Sepucuk Surat dari Emak

Oleh Yuli Duryat

Kamu, sedang duduk memandang bunga-bunga dari balik jendela kamar ketika menerima surat dari emak. Emak yang selama ini adalah inspirasi bagimu. Emak adalah ide untuk membuat puisi. Puisi tentang emak atau untuk emak yang kini bergelantungan di langit-langit kamar. Sengaja kertasnya kamu lipat menyerupai burung-burung kecil, dengan nama-nama sesuai judul puisi yang tertoreh.

Kamu yang belum menemukan alasan mengapa emak memberimu nama tokoh wayang laki-laki sementara jenis kelaminmu perempuan, mengajak burung-burung kecil itu bercengkrama setiap nenek tak ada di rumah. Sementara kakekmu sudah meninggal akibat penyakit asmanya yang sudah parah. Ketika kamu menyuruh emak pulang saat kakek meninggal, emak tidak bisa, katanya belum finish kontrak.

Setiap senja, kamu menuliskan hal-hal yang berhubungan dengan emak berlembar-lembar dalam buku diary, entah sekarang sudah yang keberapa. Bahwa emak, inspirasimu itu pastilah kangen padamu. Kamu percaya emak akan menepati janji untuk pulang Lebaran kali ini. Tentang emak yang begitu sayang padamu. Tentang emak yang selalu membelikan buku-buku baru yang sampai ke kamar setiap sebulan sekali. Mainan dan baju baru yang bisa kamu pegang setiap tiga bulan sekali. Kamu terbayang, Lebaran nanti, pastilah akan menjadi hari paling bahagia dalam hidupmu.

Keberuntungan hidupmu datang bertubi-tubi sejak ditinggal emak bekerja di Hongkong. Meski kamu hanya bisa merangkul tubuh emak dan bermanja di pangkuannya setiap dua tahun sekali. Emak membiarkan bapakmu menceraikannya dan menikah lagi dengan tantemu sendiri. Tante yang kamu sayangi seperti emak. Tante yang menggantikan emak mendongeng sebelum tidur saat kamu masih kecil. Tante yang mengurusmu ketika emak tidak ada. Entah sejak kapan kamu tak tahu, tante yang kamu sayang itu ada hubungan dengan bapakmu dan berujung perceraian emak.

Wanita yang sangat mirip emak itu mengurusmu sejak rumah nenek yang juga rumah emak berdinding anyaman bambu. Sembilan tahun emak bekerja di luar negeri, sekarang rumah itu sudah menjelma bangunan beton yang megah berlantai dua, komplit dengan dagangan dan toko lumayan besar milik nenek. Tante dan bapakmu yang mengurus semuanya dibantu nenek. Tantemu adalah adik emak satu-satunya. Mereka –bapak dan tentemu– kawin lari karena nenek menentang hubungan mereka. Sejak saat itu kamu hanya hidup berdua dengan nenek.

Angin berhembus mengibas-ngibas bunga corongan yang putih merekah. Di sampingnya kupu-kupu terbang anggun dan hinggap di kelopak bunga kertas. Emak menyukai bunga, sama sepertimu. Kamu menanam bunga-bunga itu untuk emak. Kamu ingin ketika emak suatu hari pulang, emak akan betah tinggal di rumah bersamamu karena bunga-bunga itu menarik perhatian dan membuat emak senang untuk tinggal. Pekarangan samping dan depan rumah bahkan sudah menjelma taman kecil, kamulah yang membuatnya untuk emak.

Kamu menanam pohon anggur yang menjalar-njalar. Tak perduli tangan lecet-lecet saat membelah batang bambu sebagai lanjaran-nya. Saat buahnya meranum, kamu ingin memetik dan memakannya bersama emak. Pada waktu emak menelpon, kamu memberitahu tentang bunga-bunga dan anggur yang kamu tanam. Sangat berharap emak tertarik untuk melihat dan segera pulang. Tapi satu bulan kemudian, emak mengirimkan laptop serta hape baru. Canggih dan berkamera, sekaligus mengirim uang, menyuruh Pak Karyo tetangga sebelah untuk membantu memasangkan internet. Agar emak bisa melihat bunga-bunga dan anggur yang kamu tanam.

Awal mula kamu merasa gembira. Nenek juga senang dan takjub melihat gambar emak di layar monitor. Emak semakin cantik dengan rambut yang kemerahan. Seingatmu dulu rambut emak tidak seperti itu, dan emak juga selalu menutupnya dengan kerudung. Tetapi lama kelamaan, kamu merasakan kehampaan saat menyadari tidak adanya sentuhan hangat tangan emak dari barang-barang caggih yang dia kirim itu.

Lebaran tinggal hitungan hari lagi. Sejak seminggu ini kamu memang menunggu kabar dari emak, dan saat menerima surat yang sekarang ada dalam genggaman tangan, kamu begitu bahagia. Tapi dalam hati kamu bertanya, kok aneh, mengapa emak tidak telpon atau mengajak chating saja. Tapi kamu yang suka menulis, menerima surat dari emak adalah kebahagiaan yang tiada terkira. Dadamu berdebar, bertanya-tanya dalam hati apa gerangan yang emak tulis? Selama ini kamu tidak pernah melihatnya menulis, seperti apakah tulisan emak? Bagaimana kalimat emak, dan terutama apa yang ingin emak sampaikan dalam suratnya?

Selama berjam-jam menimang surat itu, memamerkannya pada kupu-kupu, pada angin, pada anggur, pada bunga, dan pada semua yang kamu temui. Mendekapnya erat, menciumnya, takjim. Mengangkatnya ke atas dengan sebelah tangan, dengan dua tangan, kemudian berputar. Menerawangnya dengan cahaya matahari, apakah gerangan yang ada di dalam amplop berwarna putih itu. Menari-nari dengan surat itu, begitu bahagia emak mau menulis surat untukmu. Kamu berjanji akan menyimpannya baik-baik. Kamu bahkan berniat untuk menyalin, mengabadikannya dalam diary dan laptop.

“Nyu, kamu kenapa sih, tersenyum-senyum dan menari-nari memegang amplop itu. Ayo sini bantuin nenek nurunin belanjaan.” Nenek baru pulang belanja naik truk kecil yang biasa ia sewa, memanggil dari luar kamar.

“Ini ada surat dari emak, Nek. Manyu senang emak mau mengirim surat untuk Manyu. Seingat Manyu, emak baru kali ini mengirim surat kan, Nek.”

Nenek mengerutkan kening. Memandang wajahmu penuh tanda tanya. Berfikir kemudian berkata, “oh, ayo buruan buka, emakmu bilang apa? Kok aneh, bukannya emakmu biasa pake laptop itu atau telpon kalau mau ngomong sesuatu sama kita.”

“Manyu juga nggak tahu, Nek. Manyu buka dulu ya,” lalu kamu mencium surat itu sekali lagi, dengan hati-hati sekali membuka amplop tersebut. Seolah kamu takut menyakiti kertas itu kalau kamu melakukannya dengan kasar.

“Ayolah cepat, nenek sibuk!” Nenek tidak sabar menyambar amplop di tanganmu dan dengan cepat membukanya. Kamu tersentak dengan refleks ingin merebutnya kembali, tapi terlambat, nenek sudah membukanya. Hal yang terjadi kemudian setelah mendapati kertas yang di-print rapi di dalamnya, kamu dan nenek terbengong, tak mengerti apa maksud tulisan yang tertera di sana.

Kamu memang tahu bahasa Inggris walau sedikit. Tapi kamu tak paham apa yang tertera dalam surat emak. Apalagi tulisan China di bawah tulisan Inggris, lebih-lebih tidak kamu pahami. Begitu juga dengan lembar yang lain. Tapi ada dua larik kalimat pendek di belakang kertas tersebut.

Bu, Laras minta maaf.

Abimanyu, emak minta maaf.

Kamu bingung membaca dua kalimat itu. Lalu kamu berlari keluar membawa surat itu dan menyuruh Om Joko sopir truk yang kebetulan masih berada di depan rumah untuk membacanya. Om Joko tentu saja tidak tahu, bahkan ia tak bisa membaca. Namun Om Joko menawarkan diri mengantar kamu dan nenek ke rumah bosnya, pemilik truk yang orang China untuk membacakan surat itu. Dengan tergesa, Om Joko, nenek dan kamu menurunkan barang belanjaan dan segera meluncur ke rumah Enci Ling.

Setengah jam perjalanan bagimu seperti setengah hari saja, begitu lama. Kamu ingin lekas mengetahui apa maksud dari tulisan yang tertera di surat itu. Kamu memandangi surat emak selama perjalanan. Begitu penasaran ingin tahu mengapa emak menulis surat untuk kamu dan nenek dengan bahasa asing. Emak tentu tahu bahwa kamu dan nenek tidak bisa membaca bahasa Inggris dan China. Kamu memang bisa bahasa Inggris tapi sebatas kata-kata ringan saja. Di sekolah pelajaran yang paling kamu benci adalah Bahasa Inggris, dari situlah kamu enggan belajar lebih tentang pelajaran yang satu ini.

Kamu turun dengan tergesa saat sampai di depan toko besar milik Enci Ling. Kamu berlari menerobos kerumunan orang, dengan cepat menarik Enci Ling yang sedang sibuk melayani pembeli. Enci Ling sempat marah atas tingkahmu yang tak biasa. Namun Enci yang baik hati dan cantik ini tak pernah bertahan lama dengan marahnya. Apalagi, nenek adalah pelanggan yang sering kulakan di toko besar milik Enci ini.

“Aya, loe orang begimana sih. Ai lagi sibuk, apa nggak lihat!” Enci mengibaskan tangannya yang kamu cengkeram erat namun gagal. Kamu membawa Enci ke belakang gudang, tempat Enci menaruh daganganya.

“Ci, tolong bacakan surat emak ini. Penting, Ci tolong,” katamu nggak sabar sambil ngos-ngosan. Nenek dari luar sudah masuk menghampiri kamu dan Enci Ling.

“Iya Ci, ini surat dari Laras. Kami tidak bisa membacanya?” Ucap nenek lebih sabar ketimbang kamu.

“Seingat ai, kalian bisa baca kan, kok repot-repot suruh ai baca?” Ucap Enci Ling heran, sambil menerima kertas yang kamu sodorkan dengan tatapan yang ia tujukan pada kalian berdua. Lalu membolak-balik dua kertas itu secara bergantian, sambil membetulkan letak kaca mata yang ia kenakan.

“Gimana Ci, apa yang emak katakan?” Serobotmu tak sabar.

Enci Ling menyipitkan kedua mata dan mengerutkan keningnya, “oh, ini dari bos dan agen dalam satu surat. Dan satu lagi ini dari …” Enci Ling tak meneruskan kata-katanya, keningnya semakin mengerut. “Tunggu sebentar.” Enci Ling membaca kedua kertas itu dengan serius, sangat serius. Perempuan setengah baya yang masih terlihat cantik itu mendesah berat saat selesai membaca. Matanya yang tajam menatap nenek dan kamu secara bergantian.

“Ci, jangan buat kami mati penasaran.” Katamu sambil mengerak-gerakan tangan Enci Ling.

“Iya, Ci.” Nenek mulai tak sabar.

Bukannya menjawab apa yang kamu dan nenek tanyakan, Enci Ling menggiringmu menuju ke dalam rumah. Ruang tamu di lantai atas toko yang begitu bersih dan sejuk. Enci menyuruh kamu dan nenek duduk. Lalu pergi meninggalkan kalian berdua yang masih kebingungan, ketika kembali, ia membawa nampan berisi es teh dan kue kering.

“Sudah bedug maghrib, buka puasa dulu. Minum dan makan kue ini, kalian pasti lelah dan kepanasan. Bukankah tadi Nek Lastri baru saja belanja di toko ini. Dan kamu Manyu, Abimanyu, kamu pasti juga puasa kan?”

Kamu dan nenek bersamaan memandang tajam ke arah Enci Ling. Tanpa bergerak dan bersuara.

Enci Ling gerah dengan pandangan kalian lalu berkata, “baik, akan saya katakan. Tapi tolong minum dulu ya dan santai, makan kuenya dulu, oke.”

Masih dengan cara bersamaan, kamu dan nenek mendesah berat, komat-kamit membaca doa lalu mengambil gelas besar berisi teh manis dingin dan meneguknya keras. “Alhamdulilah, terima kasih banyak, Ci. Enci benar, kata pak guru ngaji Manyu, mendahulukan berbuka puasa itu ibadah. Kami sudah minum, sekarang tolong beri tahu kami,” katamu.

Enci Ling mendesah berat. Memandang ke arah kalian berdua secara bergantian, dari sorot matanya menyiratkan keprihatinan yang mendalam, dan itu membuatmu semakin penasaran. Dengan berat hati, karena bagaimanapun Enci Ling harus mengatakan apa yang terjadi pada kalian, akhirnya ia bicara. “Kalian berdua harus sabar ya, dua kertas ini, satu dari bos sekaligus agen, juga berupa permintaan Laras, dan satu lagi dari rumah sakit Hongkong.”

Kalian terkejut mendengar kata rumah sakit.

“Ya, dari rumah sakit di Hongkong. Sebenarnya, emakmu menyuruh dokter dan agen untuk tidak berterusterang akan keadaannya. Tapi, dokter dan agen tidak mau disalahkan kalau terjadi apa-apa dengan kepulangan emakmu.”

“Jadi benar emak akan pulang! Kapan?! Malam Labaran nanti kah?”

“Tidak, besok emakmu terbang dari Hongkong.”

Kamu bersorak senang, kamu bahagia emak tidak membohongimu. Kamu memeluk Enci Ling saking senangnya, dan mencium kening juga pipinya. Enci Ling memegang wajahmu, menekannya agar kamu diam, “kamu harus sabar, kamu memaafkan emakmu bukan?”

“Apa maksud Enci, saya sudah tidak sabar memeluk emak.”

“Dengar baik-baik. Nek Lastri dan kau Manyu. Emakmu meninggal karena sakit. Ini keterangan dari rumah sakit atas penyakit yang merenggutnya. Emakmu sudah sakit sejak enam tahun yang lalu. Tapi baru lima bulan yang lalu diketahui penyakitnya yang ternyata sudah parah. Dan penyakit itu menular.”

Tubuhmu melorot dan jatuh terduduk di lantai. Sementara nenek diam seribu bahasa. Tangannya bergetar saking terkejut mendengar berita tentang anak perempuannya itu.

“Penyakit apa Enci? Bukankah selama ini emak gajinya besar, mengapa emak tidak mencari dokter ahli penyakit yang emak idap?” Kamu panik dan nggak sabar memberondong Enci Ling.

“Sudah terlambat. Orang yang menyayangi emakmu, bos, juga dokter serta pemerintah Hongkong mengirimkan jenazah sekaligus uang santunan atas meninggalnya emakmu, yang akan dikirim untuk keluargamu lewat bank.”

Enci Ling tidak menyebutkan kekasih emak dengan terus terang, karena takut kamu bertambah sedih dengan kabar itu. Enci Ling menyamarkannya dengan berkata ‘orang yang menyayangi emak’. Dia tidak mau kamu tahu, bahwa ternyata selama ini emak mempunyai hubungan dengan orang berkebangsaan Inggris yang bekerja di Hongkong seperti yang tertera dalam surat. Dialah yang membantu kelancaran pengiriman jenazah emak.

“Kamu harus sabar. Nek Lastri juga harus sabar. Semua mungkin sudah menjadi takdir bagi Laras.”

“Apa penyakit jahanam itu, apa. Mengapa ia mengambil Laras anakku.”

“Nek, penyakit itu menular dan sangat berbahaya. Bahkan sampai sekarang belum ada obatnya.”

“Penyakit apa?”

Enci bersikeras tidak mau menjawab Aids bersarang dalam tubuh Laras yang suka bergonta-ganti pasangan selama bekerja di Hongkong dengan orang bule. Dia tidak mau menambah beban kamu dan nenek, hingga akhirnya kalian mendengar sendiri penyebab kematian emak saat petugas yang mengantarkan jenazah sampai ke rumah kalian.

Dengan air mata yang mengalir deras, kamu melipat kertas puisi untuk emak. Di balik kertas surat keterangan dari rumah sakit tentang emak, kamu menorehkan isi hati yang tergores luka dalam bentuk puisi. Ya, emak adalah inspirasi bagimu, meskipun ia kini telah pergi.

surga di bawah telapak kaki itu

telah digondolnya pergi

oleh jubah keberlangsungan jauh ke luar negeri

 

surga di bawah telapak kaki itu

ia melenggang tak hirau belakang

terbuai janji membumbung tinggi


surga di bawah telapak kaki itu

kembali pulang bersama bujuran pucat kaku

nyatanya perih pedih menyayat hatiku

 ~*~

Dimuat di tabloid Apakabar Edisi #15 Thn VII

6-26 Oktober 2012

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Sepucuk Surat dari Emak

  1. Gaya berceritanya bagus. Pesan kuatnya bisa sampai ke pembaca dengan baik, tanpa mengerutkan kening. Sungguh layak bisa masuk ke tabloid. Selamat berkarya dan berbagi manfaat ya, mbak Yuli.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s