Nagasari

Cerpen Yuli Duryat

foto google

Meski telah berpuluh kali melewatinya, Rosidah tetap merasakan getar yang sama tiap kaki telanjangnya menginjak jembatan pohon randu itu. Di punggungnya ia mengendong karung berisi padi yang baru dipanen dari ladang. Seorang anak kecil membuntuti dengan beban tenda yang terlalu besar dan berat untuk ukuran tubuhnya.

“Bu badanku seperti melayang….” Ucap anak perempuan bernama Lastri itu gemetar. Rupanya ia mempunyai perasaan yang sama dengan ibunya.

“Hati-hati, Nak…”

Sesungguhnya, Lastri berbohong. Dia terpaksa melakukannya karena tak mau ibunya harus repot bolak-balik dari sawah ke rumah, untuk mengambil tenda yang sekarang ia bawa itu. Ia memaksakan diri untuk memanggul dan menggendong tenta-tenda bekas untuk menjemur padi di ladang. Meski ibunya melarang.

“Akh… akhirnya aku selamat,” gumamnya setelah berhasil menyeberangi jembatan.

“Dari pagi baru pulang, Bu Rosidah…?” sapa tetangga yang berpapasan dengan mereka. Mereka hendak menghadiri pengajian. Berpakaian rapi dengan menenteng kue-kue di dalam kerendeng.

Injih, Bu. Ibu-ibu mau pengajian ya?”

“Iya nih, Bu.”

“Oh, ya silahkan,” jawab Rosidah ramah.

Rosidah meneruskan perjalanan dengan keringat yang membanjiri tubuh. Sesekali menengok ke arah putrinya, memastikan apakah Lastri masih mampu mengendong tenda-tenda itu.

Lastri dengan sekuat tenaga berusaha untuk tersenyum. Lagi-lagi Lastri berbohong dengan tingkah yang seolah-olah ia sangat kuat. Kaki yang terasa berat ia paksakan untuk tetap melangkah dengan tegap. Punggung yang sakit seolah hendak patah ia tegakkan. Agar ibunya percaya bahwa dia mampu mengangkat beban yang sesungguhnya berat itu. Hari itu seperti biasa, sepulang sekolah Lastri menyusul ibunya pergi ke ladang. Untuk membantu ibunya menyelesaikan pekerjaan di ladang.

“Bu, kenapa kita tidak ke pengajian hari ini?”

“Sayang, ibu tak punya uang untuk membuat kue. Ibu tahu, beribadah itu tak boleh terhalangi hanya karena kita tak punya uang. Namun ibu tak mau orang-orang bergunjing di warung-warung karena ibu tak membawa kue. Seperti beberapa hari yang lalu. Ibu tak mau karena hal kecil seperti itu, akan membuat dosa di mana-mana.”

“Tapi yang bergunjing itu kan mereka, Bu. Bukan Ibu.”

“Iya, Sayang. Tapi yang memulai ibu, ibu tak membawa kue karena itu mereka menggunjingkan ibu. Jadi yang menjadi penyebabnya ya ibu.”

Lastri mengerutkan kening. Dia tak sepenuhnya mengerti kata-kata ibunya. Memang di lingkungan tempat tinggalnya, sudah menjadi kebiasaan tetangga Rosidah menggujingkan warga yang datang ke pengajian tidak membawa kue. Biasanya pengajian di kampung tersebut, diadakan satu bulan sekali. Sementara untuk membaca surat Yasin bersama-sama, biasanya dilakukan setiap satu minggu sekali tepatnya pada hari Selasa.

Bocah imut itu memandang ibu-ibu yang hendak ke pengajian. Ia iri ingin hadir, tapi apa mau dikata dia tak mau membantah kata-kata ibunya.

“Jangan kawatir, Sayang. Kita akan ke sana, dengan hati yang tulus dan ikhlas, semata-mata untuk beribadah. Kau mengerti, Sayang. Ayo cepat kita pulang dan mandi, nanti kita telat.” Ucap Rosidah sambil memandang Lastri.

“Horeee…. Benar, Bu…?”

“Tentu saja, Sayang…”

“Padi yang ibu gendong ini nanti ibu tukarkan dengan kue di warung sebelah rumah kita.”

Gadis yang baru duduk di kelas lima SD itu menatap ibunya dengan gembira. Beban di punggungnya seolah hilang begitu saja. Mereka kemudian berjalan dengan cepat menuju rumah. Rosidah tahu, anak perempuannya itu sangat suka bila diajak ke pengajian.

Rosidah telah lama ditinggal mati oleh suaminya. Sejak itu ia hanya hidup berdua dengan Lastri anak perempuan satu-satunya. Lastri anak manis yang rajin membantunya bekerja. Gadis kecil berambut ikal itu berwajah dan bersifat mirip almarhum suami Rosidah. Sangat suka berbagi dengan sesamanya.

“Bu, kenapa setiap kali Lastri pergi ke pengajian bersama Ibu, selalu saja orang-orang memandang tajam pada kita, Bu?” tanya Lastri sambil berbisik pada ibunya ketika mereka telah sampai di masjid.

“Mereka itu kagum sama anak ibu yang cantik ini,” jawab Rosidah sambil mencubit pipi anaknya.

“Bu, lain kali, Lastri ingin bikin kue sendiri lagi, kayak waktu ayah masih bersama-sama kita, Bu. Bikin kue kesukaan Lastri.”

“Boleh….”

“Yang bener, Bu?”

“Tentu saja, Sayang.”

“Lastri ingin makan bersama banyak orang di pengajian, Bu.”

Rosidah tersenyum dan mengangguk. Disambut lirikan senang Lastri.

“Ayo kita cuci kaki dan masuk, pengajiannya sebentar lagi dimulai.”

Mereka kemudian menuju ke arah sumur yang terletak di sebelah masjid. Menimba air di dalam sumur itu dan mengguyur kaki-kaki mereka yang kotor karena tak beralas. Musim hujan membuat jalan tak beraspal yang menuju arah masjid itu becek dan berlumpur.

“Tumben Bu Rosidah kuenya…?” Sindir seorang ibu menerima kerendeng berisi kue bolu. Rosidah hanya mengangguk dan tersenyum.

“Biasanya…” lanjut ibu-ibu tadi sambil melemparkan lirikan ejek. Lagi-lagi Rosidah hanya tersenyum.

“Baru sekali ini membawa kue bolu. Biasanya kan bawa kue nagasari yang aneh rasanya, atau malah gak bawa sama sekali.” Merasa didiamkan, ibu-ibu tadi melontarkan kata yang lebih pedas. Meskipun hanya dengan suara lirih, Rosidah mendengarnya dengan jelas. Lagi-lagi, ia hanya tersenyum.

~*~

“Jadi nanti sore kita mau bikin kue nagasari, Bu?”

“Hm…”

“Asik… Lastri bisa berbagi lagi…. Tapi, kenapa mereka bilang kalau kue yang kita buat gak enak ya, Bu?”

“Mungkin karena ibu ngasih garam dan gulanya kurang, Sayang.” Kata Rosidah, berbohong. Sesungguhnya perempuan bertubuh mungil itu tahu, karena pisang yang ia gunakan kala itu kurang matang, maka nagasari buatannya tidak enak. Sementara dia tak punya pisang lain, dan untuk membelinya ia tidak punya uang. Jadi terpaksa menggunakan pisang yang ia ambil dari kebun di belakang rumahnya untuk membuat nagasari. Sebetulnya perempuan berwajah bersih itu sangat menyesal setelahnya. Menjadi janda dan menghidupi sendiri anak tunggalnya dengan menggantungkan penghasilan dari sekelumit ladang miliknya memang menyedihkan. Namun ia bersyukur, atas semua yang Allah karuniakan kepadanya.

“O….”

“Kalau gitu hari ini, kita bikin yang enak ya, Bu.”

“Hm…” mengangguk.

“Lastri boleh membaginya pada semua tetangga kan, Bu?”

“Boleh, kita bikin yang banyak nanti ya.”

“Asik…, Lastri bisa makan bersama di masjid sehabis pengajian nanti.” Teriaknya senang.

Lastri mengikuti langkah ibunya yang menggendong tenggok berisi beras yang sudah dipususi dan diangin-anginkan untuk digiling menjadi tepung bahan membuat nagasari. Lastri melonjak-lonjak setengah berlari karena gembira, mendahului ibunya. Ia membalikkan badan sambil masih berjalan dengan arah mundur dan tersenyum senang pada Rosidah.

“Hati-hati, jangan begitu jalannya, nanti jatuh.”

Tubuh mungil itu mundur dan mundur hingga sesuatu tak terduga membuatnya terpelanting. Kakinya tergelincir, tubuh itu telah jatuh sempurna, denagn kepala membentur batu cadas. Darah dari kepala Lastri mengalir.

Rosidah terkejut dan spontan berlari menghampiri tubuh yang terpelanting itu. Karena tergesa meletakkan tenggok terbuat dari anyaman bambu itu terguling, berteriak keras memanggil nama anaknya. Dadanya bergemuruh ketika tubuhnya telah dekat dengan tubuh yang mengelojot kesakitan itu. Ia tercekat dan mengangkat sedikit kepala dan tubuh itu ke dalam pangkuannya.

“Bu. Beras… Berasnya tumpah…” Lastri menunjuk tenggok yang mengguling ke tengah jalan, membuyarkan isinya hingga terberai di jalan berbaur dengan pasir.

“Ku…e, naga… sa… ri, Bu. Lastri ingin membuat dan membantu Ibu mengetum.” Air mata Lastri menitik ke punggung tangan Rosidah yang memegangi tengkuknya.

Rosidah menggeleng. Butir-butir bening luruh dari sudut matanya. Ia berusaha untuk berteriak meminta pertolongan, namun seolah dunia di sekelilingnya terhenti. Orang-orang yang melihat kejadian itu hanya berdiri mematung seolah terkunci ototnya untuk membantu.

“Sayang kau harus kuat…. Tolong… tolong anak saya….” Lolongnya menyayat.

“Tolong…. Tolong…. Putri saya… Tolong…” lagi-lagi ia melolong sedih.

“Bu, sakit….”

Dalam pangkuannya, Lastri tersenyum. Tanpa dibimbing ia mengucapkan kalimat sahadat sebelum akhirnya tubuhnya luruh dan matanya memejam.

Angin berhembus mencekam. Daun-daun kering berguguran tertiup angin menerpa tubuh Lastri dan ibunya. Satu dari daun yang berguguran jatuh tepat di kepala Lastri, masih sangat hijau dan muda, mengkilat dan bercahaya.

~*~

Telah dimuat di Majalah Noormuslima April 2012

Advertisements

2 thoughts on “Nagasari

  1. kisah yang kejam, menyakitkan dan menyedihkan yang seharusnya tak boleh terjadi di dalam masyarakat yang berakhlak konon mulia.Dari segi penulisan dramatisasinya kena.

    • Tapi pada kenyataannya di kampung saya begitu, Pak Bintang. Untuk kisah Lastri, saya sengaja menampilkan sosok bocah mulia, meski ia meninggal tapi dengan ending yang bahagia, husnul khotimah.

      Terima kasih Pak Bintang, saya ingin juga nulis sesuatu yang indah tanpa kekejaman seperti Bapak. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s