Surti & Jamrud

Cerpen Yuli Duryat

Surti diam. Duduk membisu memandang hamparan sungai. Dadanya sesak dirundung kegelisahan. Namun pada siapa ia harus menumpahkan keluh kesahnya ia pun tak tahu. Kakak perempuan yang paling menyayanginya sedang bekerja jauh di luar negeri. Sementara kakak laki-lakinya tak mempu berbuat banyak, karena ia sendiri dalam keadaan yang mati-matian susah menghidupi keluarga.

Surti beranjak dari duduknya. Tangannya menenteng satu ikan caung berduri tajam yang telah ia ikat menggunakan lidi janur. Dengan langkah gontai ia meninggalkan sungai.

“Ung, nasibku tak kalah menyedihkan dari kamu,” ucapnya pada sepesies serupa lele itu, seraya mengangkat dan mendekatkan ikan tersebut ke depan mukanya.

Mimik mukanya ia buat sedih dan se-devil mungkin, seolah sedang berbela sungkawa atas kematian ikan tersebut. Sementara dia sendirilah yang melakukan pembunuhan itu.

“Mungkin ibumu mencarimu di dalam sungai sana. Tapi dari pada kamu dijodohkan sama ibumu, lebih baik kamu mati dan jadi santapanku. Aku rasa kalau kau bisa bicara, kau akan setuju dengan pendapatku kan?” ia mengeluarkan pertanyaan yang kedua mirip orang gila.

“Ti…, Ti pulang sudah sore!” panggil seorang wanita dari kejauhan.

“Kau dengar itu Ung. Beliau memang cinta sama anaknya, tapi aku sendiri tidak tahu apakah beliau pernah jatuh cinta sama lawan jenis apa tidak? Beliau tak pernah menghiraukan aku sama sekali. Beliau mengira, cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu, seperti dirinya dulu ketika menikah dengan ayah. Namun pada kenyataannya ayah pergi dan menikah lagi dengan wanita lain, jadi?” Surti mengangkat kedua bahu dan tangannya, sebagai jawaban tak tahu atas pertanyaannya sendiri.

“Sudahlah Ung, kau tak perlu melotot marah begitu padaku. Kau tak bisa lagi berkutik dari penggorengan milik ibuku,” lanjutnya masih dengan mimik muka yang ia buat nelangsa.

Sejak kecil, Surti memang hobi memancing. Bahkan sampai ia perawan dan umurnya menginjak 21, kebiasaan dan kegemarannya itu tak pernah hilang. Dia akan mencari ulat daun yang kenyal dan berserbuk putih sebagai umpan. Ia tidak mau pakai ulat bulu, karena ulat bulu selalu bikin gatal serta onar. Dan sudah dipastikan ikan di kali takkan mau memakannya. Sejak ia dijodohkan dengan seorang pegawai di desannya, kegemaran yang satu itu semakin menjadi-jadi. Setiap pagi, Surti nongkrong di pinggir sungai. Terbengong dan kadang berbicara sendiri.

Ia yang tadinya ulet membantu ibunya mengerjakan pekerjaan di ladang, kini menjelma menjadi pemalas. Itu dia lakukan sebagai bentuk kekesalannya pada ibunya.

“Pegawai itu kalau tua dapet pensiun, Ti. Nanti kamu gak susah hidupnya. Gak kayak ibumu ini hanya seorang pekerja di ladang dan penjual tempe.”

“Tapi Surti gak cinta Bu sama Mas Rud itu. Dia itu doyan perempuan, Bu.”

“Makanan kegemarannya itu pecel, bukan perempuan. Kamu ini ngaco, yang terpenting hidup kamu kecukupan toh, Ti.”

“Kebahagiaan itu gak bisa Bu diukur dengan uang.” Bantah Surti.

Wis toh. Pokoknya kamu harus nikah. Lagi pula tangalnya kan juga sudah ditentukan,” lanjut ibunya tegas.

Semakin kesal saja dibuatnya hati Surti. Surti yang gerah mendengar desas-desus tetangganya bahwa si Jamrud itu banyak hutang dan suka main perempuan, merasa kesal bukan main dengan sikap ibunya yang tetap menyetujui pernikahannya itu.

Tubuh itu terduduk di pojok ruangan. Bisu dan tak mau berkata apapun. Surti sudah capai untuk mendebatkan perihal rencana pernikahannya. Dia tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Perlahan ia berdiri dan berjalan keluar rumah menuju ladang milik ibunya. Ia berjalan tanpa menggunakan alas kaki. Kakinya yang halus menginjak tanah kerikil di ladang. Kering, tajam, dan membelah karena kemarau panjang. Ada yang tergores dan berdarah di kaki Surti, tetapi tak Surti hiraukan. Bokongnya ia hentakkan di atas tanah di bawah pohon ketela. Angin yang berhembus memainkan anak-anak rambut yang jatuh di keningnya.

~*~

“Ti, kamu bisa pake baju ini di acara resepsi dan akad nikah. Calon suamimu tak menyerahkan serah-serahan sama sekali,” ucap istri kakaknya.

Surti hanya mengangguk tak bisa berkata apapun. Hatinya terasa perih dan sakit. Namun kenyataan tak mampu ia tuntut untuk memberikan sesuai apa yang ia mau. Hari itu mendung tebal menyelimuti hari pernikahan yang tidak ia harapkan itu.

“Tidak. Aku tak boleh bersedih lagi. Aku lakukan ini untuk beribadah.” Teriak Surti dalam hati.

Surti mulai mengenakan baju muslim pinjaman dari kakak iparnya. Dalam hati ia berharap, kalau nanti pas acara akad nikah, tetangganya ngak pada datang menonton. “Seluruh masyarakat desa akan gempar kalau mereka tahu aku menikah dengan baju pinjaman,” ucap Surti dalam hati. “Tidak…, tuuuidak! Aku tak boleh bersedih, sekali lagi aku menikah untuk beribadah,” lanjutnya berusaha menenangkan diri.

Sudah menjadi kebiasaan tetangga desa Surti, kalau ada acara semacam itu, tetangganya akan datang menonton. Meskipun mereka tak ada dalam daftar undangan, mereka tetap antusias menyaksikan. Entah dengan alasan ikut berbahagia atau hanya ingin mengejek.

Surti dengan lapang dada mengenakan baju muslim yang memang lapang untuknya. Baju itu bukan ukuran Surti. Kakak iparnya memang bertubuh gemuk, jadi terang saja bajunya kedodoran apabila dipakai oleh Surti. Surti mematut-matut dirinya yang memang tidak patut. Dia semakin aneh terbalut baju tersebut. Namun apa mau dikata, Surti tak punya baju yang lain. Dia yang jarang ke pengajian, baju-bajunya mayoritas berlengan pendek. Kalaupun ada baju muslim, itu telah ia pakai berkali-kali. Jangankan kebaya atau gaun, baju muslim yang pantas ia pakai pun ia tak punya.

Surti adalah anak penjual tempe. Hidupnya sangat sederhana. Sebuah rumah berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah tempat mereka menjalani hari-hari dalam kehidupan yang serba kekurangan. Kakak-kakak Surti, meskipun dalam keadaan yang pas-pasan, mereka telah menjalani hidup sendiri-sendiri dengan keluarga mereka.

Surti duduk di atas sofa ruang tamunya yang sudah kusam, tempat di mana akad nikah dilaksanakan. Ternyata sudah banyak tetangga yang berkumpul menyaksikan akad nikah tersebut. Surti hanya bisa diam. Hatinya merasa berkecamuk. Antara marah dan benci pada kelakuan calon suaminya. Tapi dia juga tidak mau menjadi seorang anak durhaka. Kalau ia berfikir tentang ibunya, ia takut kalau-kalau ibunya akan sakit hati apabila ia tak menuruti kemauannya.

Tanpa ia sadari, perlahan air matanya berderai membasahi pipi. Orang-orang yang melihat acara tersebut ikut terharu melihat Surti.

“Apa yang kau lakukan? Mengapa kau menangis.” Tanya ibunya yang menghampiri dan duduk di sebelah Surti, kemudian mengelus kepalanya yang terbalut kerudung.

“Aku bahagia, Bu. Aku senang,” ucapnya berbohong.

Lalu ia menghambur masuk ke kamar setelah acara akad nikah tersebut usai. Ia duduk di atas lantai tanah kamarnya. Ia memeluk kedua kaki dan menelungkupkan kepala ke lutut. Celana panjang kedodoran itu kini basah oleh air mata Surti yang terus mengalir menganak sungai. Ia tak mampu lagi untuk menolak. Ia kini mempunyai kewajiban untuk melayani suaminya dengan baik.

“Sayang, kenapa kau duduk di lantai begitu. Oh kenapa kau menangis, Sayang?” ucap suaminya yang menyusul Surti masuk ke dalam kamar.

“Aku ndak apa-apa Mas, aku bahagia bisa menikah dengan Mas,” lagi-lagi Surti berbohong menutupi mendung dalam hatinya.

“Maafkan Mas. Mas, telah membebani Adik dengan semua ini. Adik harus menanggung semua biaya pernikahan ini.”

Surti tak menjawab. Ia hanya menggeleng. Surti sangat menyesal dengan itu semua. Namun ia juga tak mampu untuk menghindar.

“Sebenarnya, sejak mas melamar Adik beberapa bulan lalu, mas sudah dalam keadaan yang kepepet. Namun mas malu kalau harus bilang terus terang pada Adik. Mas akui, mas memang sangat boros. Mas merasa sangat menyesal setelah mas melamar Adik. Karena itulah, mas ingin berubah.”

“Kita bertetangga, jadi mas tahu Adik seperti apa. Mas malu dengan kelakuan mas. Mas berjanji akan berubah. Dan mas minta maaf. Mas tak rela kalau sampai Dik Surti disunting orang lain. Mas menyukai Dik Surti sejak dulu. Karena itulah mas tak pernah berani macam-macam sama Dik Surti. Dan hari ini, kau tahu Dik? Mas bahagia sekali bisa menjadi suami Adik.”

“Mas Rud?” Surti menoleh, nanar memandang wajah suaminya.

“Telah lama mas memendam rasa untuk Adik. Namun mas merasa kotor dan tak pantas untuk Adik yang baik dan pintar seperti Dik Surti. Karena itu mas merasa kecewa pada diri mas sendiri dan sebagai pelampiasan mas bergonta-ganti pasangan. Namun sebenarnya, mas merasa sangat hampa. Karena itulah mas nekat untuk menyuruh ibu mas merencanakan perjodohan ini. Mas suruh ibu mas untuk datang menemui orang tua Dik Surti.”

“Mas dililit utang yang menumpuk. Mas merasa bersalah sekali setelah mengetahui kalau ibu Adik menyetujui pernikahan kita. Mas merasa menyesal mengapa tak dari dulu-dulu saja menyuruh orang tua mas untuk melamar Dik Surti. Sehingga uang yang mas hambur-hamburkan itu bisa mas gunakan untuk resepsi pernikahan kita. Mas bimbang, mas tidak punya uang, namun satu hal lagi yang membuat mas takut, adalah takut kehilangan Dik Surti. Karena itulah mas nekat melakukan ini semua. Mas juga nekat berbohong pada ibu Rohimah.”

Surti memandang suaminya dengan tatapan menyelidik, ia takut kalau yang suaminya katakan itu hanya kebohongan. Namun ia sama sekali tak menemukan kebohongan itu. Yang ia tangkap justru wajah bersungguh-sungguh dan memelas mengajukan permohonan maaf.

“Mas ingin hidup lebih baik. Mas ingin mengakhiri keburukan-keburukan yang mas lakukan selama ini. Mas ingin menjadi suami yang baik. Mas akan mencobanya sebisa mas. Mas jenuh dan merasa tidak berguna dengan apa yang mas lakukan selama ini. Mas ingin bertobat. Dan dengan bantuan Dik Surti tentu saja.”

“Dan satu permintaan mas. Jangan pernah berbicara sendiri dengan ikan lagi, mas akan marah mendengar tetangga bilang kalau Dik Surti jadi gila gara-gara mas persunting menjadi istri.” Lanjutnya dengan mimik muka lucu.

“Dan kau tahu, hari inilah pertama kalinya hati mas merasakan kedamaian yang tiada terkira. Dan maafkan kenekatan mas yang tak memberi uang sepeserpun untuk Adik. Dan mas sangat bahagia dengan terselenggarakannya pernikahan ini. Adik bersedia kan membina rumah tangga yang sakinah, mawadah, warahmah dengan mas?”

Surti terbengong mendengar kata-kata suaminya. Ia tak mampu berkata apapun. Manik-manik matanya yang bening berpijar, seolah ada cahaya yang menerobos ke dalamnya. Jamrud mendekat dan mengusap air mata Surti yang tak berhenti mengalir. Pecah. Surti menangis lebih keras dan keras lagi.

“Surti ke..ka..sih, akuuu… cinta kamu…,” dengan cengkok nyanyinya band kesukaannya Tejo, Jamrud berusaha menyanyi meskipun suaranya kayak kaleng bekas. Cempreng minta ampun.

Surti tak bisa menahan tawa di sela-sela tangisnya. Tanpa ia sadari tangannya terulur dan hendak memeluk laki-laki di depannya itu. Sontak, ketika tatapannya bersirobok dengan tatapan mata suaminya, ia menundukkan muka karena malu dengan apa yang ia perbuat.

“Tidak apa-apa, Sayang. Sini…, mas kan suamimu. Gak usah malu begitu,” ucap Jamrud yang bisa membaca tingkah istrinya.

Itulah saat pertama kalinya ia melihat kalau suaminya itu sangat tampan dan berwibawa. Pertama kalinya ia merasa sangat bahagia menemukan seseorang yang ternyata mampu membuat hatinya luluh. Ia merasa bahagia meskipun tak memegang uang sepeserpun, dan tak tahu bagaimana caranya membantu ibunya untuk mengembalikan uang kakanya yang ibunya pake untuk membiayayai pernikahan itu.

Sementara di luar ruangan, berjubel tamu dari keluarga Surti maupun tetangga Surti yang mengintip lewat celah-celah dinding anyaman bambu. Ada yang menyeringai, ada yang tersenyum, ada yang ikut terisak, ada yang lantas tertawa kayak orang gila, ada pula yang langsung memeluk dan mencium orang di sampingnya.

Sementara ibu Surti tersenyum sambil berlalu meninggalkan kerumunan orang yang masih asik mengintip, menunggu kejadian dahsyat selanjutnya.

“Hm hm hm…, anak-anak jaman sekarang memang pintar-pintar. Tak usah orang tua ikut campur kehidupan keluarga mereka,” gumam Rohimah dalam hati.

Ternyata tak sia-sia susah-susah ngutang uang untuk biaya berlangsungnya pernikahan tersebut. Ia merasa beruntung karena menantunya telah sadar dan ingin bertobat dari tabiat buruknya. Dan berharap agar semoga menantunya itu benar-benar mempu membimbing putrinya untuk bersama-sama menggapai keluarga yang diberkahi Allah.

~*~

“Halo, Ti selamat ya atas pernikahan kamu,” suara perempuan dari seberang itu terdengar riang.

“Iya, Mbak makasih banyak atas bantuan Mbak.”

“Ndak usah sungkan-sungkan, Ti. Mbakmu ini bulan depan mendapatkan uang bonus mbak yang telah bekerja selama enam tahun berturut-turut di rumah bos mbak. Jadi uang yang mbak kirim tempo hari itu aku hadiahkan untukmu. Kamu ndak usah nyaur, Ti. Yang penting kamu senang dan bahagia sama suamimu.”

“Tapi Mbak?”

“Udah pokonya gak ada tapi-tapian. Sudah dulu, ini hari Minggu mbak mau libur. Mau refresing, ketemuan sama teman-teman mbak.”

Telpon terputus dan Surti hanya terbengong mendengar kabar dari mbaknya  yang bekerja di Hong Kong itu.

Ngomong opo mbakmu, Ti?” Tanya Rohimah yang keluar dari dapur.

Surti hanya tersenyum tak menjawab pertanyaan ibunya.

~*~

Dimuat di Koran BI HK 2011

Advertisements

2 thoughts on “Surti & Jamrud

  1. saya suka cerita yang optimis karena hidup itu memang perjuangan, Manusia bukan setan juga bukan malaekat, tidak selalu benar tetapi tidak selalu salah artinya selama hidup manusia wajib berjuang.

    • Terima kasih banyak ya Bapak, sudah mau membaca cerpen yang panjang. Seneng rasanya, jadi semangat nih nulis lagi….
      Selamat malam, selamat beristirahat ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s