Surat Pertemuan

Cerpen Yuli Duryat

Gambarku 051

 

Burung pelikan berebut menyantap ikan di tepian danau dekat vila orang tuaku. Airnya tampak tenang kehijauan. Setiap weekend, aku pilih tempat ini untuk menenangkan diri. Apartemenku yang terletak jauh di tengah kota terlalu bising oleh kesibukan penduduk. Bulan-bulan ini aku memang rutin absen dari pertemuan dan makan bersama keluarga besar dari ibu, juga ayah. Sayangnya hari ini tidak ada kegiatan yang menarik sehingga aku punya alasan untuk menghindar. Lebih tepatnya menghindar dari berbagai pertanyaan yang menjurus ke masalah yang sama, entah spontan dilontarkan atau tidak sengaja karena memang sudah terbiasa. Agaknya mereka telah lupa, bahwa orang bersio kerbau mempunyai ingatan yang tajam. Atau mungkin umur 45 tahun belum cukup membuat mereka pensiun bertanya, kapan aku menikah.

Aku sedang duduk di depan jendela ketika tiba-tiba hapeku berdering. Memandang ke arah bulan yang pucat di ufuk langit. Langkah aku seret ke arah meja di mana hapeku tergeletak. Seharusnya dia tidak berdering saat jarum jam baru menunjuk pukul tujuh. Terlebih, biasanya pada hari Minggu begini aku menutup semua koneksi dari luar, Sunday is me time. Tak akan aku biarkan orang luar mengganggu ketenanganku. Pekerjaan di toko kosmetik sudah membuatku penat setiap harinya, jadi Minggu adalah saatnya aku mundur dari keramaian. Membiarkan wajahku merasakan kealamiannya tanpa riasan.

Dengan malas aku mengangkat telpon, satu nomer yang tidak aku kenal berkedip-kedip. Aku mengerutkan keningku. Jangan-jangan hanya orang iseng atau petugas operator yang menawarkan produk baru. Ingin segera mengakhiri dering telpon tersebut akhirnya aku mengangkatnya. “Halo, siapa ini?” kata-kataku aku tekan. Bukannya menjawab, tapi suara di seberang justru memberiku perintah, “bisa bertemu dengan saya siang ini, di kafe dekat gedung Clp Power Shatin Centre?” “Siapa ini?” “Kita ketemu saja dulu, nanti saya jelaskan siapa saya.” “Tapi…” telpon ditutup dari seberang.

Mataku tertumbuk dengan dua buah tiket di atas meja, pertunjukan teater. Oh, bukankah tempat pertunjukannya tak jauh dari tempat yang disebut penelpon misterius barusan. Aku menelengkan muka, mengangkat bahu tak peduli. Sebenarnya aku memang malas untuk datang menyaksikan kisah yang sudah dihelat berulang-ulang, Romeo and Julietnya William Shakespeare. Kalau bukan karena Tessa yang bersikeras untuk membelikan tiket sebab pemeran utamanya adalah sahabat kuliahnya. “Please, kau tahu sendiri aku tidak suka pertunjukan seperti ini, tapi aku tahu kalau Milly adalah pelaku yang bisa diandalkan. Percayalah, kau akan sesenggukan melihatnya berakting menangis. Aku bahkan pernah sampai tidak mengenalinya saat dia ada di panggung.” Rengek Tessa dua minggu lalu. Aku tak pernah tega melihatnya menampakkan muka semelas Bebe, anjing kesayanganku ketika lapar. Kepalaku mengangguk dengan sendirinya.

Baiklah, aku berdamai dengan diriku. Toh nanti sore aku juga harus keluar bersama Tessa, jadi aku memutuskan untuk menemui penelpon misterius. Tak ada salahnya mengenal orang baru, atau kalaupun si penelpon orang jahat, aku tahu kafe yang ia tunjuk bukan tempat yang tepat untuk melakukan tindak kejahatan. Aku meraih cardigan panjang yang tergelantung di balik pintu kamar. Tetap mengenakan pakaian yang telah menempel di tubuhku sejak semalam. Celana pendek dan kemeja tanpa lengan yang sudah lungsut. Meraih tas kecil dan mengenakan sendal jepit sambil menyisir rambut dengan tanganku yang bebas. Aku memutuskan untuk naik angkutan umum, hari Minggu gairah menyetirku sering anjlok, aku tidak mau kalau itu sampai terjadi di tengah perjalanan.

Naik angkutan umum di negara yang padat ini sering membuatku penat. Di saat-saat seperti ini, aku menginginkan seseorang berdiri di sebelahku, sehingga aku bisa bebas menggelayutkan badan. Aku sadar aku membutuhkan sandaran meskipun aku benci disebut cengeng. Tetapi itulah perempuan dengan segala keperkasaannya, ada sisi naluriah sebagaimana mestinya perempuan diciptakan.

Mungkin, aku termasuk perempuan yang membenci kemesraan di depan umum, tapi aku sering tidak menolak bila diperlakukan demikian asal masih dalam taraf wajar. Ah, berbicara mengenai ini, aku jadi teringat kekasih duapuluh lima tahunku. Ya, kaulah laki-laki yang berkencan denganku sejak kita berusia duapuluh tahun. Hingga kejenuhan memisahkan kita. Aku tidak mau mungkir dari kenyataan bahwa kita telah berbagi segalanya, dan perpisahan ini juga atas persetujuan kita berdua. Rasanya kita telah melalui hubungan yang hidup segan mati tak mau, karena itulah kita memutuskan untuk berpisah. Walau kadang-kadang rasa sakit, sepi dan kehilangan itu menyembul-nyembul dari batinku, tapi egoku mengatakan bahwa aku harus melewati ini lebih baik darimu.

Duapuluh menit perjalanan kereta dari Tai Po Market tempat vila orang tuaku berdiri, menuju Shek Mun. Aku segera menuju kafe yang dimaksud penelpon misterius. Sebuah kafe yang terletak di dekat kota industri. Oh Godness, kenapa dadaku berdetak lebih kencang dari biasanya. Sudah bertahun-tahun aku tidak merasakan ini. Aku menyesal tidak mengganti pakaianku sebelum keluar rumah tadi. Ketika aku berjalan menyusuri eperan gedung-gedung dan berpapasan dengan kacanya yang besar, tanpa sadar aku membenahi pakaian dan rambut panjangku yang tak tersisir. Tinggal satu gedung lagi, dadaku kian kencang berdetak.

Aku berdiri di depan kafe mencari si penelpon misterius. Ketika aku menyeret satu kursi untuk duduk, kau tiba-tiba datang dari luar kafe dan langsung menghampiriku. Kau bekas kekasihku tersenyum lebar di depanku, sudah satu tahun kita tidak bertemu. Hatiku menolak keras mengapa kau berada di tempat ini, aku tidak merasa nyaman melakukan pertemuan dengan laki-laki lain di depanmu.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku.

“Apa kabarmu?” tanyamu bersamaan dengan pertanyaanku.

“Kenapa kau di sini?”

“Untuk menemui seseorang, temanku tidak bisa menemuinya karena urusan mendadak.”

“Siapa?” Aku masih hapal nada bicaramu ketika berbohong, tapi aku pura-pura tidak peduli.

“Entahlah, aku juga tidak tahu siapa? Kau mau makan apa, biar aku pesankan.”

“Apa kau belum menikah?” Aku tidak percaya kalimat yang meluncur begitu saja dari mulutku, aku sungguh menyesal dan mendadak benci pada bibirku sendiri. Kau tidak menjawabku, hanya menelengkan muka, dengan matamu kau mengulang pertanyaanmu barusan.

“Kau lupa?”

“Siapa tahu kau berganti selera.” Kau berlalu meninggalkanku untuk memesan satu porsi roti bakar selai blueberry dan dua gelas kopi hitam, tentu saja kalau kau juga belum berubah selera.

“Kau masih suka main teater?” tanyaku saat kau kembali dengan membawa nampan pesanan. Sama, ternyata kau belum berubah selera, hanya saja, ada dua susu dalam kemasan kecil tergeletak di atas nampan.

“Yup, kau mau lihat pertunjukanku nanti malam bersama Milly? Aku agak jenuh minum kopi pahit belakangan ini, kau mau?” aku menggeleng tak menjawab. Kau menuang susu ke dalam cangkir kopi. Ada yang panas dalam dadaku saat aku mendengar kata Milly. Minum kopi dibubuhi susu, bukankah itu kebiasaan Milly. Milly adalah sahabat Tessa seperti yang aku ceritakan di atas, dia memiliki paras yang sangat cantik. Bulu mata lentik dan mata bulatnya sering membuatku iri padanya. Aku tahu Milly menyukaimu sejak lama.

“Kalian berkencan?”

“No,” jawabmu santai. Ada satu kelegaan saat aku mendengar jawaban itu. “Bay the way, apa yang kau lakukan di sini?” tanyamu.

“Menemui seseorang.”

Kau manggut-manggut, aku kecewa saat kau tidak tertarik bertanya siapa yang akan aku temui.

“Apakah orang ini yang akan kau temui?” kau mengulurkan secarik kertas. Oh, bukankah itu kertas yang aku selipkan di belakang kursi tempatku duduk dalam seminar satu bulan yang lalu, dalam gedung yang sama dimana pertunjukan teater nanti malam dihelat, Heung Yee Kuk Building. Aku membubuhkan nama, dua gabungan kata dan nomer telponku di sana, lalu siapakah yang menelponku, aku yakin suara itu bukan suaramu. Aku bingung dan malu untuk menatap wajahmu. Surat aneh seperti itulah yang mempertemukan kita duapuluh lima tahun yang lalu.

“Temanku yang menemukan suratmu saat kami latihan tadi pagi, dan aku mengambilnya. Aku menyuruh adik perempuanku untuk bicara ditelpon, dia pandai berakting sebagai laki-laki.” Lanjutmu tanpa memedulikan mukaku yang memerah. Sammy: Somebody Somewhere, beserta nomer telponku yang aku tulis di atas secarik kertas kecil yang aku selipkan di belakang kursi itu melayang-layang dalam pikirku, membuatku ingin menariknya kembali.

“Jangan mencari orang lain, aku masih mencintai dan demi Tuhan aku merindukanmu sepanjang kita berpisah. Sudah lama aku memikirkan cara yang sama, aku tidak mengira kau melakukannya.”

 

Saturday, October 25, 2014

9:21 AM Fanling NT Hong Kong

Advertisements

Tender Baru

6c7bf-ilustrasi2bcerpen2bkoran2bmedia2bindonesia2bedisi2bminggu2b172bdesember2b20172bkarya2bpata2bareadi

SEPERTI tak menjejak tanah, seluruh tubuhku mati rasa. Udara begitu dingin, aku turun dari bus mini bercat melintang. Nomor 17A Mong Kok. Aku memandang eskalator panjang di depanku dengan tatapan kosong, menyelusuri geraknya dengan hati waswas. Suara tok-tok sepatu suster berseragam merah jambu masih terngiang-ngiang di telingaku, sibuk berjejalan dalam pikiran. Bau obat yang mereka bawa menempel di hidung seolah bercokol di sana, meskipun jarakku kini terbentang berpuluh kilometer.

Rasanya, aku ingin menggantikan apa yang harus Lion derita. Dia masih terlalu muda kalau harus menerima beban begitu berat. Tapi lihatlah anak kecil yang kini aku genggam tangannya erat-erat, tidak ada rasa takut atau sedih tersirat di wajahnya. Dia bahkan belum mengerti apa yang sedang terjadi dalam dirinya. Menatapnya yang begitu polos membuat hatiku tercabik. Aku menelpon suamiku ketika masih berada di Eye Hospital Kowloon City, tapi nomor hapenya tidak bisa diakses, mungkin dia sedang sibuk.

Kami berjalan menyusuri lorong menuju MTR Mong Kok East. Suara tik tok sepatu pengunjung mengusikku persis seperti suara sepatu suster di rumah sakit beberapa jam yang lalu. Rasanya aku ingin melempar mereka dan menyuruh untuk berjalan dalam senyap, suara langkah mereka sangat menggangguku. Kalau saja tak malu dianggap gila dan digelandang polisi berseragam biru karena membuat keonaran di tempat umum, aku akan berteriak kencang sekadar untuk mengurangi rasa sakit di dadaku barang sedetik.

Tidak berapa lama, kami telah menyentuhkan kartu octopus atau kartu tiket prabayar ke atas mesin tiket dan masuk ke dalam stasiun tujuan Lo Wu/Lok Ma Chau. Ah, mengapa hari ini begitu banyak orang. Bukankah ini jam sebelas siang di hari kerja, ah aku ingin sekali keluar dari kenyataan bahwa kota ini sangat padat penduduknya dan hidup sendirian saja di dalamnya.

Seharusnya kami turun di Fanling, tapi kami kebablasan. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi belanja di Sheung Shui, bukankah tadi pagi gairah masakku meluap dan ingin membuatkan mie pangsit untuk Lion. Baiklah, aku akan turun di pasar tradisional untuk membeli bahan-bahan mie pangsit. Lagi-lagi harus siap berjejalan dengan pengunjung lain di pasar, tapi itu tak seberapa bila dibandingkan dengan begitu berharganya senyum Lion setiap menikmati mie pangsit butanku.

“Ibu kau lihat, ada pedagang ubi panggang. Aku mau ubi panggang, aku mau ubi panggang, Bu.” Lion berteriak girang dan berlari keluar kereta, membuatku sibuk mencegahnya berlari agar tak menabrak penumpang lain. Tak jauh dari tempat kami menempelkan octopus, bus nomor 270A yang membawa banyak penumpang menuju stasiun berdecit, diteruskan suara pintu depan dan tengah terbuka secara bersamaan. Aku tidak bisa menahan gemuruh rasa yang berkecamuk dalam dadaku. Aku tidak bisa tenang saat tatapan mataku berbenturan dengan Lion yang berkedip memohon dibelikan ubi panggang.

Tepat di sebelah setopan bus Sheung Shui yang letaknya sejajar dengan stasiun, pasutri paruh baya menjajakan dagangan yang diaduk dengan bilah panjang, dalam wajan hitam besar berisi batu kecil di atas bara. Ubi, buah sarangan/Chinese chestnut, telur puyuh, mengepulkan bau yang khas. Asap merebak sekitar, menyembulkan hangat nyaman di tengah udara bulan Desember yang beku. Suasana begitu ramai, banyak warga dari Tiongkok beriring memenuhi jalanan. Sebagian membawa koper-koper besar dan berdandan tebal. Sebagian sibuk dengan rombongannya, berbicara dalam bahasa Mandarin. Aku menarik Lion untuk berdiri dengan jarak yang agak jauh dari tempat mereka turun.

“Ibu, boleh ya.”

“Tentu saja, tunggu sebentar, ibu ambil uang dulu.” Aku tersenyum ke arah Lion dan mengambil uang dalam tas kecil, sambil membenahi jaket panjangku yang tersingkap angin. Ia sudah menerobos kulit betisku hingga membuatku merinding, angin yang tidak punya sopan santun.

“Ayo.” Aku menyerahkan uang dan menerima bungkusan berwarna coklat dari penjual, menarik tangan Lion untuk segera menyingkir dari tempat yang juga berselimut asap rokok itu. Aku mengurungkan niat belanja di pasar tradisional dan mengajak Lion naik bus lagi, ah gairah memasak yang pagi tadi menyembul-nyembul kian tipis dimakan kecamuk dalam dadaku. Oh, Tuhan, sebegitu sayangkah Kau kepadaku sehingga menumpukkan beban ini di atas pundaku, jangan Kau kira Kau akan berhasil membuatku lemah. Aku menarik bibirku ke samping.

Aku mengantri di setopan bus yang tak jauh dari tempat kami itu, untuk naik bus nomor 279X. Oh Lion, setiap aku melihatnya, rasanya aku tak membutuhkan apa pun selain senyumnya. Senyuman ajaib pengobat segala lara. Aku menggendong bocah kecil itu dan memeluknya erat. “Ibu, aku sesak nafas.” Rintihnya. Aku mengendurkan pelukanku dan meminta maaf padanya.

“Kau mau makan sushi, Sayang?”

“Ya, Ibu.”

“Gimana kalau hari ini kita ke Okihari?”

“Hm.”

Lion tersenyum riang, dia sangat suka makan di restoran Jepang satu ini, bukan semata-mata karena dia suka sushi, tapi justru dia lebih tertarik menangkap makanan yang berputar di meja panjang melingkar. Dia selalu asik menangkap banyak-banyak makanan meskipun pada akhirnya akulah yang harus menghabiskan makanan yang ia ambil. Aku senang melihatnya tertawa, bebanku akan luntur begitu aku melihat wajahnya yang riang meski hanya sementara. Heh, Tuhan, aku berterima kasih pada-Mu karena Kau telah memberi Lion untukku. Dia adalah segala rasa bagiku.

Kami menaiki bus menuju mall Fanling yang tidak begitu besar. Lion dengan antusias memencet bell tanda pemberhentian bus ketika kami sudah sampai di bawah bangunan berwarna silver itu. Ramai orang membeli buah murah di pinggir jalan, tepat di pemberhentian bus berwarna hijau tak jauh dari eskalator yang menghubungkan jalan dengan jembatan kecil menuju mall. Meski bukan hari libur, pengunjung penuh sesak memenuhi jembatan tersebut. Seharusnya aku memilih jalan alternative di bawah mall, dengan menyebrangi jalan yang dilalui bus. Walau kesal, tapi rasanya aku ingin berada dalam keramaian, meskipun terkadang keramaian membuatku semakin kesepian.

Aku belum memberitahukan kabar Lion pada suamiku, aku tidak mau membebaninya, sementara dia sedang bekerja di Tiongkok. Setelah telponku di rumah sakit, aku tidak berniat untuk menelponnya lagi. Sudah hampir tiga bulan ini dia belum pulang. Dalam telponnya yang terakhir, dia memberitahukan kalau dia menerima tender baru dari kantornya. Aku memaklumi karena dia sudah sangat sering menerima tender dan dia adalah orang kepercayaan bosnya.

“Ibu, ada air jatuh di pipimu, apa itu air AC yang jatuh seperti tadi pagi di rumah sakit? Kita harus beri tahu koki di sini.” Lion mengulurkan selembar tissue ke arahku untuk mengelap pipiku yang basah. “Oh, terima kasih, Sayang. Biar ibu saja yang bilang padanya ya.”

“Biar Lion saja, Bu. Lion kan mau belajar berani biar bisa menjaga Ibu.” Dia sudah turun dari tempat duduknya dan menemui satusatunya pelayan yang mengenakan jas. Dia tidak tahu kalau air di wajahku adalah air yang keluar dari mataku sendiri.

Aku memperhatikannya dari tempatku duduk dan menggangguk pada pelayan yang seketika memandang ke arahku. Satu menit kemudian Lion berlari dan duduk kembali di depanku, kembali sibuk dengan piring-piring kecil berisi sushi yang berbeda setiap piringnya. Mulutnya penuh. Pelayan di hadapan kami yang memakai celana hitam, kemeja, celemek, dan ikat kepala putih tersenyum memandang wajah lucu Lion, kemudan kembali sibuk membuat sushi dan mengisi piringpiring yang kosong di hadapannya. Sejenak aku memperhatikan pelayan yang berwajah menyenangkan tersebut, juga gerak tubuhnya yang cepat dan cekatan. Pelayan yang barusan Lion temui menghampiri kami.

“Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan di restoran kami, kami akan segera memperbaiki pendingin udara di sini.” Dia membungkuk di depanku dan meminta maaf, aku hanya mengangguk meskipun aku tahu kalau dalam ruangan tersebut tidak menyalakan pendingin ruangan dan justru sebaliknya penghangat ruangan. Aku kembali memperhatikan Lion dan tidak menyadari laki-laki di hadapan kami tetap berdiri untuk beberapa jenak, memperhatikan kami makan, baru kemudian dia meninggalkan kami.

Di luar restoran, pengunjung mulai penuh mengantri, seorang resepsionis melayani mereka dengan ramah dan memberikan kertas kecil tertera nomor antrean. Sesekali ketika pengunjung keluar dan pelayan lain sudah membersihkan bekas duduk mereka, resepsionis berparas cantik itu memanggil pengunjung yang mengantri di luar untuk masuk.

Dari arah pintu, muncul seorang perempuan yang menggendong anak kecil seumuran Lion. Dia memanggil manja kepada seorang laki-laki yang wajahnya masih tertutup tirai pintu, ketika dia memajukan langkahnya, aku terkesiap. Wajah yang sangat familiar bagiku, aku lihat mata laki-laki itu menyapu isi ruangan sebelum menyapu wajahku, terkejut. Suamiku, ia menggandeng seorang yang terlihat dari cara dandan dan bicaranya adalah warga Tiongkok itu untuk masuk. Jadi itu tender baru yang dibicarakan suamiku di Tiongkok selama ini. Dan apa panggilannya tadi pada suamiku, “Lokung.” Terdengar panggilan bernada sayang yang berarti ‘suami’ itu mengiris hatiku.

Aku seketika itu mengurungkan niatku untuk menceritakan Lion yang menderita ablasio retina dan terancam buta kepada suamiku. ~*~

10.15 pm Tuesday 16, 2014 Desember Fanling NT

Pernah dimuat di koran Media Indonesia edisi Minggu, 17 Desember 2017