Getir

Cerpen Yuli Duryat

gambar dari google

Ragil berkali-kali menengok jam yang bertengger di tembok, tepat di atas meja pak gurunya. Lama sekali, dengusnya. Jam itu seolah sangat lambat bergerak. Satu-satunya barang berharga yang ada dalam kelas kumuh itu seperti monster bagi Ragil, bila sedang malas untuk mendengarkan guru.

Ragil tak bisa fokus dengan apa yang pak guru terangkan. Desauan angin yang bertiup kencang di luar kelas semakin membuat dia tak bisa duduk dengan tenang. Ia gelisah dan menggoyang-goyangkan kakinya. Sesekali Ragil melirik ke arah Surip yang juga terlihat gelisah.

Pagi tadi, ketika Ragil berjalan di bawah pohon itu, tepatnya di pekarangan seorang haji, ia melihat betapa menggiurkan buah yang merah ranum itu. Ragil menelan ludah, ketika membayangkan ia menyemburkan isi buah tersebut dari mulutnya, setelah melumat habis dagingnya yang sepat-sepat manis.

Buah itu tak ada gunanya bagi pemiliknya yang kaya raya. Karena itulah bocah laki-laki itu bebas memetik kapan ia mau. Di pekarangan yang sama itu, banyak pohon buah-buahan yang lebih berharga nilai jualnya. Selain itu, karena Ragil sering membantu Haji Ridwan menjaga kebun buah dari pencuri, ia dibebaskan untuk memetik buah sebesar sukro tersebut, sebagai imbalan.

Ragil, menerima hadiah itu dengan gembira. Ia pun mendaftarkan sahabatnya Surip pada pak haji yang suka membawa tasbih kemana-mana itu agar Surip pun boleh menjaga kebunnya. Supaya dia bisa sama-sama menikmati hadiah buah mungil tersebut.

“Baiklah, kalian boleh memetik buah itu sesuka kalian. Tapi ingat, kalian juga harus bekerja dengan baik untuk mengawasi kebunku. Kalau-kalau ada yang mau mencuri buahnya.”

“Baik. Pak Haji percaya saja pada kami. Tapi, apakah ibu kami juga boleh mengambil daunnya untuk dijual di pasar?” tanya Surip. Mungkin tujuannya agar penghasilan ibunya yang bekerja sebagai buruh tani bisa bertambah.

“Tidak boleh. Karena aku membutuhkannya untuk pakan kambing-kambingku. Kalian hanya boleh memetik buahnya.”

“Baik, terima kasih banyak, Pak Haji.” Surip cemberut dan mengangguk. Ragil menepuk pundak sahabatnya untuk menghibur hati Surip yang kecewa.

Rumah Ragil dan rumah Surip sangat dekat. Mereka bertetangga. Sementara rumah Haji Ridwan yang terkenal galak ini terhalang empat rumah dari rumah mereka. Rumahnya tak begitu besar, namun ia memiliki kebun dan halaman rumah yang sangat luas. Keluarganya menggunakan halaman rumah yang berubin semen itu untuk menjemur padi kala musim panen tiba.

Sementara orang tua Ragil dan Surip adalah buruh tetap di sawah Haji Ridwan. Juga sebagai pem-bawon tetap sawah-sawah tersebut. Meskipun orang tua mereka kerap kali membantu dengan harapan mendapat uang tambahan kala bekerja sebagai buruh tani, atau bawonan lebih kala membawon padi yang sudah layak panen, tetapi tetap saja itu tak pernah mereka dapatkan. Laki-laki yang selalu memakai jubah panjang sebatas lutut itu, begitu petungan dengan padi atau pun uang. Tak pernah sudi memberikan tambahan secara cuma-cuma.

Ragil dan Surip masih duduk di kelas tiga SD. Kalau sekolah, mereka tak pernah dibekali uang jajan. Jangankan uang jajan, untuk membeli buku saja orang tua mereka kewalahan. Ragil dan Surip, selalu mencampur beberapa pelajaran dengan mencatatnya dalam satu buku. Karena buku tulis mereka, tak cukup jumlahnya dengan mata pelajaran di sekolah mereka yang sangat sederhana itu. Terkadang, Ragil juga menjadikan bukunya sebagai alat coret-coretan kalau ia sedang mengerjakan soal matematika. Jadilah buku Ragil semrawut dan sulit sekali untuk dibaca dan diketahui apa yang ia tulis oleh orang lain, namun tetap mudah bagi Ragil karena ia sudah hapal di lembar mana ia menulis soal ataupun catatan setiap pelajaran.

Hari itu, setelah menunggu begitu lama dengan gelisah, akhirnya denting lonceng pun ditabuh oleh salah satu guru mereka. Di sekolah mereka, tak ada listrik, jadi tak mungkin salah satu guru mereka memencet bell tanda jam pelajaran hari itu telah habis. Yang ada, salah satu guru mereka harus mengambil sebuah lempeng besi dan mengetuk keras tiga kali dengan palu, agar seluruh kelas mendengar lonceng sekolah berbunyi.

Ragil menutup buku tulis dan menekuknya, kemudian menyelipkannya ke dalam saku celana. Lalu berlari keluar dari dalam kelas diikuti Surip yang berlari menyusul.

“Aku takut angin menjatuhkan buah kita dan pecah menimpa tanah,” ucap Ragil terengah-engah.

“Aku juga berfikiran sama denganmu.” Jawab Surip sambil tersenyum memandang Ragil.

“Kamu tahu, ibuku bilang ingin sekali makan buah nangka. Kemarin aku lihat banyak buah nangka di sebelah pohon salam, yang matang dan dimakan belatung. Aku memintakannya barang dua suwir. Namun, Pak Haji tak mau memberikannya.”

“Mungkin mau Pak Haji jual kali, Rip.”

“Tidak. Sampai sore hari ketika aku hendak pergi ngaji, buah nangka itu masih tergeletak di sana. Lagi pula, mana ada yang mau membeli nangka yang berbelatung. Hanya satu dua saja yang gak berbelatung, dan aku memintakannya untuk ibu, tapi tak boleh.”

Ragil menggeleng prihatin dan kasihan pada ibu Surip yang tak bisa makan buah nangka sementara beliau sangat menginginkannya. Dan menyayangkan sikap orang kaya yang begitu pelit.

“Ayo cepetan, nanti keburu pada jatuh buahnya tertiup angin.”

“Hu’um.”

Mereka berlari semakin cepat. Menyusuri persawahan menuju kebun. Dari kejauhan, mereka melihat banyak orang telah berkerumun di sana. Ragil dan Surip terheran ada apa gerangan, mengapa banyak orang berkumpul di kebun Haji Ridwan tersebut.

Karena tergesa ingin tahu apa yang terjadi, kaki Ragil dan Surip tergelincir di galengan sawah yang sempit itu. Kaki mereka terperosok ke dalam sawah yang becek tergenang air berlumpur. Mereka segera bangkit dan berlari kembali. Ketika mereka telah dekat, sayup-sayup Ragil mendengar orang yang bilang kalau tanaman Haji Ridwan dirusak hewan ternak, karena itulah ia marah-marah. Tanaman kacang tanah miliknya ludes daunnya dimakan kambing, dan ia mengira kalau kambing Pak RT-lah yang memakan tanaman kacangnya itu.

“Kalau bukan kambingnya Pak RT, lalu kambing siapa lagi. Aku lihat kambing Pak RT-lah yang paling gemuk-gemuk diantara kambing warga lain. Pantas saja gemuk, ia pintar nyuri karena itulah perutnya gendut begitu.”

“Aduh, Pak Haji jangan sembarangan nuduh. Saya sejak tadi di sini nglinting nungguin cempe saya. Dan mereka manut makan di sini nggak kelayapan mencuri milik orang.”

“Alah, Pak RT memang pinter bikin alasan!”

“Loh-loh, saya nggak bikin-bikin alasan Pak Haji, tapi saya ngomong apa adanya.”

“Iya, memang maling itu pinter berdalih, Pak RT.”

Pak RT diam saja. Ia mengundurkan diri dan pergi dari tempat itu karena tak mau memperkeruh keadaan. Ia tak mau pertengkaran itu kian berlanjut. Lelaki tua itu memandang ke arah Ragil dan Surip, tersenyum. Ia menuntun kambing-kambingnya menjauh dari tempat itu. Sepertinya ia hendak menuntun kambingnya untuk pulang ke kandang.

Pak Haji memandang Ragil dan Surip dengan muka marah, sementara warga satu persatu meninggalkan tempat itu untuk kembali ke kesibukan mereka masing-masing.

“Kenapa kalian baru datang?” bentaknya.

“Kami baru saja pulang sekolah, dan kami langsung ke sini.”

“Tolong kalian juga jaga tanamanku agar tak ada kambing yang merusaknya,” lanjutnya masih dengan suara yang sangat keras seraya meninggalkan mereka tanpa ucapan terima kasih sama sekali.

Ragil tak mempersoalkan Pak Haji yang kasar dan pongah. Yang ada dalam benaknya kini hanyalah buah salam kegemarannya. Selain rasanya yang manis, dalam kehidupannya yang serba kekurangan, ia memang jarang memakan buah-buahan. Dan butiran kecil itu adalah pelarian yang tepat. Ia dan Surip biasa bertengger seperti monyet di batang-batang pohon salam sambil asik mengunyah dan menyemburkan biji-bijinya dari atas pohon.

Ragil mengedipkan mata ke arah Surip dan tersenyum senang. Mereka belum makan apa-apa sedari pagi. Tentu butiran hijau kala belum matang itu sangat tepat untuk mengganjal perut mereka terlebih dulu sebelum pulang ke rumah untuk makan siang. Lagi pula, belum tentu mereka kebagian nasi. Anggota keluarga mereka yang banyak, dan kebanyakan mereka tak sekolah sering kali tak menyisakan barang sedikit jatah makan siang mereka.

Dengan cepat, Ragil naik ke atas pohon seperti layaknya monyet, mereka memang lihai melakukan panjat memanjat. Namun entah mengapa, Surip ragu-ragu dan berdiri mematung di bawah, sementara Ragil sudah mulai mengunyah buah kecil itu.

“Ayo naik, enak sekali buahnya,” teriaknya dari atas pohon.

“Aku nggak mau naik, Gil. Kamu petikkan buat aku saja sini.”

“Aku nggak mau, kamu kan bisa manjat sendiri.”

“Tapi…”

“Ayolah… cepat sini naik, Rip.”

Dengan langkah ragu, Surip mendekati pohon salam itu dan memanjatnya. Entah karena apa, Surip merasa perasaannya gak enak ketika memanjat. Ketika Surip mulai menginjakkan kakinya ke ranting pohon itu, kaki dan tubuhnya merinding tak seperti biasanya. Satu dua ranting telah ia panjat. Ragil di atasnya tersenyum-senyum memperlihatkan mulutnya yang merah dan penuh buah. Ketika sejengkal lagi sampai di tempat Ragil bertengger, tiba-tiba pegangan tangan Surip lepas karena kaki Surip terpeleset dari ranting yang ia pijak. Dengan cepat badan kurus itu terpelanting menabrak ranting di bawahnya. Tubuhnya jatuh berdebam.

Darah mengalir dari kepalanya yang membentur akar pohon randu di dekat pohon salam itu. Merah, semerah cairan keluar dari buah salam yang jatuh berhamburan membentur tanah.

Ragil terpana melihat sahabatnya terkulai dari atas pohon. Mulutnya menganga dan memuntahkan isinya seketika. Dadanya berdegup kencang dan tubuhnya menggigil tiba-tiba demi melihat apa yang terjadi pada Surip. Ia bergegas turun dan menangis melihat sahabatnya meregang nyawa saat itu juga.

Ragil berteriak-teriak kencang. Memanggil-mangil minta pertolongan. Sambil menangis, tangannya memungut butir buah salam yang terserak di tanah, kemudian memasukan ke dalam mulut dan mulai mengunyahnya.

“Getir…!” ia bergumam lirih di sela isak tangisnya.

~*~

 Fanling, Saturday 23-7-2011 at 5.25 PM

Telah dimuat di Tabloid Klik Maret 2012

Advertisements

2 thoughts on “Getir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s