Rukmala

Cerpen Yuli Duryat

Aku memeluk lutut. Membisu di pojok ruangan besar. Menghadap ranjang susun berjajar memanjang. Semua ranjang berseprei putih bersih dan tersusun rapi. Seragam, kantor ini memang mencintai keseragaman. Terutama bagi calon pencari uangnya. Namun tidak dari derajat dan kedudukan satu sama lain, sangat jauh mencolok bedanya bagai bumi dan langit.

Sepi. Semua penghuni ranjang itu biasa pergi untuk sarapan di lantai bawah tepat jam tujuh pagi. Berbaris dan memakai seragam, juga menggunakan piring, sendok, dan lauk yang juga seragam. Namun begitu, mereka dengan riang menikmati makanan ala kadarnya atau bahkan kadang tidak layak makan, demi masa depan. Ya, selalu begitu demi masa depan. Mungkin mereka pun sama seperti aku tak berselera, namun dari pada pingsan saat diperas tenaga, mending makan meski lauk kadang bikin mual.

Aku bukan tak selera makan karena makanannya tak layak, tetapi karena hatiku yang sedang sakit. Sebagai ibu asrama, sudah tentu makananku berbeda dengan calon pekerja yang nggelesah seadaanya di atas lantai, duduk dengan piring plastik mereka. Aku boleh makan di meja dan lauk yang berbeda, tetapi sungguh hatiku selalu gundah saat mengunyah. Sedih karena masalah perbedaan itu, lebih sedih lagi oleh sebab lain.

Malam harinya, ketika semua penghuni ranjang telah terlelap oleh bekap mimpi masing-masing mereka, giliran aku di lantai bawah sendirian. Di bawah pohon besar tepat di tengah bangunan yang melingkar ini. Duduk sekenanya di atas paving blocks berlubang. Di atasku langit bertabur bintang.

Memang, tepat di tengah bangunan besar ini terdapat tanah lapang tertutup paving blocks tempat biasa para calon pekerja bersenam setiap pagi buta dan menjelang senja. Di tempat ini pualah mereka biasa mendapat petuah sederhana yang isinya; carilah uang sebanyak-banyaknya ke negeri orang. Tanpa memberi tahukan keadaan mereka apakah nantinya akan aman atau berada dalam bahaya.

Yang jelas, perusahaan ini mau calon pekerjanya cepat-cepat terbang memeras keringat dan mengucurkan uang untuk mereka.

Sejak telpon yang diterima kantor dari luar negeri seminggu yang lalu, itulah kegiatanku setiap hari, melamaun dengan hati yang perih tertusuk duka. Mataku menghitam dan bengkak karena banyak bergadang dan menangis.

Badan mungil dengan mata bulatku tinggal sejak satu tahun silam di perusahaan ini. Bersama saudara kembarku Rukmala, kami berangkat dari desa. Sikapku yang tegas menarik perhatian pemilik perusahaan yang akhirnya mengangkatku menjadi ibu asrama. Dengan senang hati aku menerimanya. Aku pun mengajukan Rukmala untuk bersama-sama mengerjakan pekerjaan itu, namun pihak perusahaaan tak menerima, jadi terpaksa Rukmala kembali ke tujuan semula, berangkat ke luar negeri.

Tak butuh waktu lama, Rukmala yang lemah lembut juga cantik akhirnya terbang ke Hongkong. Aku sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan adikku. Sebab, ia tak bisa bersikap tegas kalaupun ia ditindas.

Aku beringsut dari duduk, perlahan melewati tangga menuju ruang atas. Satu dua calon tenaga kerja yang belum tidur mengagguk hormat kepadaku, aku muak diperlakukan seperti itu. Mereka tak hirau penjelaskan kalau aku sama dengan mereka. Karena takut pada staf kantor dan juga kepala perusahaan, mereka tak mau mengindahkan permintaanku.

Ratusan ranjang aku lewati, dan tibalah aku di ranjangku yang lebih besar dan bagus. Sebagai ibu asrama, aku mendapatkan fasilitas yang lebih baik.

Aku kembali terguguk melihat ranjangku ini, dulu ketika Rukmala belum berangkat kami tidur seranjang di sini. Pandanganku memburam karena air mata yang deras mengalir. Oh Adikku, mengapa ini harus menimpamu, sudah aku bilang untuk mengurungkan niatmu pergi ke luar negeri, namun kau tetap saja memaksa.

Kalau saja aku tak menedengar ide bodoh dan gilamu ini, semua ini pasti tidak akan terjadi. Aku tak suka di sini dan kau yang berada di luar negeri. Aku lebih suka jadi buruh tani tetapi hidup kita tenang. Kau yang bandel Adikku Sayang, aku menyesal menuruti keinginanmu, pergi merantau mencari uang yang banyak. Bagaimana aku harus menceriatakan kejadian ini pada ibu kita yang telah renta. Kalau anak perempuan yang ia sayang pulang tinggal nama. Badanku luruh, aku telungkupkan kepala ke atas ranjang.

Bagaimana mungkin kau kalah dengan anak berusia dua belas tahun dan harus jatuh dari lantai 30, oh Adikku, semoga kau pulang dalam bentuk yang utuh. Aku benar-benar menyesal, sangat menyesal.

Kalau aku telah lama mengutuk praktek ini, namun aku tak bisa pulang tanpa dirimu ke rumah dan menghadap ibu. Aku tahu dari banyak wanita yang pulang tinggal nama, perusahaan ini tak menanggung semua itu. Mereka kejam Adikku. Tangis dan suaraku ditelan malam senyap yang kian larut.

Mereka seperti tutup telingga dengan keadaan ini, ingin rasanya aku menyuruh seluruh calon tenaga kerja untuk pulang dan jangan teruskan niat mereka, namun akupun tak berdaya ketika mereka justru memaksa untuk berangkat. Aku bangkit dan memandang gemerlap lampu Jakarta.

“Tidak semua orang yang ke laur negeri bernasib sama dengan saudara, Mbak!” Begitu mereka menikam jantungku, perih. Mereka tak akan paham akan kehilangan, kalau mereka nekat pergi dan bernasib malang. Justru, yang ditinggalkanlah yang tersayat hatinya, yang begitu mersakan betapa ditinggalkan adalah penyakit yang tak mampu untuk disembuhkan walau dengan obat termujarab sekalipun.

“Iklaskan saja Mbak, mungkin belum jodohnya,” Bodoh sekali. Mereka bilang belum jodoh, ini jodoh bahwa adikku harus mati, ini menyakitkan. Akh, sejak kapan aku jadi membenci calon tenaga kerja keras kepala itu, mengapa meraka tidak bersyukur saja dengan penghasilan suami dan orangtua mereka meskipun hanya sedikit.

Satu minggu lagi, Rukmala pulang, aku belum tahu apa yang harus aku katakan pada ibuku. Aku begitu sedih dengan semua ini. Ini keterlaluan, mengapa harus Rukmala yang menjadi korban.

~*~

“Kau bedebah, pergi kau dari rumah ini, ini bukan rumahmu, kau mengajak adikmu pergi dan membunuhnya. Sekarang kau lemparkan jasadnya padaku.” Ibuku meraung-raung, murka.

“Kau yang membujuknya pergi ke luar negeri, untuk apa! Ibu masih bisa menghidupi kalian, apa kalian sudah bosan dengan sayur kangkung dan ikan asin pemberian ibu!? Kalian ingin pisang dan keju, untuk apa kalau harus mengantarkan nyawa. Kalian tak mau melihat ke bawah, banyak orang miskin yang tak bisa makan, kalian tidak bersyukur.”

Ibuku tersengal-sengal di atas kuburan Rukmala, mengusirku pergi. Kalau saja tubuhnya yang renta tak dipegangi tetangga dan keluargaku yang lain, mungkin ia akan menegeluarkan jurusnya dan membunuhku. Ibuku yang pandai silat itu mampu menampar orang dengan sekali tampar maka lepaslah nyawa orang tersebut. Apalagi kalau sedang dalam keadaan marah.

Aku hanya tertunduk diam, dengan air mata berderaian, tak mampu mengangkat kepalaku sendiri. Angin berhembus, menjatuhkan bunga dan daun kamboja tepat di kepalaku.

Ketika orang-orang telah pergi meninggalkan kuburan, aku masih terpaku di sana, sesenggukan.

Adikku sayang Adikku yang malang, maafkan aku.

~*~

 FanlingHK Saturday 9:35 AM Desember 10, 2011

Telah dimuat di Koran Berita Indonesia Maret 2012

Advertisements

2 thoughts on “Rukmala

    • Benar sekali Bapak. Namun sayangnya pemerintah sendiri justru lalai dan sangat lamban menangani masalah serius seperti cerita di atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s