak kodok, maka dialah yang akan dikejar oleh si pelari untuk melakukan syarat yaitu memegang kakinya agar bisa berdiri kembali. Apabila salah satu dari mereka berhasil memegang kaki pemasang dan bisa berdiri kembali, dia bisa menyembuhkan kawan-kawan kodok untuk berdiri dengan cara memegang tubuh mereka.

Pada saat itulah riuh teriakan teman-temanku, sungguh membuatku bahagia karenanya. Anak-anak yang telah jadi kodok karena berjalan jongkok itu akan saling bahu membahu agar mereka dapat memegang kaki si pemasang. Dan juga masih harus berhati-hati karena kalau si pejalan jongkok itu berjalan berdekatan dengan pejalan lain, maka si pemasang bisa mendepani *memegang mereka berdua sekaligus dengan dua tangan* mereka berdua, dan mereka berdualah yang akan menjadi pemasang selanjutnya. Kami akan saling berteriak saking serunya.

Suasana akan semakin meriah, ketika pemasang telah membuat semua pelari berjalan jongkok. Kini dialah yang harus berlari agar kodok-kodok yang mengejarnya tidak dapat memegang kakinya. Yang namanya berjalan dengan berjongkok, tentu saja tidak bisa berjalan secepat orang umumnya berjalan. Di sinilah kemenangan pemasang yang gak usah repot-repot lari kencang. Tetapi dia juga tidak mau terus-terusan jadi pemasang, dia akan memasang mata dan melihat barang siapa yang jaraknya berdekatan dengan kodok lain, maka dia akan segera mendepani mereka berdua. Dan kalau itu sudah terjadi, mereka berdua harus jreng untuk menentukan siapa yang kalah dialah yang jadi pemasang.

***

“Ayo Ti, kita kejar Partini.” Aku berjalan jongkok, dengan susah payah mengejar Partini yang waktu itu menjadi pemasang.

“Kamu dari sebelah kiri, aku sebelah kanan,” tambahku.

“Siapa berani mendekat akan aku depani kalian,”

“Ayo, hahahha kalian gak kan bisa mengejarku kali ini. Akulah sang pemasang yang menang,” ungkapnya bangga, sambil menepuk dadanya sendiri.

“Wahai, kodok-kodokku, dengarkan petuah rajamu ini, hahaha…”

“Dengar, kalian harus menyetorkan pajak nyamuk, dan memusnahkan obat nyamuk-nyamuk yang telah diciptakan mahluk bumi. Karena kalau obat nyamuk itu disulut, maka kelaparan akan mendera kita bangsa kodok, hahahha,” Partini berteriak lantang. Layaknya Pak Sukarno yang sedang membacakan proklamasi kemerdekaan.

“Memang nyamuk-nyamuk nakal itu tak pantas hidup di dunia, mereka hanya pantas bersarang di perut kodok, hihihihi,” lanjutnya, sambil mengoyangkan kepalanya ketika berucap tadi.

Terang saja teman-temanku yang lain ikut tertawa dibuatnya. Permainan jaman dulu sungguh menyenangkaan. Banyak juga penonton yang ikut tertawa karena tingkah Partini yang kocak itu. Sayang kebersamaan itu kini telah tergerus oleh jaman yang kian moderen.

Tehnologi yang kian canggih serasa telah menyingkirkan kebersamaan itu. Kemudahan memang semakin kita dapatkan, namun kebersamaan itu kian hari kian hilang saja. Aku merindukan hari itu, hariku bersama mereka. Kegembiraan itu seolah tidak dimiliki anak-anak jaman sekarang. Sungguh itu perlu dikhawatirkan. Sebagai orang tua kita dapat mengenalkan permainan jaman dahulu, karena itu merupakan sebuah budaya yang perlu dilestarikan.

Suatu hari di tahun 2010

Advertisements

6 thoughts on “Indahnya Memory Kodok-kodokan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s