Denting Hujan

Judul Asli Nyanyian Pilu

Cerpen Yuli Duryat

hujan-hujan lagi…

basah-basah lagi…

katak bernyanyi riang…

bersahut-sahutan…

basah semuanya tersiram hujan…

Sebuah lagu yang melantun dari bibir Ratna, menyertai Ratna  bangkit dari duduknya. Merasa keju menanti sang ibu tak kunjung tiba. Garis-garis anyaman bambu membekas, berjajar silang menghiasi pahanya yang mungil.

“Kak, di luar hujan. Ibu belum pulang,” nada khawatir terlontar dari bibirnya.

“Tenang saja, nggak akan terjadi apa-apa pada ibu,” Ranti yang duduk menghadap setumpuk tugas sekolah menjawab. Kedua alisnya beradu, seolah sedang menghimpun kekuatan untuk mendapatkan jawaban dari soal-soal yang guru berikan. Tangannya tak mau kalah, sebuah pensil terselip di sela jari, berputar bolak-balik bak baling-baling udara tertiup angin. Begitulah rutinitas Ranti setiap pulang sekolah, tak memperdulikan adik semata wayangnya.

“Di luar ada geledeg Kak. Ratna takut.”

Ratna berdiri tanpa alas kaki. Kakinya yang halus dan mungil sangat berlawanan dengan lantai yang dipijaknya, yaitu belahan bambu kasar meski teranyam rapi. Yang diajak bicara diam saja, sibuk dengan pekerjaannya sendiri.

Di luar langit sangat gelap, walau waktu menunjukkan jam dua siang. Kilatan keemasan sesekali tertampak, bersamaan dengan suara halilintar yang menggelegar.

Sementara itu….

Di tengah masyarakat yang sedang meminum kopi hangat, sambil melepaskan penat karena seharian bekerja lelah menyengat. Sebagian sedang berkutat dengan hujan yang lebat.

“Jangan memaksakan diri untuk pulang, tunggu sampai hujan agak reda.” Di bawah sebuah gubug, di tengah pematang sawah, sebuah suara terdengar. Mereka adalah sekumpulan orang yang bekerja di ladang.

“Benar kata Bu Ida, apalagi geledegnya juga belum reda,” seorang wanita yang berdiri bersebelahan dengan Ida menyahut.

***

“Ibu kemarin jam berapa pulang?”

Ratna turun dari tempat tidur kayu. Lalu menghampiri ibunya, dan duduk berjongkok di depan sebuah tungku. Ibunya yang sedang menggoreng tempe hanya membalas pertanyaannya dengan senyuman. Sebuah uapan mengiringi Ratna bangkit dan berdiri.

Pagi yang cerah, meski aroma tanah becek menguar karena hujan semalaman. Jam dinding kelabu bertengger di dinding rumah kayu, menunjuk ke angka  tujuh. Ranti telah berangkat sekolah. Dia harus membiasakan diri berjalan enam kilometer menuju gedung sekolah SMA Negeri Waringin. Ida tak mampu memberikan ongkos naik bis, atau membelikannya sepeda.

Ida adalah janda dengan dua orang anak. Dia ditinggal mati oleh suaminya, ketika Ratna masih bayi. Dia harus berjuang membesarkan anak-anaknya sendirian. Dengan mengandalkan sepetak ladang peninggalan suaminya.

Hari senin pagi, adalah hari pertama Ratna masuk sekolah. Di desa terpencil, masyarakat tidak memasukkan anak-anak mereka ke taman kanak-kanak. Biasanya masyarakat desa langsung memasukkan anak-anak mereka ke bangku sekolah dasar.

“Apa kalo Ratna nakal, bu gurunya bakal marah ya, Bu?”  Ratna bertanya pada Ida yang sedang sibuk membantu menyisir rambutnya.

“Ya kalo Ratna nakal, bu gurunya bakal marah. Bahkan bisa kena jewer Ratna nanti.”  Ranti yang baru saja keluar dari kamar menyerobot, sambil membetulkan letak jilbabnya. Kemudian meraih sepatu yang tergeletak di lantai dan memakainya. Bergegas berangkat sekolah setelah mencium tangan sang ibu dan mengucapkan salam.

“Bu, Kak Ranti bohong kan ?” Ratna bertanya sambil memeluk ibunya.

“Kalau Ratna baik dan pinter sekolahnya, pasti disayang sama bu guru.”

Ratna mengangguk tak membantah kata-kata ibunya. Ratna memang anak yang baik, dia selalu menurut apa kata ibunya. Kemandirian telah tertampak meski usia masih terbilang belia. Meskipun hari pertama sekolah, ia tak menangis. Ratna meminta agar ibunya tidak telat menjemputnya.

***

Seorang gadis kecil berparas ayu berdiri di bawah pohon besar. Di depan pintu masuk sekolah SD Taman Harapan. Pandangan matanya tertuju pada orang-orang yang datang menjemput teman-teman barunya pulang. Matanya yang bulat terpagar bulu mata lentik perlahan meluapkan butiran bening. Ia telah berdiri sekian lama, menanti ibunya yang tak kunjung datang menjemputnya.

Dia mulai berjalan meninggalkan sekolah tersebut. Ia terus berjalan dan berjalan. Perlahan tapi pasti dia berlari dan berlari…, sampai akhirnya…

Bruuu….k…

“Kamu tidak apa-apa, Dik?”  seorang wanita berrambut pirang yang sedang berjalan menghampiri gadis kecil yang terjatuh itu. Rupanya wanita tersebut hendak memberikan pertolongan. Yang hendak ditolong panik, kemudian dengan reflek mengeraskan tangisan.

“Ibuk, bukankah Ibuk sudah berjanji tak akan telat menjemput Ratna,” parau suara Ratna terdengar di sela tangisnya.

“Adik mencari ibu, rumah Adik di mana? Biar saya antar Adik pulang,” ucap wanita itu beruntun. Dengan sabar meski tak mendapat respon baik dari Ratna.

“Oh ya, namaku Amelia, Adik boleh memanggil saya Kak Mel,” katanya kemudian tanpa menunggu jawaban pertanyaan sebelumnya. Mengmbil tisu dari tas kecil yang ia bawa, dan membantu Ratna mengusap air mata. Ratna diam saja, perlalan dia menatap wanita itu dengan ragu.

***

“Apa yang terjadi di sana, Pak Darmo? Kok banyak sekali orang berkerumun?” tanya Kirno pada Darmo yang kebetulan berjalan bersama ketika mereka pulang dari pasar.

“Ada seorang wanita ketabrak kereta api. Coba Bapak-Bapak lihat mungkin kenal dengan wanita tersebut,” kata perempuan yang keluar dari kerumunan sambil menggeleng iba.

“Inalilahi wainailaihi rajiun…..” ucap Darmo dan Kirno bersamaan, setelah melihat tubuh bersimbah darah itu adalah sosok yang sangat mereka kenal.

***

“Ibuk…” Ratna menghambur masuk rumah. Pandang mata menyapu seluruh ruangan, dengan harapan dapat menjumpai sesosok wanita yang dia rindukan. Namun yang dacari tak ada di sana. Dia kembali menangis.

Amelia yang berdiri menunggu di luar rumah, terkejut akan kedatangan dua orang laki-laki.

Ratna menghambur keluar rumah memeluk Amelia, tangisnya ia luapkan di sana. Amelia bergetar mendengar penuturan Darmo dan Kirno yang tak lain adalah tetangga sebelah Ida.

“Saya sangat menyesalkan kejadian ini,” Darmo bertutur sambil menahan sesak.

“Pakde tahu di mana ibu berada?” tanya Ratna di sela tangisnya, yang dijawab kebingungan tiga orang dewasa tersebut.

“Oh ya, mengapa Bu Dokter ada di sini?” tanya Darmo pada Amelia. Lalu Amelia pun menceritakan pertemuannya dengan Ratna.

Amelia adalah seorang dokter yang didatangkan dari pemerintah kota, untuk bekerja di puskesmas Waringin yang kekurangan tenaga medis.

***

“Ranti, kamu harus sabar, Nak.” Bu Darmo menyongsong Ranti yang baru saja pulang sekolah.

“Apa maksud Bude? Ranti tak mengerti?” jawab Ranti yang terheran memandang begitu banyaknya manusia di rumahnya. Badannya basah bermandikan keringat. Karena mentari begitu terik hari itu.

“Ibumu, Nduk. Ibumu…”

“Apa yang terjadi sama ibu, Bude?”

Ranti berlari masuk rumah. Kecemasan dan kecurigaan akan suatu kehilangan, menghantui pikiran. Suara tahlil semakin menambah kegundahan hatinya. Tasnya ia lemparkan ke kursi. Pandang mata menangkap gundukan tertutup jarik yang biasa ia gunakan untuk selimutan. Kala panutup tersibak, memaksa air mata menyeruak membludak. Ibunya yang ia kenal penyayang, terbujur bisu tak menghiraukan tangisannya. Para pelayat berjubel memenuhi ruangan.

“Maafkan tante, Ranti. Maafkan. Kalau saja tadi pagi tante memberi ibumu pinjaman, mungkin ini tidak akan terjadi,”  Riri datang menyampaikan penyesalan. Dimana dia orang berada, namun enggan membantu saudaranya yang kekurangan.

Pagi itu setelah mengantar Ratna. Ida pergi ke rumah Riri. Riri adalah adik dari almarhum suaminya. Ida hendak meminta pinjaman uang untuk melunasi uang gedung Ranti yang belum dibayar. Rumah Riri bersebelahan dengan rel kereta api, yaitu jalan yang sama menuju Pasar Gede. Pasar yang biasa dijadikan tempat jualan ayam oleh Darmo dan Kirno.

“Maafkan tante, Ranti. Maafkan!”  Ranti tertegun mendengarkan. Sadar betapa besarnya pengorbanan yang ibunya berikan, hingga nyawa menjadi taruhan. Karena dia, sang ibu pudar konsentrasi dan tak mendengar jeritan si ular besi. Tangisnya bertambah menyayat, bahkan sekali dua ia pingsan tak sadarkan diri.

Di jalan-jalan, penuh orang yang antusias datang. Mereka datang hendak mengucapkan bela sungkawa atas kematian tragis yang menimpa Ida. Karena rumah sempit hanya mempu menampung sebagian, mereka terpaksa bergerumbul di luar rumah. Semasa hidup Ida terkenal baik hati. Sehingga di saat-saat terakhirnya, tak heran apabila banyak yang menaruh simpati.

***

Sepeninggal ibunya, Ranti putus sekolah. Dia dijodohkan dengan anak tetangga desa. Dari sinilah kegetiran hidup terus ia teguk, setelah tahu bahwa sang suami seorang penjudi. Enggan mencari nafkah dan suka minum minuman keras. Kerinduannya pada almarhumah ibu, dan buku-buku pelajarannya terus bergelayut. Meski cita-citanya telah lama terhanyut.

Kerinduan akan seseorang yang melahirhan penuh perjuangan, takkan pernah tergantikan meski harta melimpah hidup tanpa kekurangan. Ratna memang lebih beruntung dari Ranti. Dia diangkat menjadi anak asuh dr Amelia. Meskipun kasih ia dapatkan, tetapi itu tak dapat menggantikan rasa kehilangannya.

Ratna duduk di kursi malas. Pandang mata tertuju pada bebatuan kecil, yang terterpa titik-titik hujan. Suara gemercik air bagaikan irama nyanyian yang ia dendangkan kala hujan tiba. Saat dulu ia menanti kehadiran sang ibu yang tak kunjung jua. Kini nyanyian itu menjelma menjadi nyanyian pilu perih menghuncam kalbu.

“Sayang, mama sudah lama menunggu di meja makan. Kenapa masih termangu di sini?” Seorang pria yang tak lain adalah suami Ratna, menggandeng Ratna beriringan untuk menuju ruang makan.

~*~

Dimuat di Majalah Pandu 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s