Liburan yang Menakjubkan


Oleh Yuli Duryat

Aku pernah ke Gili, untuk berlihur beberapa tahun yang lalu. Menyaksikan ubur-ubur, kejadian juga kebiasaan mistis, serta mendengarkan kidung kepedihan yang dinyanyikan seorang janda yang aku lupa namanya. Janda yang harus menyaksikan anak laki-lakinya menderita setelah ditinggal pergi istri tercintanya. Belum lagi melihat kenyataan pahit menyaksikan cucu kecil yang harus mendengarkan janji ayahnya bahwa ibunya hidup bersama mereka meski telah ‘pergi’.

Menakjubkan, meski aku sudah lupa detail kisah Suhada, tapi aku tak bisa menghapus kenangan pahit tentang kepergian suaminya. Aku juga tak bisa lupakan puisi indah Aku Adalah Api yang dirangkainya. Aku tak bisa menghilangkan ingatan hari-hari dihantui kerinduan saat wanita tegar nan malang satu ini menanti suaminya pulang. Hingga ia harus ‘berpulang’ setelah melahirkan buah hati tercinta meninggalkan jejak derita pada sang suami sehingga gila. Jejak itu pulalah yang menyayat-nyayat ibu sang suami.

Aku memang tak pernah pilih-pilih membaca cerita. Meskipun endingnya menyedihkan, selama kalimat-kalimatnya membuatku berada ada di pulau ataupun latar cerita yang disuguhkan penulis, aku akan kasih jempol untuk itu. Banyak teman yang tak suda cerita dengan sad ending. Kata mereka, hidup itu sudah sulit, mengapa harus ditambah sulit dengan mambaca yang sedih-sedih. Ini bukan urusan sulit atau mudahnya hidup. Tapi tentang kreativitas penulis dalam menuturkan cerita sehingga enak diikuti meskipun harus berderai-derai air mata. Kadang terdengar bodoh memang, mengapa harus menangis dengan sesuatu yang kadang fiksi belaka.

Sekali lagi, aku berlihur ke Gili dengan wujud yang begitu berbeda dengan beberapa tahun lalu. Liburan kali ini, adalah gado-gado rasa. Ada sedih, ada bahagia, bahkan kadang tertawa menyaksikan adegan yang menyenangkan. Aku tak akan mengatakan ini seperti kenyataannya, karena aku serasa benar-benar sedang berlibur diving dan menyaksikan terumbu karang. Menjadi saksi bom yang mengerikan. Melihat festival layang-layang. Menyipitkan mata melihat bentuknya yang aneh dan menakjubkan. Melaju bersama kapal berkapasitas sepuluh penumpang. Naik helicopter dan melihat pemandangan pulau Lombok yang terkenal eskotis itu. Bermain di kecipak ombak laut dengan airnya yang bening. Menyaksikan ikan-ikan kecil berenang di kedalamannya. Bahkan mendaki gunung Rinjani.

Akh entahlah, aku sendiri baru kali ini ke sana selain menyaksikan lewat internet. Mungkin kalau aku kenal daerah itu lebih baik, akan protes kalau ada tempat yang belum tergambar sempurna. Tapi aku merasa puas. Apalagi menyaksikan sunset yang indah bersama empat anak yang menyenangkan.

Aku takjub melihat Jasmin mengurus adiknya Lili penuh kasih sayang walau umurnya baru menginjak lima tahun. Bahkan sempat berkaca-kaca oleh ulah polosnya itu. Kagum pada Anggrek yang dewasa, juga Sakura yang bandel. Anak-anak yang menakjubkan meskipun harus mengalami takdir pahit tentang ayahnya yang meninggal akibat tragedy bom yang diletakan di bawah meja resort oleh teroris jahil. Haru oleh mawar Jasmin yang ia serahkan untuk pelaku pembom saat vonis mati dijatuhkan hakim. Bahkan air mataku nyaris tumpah saat ia berjanji tidak akan membenci orang yang telah membunuh ayahnya.

Merinding merasakan sikap Tegar yang mencintai Rosie begitu besarnya, meskipun setelah limabelas tahun sakit hati oleh keputusan Rosie yang menikah dengan pemuda lain. Pasti menyenangkan kalau menyaksikan kisah ini di layar lebar apalagi kalau diputar di Hongkong seperti Hafalan Shalat Delisa seminggu yang lalu.

Aku menghabiskan liburan yang menyenangkan, hanya dari kamar apartemen yang sempit aku bisa berselancar ke pulau indah Lombok tanpa biaya yang mahal. Jangan tertawa, ini memang menyenangkan. Di lembar 327, aku tak tahan untuk membagikan pengalaman ini denganmu. Ah, aku bahkan tak akan peduli kalau kau menganggap aku ini lebay.

Aku sedang menunggu ending yang kini tak sesedih beberapa tahun lalu. Kalau kau ingin tahu juga endingnya, baca sendiri ya, capek ngomong sama kamu. Sudah dulu aku mau lanjut menyaksikan si anak bandel Sakura memainkan biolanya. Kesederhanaan kalimat dan penyampaiannya sungguh enak. Sesederhana perangkainya. Aku bahkan tak pernah berkerut kening karena tak paham. Memang ada sedikit yang menurutku kurang, tapi keasikan mengikuti alur ceritanya membuat kekurangan itu menjadi bagian yang sangat kecil ketimbang keindahan cerita yang disuguhkan.

So I do love this two book;

Sunset Bersama Rosie & Matahari di Atas Gili.

Advertisements

2 thoughts on “Liburan yang Menakjubkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s