Air Matamu Tak Kunjung Mengalir

Oleh Yuli Duryat

 

Sudah tiga kali kamu dipecat. Kini, sekali lagi kamu dikembalikan, agen tak sudi lagi membantumu untuk tetap tinggal. Duduk di atas sajadah, diam terpekur, kalau saja bisa menangis, mungkin tak akan sakit dadamu. Entah mengapa, sejak tinggal di negara antah berantah, hati dan tubuhmu begitu kebal oleh derita. Tak mempan pukulan apalagi omelan, air mata tak lagi bisa keluar. Mungkin saking bebal dan terlampau seringnya menderita, sehingga tangismu lenyap entah kemana.

Dulu, waktu kamu masih di rumah dan berkumpul bersama keluarga kecilmu, tangismu masih selalu bersamamu. Air matamu terbilang berlimpah malah. Bahkan kamu merasa Allah dekat dan memarahimu saat kamu melakukan sekecil apapun kesalahan. Dan pada malam harinya, kamu menangis sesenggukan, di atas sajadah memohon ampunan.

Terakhir, saat kamu benar-benar sadar akan kehilangan. Kehilangan kesempatan untuk melayani suamimu dengan baik. Saat kamu merasa kehilangan kesempatan meraih Surga-Nya. Juga menjaga buah hati serta membimbingnya sesuai kemampuanmu, supaya anakmu menjadi anak yang saleh.

Kamu tahu, menikah sama dengan menyempurnakan iman kamu kepada Allah. Tiada perhiasan yang paling indah di dunia ini selain seorang istri yang apabila dipandang suaminya ia menyenangkan. Bila diperintah dia mengerjakannya. Dan apabila ditinggal ia mampu menjaga diri dan harta suaminya. Apakah kamu tak ingin menjadi perhiasan terindah dengan hadiah Surga-Nya. Saat kata-kata ayahmu ini dalam pandangan kamu telah luntur oleh ijin suami melepasmu pergi, kamu seperti mati rasa. Padahal tujuh belas tahun usia kamu waktu ayahmu menjodohkan dirimu dengan anak tetangga, kamu belum siap untuk menikah.

Baru dua jam yang lalu, wawancara bertemu bos baru yang akan mempekerjakanmu. Begitu bahasa kerennya, tapi sebenarnya lebih mirip interogasi. Kalau kamu tak langsung menjawab, kamu dibentak. Seperti biasa, kamu hanya diam dan menjawab iya. Bekerja menjaga apapun kamu mau asal jangan disuruh merawat anjing dan makan babi, itu saja pantanganmu. Kalau memegang dan memasak babi, Allah maha adil dan bijaksana, kamu beranggapan, Dia pasti mau memakluminya. Toh sebelum melakukan kewajiban sehari-hari kepada Tuhan, kamu selalu mandi dan berganti pakaian, agar percikan saat kamu memasak atau merajang daging itu terhilangkan.

Allah begitu sayang padamu. Buktinya, Dia masih melimpahkan cobaan yang empat bulan ini bertubi-tubi datang. Entah mengapa, begitu katamu pada dirimu sendiri. Sudah begitu jelas artinya Dia mau kamu bersabar. Dengan bersabar, Allah sedang menanam hikmah dalam rahasia kehidupanmu. Kamu akan mengerti suatu hari nanti, setelah semuanya usai. Sesuai apa yang dikehendaki-Nya. Itulah yang kamu percayai selama ini, kamu akan kuat, begitu kata hatimu.

Pergi kamu dari sini, anakku bakal mati hidup serumah dengan hantu sepertimu! Kata nyonyamu yang pertama, ketika anaknya yang berumur lima tahun tiba-tiba pingsan saat melihat kamu mengenakan mukena berwarna putih saat kamu shalat subuh.

Ini penting. Kewajiban terhadap Tuhan. Mengapa tidak mengutamakannya dan berbicara mengenai ini sebelum masuk dan bekerja di apartemen milik bos. Ujungnya, dikembalikan ke agen secara memalukan di bulan ke tiga. Tidak, tidak begitu, kejadiannya justru lebih parah dari itu, baju dibuang ke luar rumah, beserta koper butut satu-satunya milikmu, tanpa digaji, karena masih potongan. Kamu kebingungan mencari jalan menuju agen. Mengadu kamu dapatkan palu. Tak mengadu kamu di luar jadi gelandangan, sangat beresiko tinggi. Akhinya kamu pilih jalan yang pertama, kembali ke agen. Kamu meruntuki kebodohanmu karena tidak membicarakannya di awal kesepakatan menandatangani kontrak kerja.

Secara rohani maupun jasmani, kamu merasa telah melakukan dosa besar, karena kamu tidak melakukan kewajiban kamu sebagai istri dan ibu. Karena itulah kamu tak mau lagi melakukan dosa dengan meninggalkan kewajiban kamu kepada Tuhanmu. Pada saat yang sama, kamu kadang menderita batin akan tekanan kebingungan yang menyelusup masuk ke dalam benakmu. Suamimu nyatanya memberimu ijin pergi meninggalkan dia dan anaknya, bahkan cenderung mendorongmu pergi untuk mencari nafkah. Bukankah mencari nafkah itu kewajiban seorang suami? Hatimu kadang berontak melawan ini.

“Bodoh, kamu. Seorang istri itu wajib melayani suaminya, lalu kalau kamu pergi ke luar negeri, dan suamimu menginginkan kebutuhan rohaninya, dosa kamu kalau dia terdorong melakukan zina!” Seperti ditampar, kamu sedih bukan kepalang mendengar penuturan ibumu. Saat kamu minta ijin untuk pergi ke luar negeri jadi TKW.

“Akang ikhlas, jadi ndak ada masalah, pergi saja.” Kata suamimu ketika kau minta ijin padanya. Kamu seperti terhempas. Seolah ada yang tercerabut dalam dadamu, entah apa. Kamu menangis, dan sejak saat itu kamu tak bisa lagi menitikkan air mata.

Majikan kedua, mempunyai rumah yang sangat luas. Naasnya, seluruh ruangan dilengkapi kamera. Ketika kamu ketahuan shalat, lagi-lagi majikanmu muntab. Hanya mengijinkan kamu melakukannya di kamar mandi. Kamu marah bukan kepalang. Tak segan-segan, kamu malah melakukannya di depan moncong kamera. Peduli amat, karena kamu hanya takut kepada Tuhan. Kamar mandi adalah tempat membuang kotoran, demi Zat yang paling mulia, kamu sungguh tidak berani menempatkan Tuhanmu di wadah sekotor itu. Kamu bisa celaka dunia akhirat, benakmu benar-benar jengkel kala itu.

Akhirnya, hanya dua Minggu bosmu bertahan akan tingkah lakumu, yang menurutnya sangat kurang ajar itu. Kamu diantarkan ke agen dengan terhormat. Aku tak cocok dengannya, begitu kata nyonyamu sopan. Tak seperti majikan sebelumnya.

Dua Minggu kamu di agen, akhirnya mendapatkan pengganti baru. Setelah visamu jadi, kamu diboyong ke rumahnya. Sangat sempit dan kecil flat bos yang satu ini. Tadinya kamu mengira, kamu hanya ditugasi berbenah rumah dan memasak untuk majikanmu yang masih muda dan cantik itu. Ternyata sore harinya, datang segerombol hewan yang paling kamu takuti. Hewan kecil berbulu menggemaskan itulah yang menjadi tugasmu, menjaga dan merawat mereka.

Hari pertama dan kedua tidak ada masalah, tetapi tak dinyana di hari ketiga. Beberapa ekor hewan cantik yang harus tidur bersamamu, sangat mengganggu. Mengendus dan menjilat-jilat setiap kali dia mendekat kepadamu. Hewan itu bahkan tak boleh dimasukan ke dalam kandang, saat kamu sedang melakukan shalat. Ya Rabbi, kamu bingung, apa yang harus kamu lakukan. Sementara nyonyamu adalah orang yang sangat baik. Ingin kamu bertanya kepada ustad, tapi bagaimana. Tentang keadaan kamu, kamu bingung. Akhirnya kamu memutuskan untuk keluar. Anjing cantik milik nyonyamu menggonggong seperti menangis melepas kepergianmu. Demi Sang Khalik yang maha memahami mahluknya, kamu tidak mau beribadah dengan hati yang ragu. Kamu tahu Dia maha pengasih lagi maha penyayang, namun kamu tak mau hidup dalam jeruji keraguan. Akhirnya kamu memutuskan keluar.

Kamu sebenarnya mau kerja apa mau cari gara-gara? Sampai di agen, kamu diumpat habis-habisan. Kamu dimarahi, dihukum mencuci kamar mandi. Membersihkan kantor tanpa berhenti selama berhari-hari. Sama, tetap bebal, sampai pening kepala air matamu pun tak sudi keluar.

Majikan keempat adalah yang terakhir. Kalau kamu masih bikin ulah, kami tidak sudi lagi menolongmu. Begitu umpat mereka padamu. Mereka juga mengancam akan memotong gajimu selama setahun, karena kamu telah melakukan kesalahan begitu besar yaitu dikembalikan berkali-kali oleh majikan.

Hari yang dinanti tak kunjung tiba. Kamu selalu menyampaikan keinginanmu untuk diijinkan shalat saat bertemu bos yang akan mempekerjakanmu. Mungkin nasib kamu memang sedang apes, tak kunjung datang majikan sesuai apa yang kamu inginkan.

“Kalau kamu mau ibadah, kenapa pula kamu datang ke sini. Semua yang ke sini itu mau cari uang. Dasar orang aneh.” Bentakan bernada medok bertubi-tubi membentur telingamu dari seorang wanita Jawa yang bekerja di agen. “Nanti sore, ada yang datang menjemputmu. Tak perlu wawancara, kamu terlalu banyak persyaratan, kami tidak mau lagi menampungmu kalau kali ini kamu tidak berhasil.” Lanjut wanita itu kepadamu, seraya memelototkan matanya agar kamu takut. Dasar kamu, bukannya takut, kamu justru melotot balik ke arahnya.

~*~

“Ya Allah, untuk-Mu aku hidup. Maafkan segala kesalahanku. Aku Tak mampu membalas segala apa yang telah Kau karuniakan untukku. Hanya dengan shalatku, aku berusaha membalas. Entah Kau terima atau tidak, demi-Mu Zat yang paling mulia aku bersujud.” Dengan dada yang teramat sesak, kamu menjadi tontonan dalam penjara di malam saat kamu shalat.

Mentari menerobos melalui jendela kecil di sisi sell tahanan. Di sinilah kamu sekarang berada. Dindingnya yang dingin, menyapamu setiap pagi, siang, maupun malam. Bersama kerinduan yang terbenam dalam hatimu. Sampai hari ini kamu tak bisa menangis. Kamu ingin sekali Allah mengembalikan isak yang telah Dia ambil darimu. Agar kamu merasakan kelegaan setelah kesedihan yang kamu derita buncah bersama air mata yang berderai. Namun kenyataan, kamu masih saja tak bisa. Kamu beranggapan, betapa Allah murka kepadamu sehingga Ia menghukummu oleh besarnya kesalahan yang kamu perbuat. Kamu membunuh dengan tangan yang oleh kasih-Nya ia ada.

Tanpa wawancara, beberapa bulan yang lalu, majikanmu menjemputmu ke rumahnya. Tanpa berbicara, laki-laki tinggi besar menyuruhmu naik mobil menuju apartemennya. Kamu tidak tahu, bahwa kamu akan tinggal berdua saja dengan laki-laki itu. Dia seorang pengusaha di negara berlambang Bahunia ini. Pengusaha yang sangat kaya.

Dinihari, saat kamu sedang melakukan tahajud memohon keselamatan kepada Tuhanmu, kamu dikagetkan oleh bell pintu yang berbunyi nyaring berkali-kali. Untung saja kamu telah selesai berdoa. Kamu tergopoh ke luar dari kamar untuk membuka pintu.

Saat pintu apartemen itu terkuak, kamu kaget bukan kepalang. Tepat di depan kamu laki-laki bermuka merah padam. Menceracau tidak karuan dengan sepasang mata yang juga kemerahan. Mabok. Kamu mundur selangkah dua langkah. Menghindar dari laki-laki itu. Namun tak bisa, dengan tanpa kamu duga, laki-laki itu mencengkerammu. Membabi buta hendak melakukan perbuatan yang sesungguhnya telah lama kamu takutkan. Demi Tuhan, hidup berdua dengan laki-laki yang bukan muhrim adalah kecintaan setan. Namun saat laki-laki itu tak pernah berbuat kurangajar padamu dan kamu bisa leluasa melakukan kewajiban kepada-Nya, kamu bertahan.

Saat kamu berusaha mempertahankan kehormatanmu, saat kamu ketakutan, saat kamu tak lagi bisa melawan, air mata yang telah lama kamu damba alirnya pun tak Tuhan persembahkan. Saat semuanya telah usai, kamu tak mampu lagi untuk bertahan melihat dirimu yang kotor dan nista, kamu melakukannya.

Kamu melakukannya. Saat kamu tak lagi bisa berfikir jernih, kamu melakukannya. Saat kamu tak lagi mampu memaafkan orang yang mempercikan noda pada tubuhmu, kamu melakukannya. Saat kamu sadar kalau itu adalah dosa, kamu tetap melakukannya. Saat kamu tak perduli bahwa dengan itu kamu benar-benar kehilangan kesempatan berbakti pada suami dan menjaga anakmu, kamu melakukannya. Saat laki-laki itu mendengkur pulas, kamu melakukannya. Gampang saja, kamu mengambil pisau dapur, dan menusukkannya berkali-kali di dada laki-laki itu. Hingga ia tak lagi bernafas. Dengan kesadaran penuh, kamu melakukannya.

Maafkan aku ya Rabbi. Gemetar, tanganmu yang berlumur darah memencet tombol 999. Kamu duduk terpekur, hingga beberapa orang berseragam biru menyandang pistol, menggelandangmu menuju tempat tinggal barumu. Kamu melakukannya dengan sengaja, pengadilan mengganjarmu untuk tinggal di kamar pengap untuk selamanya. Seumur hidupmu. Kamu tak bisa bertemu dengan keluargamu di tanah air.

Sampai hari ini, air matamu tak kunjung mengalir.

~*~

5.20 PM, Friday March 30, 2012

At room 12 Fanling HK

Tabloid Klik Edisi 19 Juli 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s