Channel X

Oleh Yuli Duryat

dari google image

dari google image

Aku sedang benar-benar kalut ketika tiba-tiba aku rasakan kakiku basah. Dia kekasihku Joe Joyodiningrat mendadak lenyap ditelan kabut kelokan jalan tepat di hadapanku. Kami sedang bertengkar hebat. Untuk pertama kalinya ia memaki-makiku. Ia menginginkan aku untuk berubah, karena orang tuanya yang ningrat menganggapku tak normal.

Joe Joyodiningrat, menyarankan aku untuk bersikap dan berpenampilan feminim. Ia menghendakiku untuk meninggalkan kebiasaan memakai baju kedodoran. Orang tuanya tak suka dengan penampilanku yang perempuan gak, laki-laki juga bukan. Benar-benar menyebalkan! Kalau memang ia tulus menyukaiku, harusnya ia menyukaiku apa adanya, bukannya malah menyuruh-nyuruh aku untuk berubah.

Apa salahnya, kemana-mana memakai celana jins, sepatu boot dan kaos oblong dipadu jaket? Dengan pakaian ini aku lebih leluasa bergerak. Bukan apa, nyaman saja aku rasa. Lagi pula aku bukan pencinta perempuan, aku masih normal dan aku suka lawan jenis. Aku juga benci, jikalau harus mengumbar bahu, ketiak ataupun pahaku dengan dress mini. Kalau ganis lain suka memakainya, biar saja itu hak mereka, yang jelas aku tak suka.

Ini aku kawan, bukan dia atau kau. Seperti inilah aku, aku tak mau harus menjadi orang lain dengan merubah kebiasaan yang aku suka. Aku benar-benar sebal dengan tuntutannya yang menjengkelkan itu.

Cinta, telah membuatku gila, dan terkulai oleh panahnya yang meracuni pikiranku setiap harinya. Betapa bodohnya diriku. Dan sekarang, sungguh bingung mengapa aku berada di tempat ini? Aku tak mengenal pantai ini, oh tunggu dulu, sepertinya aku pernah melihat dan bermain ke sini? Ini benar-benar pemandangan menakjubkan, laut lepas dengan mendung putih menggelayut di dada langit. Saat ini kakiku, oh, kakiku menjejak pasirnya yang lembut dan airnya yang dingin. Dengan orang yang berseliweran serta berceloteh dengan bahasa Mandarin.

Aku menepi dan mengenakan sepatu boot-ku.

Entah berapa detik kemudian, aku telah berada di dalam arena berpagar seng tinggi, sambil memegang sebuah kamera, ketika bau busuk ikan mati menguar. Banyak buldozer di tempat ini. Buldozer dan pekerja terlihat lalu lalang dengan pekerjaan masing-masing. Hai, untuk apa aku membawa Nikon dan memotret di sini, apa urusanku dengan tempat ini?

Suara laki-laki mengagetkanku ketika aku belum sepenuhnya paham tempat apa yang aku pijak. Aku tak menyadari kedatangan tiga laki-laki yang telah berdiri di depanku ketika aku membalikkan badan. Satu memakai jas hitam, penampilannya oke, berkulit putih dan berbadan tinggi tegap. Tapi aku tidak suka raut mukanya yang tak bersahabat. Dua orang lainnya sepertinya pekerja di tempat ini, mereka berseragam kuning dan memakai helm dengan warna senada.

Laki-laki berjas hitam itu berkata sesuatu sebelum akhirnya merebut kameraku. Aku menjawab perkataan yang tak jelas apa maksudnya itu dengan lancar dan lantang. Entah mengapa, sepertinya aku sangat mencintai tempat ini, ingin melindungi dari kekuasaan laki-laki berjas hitam yang ingin merebut tempat ini dari masyarakat sekitar, untuk membangun sebuah industri dengan limbah yang membahayakan populasi di daerah dekat pantai ini. Bau ikan busuk itulah bukti nyata yang ingin mereka sembunyikan dari tuntutan masyarakat untuk menghentikan proyek yang membahayakan lingkungan.

Ia marah dan mengambil memori dalam kamera Nikonku secara paksa. Aku memberontak. Aku sekuat tenaga melawan perlakuannya. Namun apa daya aku seorang perempuan bertubuh mungil, takkan mampu melawan tiga laki-laki berbadan besar dan tegap seperti mereka.

Laki-laki itu memakiku, dan pergi sambil mengancam. Aku hendak berlari meninggalkan tempat ini dan tersungkur di atas tanah merah basah. Ketika aku berdiri, kakiku kesleo dan aku tersungkur kembali. Sebuah buldozer berjalan di belakang tubuhku yang mengerang kesakitan. Tubuhku gemetar dikuasai rasa takut, aku menggeser tubuhku, namun kakiku terlalu sakit dan susah untuk digerakkan.

Aku semakin ketakutan, aku berteriak minta tolong. Sementara buldozer itu terus melaju tepat di belakangku, aku semakin panik dan mengeraskan teriakan. Pada saat itulah, seorang laki-laki berjaket kulit menolongku. Ia menubrukku, tubuhnya dan tubuhku berguling ke samping pada saat buldozer itu hampir menggilas tubuh kecilku semacam semut.

Aku memeluknya erat, dengan perasaan takut yang berkecamuk. Hai, sejak kapan aku berani memeluk orang, aku heran pada diriku sendiri, sementara kalau Joe Joyodiningrat ingin memegangku saja selalu aku menolaknya. Dan siapa laki-laki ini, aku seperti sangat dekat dan, oh, sepertinya aku pernah melihatnya.

Laki-laki berjas hitam itu kembali datang. Adu mulut tak mampu terelakan antara laki-laki berjas hitam dengan pria berjaket kulit yang barusan menolongku. Aku masih berdiri di sampingnya, rasa tenang berada di sampingnya menyeruak dalam hatiku. Sepertinya aku menaruh hati padanya. Tapi sejak kapan, dan siapa laki-laki ini sebenarnya?

Dia memapahku berjalan ke arah mobil birunya yang terparkir tak jauh dari tempat itu. Pria itu memaksaku untuk masuk ke dalam mobil dan aku menolak tindakan kasarnya. Ia marah kepadaku, bukankah baru saja ia menolongku, dan sekarang, mengapa ia marah padaku?

“Mengapa kamu pergi tanpa bilang-bilang, kalau aku nggak ada di sana, laki-laki itu akan melakukan sesuatu padamu!! Kamu tahu, kalau saja tadi aku tak mendengar teriakanmu, kalau aku terlambat barang satu menit saja, kalau saja kau sungguh-sungguh tertelindas hidup hidup…! Kalau kau…”

“Maafan aku. Maafkan aku. Maafkan aku…” Aku terisak. “Aku tak akan membiarkan ‘kalau’ itu terjadi, aku tak bisa membayangkan kalau ‘kalau’ itu sampai terjadi, aku tak mungkin bisa bertemu denganmu lagi.” Entah mengapa aku paham perasaannya yang ketakutan, kalau saja ia terlambat mungkin ia akan kehilangan diriku untuk selamanya.

Pria berbadan menjulang yang tahu laki-laki berjas hitam dengan wataknya yang kejam itu lagi-lagi memelukku. Karena kakak laki-laki berjas hitam pemilik proyek yang sedang berjalan inilah yang dulu membunuh kekasihnya. Oh, seketika aku sadar betapa teduh tatapan matanya yang begitu melindungi itu, mengapa berbeda dengan Joe Joyodiningrat yang terkesan menuntut.

Hari tiba-tiba beranjak sore, ketika aku masuk ke dalam sebuah lorong mirip gua, dindingnya adalah batu bata merah. Laki-laki berjaket kulit tak lagi ada di sampingku, dan aku kebingungan ketika lagi-lagi aku seperti mengenali tempat ini. Dan perasaanku sore ini benar-benar merasa marah pada laki-laki itu. Aku dianggapnya adik, dan aku cemburu pada kekasihnya yang telah meninggal dibunuh akibat mengetahui sebuah rahasia bosnya yang tak ingin diketahui media. Sementara kekasihnya itu bersikeras untuk menginfestigasi lebih lanjut tentang pembangunan sebuah industri yang limbahnya membahayakan penduduk, itulah sebab mengapa ia dibunuh.

Aku, ia anggap adik atau keluarga, berarti seseorang yang tak boleh masuk mengisi hatinya dengan cinta pada lawan jenis. Tapi di mana Joe Joyodingingrat, mengapa kini justru laki-laki lain yang ada di dalam benakku, dan aku menjadi begitu menderita dan marah padanya. Tempat apa pula ini? Lorong ini, sama, sepertinya aku pernah melihat tempat ini, tapi di mana?

Dan Joe Joyodingingrat, kenapa ia tak pernah muncul lagi, di mana dia, bukankah biasanya ia selalu sibuk mencariku di kampus. Kalau belum bertemu denganku sedetik saja sudah ribut. Dua hari yang lalu, ia bahkan menyuruhku untuk memakai pakaian yang tak sepantasnya menurutku, untuk pergi ke pesta ulang tahun bapaknya yang ningrat itu. Sungguh menyebalkan. Aku benar-benar marah padanya, namun aku juga merasa kehilangan kalau tak melihatnya mencari-cariku.

Aku berjalan memasuki lorong itu dengan cepat, ini kantorku. Tapi aku belum bekerja, bahkan aku masih kuliah, kenapa aku berada di sini dan merasa kalau ini kantorku? Aku bahkan tak asing dengan barang-barang dalam lorong ini. Meja-meja, komputer, sofa, dokumen-dokumen yang berserak di atas meja. Layar televisi berukuran besar yang menempel di dinding lorong, dan, itu, oh layarnya yang mengerlip-ngerlipkan tulisan Cannel X. Aku bekerja sebagai wartawan televisi, mana mungkin, bahkan jurusan kuliah yang aku ambil adalah akuntansi. Ah ini gila, sebenarnya aku sedang berada di mana sih?

Ketika aku keluar dari tempat kerjaku itu, aku melihat laki-laki berjaket kulit itu menungguku di luar. Aku melengos, aku masih marah padanya. Ia meraih lenganku dan aku memakinya. Langkah kupercepat untuk menghindar dari laki-laki itu. Aku masuk ke dalam mobil dan hai, mengapa aku begitu lihai mengemudikan mobil berwarna silver ini, menuju kuburan. Apa lagi ini, kuburan milik siapa? Siapa yang meninggal, orang tuaku alhamdulilah masih sehat wal’afiat, atau mungkin temanku?

Tiba-tiba aku telah berdiri di depan batu nisan. Foto seorang wanita terpampang di sana. Sangat cantik. Aku bercerita tentang awal pertemuanku dengan laki-laki berjaket kulit, juga saat-saat aku mulai menyukai pria itu, seolah aku merasa bersalah telah mencintai kekasih wanita itu. Udara yang dingin menusuk, terpaksa aku duduk dan mengusap-usap dua tanganku. Badanku melonjak oleh kejut ketika seseorang menyampirkan jaket dari belakang dan memelukku. Aku membalik badan dan marah besar saat aku lihat laki-laki itu lagi. Tanpa aku duga laki-laki berjas kulit membuntutiku, aku bertanya dengan kasar mengapa ia menguping pembicaraanku dengan batu nisan. Ia tersenyum kecut, “Bukan aku yang mencuri dengar, tapi kamu yang bicaranya terlalu keras,” katanya. Aku marah dan ingin pergi meninggalkannya, tetapi ia mencegah dengan memegang lenganku.

Ia menyampaikan bahwa ia sangat mencintai almarhum kekasihnya itu, sekarang bahkan untuk selamanya. Aku bertambah marah, tetapi cengkraman tangannya begitu kuat untuk aku lepaskan. Pada saat laki-laki tampan itu mengucap bahwa akulah wanita yang meluluhkan hatinya, dan mampu menumbuhkan perasaan cinta yang baru pada wanita sepeninggal almarhum kekasihnya itu, saat itulah aku sadar. Ini tidak mungkin pekikku, aku sedang berada dalam sebuah drama berjudul sama dengan tulisan yang terpampang di layar televisi yang menempel di lorong kantorku, dan aku lakon utamanya. Aku ingat, dia Joe Chang, bintang Taiwan itu. Hah, aku berada di sini sekarang bersamanya, dia memanggilku Hong Xiao Lu, sementara aku memanggilnya An Zai Yong.

~*~

“Jadi ini pekerjaan kamu, tidur saat kuliah. Lalu apa yang kau dapatkan dari dosen yang baru menjelaskan materi hari ini?”

Joe Joyodiningrat. Wajah laki-laki itu menjulang di depanku yang tertidur saat kuliah.

“Dasar pemimpi!”

Aku memberengut sambil mengelap iler yang keluar dari ujung bibirku.

~*~

At room 1812, Minggu 2011 sehabis nonton drama dengan judul sama.

Advertisements

8 thoughts on “Channel X

  1. setelah lama tidak membuka internet karena laptop saya rusak, maka ketika ada kesempatan meminjam laptop cucuku, dan kubuka ternyata aku tertarik pada tulisah WITH HEART ini. Selain enak dibaca, aku tiba-tiba merasa bahwa aku sedang membaca pemberontakan emosi sang penulis. Bentuk yang tertulis memang kumpulan khayalan penulis karena intervensi drama Taiwan, namun yang tersirat bercerita bagaimana emosi sang penulis yang menggebu-gebu, harus berakhir di pemakaman, dan ia harus bangun dan …dan aku tak tahu bagaimana selanjutnya. Apa yang saya tangkap bisa saja keliru, tetapi aku bersyukur telah membaca tulisan anda sehingga bisa tahu bahwa setiap yang tersurat itu mengandung kisah yang tersirat. Dan itu bisa saya tangkap dari tulisan di atas.
    Sekian, salam dari oldman Bintang Rina

    • Terima kasih banyak, Pak. Senang sekali rasanya dapat komentar panjang dari Bapak. Jadi tambah semangat nulis nih.

      Salam hangat WithHeart untuk Bapak dan keluarga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s