Suamimu Mati

Cerpen Yuli Duryat

Aku teringat dingin sulur dan harum baunya yang mengalahkan parfum termahal sekalipun. Tusukan lembut penuh kedamaian ketika aku rebah di atasnya. Aku merindukan senja di padang rumput teki, saat engkau datang membawa seikat bunga yang kau petik dari rerimbunan semak. Tak usahlah kau rangkai indah, asal kau menyerahkannya dengan tulus ikhlas hanya untukku. Ia membisik.

Ketika seseorang berlari untuk mengejar kebahagiaan, hingga terjatuh dan tersaruk-saruk duri kehidupan, sadarkah ia, sebenarnya kebahagiaan itu dekat, ada di dalam hatinya sendiri. Tetapi hatinya sungguh retak oleh rindu akan kebahagiaan sebagai seorang istri. Ketika ia bahkan tak mampu untuk menyungging senyum, kecuali kalau ia paksakan rekahnya.

Sudah satu tahun Salamah menikah dengan suaminya. Seperti tetangga sebelah kanan dan kirinya, ia pun ingin menjalani kehidupan rumah tangga yang normal. Namun selama ini, ia lebih banyak dirundung sepi dan ketakutan. Penantiannya akan sentuhan yang sama seperti ketika baru mengenal dan mengagumi sosok pria bermata teduh itu sangat menyiksa jiwanya.

Ia telah membiarkan pemikiran dan keinginan itu menguap menjadi mendung, kemudian tertiup angin dan jatuh menjadi hujan, sebelum akhirnya menyentuh bumi, menumbuhkan kuncup-kuncup yang segar menghijau. Namun sungguh, mendung, angin, hujan, bumi, dan kuncup kebahagiaan itu benar-benar masih enggan untuk menyapa kehidupan wanita ini.

Untaian doa mengantar senja mengerling manja, bersamanya seuntai harap tertiup lirih bait kalimat permohonan kepada-Nya. Perempuan yang memakai daster itu menunduk. Di depannya, sebuah gentong air mengucurkan airnya yang bening ke arah tangannya yang menjulur.

Sinarnya menyapa bumi, meski lembut ia tahu mentari akan memanas seiring berjalannya waktu. Ia ingin tetap seperti ini, berselimutkan lembut kesetiaan. Ia tak rela siang menjemput pagi. Tetapi ia tahu, Sang Maha Pengampun akan membuat pesusujud terbangun dengan hati yang damai berselimutkan cinta.

Salamah, ya namanya Salamah, yang ingin dirinya menjadi mentari, dengan sinarnya sang surya adalah pelindung gigil. Kala ia menepuk samping tempat tidurnya, ia merasakan kasur itu dingin, rupanya suaminya tak pulang semalam.

“Suamimu itu pulang ke rumah istri keduanya. Kau tak pernah tahu ia punya gundik, istri yang tidak pernah ia publish keberadaannya.” Bisik tetangganya suatu hari.

Seperti bermain petak umpet, semakin ia menunggu suaminya menemukannya, semakin wanita itu dilanda kesepian. Harapnya adalah permainan ini segera berakhir. Ia tak mau ada perpisahan, meski dengan itu ia temukan kebodohan dalam dirinya, karena pertemuan selalu membawa serta perpisahan di belakangnya, selalu!

Dia selalu menepis bisik-bisik tetangga. Wanita itu selalu acuh, seolah tak mendengar apa yang sebenarnya nyata, meskipun hatinya menjerit.

Kemarilah, pedang ini telah terhunus, akan aku cabik ‘cinta’ yang menyengsarakan itu. Dengan cabikan itu, aku terpuaskan oleh regukan-regukan madu dari kebengisannya. Ketika pedang itu terjatuh, ‘cinta’ masih membuat jemariku bergairah untuk menari-nari di atas jeritanya. Menancapkan kuku-kukunya yang tajam demi setitik air mata yang begitu berharga.” Ia ingin berteriak lantang, namun nyatanya suara itu hanya hati dan dirinya sendirilah yang mendengarnya.

Kau begitu angkuh dengan lengosmu ketika aku berikan uang muka dari ‘rasa’ yang bersih. Ayolah bangun, jangan kau terus tenggelam ke dalam sujudmu terhadap dunia. Karena hari ini adalah anugrah, kita tak pernah tahu apakah esok ada kesempatan untuk menyapa hangat mentari.

Kau selalu tenggelam dengan pekerjaanmu setiap hari. Bahkan di luar kantorpun, berlanjut dengan aktifitas lain. Sungguh aku tak pernah membenarkan apa yang dikatakan kabar burung, tetapi akupun tak menyalahkan burung atas kabar yang terdengar kalau memang itu benar.” Hatinya kembali mengerang. Salamah menatap keluar jendela dari ranjangnya. Dia tersentak kaget ketika pintu rumahnya diketuk keras dan kasar dari luar.

“Apa juga aku bilang, suamimu memang memiliki gundik. Suamimu mati bersama gundiknya di dalam sebuah mobil yang tertabrak truk.”

Tubuh Salamah mendadak lemah, kekuatannya tercerabut oleh kabar itu. Perlahan air matanya menderas. Dengan tangan gemetar ia berdoa, “Maka di sinilah aku sendiri sekarang menatap cakrawala, dan menitipkan sebuah doa yang penuh harapan untuk hari esok….”

Advertisements

4 thoughts on “Suamimu Mati

  1. cara bercerita yang indah, tetapi saya secara pribadi tidak suka cerita yang pesimis, sebab hidup adalah perjuangan. Ubahlah derita menjadi motor penggerak untuk menulis sejarah nasib baik. teruslah menulis.

    • Terima kasih sudah berkunjung. Terkadang kalau sedang sedih, secara hati dan refleksi yang keluar juga jadi sedih. Tapi ada kalanya juga saya menulis sejarah nasib baik. Terima kasih masukannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s