Kimya Sang Putri Rumi

By Yuli Duryat

 

Seperti isi mukadimah dalam buku Matsnawi, senandung cinta abadi, buku satu ini juga sangat mempengaruhiku. Oleh buku ini, aku menjadi begitu rindu menjadi sosok istri yang baik, juga tentang penantian-penantian yang panjang seperti ketika aku menjadi ibu rumah tangga. Rindu kepada sepi dan rasa takut, karena pada saat itulah manusia akan membutuhkan kedatangan-Nya sebagai penolong.

Saat kau menantikan seseorang, di malam yang hening ketika semua orang telah tertidur, saat itulah telingamu menjadi begitu peka. Bahkan suara senandung angin, juga rintihan dedaunan di ujung jalanpun menjadi jelas dalam pendengaranmu. Saat itulah rasa takut itu muncul, ketika kau merasakan sepi, dan hanya kepada Dialah kau akan mengadukan kesepian yang melanda malammu itu.

Pada detik detik seperti itu, aku menjadi bernafsu untuk menghafal bait-bait doa yang sebelumnya aku begitu malas, agar aku bisa membumbungkan permohonanku terhadap-Nya, tak perduli ia akan mengabulkannya atau justru menolak doaku itu.

Aku begitu terkesan oleh bahasanya yang mengena, juga akan keadaanku yang secara tak sengaja menjadi sadar, betapa aku selama ini mengalami gringsang dan krisis syukur terhadap apa yang telah dilimpahkan Tuhan. Tentang pengejaranku terhadap dunia yang fana ini, juga terhadap dolar yang panas membara di bumi antah ini.

So, I do love this book; Kimya Sang Putri Rumi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s