Senyum Terakhir


Cerpen Yuli Duryat

“Pergi Nak pergi! Ibu tidak kuat lagi, tidak kuat….” Sebaris kata bagai panah menghuncam jantung Aisah, terlontar beriring irama kesedihan mencuat dari hati menyertai tubuh jatuh perlahan.

“Bu Aisah mohon ampunan Ibu. Tapi tolong jangan suruh Aisah pergi, Aisah tidak bisa Bu. Aisah harus kemana? Aisah rela dihukum, Aisah ikhlas asal jangan suruh Aisah pergi, Bu.” Buliran bening mengalir deras dari lembah mata duka di kala rasa takut dan penyesalan mendera, walau tanpa guna karena noda telah menempel dan membekas untuk selamanya.

“Mengapa Bu? Mengapa Ibu tega sama Aisah. Aisah harus kemana kalau ibu usir Aisah, Aisah takut,” tangan bergetar menggenggam kencang kaki orang yang sangat dikasihi yang tak Aisah mengerti, mengapa berubah kejam menghakimi.

Rahma tetap tenang meski di dalam hati bergetar, sesuatu yang keluar dari bibir sangat disesalkan, tetapi penderitaan panjang mempunyai makna tersembunyi dari Tuhan. Kasih ibu kepada anak sungguh luar biasa besar namun keputusan di kala amarah berkobar tak dapat terhindar.

“Itu bukan urusan ibu, setelah kau langgar apa yang ibu sampaikan. Ibu telah memberitahumu untuk hati-hati, dan kamu tak mendengarkan ibu. Dan sekarang ibu juga tak mau mendengarkanmu, pergilah sekarang juga, dan ingat jangan bawa apa-apa. Itulah balasan bagimu anak durhaka!” Suara terbata terdengar bagai halilintar di siang terang tersinar mentari tak letih berputar, disertai deras air mata bunda di kala harus tega meski cinta tak pernah sirna.

“Bu Aisah tidak bisa Bu, Aisah takut di luar. Kalau malam Aisah takut gelap, Aisah harus tidur di mana? Kalau masuk angin siapa yang mijitin Aisah, Bu?”

“Pikirkan sendiri, bukankah sebelum berbuat kau sudah tahu sendiri apa resikonya. Dan kalaupun belum, bukankah ibu telah menjelaskannya berkali-kali.”

“Pergilah dan cari jawabannya di luar sana.” Bergegas dengan tegas menampakkan wibawa, menyisihkan kasih keluar dari aura keibuan yang nyata.

“Bu, Ibu….” Lemah kedua tengan Aisah mengguncang kaki dalam pelukan, menghiba dengan muka menengadah, mencari seberkas wajah menampakkan kasih melimpah, namun dia tak mendapatinya, seperti kala dia memohon dibelikan mainan saat balita. Kini dia mendapatkan yang lain, murka sang bunda bak sembilu mengiris hati, pilu dan perih jadi satu.

“Jadi Ibu benar-benar setega ini?” Dengan seribu rasa takut Aisah memberanikan diri meyakini.

“Ya! Sekarang juga!” Tanpa menoleh meski butiran mengalir, menggambarkan kesedihan mendalam.

“Ibu bahkan nggak mau menoleh dan menciumku sebelum aku pergi?” Memastikan dengan sejuta kekuatan.

“Nggak!” Masih pada pendirian semula walaupun rasa takut menyelimuti dada, akan kehilangan yang tak pernah menjadi tujuan.

Penyesalan akan ungkapan kejujuran yang disampaikan untuk sebuah harapan jalan keluar, kalau saja Aisah tahu akan begini jadinya, dia pasti akan menghitung dan memperpanjang hari untuk menyiapkan diri. Mengundur sebuah kejujuran agar dia dapat merasakan kasih sayang, tak kan lama barangkali, satu dua hari atau mungkin satu dua bulan saja.

Bermula dari belaian, berlanjut dengan sentuhan di saat kekasih hendak pergi meninggalkan. Aditya Dermawan dengan ketulusan cinta terluap untuk gadis pujaan.

Seorang anak dari orang tua terpandang, selalu membuahkan kegetiran, apabila anak gadis semata wayang Rahma terus berhubungan dengannya. Itu yang ada dalam benak Rahma sejak dulu kala, sejak Aisah baru berbentuk darah. Kekecewaan akan seseorang dengan segudang keberuntungan, akan harta benda tentunya. Mengakar tunjang dalam menghujam, tertimpa makna anak hina lahir dari rahim tumbuh bernyawa. Rahma menyesal bukan karena dia harus bersusah payah membesarkan Aisah sendiri tanpa bantuan orang lain, sementara orang tua telah menganggapnya sumber aib, hingga terpaksa tidak mengakuinya sebagai anak. Atau pula karena hinaan dan cercaan yang ia terima, bukan sama sekali bukan. Rahma menyesal karena ia harus kecolongan, hingga nasib yang sama pun harus menimpa anak tercinta, yang menjadi harapan satu-satunya.

~*~

Langkahnya panjang-panjang, setiap detik menaikkan kecepatan. Nafas terengah, semakin dia berlari seolah seseorang semakin mendekati. Setelah sampai di tempat bersembunyi, tergesa menutup pintu dan mengunci. Seorang bocah laki-laki dalam pelukan, lemas tertular ketakutan.

Setelah murid kecil bernama Dela berdiri memamerkan sebuah hadiah, dari siapa gerangan, mengangguk menampakkan senyuman, setuju akan keindahan sebuah gaun hitam menempel di badan boneka barby cantik bukan buatan. Belum terasa walau tatap mata menangkap sepasang sepatu dan bagian bawah celana, menampakkan wibawa karena kilapnya. Namun ketika tubuh tegak walau tak setara dengan badan tinggi tegap menyapa, seketika tekanan menimbulkan kekagetan. Detak jantung teratur tiba-tiba berdetak ngawur.

Sederet kejadian bermunculan di kepala, merajut kisah empat tahun silam terpaut.

“Ibu….” Kiki Rizkyantoro, termangu mematap sang ibu yang semakin erat memeluk dan tak mau melepaskannya.

“Kiki lapar Bu, Ibu nggak usah takut, kalau siang kan terang jadi nggak bakal ada hantu,” tangan mungilnya mengusap keringat dingin yang membasahi kening Aisah. Ketenangan menjalar, setelah memandang dan merasakan kasih tulus tak terucap dari bibir mungil dalam pelukan.

“Iya Sayang maafkan ibu. Kiki ikut ke dapur ya Sayang, Kiki suka lihat ibu masak kan?” Kekhawatiran berlebih, akan kehilangan memaksa diri untuk bertidak di luar logika.

“Bukankah Ibu bilang kalau Kiki tidak boleh kedapur bahaya?” tutur Kiki polos.

“Iya Sayang, tapi Kiki jangan kemana-mana ya Sayang. Kiki boleh nonton TV, ibu nyalakan ya, duduk di sini.” Gemetar tangan Aisah memegang erat tangan anaknya.

“Ibu juga bilang Kiki tidak boleh nonton kalau Kiki belum ngerjain PR.”

“Iya Sayang ibu lupa, Kiki tunggu sebentar ya ibu masak dulu, Kiki jangan kemana-mana ya,” ujarnya kemudian masih dengan nafas yang terengah-engah.

”Ibu nggak usah takut, Kiki nggak mungkin pergi, Kiki mau njagain Ibu di sini,” kelegaan hati Aisah tak dapat dipungkiri. Meski yang mengatakannya hanya seorang bocah. Namun ucapan tersebut dapat menyejukkan hati yang gersang.

“Terima kasih, Sayang ,” Aisah mengusap lembut pipi anaknya.
Ketika tidur Aisah pun memeluk putranya erat, sesekali Kiki menyisihkan tangan Aisah kerena merasa tidak nyaman.

Terbayang tangan lembut menyentuh kening, di bawah pohon kelapa di pinggir ladang terbuka. Awal dari derita yang harus Aisah terima. Saat kekasih hati berjanji tidak akan menghianati, ketika kesalahan bersama harus ditanggung sendiri hanya karena kelemahan dan kodrat yang telah tergaris, dan selalu hanya dapat melampiaskannya dengan tangis.

“Tunggulah sampai mas pulang, mas akan bertanggung jawab.” Pelukan hangat seketika menyengat, tak terbayangkan diri akan menjadi tergugat.

“Mas Dit akan pergi 4 tahun saja untuk meraih gelar sarjana, setelah itu kita menikah, mas sangat mencintai Aisah.”

Aisah tertegun, terbius rasa cinta membuncah, merambah meruntuhkan benteng pertahanan berhamburan menjadi puing-puing. Seketika seberkas wajah dengan nasihat tanpa lelah, musnah terkubur rasa. Sebuah pelanggaran yang menjelma menjadi kebutuhan.

“Bu sudah siang Kiki mau mandi, Kiki mau sekolah. Bu….” usapan lembut tangan mungil mengagetkan Aisah, yang sedang bersujud di atas sajadah. Malam itu, Aisah tak bisa memejamkan matanya barang sedikitpun.

“Hari ini Kiki libur saja ya, Sayang, ibu nggak enak badan,” tutur Aisah beralasan.

“Tapi Bu, Kiki sudah berjanji sama Dela kalau nanti sore Dela boleh main ke sini, sambil mengerjakan PR bersama.”

Jantung Aisah kembali bergetar mendengar nama yang disebut Kiki, ketakutan yang belum reda sepenuhnya menguasai hati kembali. Tak terpikirkan di benak Aisah sebelumnya, bahwa gadis kecil yang menjadi teman sebangku anaknya, yang sekaligus muridnya adalah keponakan Aditya Dermawan, seseorang yang sangat berkaitan erat dengan Kiki.

Rasa takut kehilangan karena dia mengira kalau Aditya tahu bahwa Kiki adalah anaknya, kemungkinan besar Aditya akan mengambilnya dari Aisah. Aisah sangat khawatir, dan tentu saja Aisah sangat keberatan kalau harus berpisah dari Kiki. Kiki adalah satu-satunya pelipur lara hari-hari empat tahun berlumur duka nestapa. Karena Kikilah dia mampu bertahan hingga menemukan secuil kebahagiaan, meski sebelumnya dia harus menerima cercaan. Walau ragu Aisah terpaksa bangun, tidak tega mendengar Kiki menghiba.

Gemetar sekujur tubuh ketika kaki menginjak pintu masuk TK Harapan Bunda, Semakin menderu ketika Kiki berseru, berlari menghampiri gadis kecil berparas ayu. Ada sedikit kelegaan karena yang berdiri di belakang gadis itu adalah seorang perempuan, yang berlalu setelah berbasa-basi terlebih dulu, menanyakan perihal putrinya di sekolah pada Aisah sebagai guru Dela.

Di saat mengajar, Aisah dikagetkan oleh ketukan pintu, yang ternyata ibu kepala. memberitahukan bahwa ada seseorang yang mencarinya, dan menunggu di ruang pertemuan wali murid. Ketika masuk ruangan, pandang mata Aisah menangkap punggung seorang pria, Aisah tersentak kala pria tersebut berbalik dan memandangnya. Seketika ia ingin berlari dan melarikan diri, namun suatu tanggung jawab mencegah agar dia tetap tinggal. Dia berjalan menghampiri kursi dibelakang meja.

Telinganya memerah setelah mendengar penuturan laki-laki yang dulu pernah ia kagumi. Atas pertanggungjawaban yang akan segera ia lakukan. Yang menurut Aisah adalah keterlambatan setelah sederet derita yang harus ia emban. Berpisah dengan ibu tercinta adalah sebuah siksaan yang sangat berat. Ketakutan di kala pertama kali tidur berselimut bintang di langit karena tek mempunyai tempat berteduh ketika ibu mengusirnya untuk pergi dari rumah. Getar tubuh masih terasa ketika lelaki bertato hendak merenggut kehormatannya. Rasa takut tak terkira sampai Aisah pipis di celana. Dia harus berjuang habis-habisan untuk melarikan diri dari penguasaan laki-laki tersebut. Aisah pun pernah tak makan selama tiga hari. Dia bahkan tak malu-malu menawarkan tenaganya untuk bekerja apa saja demi sesuap nasi. Hingga penderitaan yang sungguh berat sedikit terobati kala Kiki memaksa untuk dilahirkan dari rahimnya, di kala kandungngan Aisah sudah berumur 9 bulan. Meskipun kehidupan setelah ia melahirkan begitu berat dan menyedihkan, tetapi Aisah selalu merasakan ketenangan ketika ia berada di dekat buah hatinya.

Namun betapapun keras pendirian Aisah, Aisah luluh ketika Aditya menuturkan keadan ibundanya yang kini terbaring di rumah sakit. Dia tidak tega, gemetar di dada ketika ia mengingat kasih tulus yang ibu berikan. Dia menangis menyesali akan pengkhianatan terhadap petuah yang ibu beriakan.

Aditya hanya mampu memandang iba, penderitaan yang ia tanamkan di kebun kehidupan Aisah, menumbuhkan rasa ragu ketika tangannya hendak menyentuh tubuh lemah wanita yang sangat ia cintai.

Aisah menangis tersedu.
~*~

Rahma tergolek di ranjang rumah sakit. Sejak kepergian anaknya, ia sering sakit-sakitan. Ia sangat menyesal akan tindakannya mengusir Aisah dari rumah. Rahma telah berusaha mencari putrinya itu, namun ia tak berhasil menemukannya.

“Benar kita mau ke rumah eyang, Bu?” ucap Kiki yang duduk bersebelahan di jok belakang mobil Aditya.

“Jadi Kiki punya eyang, Bu?” tanya Kiki kemudian.

Tanpa terasa mata Aisah mengeluarkan butiran bening, yang tergesa ia hapus kemudian dan memeluk Kiki tanpa memberikankan jawaban. Dari kaca spion Aditya menyaksikan pemandangan tersebut, haru memaksa air matanya turut mengalir deras.

Aisah termangu menatap tubuh tua tergolak di ranjang berseprai putih milik rumah sakit, air matanya membasahi pipi, dan satu titik jatuh mendarat di pipi keriput milik ibunya, yang tanpa sengaja membangunkan sang ibu yang sedang tertidur.

“Nak, maafkan ibu, Sayang,” suaranya terbata menahan sakit yang ia derita.

“Eyang…” panggil Kiki yang ada dalam gendongan Aditya, yang kemudian turun dan berdiri tepat di depan wajah Rahma. Tangan lemah Rahma bersusah payah hendak mengusap wajah Kiki. Kiki tersenyum.

“Cucuku…, maafkan eyang, Nak….”

Bersamaan dengan senyum bahagia, Rahma menghembuskan nafas terakhir. Yang disusul tangis haru-biru Aisah, Aditya berusaha menenangkan meski tak mampu mengembalikan sesuatu yang telah dicabut penguasa bumi yaitu Allah, yang mempunyai dan mengetahui suatu rahasia yang tak diketahui manusia.

~*~

Advertisements

2 thoughts on “Senyum Terakhir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s