Lelehan di Bawah Jembatan

cropped-dscn3415.jpg

Cerpen Yuli Duryat

Pandang mataku tak beranjak dari laku laki-laki bertubuh tinggi yang mengenakan kemeja berwarna putih dan kau, perempuan di seberang jalan. Ya Tuhan, aku bertanya berkali-kali pada diriku sendiri tentang perasaan ini. Perasaan aneh yang tiba-tiba menyerang. Sedih, takut, khawatir, marah, cemas, bercampur jadi satu. Kalau saja kau tahu ini, aku sudah hafal apa yang akan kau katakan padaku, imajinasi gila. Aku memandang langit biru dan menyerap hawa panas untuk mengalihkan perhatianku darimu. Aku terlalu khawatir. Kau sendiri bukanlah orang yang mempercayai intuisi seperti diriku, ‘berpegang pada logika lebih mudah dicerna pikiran’, katamu selalu. Aku membenci perbedaan kita sejak kau memutuskan untuk memilih orang lain.

Sebetulnya kalau disuruh memlilih aku lebih suka ngadem dalam gedung Central Library, ketimbang di bawah jembatan begini. Toh gedung ini tepat berdiri di samping kanan belakang perpustakaan lesehanku digelar. Tapi, tidak bagus membiarkan pelanggan setia pergi dariku gara-gara lebih mementingkan egoku sendiri. Ditambah resiko kehilangan tempat strategis untuk mengawasimu di seberang jalan, meski sering kali terhalang bus dan kendaraan yang lalu-lalang, tetap saja hanya dari sinilah aku bebas menangkap gerakmu.

Sejak tiga ledakan terdengar dari tempatmu tiga minggu lalu, aku lebih intens mengawasimu. Tak jarang aku menyelinap di kerumunan pembeli agar aku bisa lebih dekat di sisimu kalau ada sesuatu terjadi. Ah kau, kakak perempuanku yang tanpa kau sadari sangat membuatku repot. Sebab kau telah melanggar arus dan menyalahi peraturan. Sedang dirimu sendiri mengerti betapa ketatnya aturan di negeri padat seperti ini. Waktu yang sedikit dan kebutuhanmu yang banyak telah menutup hatimu untuk tetap berpegang pada hukum yang seharusnya kau tepati. Dan tentu saja ini membuatku khawatir. Tiga bulan terakhir yang membuat kepalaku selalu padat oleh was-was.

‘Hanya satu bulan lagi, semua ini akan berakhir,’ bisikku menenangkan diri. Empat minggu tidak terlalu sulit meski mencemaskan. Walau aku selalu mengutuk kekejamanmu memanjakan anak lelakimu. Kau, aku akui tidak bisa bijak membedakan antara sayang dan tindakan berlebihan, membuat anak lelakimu cedera. Itu memang mengerikan, tapi terlepas dari kejadian yang tak mungkin dapat dibalik kembali, tentu seharusnya kau menyesal atas kecerobohanmu membelikannya sepeda motor model baru yang harganya selangit untuk keuanganmu. Tapi dari nada bicara dan raut wajahmu setiap kali kita bertukar pikiran, aku menangkap kau tak pernah menyadari kesalahan yang telah kau perbuat.

Aku telah kehilanganmu semenjak kau menikah dengan laki-laki brengsek yang kau cintai itu. Laki-laki yang mengirimmu ke sini, tempat yang seharusnya tidak pernah kau singgahi. Dialah yang telah merenggutmu dariku. Merenggut kebahagiaan dan kebebasan kita berdua. Dia telah menyirammu dengan penderitaan. Aku menginginkan kehidupan kita sebelum hari ini. Demi Tuhan aku inginkan hari-hari kita sebelum ini. Aku benci dengan kenyataan kalau tubuhmu dihinggapi mahluk lain. Aku benci dengan kenyataan kalau perhatianmu telah terbagi dengan suami dan bayi kecil yang kini telah tumbuh besar. Aku menginginkan hari-hari kita yang dulu, kembali hanya untuk kita berdua.

Aku sungguh membenci orang yang telah mengalihkan perhatianmu. Ketika kecelakanan itu terjadi beberapa bulan lalu, mengakibatkan pikiranmu kacau dan melupakanku, aku merasa sedikit bersyukur dan berharap kalau kecelakaan itu merenggut satu dari orang itu. Nyatanya keponakanku itu tidak mati, dia masih hidup dan menyusahkan. Ada rasa kasihan dalam benakku, tapi rasa benci lebih mendominasi.

Matahari membakar lantai semen dan beton-beton tinggi menjulang, menebarkan hawa pengap. Kulit-kulit para pengunjung lokal dan orang-orang yang berlibur di hari Minggu ini mengkilat oleh keringat. Ketika aku mengelap lenganku sendiri, begitu lengket seperti gula-gula cair yang disiramkan di atasnya. Wajah-wajah gembira dan lelah berbaur jadi satu. Aku merasakan Kampung Jawa Victoria seperti bom yang akan meledak sewaktu-waktu, membuatku merasa muak akan keadaan.

Lelaki dengan kemeja putih berjalan lebih mendekat ke arahmu. Dia seorang polisi yang sedang bertugas, mengawasi teman-teman buruh migran yang banyak melakukan tindakan ilegal, berdagang di hari minggu. Kau dan juga teman-temanmu pintar menyembunyikan serta berdalih kalau makanan dan barang lain yang kalian jual adalah milik bersama. Bukan barang untuk diperdagangkan meskipun pada kenyataannya, makanan dan barang tersebut sebagian digelar layaknya pedagang kaki lima di pasar. Kekhawatiran para polisi itu cukup masuk akal, kebersihan kurang terjaga sebab makanan ditaruh apa adanya di atas plastik di bawah jembatan yang terletak di tepi jalan besar. Debu dan polusi menjadi alasan kuat yang memengaruhi kebersihan makanan-makanan itu. Setiap Minggu, ada anak yang ditangkap karena berdagang, namun kebutuhan yang menggunung dan laba yang menggiurkan tidak menyurutkan kalian untuk tetap melakukan tindakan ilegal tersebut.

Kontrak kerja hanya tercatat sebagai pembantu rumah tangga untuk satu rumah. Tidak dibolehkan bekerja di rumah lain atau bekerja mengerjakan pekerjaan lain. Tetap saja, keketatan hukum tak mampu mengikat orang untuk tidak melakukan tindakan ilegal. Masih banyak yang tetap mengerjakan pekerjaan di luar teken kontrak. Bukan hanya pembantu yang melanggar, majikan pun demikian, kerap memperkejakan para pembantunya di dua rumah sekaligus.

Bau keringat membumbung tinggi di udara, sangat tidak sedap. Para pembeli yang juga terdiri dari para pembantu yang libur, berjejalan. Lalu-lalang silih berganti. Banyak di antara mereka yang duduk ndlosor di tanah beralaskan plastik sampah. Menikmati hari libur dengan makan sekenyang-kenyangnya dan tertawa sekeras-kerasnya, seolah dengan itu beban yang menggunung akan lumer dengan sendirinya. Berbagi keluh kesah dengan sesama teman baik dari sesama kampung maupun sesama tempat penampungan sebelum mereka berangkat, sangat manusiawi.

Kamu masih sibuk mengambil mangkuk plastik bersisi sayur, tahu kering, mi, atau mihun yang sudah ditata kemudian disiram dengan kuah bakso yang mengepul, untuk para pelanggananmu. Air mendidih menetes ke kompor minyak di bawahnya. Suasana sungguh tidak bersahabat. Angin enggan berhembus, udara pengap, matahari membakar, wajah-wajah memerah. Biaya operasi anakmu menuntutmu untuk bekerja lebih giat, kau tidak sadar kalau polisi yang menyamar sebagai orang biasa dengan mengenakan kemeja putih selalu mengawasi gerakmu. Aku berusaha menelpon dan mengesemesmu namun gagal. Tak satu pun sms dan telpon kau balas dan jawab. Hape dalam tas kecilmu teronggok di samping beton jembatan, melengking-lengking tak ada yang memedulikan.

Seorang perempuan tiba-tiba merangsek, “Mba gimana sih aku sudah pesan dari tadi kok belum juga kau kasih. Aku sudah lapar, capek nunggu!?” ketus.

Kamu tersenyum ramah, “oh maaf akan segera aku siapkan,” tanganmu sibuk menyendok kuah.

Perempuan itu cemberut dan mendorong lenganmu. Tanganmu yang memegang sendok sup terpelanting. Kuah panas mengenai pelanggan yang duduk lesehan tak jauh dari tempatmu menyendok kuah. Perempuan yang sedang asik makan dan tidak menyadari bahaya datang menjerit kepanasan. Teman-temannya yang duduk di sebelahnya ikut menjerit. Kau sontak ingin meminta maaf, tetapi pelanggan yang mendorong barusan kini menarik lengan bajumu. Mangkok yang sebagian sudah berisi kuah panas di tanganmu terlempar. Mengenai pelanggan lain lagi, mereka menjerit dan berdiri. Pelanggan-pelangganmu yang lain ikut berdiri dan mencari tahu apa yang terjadi.

Perempun yang memakai celana pendek lima senti dari pangkal paha itu menjambak rambutmu. Betisnya yang penuh varises meliuk-liuk dan menendang sebagain daganganmu. Mie, kobis, mihun yang sudah tertata dalam mangkok plastik berhamburan. Suasana semakin riuh ramai. Kau berkali-kali minta perkelahian itu dihentikan dan meminta maaf. Kau sama sekali tidak melawan perbuatan perempuan itu. Tapi perempuan yang memakai rias wajah serba hitam dengan rambut belakang cepak dan panjang di bagian depan, ditata berdiri serta cat merah menyala itu tidak tinggal diam. Dia tetap saja marah, kelaparan memang bisa menyeret orang untuk melakukan tindakan yang tidak waras.

Para buruh migran yang kebetulan berada tak jauh dari tempat itu berhenti berjalan dan melihat ke arahmu. Perkelahian semakin sengit. Laki-laki berkemeja putih merangsek dan membelah kerumunan untuk melihat apa yang terjadi. Hingga sesuatu yang selalu menghantuiku pun terjadi. Suara keras dari kompor dan panci kuah bakso di sampingmu membumbung tinggi. Menyemprotmu dan perempuan bercelana pendek, juga orang-orang yang berada dekat di sisimu.

Isi panci mendidih berhamburan, api kompor menyala besar dan asap hitam membumbung. Mata-mata yang melihat ke arah kalian berhenti di titik yang sama untuk beberapa detik. Menyaksikan panas membanjiri kalian. Panas yang sesungguhnya. Panas yang menusuk. Beberapa menit kemudian, ambulan dan suara sirine polisi berdenging-denging. Seseorang telah melakukan tindakan yang dianggapnya paling benar. Laki-laki berkemeja putih repot menangani suasana yang mengerikan itu. Kau terhenti mengejar setoran untuk satu bulan ke depan sebelum kau pulang ke kampung halaman. Kakimu berhenti di situ.

Aku tak kuasa membendung air mataku. Dadaku berdegup kencang, untuk sekian detik aku tak bisa bergerak. Kemudian getaran memenuhi seluruh sendi-sendi tubuhku. Aku ingin berlari menarikmu keluar dari kerumunan, juga dari perempuan berdandan hitam itu, agar kau terhindar dari semua kejadian di musim panas ini. Tapi kakiku terhenti di seberang jalan, mataku menatapmu, buram oleh air mata yang berjatuahan. Kau kakak perempuan dan saudaraku satu-satunya. Sejak awal aku tahu, ini bukan tempat yang cocok untukmu, untuk kita. Kau yang hancur oleh pernikahan. Kau yang berpaling dariku untuk anak dan suamimu. Aku benci karena perhatianmu yang teralih. Rasa sedih kini melebur tubuhku hingga mengeluarkan keringat dingin, membasahi baju yang melekatinya.

~*~

Aku melihatmu, terkapar bersimbah darah di atas ranjang petugas kepolisian berseprei biru terang. Sebagian kulitmu terkelupas, sebagain terbakar dan lengket oleh gaun kecilmu yang terlumat api, lalu kau yang tak mampu mengucap sakit sungguh membuatku koyak. Aku telah melakukan kesalahan besar yang seharusnya tidak aku lakukan. Aku seharusnya melarangmu pergi ke tempat biadap ini, bukan malah membuntutimu. Aku melihat hati dan rasaku meleleh, membanjir di bawah jembatan panjang. Tempat yang seharusnya tak pernah kita sambangi seumur hidup.

~*~

10:32, Saturday 02 Agust. 2014

Fanling NT Hong Kong

Telah dimuat di majalah Peduli-edisi 2015

I Shall Not Hate

abuelaish-cover

Dalam kehidupan sehari-hari, hanya karena tergores sedikit perkataan, saya suka marah dan melampiaskannya ke siapa pun yang sedang berada dekat dengan saya. Dengan membaca kisah nyata yang ditulis oleh Doker Gaza yang mempunyai pola pikir luar biasa indah ini, bayak sekali hal-hal yang membuat saya malu menjadi manusia. Mengapa saya harus begitu cepat marah, sementara di luar sana, banyak orang yang mengalami nasib lebih tragis dari saya masih bisa lapang dada dan tetap berfikir positif.

Perjuangan seorang anak-laki-laki Gaza yang begitu percaya bahwa dia akan bisa menjadi sukses oleh kerja kerasnya. Pantang menyerah dan terus maju meskipun begitu banyak aral melindang di sepanjang jalannya menuju kesuksesan. Bahkan ketika nyawa yang harus dijadikan taruhan di zona perang yang ganas dan tak pandang bulu untuk menjentikan peluru. Rasanya kata-kata saja tidak cukup untuk mengambarkan apa yang saya rasakan ketika membaca kisah Izzeldin Abuelaish ini.

Betapa dia mampu menunjukan bahwa dia adalah orang yang tegar dan tidak mau memiliki dendam walaupun dia menyaksikan sendiri putrinya terkapar bersimbah darah dengan kepala terputus dari badan. Sebagai seorang ayah, dia begitu marah dengan apa yang terjadi pada keluarganya, namun dia mampu tetap berjalan dengan kepala tegak untuk menebarkan kebajikan dan perdamaian kepada sesamanya, bahkan pada bangsa yang merupakan musuhnya.

Kekuatan cinta dan apa yang dia ajarkan kepada anak-anaknya sungguh mempesona. Bahkan tiga putrid dan satu kemenakannya yang telah meninggal oleh serangan Israel tidak membuatnya menyerah untuk tetap menebarkan kebajikan.

Ah, saya tidak mampu mengetik lagi selain kata haru dan ingin menangis, betapa ada orang yang mempunyai hati mulia di tengah kejamnya dunia yang membesarkannya. Buku yang menginspirasi dan sangat saya rekomendasikan kepada semua orang yang cinta perdamaian. I Shall Not Hate by Izzeldin Abuelaish.

 

 

YuliDuryat

Lapang Asrm-Bantarsari