Bad Mood

Oleh Yuli Duryat

Kamu bilang pada hatimu suatu hari, bahwa dirimu berani berkorban seperti lilin. Rela punah demi api. Nyatanya tidak. Kamu membohongi dirimu sendiri. Kacau. Harimu kacau, semangat kerjamu jatuh ketitik paling rendah. Setiap hari, setelah apartemen ini kosong kamu tidur. Tidak, karena sejatinya semenitpun kamu tak mampu mengistirahatkan hatimu, meski matamu memejam.

Kamu melakukan kebiasaan yang malas kamu lakukan sebelumnya. Memakai masker telor pagi-pagi. Sangat tebal. Merasakan sensasi kulit mukamu mengencang. Rasa perih. Gatal. Kamu tahan. Kamu seperti mendengar bunyi kretek-kretek saat kekencangannya pecah membelah, membentuk bilur-bilur yang mengerikan di atas kulit mukamu yang mengkilat. Kamu bercermin lama, tak mengenali dirimu sendiri yang terpantul di atas cermin kamar mandi.

Kamu membasuh dan mencuci mukamu dengan sabun. Melalukannya sekali lagi. Berbaring. Merasakan desiran angin yang masuk lewat daun jendela dan merasakan telisiknya pada kaki telanjangmu. Angin panas yang mulai membelai bumi Hongkong.

Terdengar jelas di kupingmu, suara tok-tok tetangga sebelah mencacah daging babi. Mungkin akan mereka masak menjadi bubur untuk sarapan pagi. Suara radio, pembawa acara yang tertawa. Kamey, namanya. Memberitakan cuaca pagi ini dan topik-topik hangat yang berbeda setiap hari. Seorang wanita berhidung pesek yang pandai bicara. Percaya diri dan mantap di setiap kata yang terucap dari bibirnya.

“Ih siapa sih dia, jelek banget.” Kata nenek suatu hari, ketika perempuan pembawa acara itu menjadi MC TVB saat pemilihan Miss Hongkong. Kamu lupa tahun berapa.

“A’li, cantikan kamu dibanding dia.” Kata nenek waktu itu, sambil memegang kedua pundakmu. “Kamu makan yang banyak dong.”

Kamu tahu, nenek merayumu semata-mata ingin masakannya kamu makan. Padahal, kamu tidak suka makanan serba tim dengan rasa hambar. Kebiasaan orang Cina yang tak suka makanan pedas berlemak. Meski kamu tahu, nenek selalu membelikan sambal botol dengan berbagai rasa khusus untuk kamu. Ah, kamu memang beruntung.

Belakangan kamu bertanya pada dirimu sendiri, sebenarnya apa sih yang kamu cari. Kamu memandang seperangkat komputer yang kamu gunakan setiap hari. Mendengus sebal. Kamu tak suka terkenal, meski kamu cinta dunia tulis menulis. Kamu belajar tanpa jemu, dari cara menggunakan komputer hingga bagaimana berselancar di dunia maya. Kamu bahkan harus berpusing ria, menghafal kata kunci format dalam MS Word komputer yang notabene berformat Kanji.

Kamu tak menyerah, meski karena itu menyebabkan waktumu seolah hilang begitu cepat setiap harinya. Hingga suatu hari bosmu memberikan seperangkat komputer dengan format English khusus untuk kamu belajar. Kamu bersyukur, karena dimana ada kemauan, meskipun sulit, Tuhan pasti akan memberikan jalan untukmu.

Tapi hari ini, kamu kehilangan semangatmu. Ini gara-gara postingan tulisanmu di fesbuk. Entah mengapa, kamu yang biasanya tidak tertarik ramalan bintang, kamu membacanya dua hari ini.

“Sebaiknya Anda segera beristirahat karena fisik sudah tidak mampu melakukan aktivitas berat. Lakukan kegiatan yang sesuai dengan kondisi kesehatan, Anda. Jangan memaksakan diri karena hanya akan membuat kondisi tubuh makin menurun. Yang menjadi fokus perhatian adalah kesehatan, Anda. Konsumsi makanan sehat, dan usahakan disiplin atas diet yang dianjurkan dokter.”

Ah, kartun perempuan bertangan kepiting itu benar-benar membuatmu sebal. Bagaimana mungkin dia bisa mencontoh cara si Mbok bicara. Ah ini plagiasi, dia pasti mencuri apa yang dipikirkan si Mbok. Yang kamu sebut si Mbok adalah lopan nyang-bos perempuan. Kamu sudah lama tak menyukainya, perempuan tidak cantik yang begitu menyayangimu. Kamu sungguh tidak bersyukur, kamu sering marah kalau dia memperlakukanmu begitu baik, teramat sangat baik. Setiap hari. Tanpa jemu.

Kamu menghela nafas. Memandang langit-langit kamar. Tatapan matamu tertuju pada lampu tempel di sana. Kemarin, hampir saja lampu berlapis kaca tebal itu jatuh. Untung kamu ketahui sebelum kacanya mencium kulit mukamu. Karena tepat di bawah lampu kaca itu, biasa mukamu tergolek pulas dalam tidur di malam hari. Ternyata, Gusti memang sangat menyayangimu, memberimu kesempatan untuk mengetahui kekacauan itu sebelum kejadian tragis yang tak diinginkan terjadi.

Kamu tahu, sebenarnya tidak ada yang salah dalam postingan kamu di fesbuk. Hanya kesalahpahaman kecil semata. Tapi ketidaktahuanmu membuatmu kacau. Kamu tak pernah mengganggap dirimu serba tahu, karena banyak sekali yang belum kamu ketahui.

Cece, what are you doing?” Seorang anak berusia dua belas tahun menggelayut di pundakmu. Kamu, banyak bejalar dari dia, seorang anak dengan kelainan pertumbuhan. Terlihat terbelakang, namun mampu bersaing dengan anak normal lain di sekolah dasar favorit.

“Cece, lei yao mea mongsiong’a?” Kamu tertegun. Mendengar pertanyaan itu. Apa cita-citamu selama ini? Mimpimu, keinginan kamu di hari esok? Kamu tersenyum. Menepuk pundaknya, bertanya balik.

“Aku ingin membuat bis. Lalu menyopirinya, kita sekeluarga bisa jalan-jalan keliling Hongkong setiap hari, gratis, tak pakai bayar. Cece harus ikut ya.” Lalu, anak itu menjelaskan berbagai jenis bis, dengan rute yang sudah dia hapal di luar kepala. Semangat. Menggebu-gebu. Membuka website, menunjukan padamu beberapa jenis bis yang belum pernah dia tumpangi. Dari yang terdekat hingga yang paling jauh. Lalu mencocokannya dengan koleksi miliknya, kado ulang tahun.

Kamu melihat dengan mata kepala sendiri, fisik kecil yang tak sepadan dengan umurnya, begitu bersemangat menceritakan apa yang dia inginkan. Kamu menggaruk-garuk kepalamu. Malu dengan apa yang kamu lakukan. Hanya secuil masalah membuatmu malas. Membuatmu tak bergairah melakukan aktifitasmu? Ah, kamu tak seharusnya melakukan itu.

Ini tidak boleh dibiarkan lebih lama lagi. Kamu harus bangun dan bangkit. Aha, kebiasaan lain yang boleh juga untuk refresing. Menjernihkan otak dengan menghirup harum pandan wangi. Kebetulan sekali kamu masih menyimpan bahan-bahannya di dapur. Yuhuy, ide yang cemerlang.

Kamu segera mengeluarkan semua bahan untuk membuat Bolu Koja Pandan. Kamu mengayak baking powder, dan vanili dengan semangat, menakar gula dan mengocok telur. Mencampurnya dengan tepung, pasta pandan dan santan dengan bahasa kira-kira. Itu sudah menjadi kebiasaanmu, toh dulu pernah jadi dengan rasa enak meski tak sempurna. Setidaknya, mengaduk bahan-bahan dan membuat badanmu berkeringat memberikan sensasi baru pada orakmu yang lagi beku.

Benar saja, aroma pandan sungguh bisa menyegarkan pikiran, belum lagi seperti merasakan kenikmatan kue yang kamu bikin, meski kamu belum tahu apakah jadi atau malah bantat. Kamu memasukan ke dalam oven setelah semua adonan sempurna, lalu menunggu di depan jendela sambil mendengarkan musik. Hotel California milik Eagles. Musiknya enak, bikin hati tenang rasanya.

Selamat tinggal ‘bad mood’, kamu tersenyum, memandang hamparan gedung dan pegunungan di kejauhan dari jendela apartemen di tingkat ke 18 ini. Kamu merasakan betapa kecilnya kamu, di tengah dunia yang maha luas.

Kamu percaya, tak ada yang sempurna di dunia ini. Belajar menjadi lebih baik, membutuhkan waktu yang tidak singkat. Menjadikan kejadian buruk sebagai pengalaman yang berharga agar hidup ini lebih berwarna. Bagaimanapun tak ada yang baik kalau buruk tidak ada di dunia.

~*~

Advertisements

2 thoughts on “Bad Mood

    • Terima kasih banyak Dik Sekar ….
      Saya menulis ini saat benar-benar sedang dalam keadaan yang tak bagus 😀

      Saya juga sedang belajar nih, yuk belajar sama-sama 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s