Sinopsis

Cerpen Yuli Duryat

“Kau, berhentilah menerorku. Kalau pun semua filmmu itu sukses, mengapa kau menghubung-hubungkannya denganku? Aku sedang buntu, tolong mengertilah.” Asap rokok mengepul, baunya merayap ke seluruh barang yang berada di dalam kamar pengap itu.

“Kau selalu bisa memunculkan sesuatu yang beda, ayolah.”

“Tolong berhentilah menerorku, sebelum aku suruh hantu kuburan di sini untuk mengusirmu pergi. Pulanglah, tolong tinggalkan aku.”

“Gun, come on! Bagi seorang Guntur Jaya tak ada yang sulit selama ini.”

“Itu tidak benar! Dengar! Dengar baik-baik! Sekarang aku sedang sulit. Pulanglah!” Laki-laki ceking itu mendorong sahabatnya untuk keluar dari rumahnya. Sebelum sahabatnya itu kembali merintih-rintih, ia telah menutup pintu dan mengunci gubugnya dari dalam.

~*~

Tangannya gemetar. Sulur padi, ulat bulu, belalang, walang sangit, dan serangga sawah lain beterbangan. Semua menari-nari dalam benaknya. Satu detik, dua, tiga, empat menit, lima jam, terus berlalu. Namun ia masih terpaku dalam duduk. Ia tak punya daya untuk memegang pensilnya lebih lama, namun hatinya memaksa untuk meneruskan goresan di atas kertas lusuh yang sengaja ia ambil dari laci meja.

Sekilas, perempuan itu melihat dirinya sendiri duduk di bawah pohon ubi kayu, menghindar dari sengat terik mentari. Terpampang jelas, sang ibu lari terbirit-birit ketika mendengar gadis itu menangis. Ya, dirinya masih sebentuk gadis kecil yang manis.

“Maafkan ibu, maafkan ibu, maafkan ibu…” katanya mengiba penuh duka, seolah gadis itu tak mau lagi memaafkannya. Seolah apa yang menimpa gadis kecil berkepang dua adalah kesalahannya. Padahal, ia sendiri pun tahu bahwa ia tak sengaja, meninggalkan gadis itu di bawah pohon ketela yang di atasnya melingkar ular yang warnanya sama dengan warna daun. Tetap saja rasa bersalahnya menggunung, ketika ia tahu di atas pohon singkong ada seekor ular hijau sedang tidur. Sang ular kaget, terbangun dari lelap dan melonjak turun ketika sang gadis tak sengaja menyenggol batang pohon ketela. Meskipun ular itu lari tunggang langgang, tetap saja gadisnya menangis ketakutan. Dan hal itu membuat hatinya sakit.

Wanita itu masih di sana, dadanya berdegup kencang saat bayangan bayangan kian gencar berkelebat. Matanya memanas, ia putarkan pandang buram ke seluruh ruangan, menengadah, agar buliran bening tercegah dari alirnya. Namun usahanya gagal.

Tangannya mengusap-usap seraut wajah kusam, terbingkai kayu berwarna coklat tua yang ia pegang. Titik-titik mulai berjatuhan, kemudian ia susut dengan lengan kaosnya yang panjang.

Dalam bingkai ini, adalah ia perempuan pemakai jarik. Olehnya sulur tunas-tunas padi menancap rapi. Yang kemudian meranggas, menyembulkan bunga. Jaganya adalah tanda bahwa sang ranggas mulai membenih. Kesetiaannya adalah runduk-runduk padi yang menguning.

Perempuan pemakai jarik yang ditinggal suaminya melalangbuana. Dia dianggap aneh dan gila karena selalu menyendiri dan menutup diri dari para tetangga. Ia tinggal di sebuah gubug di pinggir desa bersebelahan dengan kuburan tua.

Dulu, kehidupannya biasa seperti tetangga lainnya, menyaksikan anak gadisnya tumbuh remaja, beranjak dewasa, dan harapnya tak lain gadisnya lekas berumah tangga, dekat di sisihnya.

Namun harapan itu gugur, oleh sebab sang gadis tumbuh dan tak sejalan pemikiran. Belahan hatinya itu memilih pergi mencari sang ayah yang entah di mana. Ia menunggu gadisnya pulang hingga sanggulnya mengusam, bertambah uban putih yang memperjelas takdir bahwa ia tak lagi muda. Setiap saat ia melongok pintu, mengharap seseorang yang ia cinta mengetuknya dari luar, debaran di dadanya mengencang dan matanya memanas. Hatinya begitu perih oleh luka yang mengaga.

Wulan Ndadari itu nama wanita yang kini beringsut dari duduk. Meninggalkan kenangan di sebuah rumah lapuk yang dulu ia tempati dengan ibunya itu. Berjalan menuju kuburan tua. Terseok lelah oleh kesedihan yang menderanya.

Ia sadar, bahwa ibunya Sri Suryati kini telah terbujur dan menyatu dengan tanah. “Bu, aku katakan padamu di sini, bahwa aku tak mampu melihat penderitaanmu dengan memasuki gubug itu. Maafkan aku Ibu. Maafkan aku. Aku mencintaimu, Bu.” Tiga kali, ya, hanya tiga kali sudah cukup baginya untuk menepuk batu nisan, sambil mengucapkan kata maaf meski terlambat.

Wanita itu berlari meninggalkan kuburan dengan tangis yang menyayat.

~*~

Guntur memang memutuskan untuk bekerja di tempat itu sejak ia menjadi penulis sinopsis untuk sutradara film nasional terkenal. Menghuni sebuah gubug di samping kuburan menurutnya menyenangkan, bagi dia yang selalu gagal menulis sinopsis untuk film horor. Sang sutradara yang kawannya itu sudah seringkali menasehatinya untuk mencoba.

“Membuat sebuah film horor bisa membuat kita lekas kaya.” Katanya pada suatu ketika. Tapi tetap saja ia tak mampu melakukannya.

Senja itu, ia sengaja berjalan-jalan di kuburan dan melihat-lihat batu nisan, sambil berharap menemui kejadian mengerikan. Ia melewati batu nisan satu persatu. Membaca nama dan tahun yang tertera di atasnya. “Akh, apa yang aku lakukan?” Bisiknya.

Ketika ia hendak pulang dan kembali menepi di gubug pengapnya, tiba-tiba matanya bersirobok dengan sebuah foto yang tergeletak di atas salah satu batu nisan. Ia menengok kanan dan kiri sambil menimbang, takut-takut untuk mengambil dan melihat foto itu. Sebelum ia memutuskan untuk melihatnya, ia membaca sebuah nama tertera di sana. “Sri Suryati…” gumamnya sebelum tangannya terulur untuk mengambil foto tersebut.

Secarik kertas menyembul, ketika laki-laki berbaju kumal itu memungut foto buram itu. Ia memperhatikan foto itu dan kertas yang kini berpindah ke tangannya, kemudian membaca tulisan yang tergores di sana. Akhirnya ia sampai pada akhir tulisan tersebut.

Di manakah sang putri berada ketika perempuan dalam bingkai meregang nyawa…?

Bertemukah ia dengan bapaknya…?

Lalu bisakah sang ibu menjelaskan pada masyarakat bahwa ia tidak gila, ia tidak gila?

~*~

“Gun, kau memang pandai, tak sia-sia kau menyepi di kuburan berbulan-bulan. Kau lihat sendiri kan hasilnya, tanpa buka-bukaan pun, film horor kita laku keras. Gimana, kamu mau pindah ke apartemen baru kan? Aku sudah membelikannya untukmu, di tepi laut. Sebagai gantinya, tolong bikinkan aku sinopsis, kali ini kisah cinta yang romantis, biar bombastis. Remaja kita kan suka cerita cinta picisan macam begitu.”

Laki-laki bertubuh kerempeng itu memandang sahabatnya yang tersenyum puas. “Kau gila, kau tak tahu setiap hari aku didatangi hantu perempuan gara-gara film SINOPSIS ini. Karena sinopsis itu memang aku curi dari batu nisan Sri…” Gumam Guntur dalam hati. Ia tak mau mengatakan hal itu pada sahabatnya tersebut.

~*~

Fanling, November 29, 2011 at 9.25 PM

Dimuat di koran BI HK 130 Tahun XII, Juni 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s