Artikel Nomor 17

 

Cerpen Yuli Duryat

‘Terkadang orang butuh tutup mulut untuk merenung sebelum mengeluarkan unek-unek di kala hati berselimut kemarahan, sampai reda dan kembali bisa berfikir dengan akal sehat.’ Inilah status yang aku buat beberapa hari lalu di facebook, dan hari ini aku melakukan perbuatan yang tidak bisa dinalar dengan akal sehat. Aku tidak mengerti, mengapa beberapa kali sesuatu yang ingin sekali aku hindari justru kulakukan dengan tiba-tiba tanpa dipikir terelebih dulu.

Aku lihat si Mbah berlumur darah, matanya lemah memandangku dan akhirnya memejam untuk selamanya. Pampers basah berlumur kotoran yang keluar dari dubur tergeletak begitu saja di samping tubuhnya. Sirene polisi dari kejauhan semakin mendekat. Aku berdiri mematung. Seorang wanita berrambut ikal menjerit. Gagang telpon jatuh dari genggaman tangannya. Suara tut tut dari seberang terdengar, dia belum sempat menekan tombol untuk mematikan telpon, atau barangkali tak ingin.

~*~

Aku mengusap lingkar mata yang aku yakin menghitam sebab kurang tidur. Semalaman si Mbah mengigau sambil berteriak-teriak. Anak perempuannya bukannya membantu mengurus malah tambah berteriak dan memarahiku. Aku kesal, tapi tidak bisa berbuat apa selain mengalah. Aku harus menjalani rutinitas membersihkan rumah, memasak, berbelanja, dan menjaga si Mbah yang sudah lumpuh setiap hari. Aku tak pernah bisa istirahat dengan tenang.

Pukul enam pagi, di musim dingin begini suasana masih remang. Aku menyusuri jalan yang masih lengang menuju restoran siap saji yang buka 24 jam nonstop. Entah kerasukan apa, anak si Mbah yang biasanya menghindari makanan siap saji, pagi-pagi sekali menyuruh saya pergi ke Mc Donald untuk membeli setangkup burger ikan dan segelas teh panas. Aku bisa saja membuatkan dengan mudah di rumah, seperti yang dia ajarkan, tapi hari ini dia menyuruhku beli di luar. Aku melewati toko-toko yang masih tutup, suasana sungguh dingin dan sepi mencekam. Sepanjang perjalanan, aku menguap berkali-kali, rasanya badan ini begitu pegal dan remuk redam.

Aku mengancingkan jaket tebal dan mengikat selendang wol di leher. Memasukkan tangan ke dalam saku jaket untuk menghangatkannya. Aku benci musim dingin tapi tidak bisa menghindar. Sesuatu yang sangat tidak aku suka, benci tapi tak bisa menghindar. Meski begitu, karena aku sering sekali menghadapi situasi seperti ini sehingga menjadi terbiasa.

Duapuluh menit aku sudah kembali ke dalam apartemen lantai duabelas. Apartemen yang terletak di daerah Fanling New Territories, dengan dua kamar, satu dapur, toilet, dan ruang tamu yang diduafungsikan sebagai ruang makan. Sangat kecil untuk menyembunyikan sesuatu hingga tak ketahuan, ditambah kamera yang ada di setiap penjuru. Terkadang aku merasa diuntungkan oleh kamera tersebut, dan terkadang justru sebaliknya.

Majikan perempuanku adalah seorang single anak si Mbah, umurnya sudah menginjak kepala lima. Aku heran mengapa dia enggan menikah. Dia menerima pesanannya dengan wajah cemberut, lalu menyeretku masuk ke dalam kamar si Mbah, terlihat muntahan membanjiri kamar tersebut. Hampir mukaku mencium muntahan tersebut saat majikan menyorongkan tubuhku dengan keras. Aku memejamkan mata menahan amarah yang kian meletup di kepala. Rasa lelah dan kepasrahan hanya mampu tertuang dari bening kristal dari mataku. Aku menggigit bibir, kelu.

“Bodoh sekali kau, mengapa kau tidak nge-break saja. Jaman sekarang sangat mudah kita memecat majikan, kau bisa pilih majikan lain di agen.” Ratih temanku menasehati ketika kami berdua duduk-duduk di Kampung Jawa Victoria. Banyak buruh migrant lain yang juga duduk-duduk beralaskan plastik berwarna putih di lapangan rumput yang luas tersebut.

“Aku pikir dengan bersabar menghadapi mereka, mereka akan berubah, menjadi lebih baik,” tuturku kecut.

“Sebelum kau berubah jadi hantu!! Kurus kering dengan mata cekung! Sekalipun kau tutup dengan riasan kau kira aku bisa kau bohongi?!” Ratih sahabatku yang datang di tahun dan kampung yang sama denganku memandang prihatin.

“Aku tunggu satu bulan lagi, siapa tahu mereka berubah. Aku tidak mau penantianku selama satu tahun lebih akan sia-sia.”

“Terserah, kalau kau kuat. Aku tegaskan, aku tak setuju. Lebih baik putus kontrak saja!” Ratih keras menentang. Aku mengangkat bahu, membuang pandang ke arah teman-teman buruh migrant yang asik berbincang mengenai keluarga mereka masing-masing di sebelah kami. Keluarga, ah, aku juga merindukan ibu dan ayah. Aku anak semata wayang mereka, mereka pasti merindukanku untuk segera pulang. Seminggu yang lalu, ibu menelpon dan menyuruhku pulang, namun aku berkeras untuk tinggal. Dengan alasan uang untuk bekal pulang dan meneruskan sekolah belum mencukupi.

“Aku punya usul, ayo ikut aku.” Aku menurut saja kata-kata Ratih ketika dia mengajakku mengemasi tas dan sisa makanan untuk beranjak dari tempat itu. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan siapa pun, apalagi Ratih. Terkadang Ratih sering mempunyai ide cemerlang untuk menghiburku di hari libur kami.

Aku menggeleng tegas ketika Ratih menunjukan sebuah majalah bersampul hitam. Aku tidak menyangka kalau Ratih mempercayai ide gila seperti itu. Dan mempercayai majalah yang menampakkan iklan-iklan aneh tambah membuatku putus asa untuk memahami jalan pikirnya kali ini. “Kau gila, sampai mati pun aku tidak akan pernah menghubungi orang aneh dan tak aku kenal, apalagi dari iklan klenik macam begitu, yang benar saja. Kau buang-buang uang saja beli majalah begituan.”

“Satu bulan, dari pada kau tidak melakukan apa pun dalam jangka satu bulan ini. Manusia wajib berusaha, dan hasilnya kita serahkan kepada-Nya.”

“Kau ini sebenarnya percaya pada Tuhan apa tidak, kalau iya kenapa kau suruh aku mengambil jalan aneh?” Aku melangkah cepat untuk meninggalkannya dari sebuah toko yang juga menjual makanan yang disukai para buruh migrant itu. Dia menyejajarkan langkah, secara memaksa dia menyelipkan majalah itu ke dalam tasku. Aku berusaha keras untuk mengambil dan membuangnya namun dia memaksa dengan mata yang ia lototkan lebar.

Kami pergi ke Kowloon Park hari itu, yang hanya berjarak tiga stasiun kalau ditempuh dengan kereta bawah tanah. Kami duduk malas di sebuah bundaran dengan air mancur di tengahnya, tidak antusias sama sekali memandang para buruh migrant yang bersenang-senang dengan menggoyangkan badan. Sekali dua aku menghalau para pekerja laki-laki dari negeri jauh yang hendak duduk di sebelah kami. Saya tak peduli ketika mereka mengumpat pada kami yang telah menganggap tempat duduk umum itu milik sendiri. Ratih senang dengan sikap tegasku, dia asik menghabiskan sisa makanan yang kami bawa dari lapangan Victoria. Aku sedikit melupakan majalah yang masih terselip dalam tas.

Aku tahu apa yang akan terjadi saat aku pulang terlambat. Hari ini aku sengaja pulang lima jam lebih malam dari biasanya. Aku hanya ingin tahu seberapa besar kadar marah majikan yang akan bertambah saat aku menambah jam lambat pulang, sebab tidak terlambat pun kena marah. Dapur apartemen begitu berantakan ketika aku masuk, begitu juga dengan meja makan. Wanita berambut ikal itu sudah memampangkan beliak mata merahnya yang menghujam ke wajahku. Aku berusaha bersikap tenang dalam menghadapinya.

Jam dua pagi, aku telah selesai mengerjakan semuanya, membersihkan seluruh sudut apartemen plus kamar mandi yang bau busuk kotoran si Mbah karena pempersnya tidak dilipat dengan baik dan dibuang di tempat sampah di pojok toilet itu, diakhiri menyetrika baju. Si Mbah yang sudah renta, lumpuh dan sering mengigau di malam hari itu, kembali muntah-muntah. Entah apa yang diberikan anak perempuannya itu, sebab setiap aku tinggal libur pada malam harinya selalu muntah-muntah. Majikan perempuan kembali mengomel, aku membersihkan muntahan diiringi omelannya. Aku menahan pening dan rasa sesak di dada, hingga aku selesaikan pekerjaan.

Jam tiga pagi, sebelum merebahkan diri di atas kasur, aku membereskan tas yang aku pakai untuk libur. Tanganku bertemu dengan majalah yang Ratih sorokkan ke dalam tas berwarna hitam tersebut. Entah oleh dorongan apa, aku membuka halaman per halaman dan terpergok mata ini dengan artikel ke 17 di halaman 27. Gila, mana ada kelakuan semacam itu bisa membuat majikan bertekuk lutut dan menurut dengan pembantu. Yang lebih aneh lagi mengapa majalah yang aku pegang itu artikelnya diberi nomor. Ada-ada saja. Namun kalimat-kalimat keberhasilan yang dikatakan oleh seorang nara sumber membuat rasa inginku menyeruak. Hanya hitungan tujuh hari, majikan menjadi sayang pada pembantu dengan cara aneh yang dipaparkan.

Aku tidak bisa tidur memikirkan artikel yang aku baca. Satu bulan, aku bisa mencobanya, siapa tahu hal itu bisa berhasil, isi kepalaku penuh dengan rasa ingin mencoba. Pagi hari saya mulai melakukan ritual yang disarankan, hingga tujuh hari berlalu, ternyata majikanku tidak juga berubah baik, aku mulai putus asa dan membuang majalah ke dalam tempat sampah.

Di hari ke delapan, aku kembali dimaki-maki oleh majikan perempuan, bahkan dia sudah berani menjambak rambutku. Bagian yang biasanya tidak pernah dia sentuh adalah kepalaku saat aku kena marah dan kena pukul. Hari itu dia berani melakukannya. Hingga kesabaranku mulai menipis, aku mendorongnya keluar kamar mandi. Pada saat itu, aku memang sedang membantu si Mbah mandi, aku tidak tahu kalau si Mbah buang air besar sehingga aku tidak mengganti pempersnya lebih dulu, majikan perempuan melihatku mengganti pempers si Mbah di kamar mandi dan itu membuatnya murka. Aku mendorongnya kembali ketika dia mau masuk ke dalam kamar mandi, sebab dia menghalangi aktifitasku karena kamar mandi di apartemen sangat sempit.

Sebuah botol shampo kaca milik si Mbah terjatuh dan pecah, majikan saya meloncat dari luar ke dalam kamar mandi kemudian menjambakku, aku melawan. Aku melepaskan tanganku yang melingkar di pinggang si Mbah. Pada saat itu, posisi tangan saya sedang memegang pingganya untuk mengganti pampers penuh kotoran. Si Mbah terjatuh, bokongnya mengabruk, pempersnya terlepas. Bokong si Mbah yang tak lagi tertutup pempers dan penuh kotoran berciuman dengan pecahan botol.

~*~

Enam orang polisi berseragam biru berhamburan masuk ke dalam apartemen, mereka memasangkan borgol di pergelangan tanganku. Aku tetap diam mematung, majikanku menangis meraung-raung. Aku tahu majikanku sedih oleh sebab kematian ibunya. Namun aku yakin lukanya tak sebesar luka ayah ibuku di kampung ketika mereka melihat aku mendadak tenar masuk televise nanti. Ketika sisi jahatku lebih mendominasi hati, aku mungkin tidak sadar bahwa apa pun yang aku lakukan akan melukai orang lain. Aku tidak tahu apa yang terpikir dalam benakku saat ini, sesal ataukah rasa syukur sebab telah menorehkan luka menganga pada orang yang telah melukaiku.

Satu hal yang benderang dalam pikiranku hanyalah, artikel nomer tujuh belas yang mengajarkan ritual mencampur ludah ke dalam minuman majikan tidak bisa membantu menjinakan mereka dan menyelamatkanku dari bencana.

22:19, November 7, 2014

Fanling NT

Pernah dibaca di RRI Bilik Sastra

Advertisements

Lelehan di Bawah Jembatan

cropped-dscn3415.jpg

Cerpen Yuli Duryat

Pandang mataku tak beranjak dari laku laki-laki bertubuh tinggi yang mengenakan kemeja berwarna putih dan kau, perempuan di seberang jalan. Ya Tuhan, aku bertanya berkali-kali pada diriku sendiri tentang perasaan ini. Perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang. Sedih, takut, khawatir, marah, cemas, bercampur jadi satu. Kalau saja kau tahu ini, aku sudah hafal apa yang akan kau katakan padaku, imajinasi gila. Aku memandang langit biru dan menyerap hawa panas untuk mengalihkan perhatianku darimu. Aku terlalu khawatir. Kau sendiri bukanlah orang yang mempercayai intuisi seperti diriku, ‘berpegang pada logika lebih mudah dicerna pikiran’, katamu selalu. Aku membenci perbedaan kita sejak kau memutuskan untuk memilih orang lain.

Sebetulnya kalau disuruh memlilih aku lebih suka ngadem dalam gedung Central Library, ketimbang di bawah jembatan begini. Toh gedung ini tepat berdiri di samping kanan belakang perpustakaan lesehanku digelar. Tapi, tidak bagus membiarkan pelanggan setia pergi dariku gara-gara lebih mementingkan egoku sendiri. Ditambah resiko kehilangan tempat strategis untuk mengawasimu di seberang jalan, meski sering kali terhalang bus dan kendaraan yang lalu-lalang, tetap saja hanya dari sinilah aku bebas menangkap gerakmu.

Sejak tiga ledakan terdengar dari tempatmu tiga minggu lalu, aku lebih intens mengawasimu. Tak jarang aku menyelinap di kerumunan pembeli agar aku bisa lebih dekat di sisimu kalau ada sesuatu terjadi. Ah kau, kakak perempuanku yang tanpa kau sadari sangat membuatku repot. Sebab kau telah melanggar arus dan menyalahi peraturan. Sedang dirimu sendiri mengerti betapa ketatnya aturan di negeri padat seperti ini. Waktu yang sedikit dan kebutuhanmu yang banyak telah menutup hatimu untuk tetap berpegang pada hukum yang seharusnya kau tepati. Dan tentu saja ini membuatku khawatir. Tiga bulan terakhir yang membuat kepalaku selalu padat oleh was-was.

‘Hanya satu bulan lagi, semua ini akan berakhir,’ bisikku menenangkan diri. Empat minggu tidak terlalu sulit meski mencemaskan. Walau aku selalu mengutuk kekejamanmu memanjakan anak lelakimu. Kau, aku akui tidak bisa bijak membedakan antara sayang dan tindakan berlebihan, membuat anak lelakimu cedera. Itu memang mengerikan, tapi terlepas dari kejadian yang tak mungkin dapat dibalik kembali, tentu seharusnya kau menyesal atas kecerobohanmu membelikannya sepeda motor model baru yang harganya selangit untuk keuanganmu. Tapi dari nada bicara dan raut wajahmu setiap kali kita bertukar pikiran, aku menangkap kau tak pernah menyadari kesalahan yang telah kau perbuat.

Aku telah kehilanganmu semenjak kau menikah dengan laki-laki brengsek yang kau cintai itu. Laki-laki yang mengirimmu ke sini, tempat yang seharusnya tidak pernah kau singgahi. Dialah yang telah merenggutmu dariku. Merenggut kebahagiaan dan kebebasan kita berdua. Dia telah menyirammu dengan penderitaan. Aku menginginkan kehidupan kita sebelum hari ini. Demi Tuhan aku inginkan hari-hari kita sebelum ini. Aku benci dengan kenyataan kalau tubuhmu dihinggapi mahluk lain. Aku benci dengan kenyataan kalau perhatianmu telah terbagi dengan suami dan bayi kecil yang kini telah tumbuh besar. Aku menginginkan hari-hari kita yang dulu, kembali hanya untuk kita berdua.

Aku sungguh membenci orang yang telah mengalihkan perhatianmu. Ketika kecelakanan itu terjadi beberapa bulan lalu, mengakibatkan pikiranmu kacau dan melupakanku, aku merasa sedikit bersyukur dan berharap kalau kecelakaan itu merenggut satu dari orang itu. Nyatanya keponakanku itu tidak mati, dia masih hidup dan menyusahkan. Ada rasa kasihan dalam benakku, tapi rasa benci lebih mendominasi.

Matahari membakar lantai semen dan beton-beton tinggi menjulang, menebarkan hawa pengap. Kulit-kulit para pengunjung lokal dan orang-orang yang berlibur di hari Minggu ini mengkilat oleh keringat. Ketika aku mengelap lenganku sendiri, begitu lengket seperti gula-gula cair yang disiramkan di atasnya. Wajah-wajah gembira dan lelah berbaur jadi satu. Aku merasakan Kampung Jawa Victoria seperti bom yang akan meledak sewaktu-waktu, membuatku merasa muak akan keadaan.

Lelaki dengan kemeja putih berjalan lebih mendekat ke arahmu. Dia seorang polisi yang sedang bertugas, mengawasi teman-teman buruh migran yang banyak melakukan tindakan ilegal, berdagang di hari minggu. Kau dan juga teman-temanmu pintar menyembunyikan serta berdalih kalau makanan dan barang lain yang kalian jual adalah milik bersama. Bukan barang untuk diperdagangkan meskipun pada kenyataannya, makanan dan barang tersebut sebagian digelar layaknya pedagang kaki lima di pasar. Kekhawatiran para polisi itu cukup masuk akal, kebersihan kurang terjaga sebab makanan ditaruh apa adanya di atas plastik di bawah jembatan yang terletak di tepi jalan besar. Debu dan polusi menjadi alasan kuat yang memengaruhi kebersihan makanan-makanan itu. Setiap Minggu, ada anak yang ditangkap karena berdagang, namun kebutuhan yang menggunung dan laba yang menggiurkan tidak menyurutkan kalian untuk tetap melakukan tindakan ilegal tersebut.

Kontrak kerja hanya tercatat sebagai pembantu rumah tangga untuk satu rumah. Tidak dibolehkan bekerja di rumah lain atau bekerja mengerjakan pekerjaan lain. Tetap saja, keketatan hukum tak mampu mengikat orang untuk tidak melakukan tindakan ilegal. Masih banyak yang tetap mengerjakan pekerjaan di luar teken kontrak. Bukan hanya pembantu yang melanggar, majikan pun demikian, kerap memperkejakan para pembantunya di dua rumah sekaligus.

Bau keringat membumbung tinggi di udara, sangat tidak sedap. Para pembeli yang juga terdiri dari para pembantu yang libur, berjejalan. Lalu-lalang silih berganti. Banyak di antara mereka yang duduk ndlosor di tanah beralaskan plastik sampah. Menikmati hari libur dengan makan sekenyang-kenyangnya dan tertawa sekeras-kerasnya, seolah dengan itu beban yang menggunung akan lumer dengan sendirinya. Berbagi keluh kesah dengan sesama teman baik dari sesama kampung maupun sesama tempat penampungan sebelum mereka berangkat, sangat manusiawi.

Kamu masih sibuk mengambil mangkuk plastik bersisi sayur, tahu kering, mi, atau mihun yang sudah ditata kemudian disiram dengan kuah bakso yang mengepul, untuk para pelanggananmu. Air mendidih menetes ke kompor minyak di bawahnya. Suasana sungguh tidak bersahabat. Angin enggan berhembus, udara pengap, matahari membakar, wajah-wajah memerah. Biaya operasi anakmu menuntutmu untuk bekerja lebih giat, kau tidak sadar kalau polisi yang menyamar sebagai orang biasa dengan mengenakan kemeja putih selalu mengawasi gerakmu. Aku berusaha menelpon dan mengesemesmu namun gagal. Tak satu pun sms dan telpon kau balas dan jawab. Hape dalam tas kecilmu teronggok di samping beton jembatan, melengking-lengking tak ada yang memedulikan.

Seorang perempuan tiba-tiba merangsek, “Mba gimana sih aku sudah pesan dari tadi kok belum juga kau kasih. Aku sudah lapar, capek nunggu!?” ketus.

Kamu tersenyum ramah, “oh maaf akan segera aku siapkan,” tanganmu sibuk menyendok kuah.

Perempuan itu cemberut dan mendorong lenganmu. Tanganmu yang memegang sendok sup terpelanting. Kuah panas mengenai pelanggan yang duduk lesehan tak jauh dari tempatmu menyendok kuah. Perempuan yang sedang asik makan dan tidak menyadari bahaya datang menjerit kepanasan. Teman-temannya yang duduk di sebelahnya ikut menjerit. Kau sontak ingin meminta maaf, tetapi pelanggan yang mendorong barusan kini menarik lengan bajumu. Mangkok yang sebagian sudah berisi kuah panas di tanganmu terlempar. Mengenai pelanggan lain lagi, mereka menjerit dan berdiri. Pelanggan-pelangganmu yang lain ikut berdiri dan mencari tahu apa yang terjadi.

Perempun yang memakai celana pendek lima senti dari pangkal paha itu menjambak rambutmu. Betisnya yang penuh varises meliuk-liuk dan menendang sebagain daganganmu. Mie, kobis, mihun yang sudah tertata dalam mangkok plastik berhamburan. Suasana semakin riuh ramai. Kau berkali-kali minta perkelahian itu dihentikan dan meminta maaf. Kau sama sekali tidak melawan perbuatan perempuan itu. Tapi perempuan yang memakai rias wajah serba hitam dengan rambut belakang cepak dan panjang di bagian depan, ditata berdiri serta cat merah menyala itu tidak tinggal diam. Dia tetap saja marah, kelaparan memang bisa menyeret orang untuk melakukan tindakan yang tidak waras.

Para buruh migran yang kebetulan berada tak jauh dari tempat itu berhenti berjalan dan melihat ke arahmu. Perkelahian semakin sengit. Laki-laki berkemeja putih merangsek dan membelah kerumunan untuk melihat apa yang terjadi. Hingga sesuatu yang selalu menghantuiku pun terjadi. Suara keras dari kompor dan panci kuah bakso di sampingmu membumbung tinggi. Menyemprotmu dan perempuan bercelana pendek, juga orang-orang yang berada dekat di sisimu.

Isi panci mendidih berhamburan, api kompor menyala besar dan asap hitam membumbung. Mata-mata yang melihat ke arah kalian berhenti di titik yang sama untuk beberapa detik. Menyaksikan panas membanjiri kalian. Panas yang sesungguhnya. Panas yang menusuk. Beberapa menit kemudian, ambulan dan suara sirine polisi berdenging-denging. Seseorang telah melakukan tindakan yang dianggapnya paling benar. Laki-laki berkemeja putih repot menangani suasana yang mengerikan itu. Kau terhenti mengejar setoran untuk satu bulan ke depan sebelum kau pulang ke kampung halaman. Kakimu berhenti di situ.

Aku tak kuasa membendung air mataku. Dadaku berdegup kencang, untuk sekian detik aku tak bisa bergerak. Kemudian getaran memenuhi seluruh sendi-sendi tubuhku. Aku ingin berlari menarikmu keluar dari kerumunan, juga dari perempuan berdandan hitam itu, agar kau terhindar dari semua kejadian di musim panas ini. Tapi kakiku terhenti di seberang jalan, mataku menatapmu, buram oleh air mata yang berjatuahan. Kau kakak perempuan dan saudaraku satu-satunya. Sejak awal aku tahu, ini bukan tempat yang cocok untukmu, untuk kita. Kau yang hancur oleh pernikahan. Kau yang berpaling dariku untuk anak dan suamimu. Aku benci karena perhatianmu yang teralih. Rasa sedih kini melebur tubuhku hingga mengeluarkan keringat dingin, membasahi baju yang melekatinya.

~*~

Aku melihatmu, terkapar bersimbah darah di atas ranjang petugas kepolisian berseprei biru terang. Sebagian kulitmu terkelupas, sebagain terbakar dan lengket oleh gaun kecilmu yang terlumat api, lalu kau yang tak mampu mengucap sakit sungguh membuatku koyak. Aku telah melakukan kesalahan besar yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku seharusnya melarangmu pergi ke tempat biadap ini, bukan malah membuntutimu. Aku melihat hati dan rasaku meleleh, membanjir di bawah jembatan panjang. Tempat yang seharusnya tak pernah kita sambangi seumur hidup.

~*~

10:32, Saturday 02 Agust. 2014

Fanling NT Hong Kong

Telah dimuat di majalah Peduli-edisi 2015