?

 

Setiap pagi, kutitipkan rahasiaku pada mentari. Dia ingkar dan berbisik pada bulan lewat sinarnya yang benderang. Kemudian kembali berlanjut diketahui bintang.

Lalu….

Langit berubah hinggar bingar, gemuruh oleh merebaknya sinar….

Awan membiarkanku menahan malu, dengan asik bersenda gurau di kaki langit biru. Katamu, berhentilah. Angin mengabarkan hujan sebentar lagi tiba, bersama mendung dengan gemuruh halilintar mengumandangkan doa pada Sang Pencipta.

Bersujud rinai hujan menyebut kebesaran Tuhan. Bersama titik-titik mencumbu bumi. Menjanjikan kehijauan di keesokan hari.

Lalu….

Rahasiaku lebur satu-satu, mekar perindang bunga, bersatu dicium lebah madu….

 

 

Advertisements

2 thoughts on “?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s