Lie To Me

Cerpen Yuli Duryat

 

Musim panas, aku enggan bangun dari tidur karena terbuai AC yang begitu dingin. Paham bagaimana rasanya keluar kamar, gerah. Itulah alasannya aku malas bangun lebih awal. Namun sebuah tendangan di bokongku membuatku terlonjak kaget Minggu pagi ini. Semakin heran ketika aku melihat Tukiem berdiri berkacang pinggang dengan muka garang. Apa yang terjadi padanya? Perasaan selama ini dia adem ayem menjalani peran yang aku ciptakan. Bahkan dia tersenyum senang ketika aku jodohkan dengan pria asal Pakistan beberapa Minggu yang lalu, meskipun ia harus menjadi Tenaga Kerja Indonesia di Hongkong dengan majikan yang perilakunya sangat buruk.

“Ketiakmu bau sekali,” ucap Tukiem dengan nada sebal.

“Kau menghinaku…?” aku memberengut.

“Tidak! Tepatnya aku jujur padamu? Bangun dan segera mandi, jangan lupa kau pakai sabun wangi yang banyak.” Potongnya judes.

“Kau bahkan takkan bisa membohongiku dengan kejujuranmu. Karena selama ini aku tak pernah bermasalah dengan bau keringat.” Aku membela diri.

“Kau jahat,” lanjutnya dengan muka cemberut.

“Apa?”

“Kau…! Kau tak pernah membiarkan aku hidup dalam kebahagiaan pernikahan!”

“Kau lupa dengan Danu, Arman, dan Jambrud? Bahkan kau melakukannya berturut-turut.”

“Kau menjodohkanku dengan pria-pria brengsek.”

“Seharusnya kau bersyukur, tanpa aku, kau tak akan ada di sini.”

“Kau hanya pandai mengolok-olok aku, padahal dalam alam nyata, aku tahu kau orang yang bodoh.” Teriaknya semakin marah.

Tukiem membuang pandangan dan melipat kedua belah tanggan di dada. Aku tahu, itulah gaya khasnya kalau marah. Dia akan terus begitu sambil mengumpatku dengan kata-kata yang menurutnya bisa membuatku kesal.

“Kau jahat, kau tak pernah mau membagi kebahagiaan rumah tanggamu sedikitpun padaku. Kau selalu membuatku menangis.”

“Sebenarnya kau kenapa sih, ada apa?”

Aku menyingkapkan selimut dan berjalan menuju kamar mandi di apartemen kecil ini, sambil membaui ketiakku. Tidak bau kok. Batinku. Ini pasti ada hal penting yang membuatnya ngambek hingga menghinaku dengan kejam.

“Aku ingin jadi lebih baik, itu saja. Misalnya mempunyai suami kaya, tampan, pengertian. Satu lagi, aku tak mau kau kirim ke Arab Saudi dan dihukum pancung.”

“Kau bukan Zahrananya Kang Abik yang mendapat penghargaan di Beijing, jadi diamlah kau jangan banyak menuntut!”

“Aku ingin menuntut hakku untuk memiliki kebahagiaan, kau dengar itu?”

“Oke-oke, sekarang katakan apa sebenarnya keinginanmu?”

“Aku ingin jadi anak orang kaya nomer satu di dunia. Boleh melakukan apapun yang aku mau, menikah dengan laki-laki baik-baik, diiringi jutaan fans, dan berjalan di atas karpet merah…”

“Kau gila, mana mungkin?”

“Mengapa tidak? Kau yang mengajarkan aku kalau di dunia ini tak ada yang tak mungkin!”

“Tapi lihatlah tampangmu hari ini? Aku nggak pede membiarkanmu berjalan di atas karpet merah dengan wajah yang buruk rupa begini!”

“Kau selalu banyak alasan. Kau selalu menghubungkan nasibku dengan logika dan fakta yang menyebalkan. Kenapa kau tak berani untuk bermimpi lebih tinggi?”

“Dari pada aku harus melakukan itu agar mereka di luar sana menyimakmu sambil bermimpi muluk-muluk tanpa bekerja, lebih baik aku menggambarkan realita.”

“Kau kejam!”

“Sudahlah, aku tak mau berdebat lagi denganmu. Baik, aku akan memberimu kebahagiaan kali ini. Yah…, kau ingin menikah lagi kan? Jangan khawatir, kau juga tak akan aku ceraikan dari Danu, Arman, dan Jamrud, oke. Tenang saja, aku akan membuatmu bahagia kali ini. Lagi pula, perkawinanmu hanya Tuhan, aku dan editor menyebalkan itu saja yang tahu.”

“Sungguh, kau tak akan membuat aku menangis lagi, memberiku pakaian compang-camping, dan tampang buruk rupa seperti hari ini? Tapi aku senang, kau masih memberikan aku kesempatan makan keripik meskipun itu hasil curian, dan nonton drama kesukaanku itu.”

“Kau lihat saja nanti.”

Tukiem berhenti menguntitku. Ia tersenyum dan bergulung tidur dengan nyenyak di balik selimut tipisnya.

Setelah kejadian Minggu pagi itu, aku enggan menampakan batang hidungku di depan Tukiem. Aku sama sekali tak membuka kompiku dan menilik Tukiem dalam dokumenku. Aku belum menemukan ide yang cocok untuk tuntutannya. Meskipun aku telah berjanji padanya untuk memenuhi apa yang ia minta, namun tak mungkin bagiku untuk membuatnya menikah dan berjalan di atas karpet merah, dengan berjubel fans menyaksikan. Dia Tukiem, bukan Kate Middleton, aku tak mau membohongi kalayak.

 

Aku tahu kebiasaan Tukiem belakangan, ia akan tidur, atau asik nonton drama Korea sambil menggemukan badan mengunyah keripik kentang hasil curian. Kali ini, aku bebaskan dia bergumul dengan dunia penuh derai air mata. Dengan begitu, aku punya alasan untuk menikam balik tengkuknya nanti, kalau ia banyak menuntut. Lihat saja pembalasanku dari penghinaanmu, kau bilang ketiakku bau, awas kau. Ancamku, pada suatu siang yang sangat terik. Tiga puluh tujuh derajat sudah membuatku klepek-klepek kepanasan, macam bebek dipanggang yang mengeluarkan air dari tubuhnya terus-menerus. Masalah utamanya sekarang, aku belum menemukan ide jitu untuk menyerang balik Tukiem.

Satu Minggu berlalu. Aku masih cuek bebek enggan untuk menyapa dia. Lebih tepatnya aku sebal untuk mengalah. Bagaimana mungkin aku harus mengalah dengan tokoh ciptaanku sendiri. Enak aja, emangnya siapa dia? Begitulah egoku menuntut untuk tidak menghiraukan permintaan-permintaan konyol Tukiem.

Namun tanganku yang gatal ternyata berhianat padaku dengan membuka dokumen tempat Tukiem bersemayam. Melihat komputer di-on, ia langsung melonjak dari tempatnya dan melotot ke arahku dengan garang.

“Mana janjimu?” tuntutnya.

“Baik, sebentar lagi. Diamlah kau di situ dengan keripikmu.”

Aku melihat dia yang menyeka air mata dengan tergesa. Dia sedang menonton drama Korea bertajuk Lie To Me sambil berderai-derai air mata, dan sesekali tertawa mirip orang gila. Seketika itu aku tergelitik ide yang tiba-tiba muncul dalam otakku. Ternyata itu cocok juga dengannya, wah kebetulan sekali. Bisikku dalam hati. Ide yang aku maksud kebetulan di sini bukan karakter orang gilanya, tetapi judul drama yang ia tonton. Inilah waktu yang tepat untuk membalas perlakuannya padaku. Lanjut hatiku girang.

 

“Kau suka drama itu?” tanyaku.

“Iya, memang kenapa?” jawabnya sambil tertawa melihat adegan lucu dalam drama tersebut.

“Apa judulnya?” aku pura-pura bodoh dengan menanyakan judul yang telah aku ketahui sebelumnya.

“Lie To Me.”

“Wah cocok sekali denganmu. Itulah kau.”

“Apa maksudmu?” sewot.

“Coba kau bilang sekali lagi apa judul drama yang sedang kau tonton itu?” pancingku. Tujuanku hanya satu, ia menyebutkan judul itu sekali lagi, sebagai senjata untuk menikamnya. Kau bakal kalah telak. Tawaku dalam hati.

 

“Lie! To! Me!” Bentaknya dengan volume suara yang sangat kencang. Mungkin kalau dia benar-benar punya pita suara, bisa robek dan putuslah pita suaranya.

“Itulah kau, menurutku sangat cocok denganmu.” Ucapku penuh kemenangan.

“Kau!! Apa maksudmu?”

“Sebenarnya, kau menyukai karakter yang aku ciptakan untukmu kan, kenapa kau mesti berbohong pada dirimu sendiri?”

“Kau, aku benci kau!”

“Bagaimana kau bisa membenciku, sedangkan kau selalu berkata ya, meskipun tanpa suara aku mengetahuinya.”

“Kau!”

“Lie To Me. Itu cocok sekali.”

“Kau.” Suara Tukiem melemah. Tubuhnya tergolek lemah, sementara drama di depan mon telah usai, ditutup dengan kredit title bermunculan. Ia tak mau menoleh ke arahku karena kebiasaannya nonton drama telah membinasakannya.

“Wuaaaah… Aku ngantuk sekali. Yem, perlu kau ingat, mulai besok, aku nggak akan ‘pakai’ kamu lagi.

~*~

Advertisements

6 thoughts on “Lie To Me

    • Iya. Artinya dia berbohong pada dirinya sendiri. Tokoh karangan tak mungkin kan ndak mau menerima apapun yang diinginkan penulis. Hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s