Playboy Gadungan

Cerpen Yuli Duryat

Hari menjelang sore ketika Alia sampai di rumahnya. Mukanya kusut, sekusut harapan masa depan yang kian keriput. Terpanggang perbuatan yang keluar dan menyimpang. Dia menyesal setelah tahu lelaki yang ia percaya ternyata bermata jalang adanya. “Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Tapi kalau aku tidak mengindahkan kata-kata Danu, mau ditaruh di mana mukaku ini? Seorang perempuan yang hamil di luar nikah… oh,” pekiknya dalam hati.       

Beberapa hari yang lalu dia melihat Danu berkencan dengan wanita lain, di depan moncong hidungnya pula. “Aku telah terjebak! Betapa bodohnya aku ini,” masih dalam hatinya sendiri ia bicara. Namun Alia memilih jalan yang lebih mulia yaitu membesarkan kandungannya. Dia tak mengindahkan kata-kata Danu yang menyuruhnya menggugurkan kandungannya. Keluarganya menjodohkannya dengan pemuda desa buruk rupa untuk menutupi aib yang harus ditanggung.       

Danu ternyata laki-laki hidung belang yang menebar pesona di desa di mana Alia tinggal. Mangsanya adalah anak-anak gadis yang gampang terkena bujuk rayunya.       

Memang benar, siapa sih yang tak terpesona dengan ketampanannya! Apalagi bertambah dengan kepintarannya memutar lidah untuk merayu para wanita. Entahlah, aku sendiri nggak mengerti mengapa wanita begitu mudahnya dirayu. Sementara aku yang berwajah pas-pasan bahkan terbilang jelek, hanya menjadi penonton atas kejadian mengerikan yang menimpa teman-temanku. Dan diam-diam di balik muka jelekku, aku bersyukur, sehingga terbebas dari bujuk rayu Danu. Bukan karena kepandaianku dan kekebalanku atas bujuk rayu seseorang, bukan sama sekali bukan. Namun karena memang tidak ada yang sudi merayuku.      

Danu sangat sombong atas kelebihan yang ia punya. Dia sangat jarang pergi ke masjid untuk shalat berjamaah. Jangankan shalat maghrib dan isa yang biasa dilakukan berjamaah di mushala. Shalat Jum’at yang seminggu sekali saja ia enggan hadir dan menunaikannya.       

Dia anak orang yang berada di kampung Alia, orang tuanya mempunyai sawah yang luas, meskipun harga padi tak bisa ditentukan sendiri oleh petani hingga membuat petani merugi. Namun karena sawah yang dimiliki keluarga Badrun terbilang sangat luas, maka akan lebih dari cukuplah hasilnya apabila digunakan untuk menghidupi tiga orang di rumah joglo keluarga Mbok Minah.       

Danu adalah anak semata wayang Badrun, mereka sangat disegani oleh masyarakat setempat. Namun ternyata karena sangat dimanja oleh keluarga, membentuk sikap tidak bertanggung jawab Danu. Danu sering bergonta-ganti pasangan, merayu sana sini. Jangan selalu menyalahkan wanita yang mudah dirayu di sini. Salah satu ciri laki-laki yang baik adalah yang menepati bila berjanji.       

Si Dewi baru dipacarin dan si Nina kasihan patah hati, si Lala mati bunuh diri minum racun. Lalu Nunu kau jadikan apa lagi, kau jadikan apa lagi, kau jadikan apa lagi.(menyanyi)       

Entahlah, tapi itu kenyataan kawan. Dan kabar terbaru menggemparkan seluruh manusia di desa tersebut, dan mematahkan hati hati yang memang telah patah.       

“Mbakyu tahu? Kabarnya si Danu akan dinikahkan dengan seorang mahasiwa dari kota,” kasak kusuk terdengar di sela-sela istirahat orang-orang yang sibuk menanam padi.

“Apa itu mahasiwa, Yu?” tanya yang lain bingung mendengar perkataan salah satu dari mereka.”

Kamu tuh sok tahu Yu, mbok yo kalau nggak tahu nggak usah ikutan ngomong, ma..ha..sis..wa bukan mahasiwa,” celoteh yang lain.       

“Wong aku niru yang di sinetron itu loh, banyak mahasiwa yang pada pake baju seksi itu, apa ya calon Danu itu kayak mereka itu?” bela orang yang ngomong tadi.       

“Iya aku juga dengar katanya orangnya cantik, kaya lagi, dan kabarnya seminggu lagi bakal ada perhelatan besar.”     

“Wah hebat nian si Danu itu.”

~*~

Dan hari yang digunjingkan tersebut pun tiba. Di rumah keluarga Danu hiasan janur kuning pun melambai. Di jalan-jalan menuju rumahnya pun ditancapkan tanda yang terbuat dari janur kuning, agar para kerabat dan handai tolan yang hendak datang berkunjung mendapat kemudahan saat hendak menuju rumah kediaman keluarga Badrun. Alia yang kebetulan lewat, sambil mengelus perutnya yang semakin membesar, hanya menatap pilu. Dia tidak dendam tetapi justru dia merelakan apa yang sudah terjadi.

Danu bersanding gagah di samping permaisurinya yang cantik bukan kepalang, setelah didandani sebagai putri sehari. Hiasan berwarna emas menyala menyebar di seluruh sudut rumah tersebut. Tanpa Danu sadari ketika dia hendak berdiri dan melangkah, yang diikuti perempuan di sampingnya.  Kakinya terhalang oleh sesuatu dan tiba-tiba, badan danu bergetar, semakin lama semakin kencang. Siti istrinya yang berdiri di sampingnya menatap heran. Semula ia mengira kalau suaminya bergoyang dombret karena kebahagiaan yang tak terkira. Dan dia menjerit setelah melihat keanehan pada blangkon suaminnya yang terpental ke atas bersamaan dengan berdirinya seluruh rambut suaminya. Mulut Danu menganga, seperti tingkah seorang pasien dokter gigi disaat hendak diperiksa giginya oleh sang dokter. Tangannya seperti seorang anggota pencak silat yang memasang kuda-kuda. Para hadirin tercengang berdiri tanpa bergerak, mulut mereka menganga berirama. Mata terbelalak seolah bola-bolanya hendak keluar dengan terpaksa.       

Gedebug…       

Ketika terdengar suara orang terguling jatuh, barulah semua sadar akan apa yang sedang terjadi. Namun karena keterkejutan dan keterlambatan yang sengaja di buat oleh Sutradara Kehidupan maka Danu pun tak bisa tertolong. Ternyata pada saat hendak melangkah tadi kaki Danu tersrimpet (entahlah aku sendiri nggak ngerti) kabel yang melintang tepat di dekat kakinya berpijak. Dan ternyata pula bahwa kebel tersebut ada yang lecet di bagian luarnya. Dan kebetulan karena tegangannya sangat tinggi, setinggi tegangan yang mendera hati Danu yang sedang nakal memikirkan malam pertama pengantin baru. Hingga membuat nyawa Danu tak bisa di selamatkan.       

Dimakamkanlah pada hari itu juga jasad sang playboy gadungan. Sendirian tentu saja, mana mau sang istri menemani walaupun air mata meluncur menganak sungai. Aku sendiri tak mengerti di mana letak anak sungai tersebut.       

Kebahagiaan di atas penderitaan orang lain tersebut, akhirnya membuahkan luka yang mendalam bagi kerabat ataupun tetangga yang datang.

***           

Namun lain halnya dengan wanita yang pernah ia sakiti. Di satu kesempatan tetapi dengan keadaan dan tempat yang berbeda. Mereka berkata tanpa suara…

 “SUKURIN!!!!”       

Tapi kawan ingat kata-kataku, yang dikatakan para wanita tersebut adalah tidak benar. Yang sebenarnya mereka telah memaafkan apa yang telah diperbuat oleh Danu, dan mereka menyesal karena tidak bisa membawa Danu ke jalan yang benar sebelum ajalnya tiba.

~*~

Telah dimuat di tabloid Apakabar Mei 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s