Jendela Rara and Me

Image

By Yuli Duryat

Sebelum Rumah Tanpa Jendela datang ke Hong Kong, aku pernah sekali membaca karya Asma Nadia. Dalam buletin FLPHK yang biasa kami anggota FLPHK bahas setiap satu bulan dua kali. Karya itu berbentuk cerpen dengan tajuk Lelaki yang Menyisir Rindu. Aku terpesona dan terharu membacanya.

Namun itu belum seberapa bila dibandingkan dengan air mataku yang tumpah ruah ketika aku menonton film Rumah Tanpa Jendela yang diadaptasi dari cerpen Asma Nadia berjudul Jendela Rara. Aku terharu dan salut akan cerpen Jendela Rara yang kisahnya mengangkat anak-anak jalanan di Jakarta. Betapa Asma Nadia menunjukkan kelihaian menggoyangkan pena untuk mengukirkan kisah anak-anak tak beruntung itu dengan begitu hidupnya.

Jendela, waktu aku kecil dulu, pernah mengimpikan sebuah jendela. Namun aku tak sehebat Rara mau menyampaikan keinginannya itu pada orang tuanya. Aku memendamnya hingga belasan tahun berlalu, dan seketika hatiku bergejolak ketika aku mendengar akan ada pemuataran film Rumah Tanpa Jendela. Aku teringat keinginanku pada masa lampau, jendela sama seperti Rara. Karena keterbatasan waktu untuk mencari informasi tentang film tersebut, maka aku memilih diam. Meski dalam hati bertanya-tanya akan kisah yang terkandung dalam film Rumah Tanpa Jendela.

Ketika aku mengikuti pelatihan menulis sekenario setelah film usai diputar di Hong Kong, hatiku bergejolak membaca cerpen Jendela Rara karya Asma Nadia. Aku tertegun betapa aku pernah mengalami hal yang sama seperti Rara ketika aku kecil. Aku menangis panjang di kamar rumah bos tempat aku bekerja, sepulang ikut work shop menulis sekenario pada hari Minggu. Minggu yang terguyur hujan lebat dan musim dingin menggigit tulang tak menyurutkan antusiasku mengikuti work shop hari itu. Lebih pilu bila dibandingkan saat aku melihat film dengan ending yang membuat hati Rara lega karena rindunya akan sebuah jendela telah terobati.

Aku terpesona pada Asma Nadia yang peduli akan masyarakat kecil dengan karyanya yang mengagumkan. Sejak saat itu aku ingin membaca karya Asma Nadia yang lain.

Betapa seolah ada semilir angin menerpa hatiku hingga aku merasakan sesuatu yang tak dapat aku wakilkan dengan kata. Aku terbayang rumah berdinding anyaman bambu milik keluargaku dulu. Meskipun aku lebih beruntung dari Rara karena rumahku memiliki jendela. Namun jendela itu ditutup dengan anyaman bambu karena telah keropos. Kayunya telah rapuh dan sebentar lagi rubuh. Kala itu aku membayangkan jendela itu seperti jendela milik nenekku, begitu indah dihias gorden warna jingga.

Nenekku orang kaya yang berumah luas. Di rumahnya banyak terdapat jendela. Namun nenek tak begitu bersimpati padaku, karena nenek hanya menyayangi anggota keluarga dengan tingkat ekonomi yang lebih mapan. Tidak untuk keluargaku, yang sangat kekurangan.

Rumahku menghadap utara. Dan jendela rapuh yang tertutup dinding anyaman bambu milik keluargaku itu tepat di sebelah timur. Saat itu aku selalu membayangkan membuka jendela itu di pagi hari. Dan dapat menatap kembang kertas yang tertempa sinar mentari pagi. Banyak juga kupu-kupu cantik yang hinggap di bunga kertas milikku kala pagi tiba. Aku menanam kembang kertas di samping rumah tepat di sebelah jendela. Dan juga ada pohon jambu air merah besar di sebelah tamaman bunga milikku itu.

Aku seperti tersihir imajinasiku tentang jendela kala itu. Namun aku tak pernah mempunyai keberanian untuk menyampaikan keinginanku pada orang tuaku. Sebuah keinginan yang sangat sederhana namun begitu berat untuk mewujudkannya kala itu. Aku tak tega menyampaikan keinginanku itu karena melihat keuangan orang tuaku yang untuk makan dan biaya sekolahku saja susah.

Keinginan di masa kecil memang sangat membekas dalam hati. Meskipun masa kanak-kanakku telah berlalu, bahkan telah dikaruniai anak pula. Dan memang keinginan memiliki rumah yang berjendela telah terwujud, namun rasa senang itu tak sebesar rasa senang apabila semua itu terwujud kala aku masih kanak-kanak. Meski begitu, rasa syukur selalu ku panjatkan akan nikmat yang Allah berikan untukku dan keluarga kecilku.

Masa yang begitu indah. Alangkah menyedihkan nasib anak-anak seperti Rara. Menjalani hidup begitu keras, nasib yang sama begitu banyak melanda anak-anak di negeri kita. Namun bagi Rara sendiri justru tak merasakan bahwa itu adalah beban.

Mungkin pelajaran memahami betapa sederhananya hidup yang harus Rara jalani tepat untuk anak-anak seperti mereka. Meskipun mungkin mereka tak mampu menertawakan nasib yang menimpa, justru sebaliknya orang seperti mereka mungkin lebih banyak bersyukur ketimbang aku yang lebih beruntung dari mereka. Dan mungkin mereka lebih mulia di mata Tuhan.

Terima kasih Asma Nadia, karya pendekmu begitu membuatku semangat untuk menjalani hidupku dengan terus berucap syukur kepada Tuhan. Semoga kedepannya Asma Nadia semakin sukses dan mampu melahirkan karya yang mampu merubah dunia. Cerpen Jendela Rara sungguh membuatku tersentuh.

~*~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s